Patah Hati

1428 Words
“De-dengan cara…” sedikit terbata Ratu menjawab. Dia gugup karena tatapan Raja yang mengintimidasi. Lelaki itu berdiri dengan jarang kurang dari setengah meter di hadapannya, dengan memasukkan kedua tangannya dalam saku celana, Raja menatap perempuan di depannya dengan tatapan tajam. “Tolong bebaskan aja saya dari ganti rugi itu, bisa kan, Pak?” oh, Ratu akhirnya bisa berpikir jernih. Dia rasa, itu adalah cara yang tepat untuk membebaskan diri dari lelaki ini. Dan tentu apa yang dia katakan barusan bukan hanya tentang sejumlah uang yang akan Ratu keluarkan untuk memoles kembali mobil Raja yang tergores, tapi dia benar-benar ingin terlepas dari segala urusan dengan Raja, beda ceritanya dengan urusan pekerjaan, itu tentu Ratu tidak akan bisa menghindar bagaimanapun caranya. Karena menurutnya, takdir bekerja begitu lucu. Di rumah, di kantor, terus bertemu lelaki ini. Saat ini, yang ada di dalam kepala Ratu adalah mencari kos-kosan yang biaya bulanannya terjangkau, tiga ratus atau lima ratus ribu perbulan. Karena hanya dengan cara keluar dari rumah itu, Ratu bisa sedikit terbebas dari petaka ini. Raja tertawa, dan tawanya berhasil menyadarkan Ratu. “Nggak segampang itu, Nona. Enak aja kamu mau lepas dari tanggung jawab. Kamu sengaja mau memanfaatkan keadaan supaya kamu nggak perlu keluarkan uang buat ganti rugi?” sindir Raja. “Bukan gitu, Pak. Saya rasa kita nggak perlu terlalu banyak berurusan lagi,” ucapnya terlalu jujur. “Di rumah dan di kantor, kita bakalan terus ketemu-“ “Ya, hanya sebatas urusan kantor, bukan yang lain dan saya… saya akan pindah secepatnya dari rumah itu.” Tegas Ratu. “Yakin? kamu mau ninggalin rumah gitu aja? kamu nggak mikirin gimana orang yang punya rumah, udah anggap kamu seperti cucu sendiri?” Mata Ratu membola mendengarnya, karena apa yang Raja ucapkan itu adalah kebenaran. Nek Miftah begitu baik padanya, mempercayakan rumah itu kepadanya, tanpa memungut biaya, Ratu tinggal secara cuma-cuma, mempercayakan Ratu menjaga rumah itu. Asalkan dia bisa berhemat untuk biaya listrik, Ratu bisa menyisihkan banyak tabungannya tanpa harus memikirkan tempat tinggal. Bahkan sebelum pergi meninggalkan rumah selama berbulan-bulan, Nek Miftah juga selalu meninggalkan bahan-bahan makanan dan mempersilakan Ratu menggunakannya tanpa harus sungkan. “Darimana Pak Raja tau soal itu?” Lelaki itu tersenyum. “Ternyata visual asli kamu lebih cantik, dari pada di foto.” bahkan Raja tidak menjawab pertanyaannya, lelaki itu malah membuka pembahasan lain. “Maksudnya?” Ratu cukup dibuat heran sore ini, tapi sayang sekali, dia tidak memiliki banyak waktu untuk berdebat tidak penting seperti ini, karena ada yang sedang menunggunya. Ratu tersadar saat deringan ponselnya terdengar nyaring di dalam saku blazernya. “Maaf Pak, saya harus pergi.” Ratu mendorong sedikit tubuh Raja yang menghalangi jalannya. “Saya belum selesai.” Raja tak ingin Ratu meninggalkan ruangannya begitu saja. Tapi sayang sekali, Ratu tak mengindahkan dan tetap melangkah. “Oh, mungkin Pak Raja belum tau, karena masih baru di sini. Jam enam belas tiga puluh itu adalah akhir dari jam kerja di firma ini, kecuali ada pekerjaan atau deadline yang harus diselesaikan. Jadi, saya permisi dulu.” Ratu rasa, tidak ada yang salah dengan kata-katanya. Tidak ada hal penting lain yang mengharuskan dirinya berada terlalu lama di ruangan itu. Ratu meraih tasnya dengan cepat dan berjalan tergesa menuju lantai dasar. “Maaf Kak, udah lama ya?” meski terlihat santai saat menyapa Bian-Kakak angkatnya, tapi andai boleh jujur, saat ini jantung Ratu berpacu begitu cepat. Sudah satu bulan lamanya, mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing, dan kini dia kembali bertemu dengan lelaki yang Ratu anggap lebih dari sekadar kakak. Entah sampai kapan dia memendam rasa ini sendirian. “Nggak kok. Kamu masih sibuk banget, ya?” Bian mengambil helm lalu tanpa aba-aba memakaikan pada Ratu yang sempat terkesiap. “Eum, engg-enggak kok Kak. Lagi lumayan santai.” Karena perlakukan Bian, Ratu semakin salah tingkah. “Bunda nanyain kamu terus, ya udah aku paksa jemput. Kalau nggak gini, kamu juga nggak pernah berinisiatif untuk mampir, kan?” sindir Bian. “Hati-hati naiknya, pegangan, ya?” pinta lelaki itu saat Ratu akan naik ke motor ducati miliknya. “Iya, Kak.” Dua tangan Ratu berpegangan pada pundak Bian, tapi lelaki itu justru mengambil sebelah tangannya untuk melingkar di pinggang. Bisa mati kaku gue kalau kayak gini. Ya ampun. Ratu memegangi dadanya yang bergemuruh hebat. “Kamu kenapa? lagi ada masalah? kok nggak banyak omong?” di tengah-tengah perjalanan mereka menuju rumah Bunda, Bian bertanya. Sebab biasanya Ratu selalu mengoceh tiap kali mereka jalan bersama, tapi kali ini tidak. Pikiran Ratu yang kalut karena kehadiran orang asing di tempat tinggalnya sekarang, ditambah lagi ternyata lelaki itu kini adalah atasannya, ternyata itu cukup mengganggu hingga dia tidak bisa fokus saat bersama Bian. “Nggak apa-apa, Kak,” sahut Ratu. “Kerjaan gimana? lancar?” “Ya gitu, sih.” “Bos kamu yang kurang ajar itu, masih sering ganggu kamu?” Bian bertanya, lantaran Ratu sering menjadikannya tempat curhat. “Pak Bun udah mutasi ke kota lain, Kak. Mulai hari ini, kami punya ketua divisi baru,” jelas gadis itu. “Bagus dong, kamu bisa bebas dari si buncit yang genit dan nggak tau diri itu,” balas Bian. Ratu terkekeh. “Iya Kak, aku bersyukur banget.” Bohong, Ratu berbohong. Awalnya dia memang merasa bersyukur, sampai ingin merayakannya bersama Desy, tapi setelah tahu siapa pengganti Pak Bun, itu sama takdir baik belum berpihak kepadanya. “Orangnya gimana kira-kira. First impression, menurut kamu?” Di belakang Bian, Ratu menggeleng, bukan saatnya untuk menceritakan tentang Raja yang pasti akan semakin merusak mood. “Ya, biasa sih Kak. Arogan-arogan ala-ala bos baru gitu.” “Semoga aja kali ini bikin kamu nyaman, aku nggak tega dengar kamu menderita selama kerja, apalagi kamu masih magang, perjuangan kamu masih panjang.” Bian mengusap punggung tangan Ratu yang masih melingkar di pinggangnya, selama beberapa detik. Makanya nikahin gue dong Kak. Biar hidup gue nggak pait-pait amat. Batin Ratu meronta-ronta. Untung saja masih memiliki rasa malu, jika tidak, Ratu mungkin akan mengatakannya secara langsung, bukan di dalam hati. “Iya Kak, semoga aja deh.” “Ayo masuk, Bunda dan Ayah udah nungguin kamu.” tepat di halaman sebuah rumah minimalis berlantai dua, Ratu berdiri. Ada rasa sungkan saat akan masuk ke dalam sana, banyak kenangan di rumah ini. Kurang lebih empat tahun Ratu tinggal di rumah ini secara cuma-cuma. Bisa saja saat itu dia memilih tinggal sendirian, tapi karena usianya masih remaja, sepasang suami istri pemilik rumah ini tidak mengizinkannya tinggal sendirian sampai Ratu benar-benar beranjak dewasa. “Ini, mobil siapa, Kak?” Ratu menunjuk pada sebuah mobil honda jazz yang belum pernah dia lihat sebelumnya. “Ini kayaknya Raisa,” sahut lelaki itu. “Raisa? siapa Kak?” mendadak Ratu memiliki firasat tidak enak. “Masuk dulu, yuk. Bunda nungguin.” Bian malah tidak menjawab, lelaki itu berjalan melewati Ratu, sementara gadis itu masih enggan melangkah. Raisa siapa sih? Daripada penasaran, Ratu menepis egonya. Dia masuk dan langsung disambut oleh Della dan Firman, orang tua angkat yang dia sebut dengan panggilan Bunda, juga Ayah. “Anak Bunda, makin cantik aja.” Ratu membalas pelukan Della, tapi matanya fokus pada seorang wanita muda yang mungkin seusia dengannya, sedang duduk di sofa sambil. “Makasih Bunda, Bunda sehat kan?” “Alhamdulillah sehat kok sayang. Kamu sering-sering dong main ke sini.” “Iya Bunda, lagi sibuuuuk banget. Baru beberapa hari ini aja aku lumayan santai.” “Mas Bian, tumben bisa pulang cepat?” wanita itu menyapa Bian yang berjalan melewati ruang keluarga, lelaki itu hendak melangkah ke kamarnya yang ada di lantai dua. “Iya, hari ini nggak lembur.” Lelaki itu menjawab acuh tak acuh, dan melanjutkan langkahnya. “Ratu, sini duduk sayang.” pinta Della menepuk sisi kosong di sebelahnya. Ratu menurut dia duduk di sana, berhadapan dengan Raisa. “Sa, kenalin, ini adiknya Bian.” “Adik?” beo Raisa. “Mas Bian punya adik, Tante?” “Adik angkat,” sahut Della. Ratu hanya tersenyum kaku, ke arah Raisa. “Oh ya? saya Raisa, calon istri Mas Bian.” “Ca-calon istri?” balas Ratu. Lutut Ratu mendadak lemas, dadanya kembali bergemuruh tapi bukan karena jatuh cinta, justru sebaliknya. Rasa kecewa, amarah, sedih dan hancur menghampirinya secara bersamaan. “Iya, calon istri Kakakmu. Bulan depan mereka nikah,” terang Della. “Oh… iya Bunda. Selamat ya.” percayalah, saat ini Ratu sedang berupaya menahan air matanya agar tidak jatuh. Bahkan Ratu belum sempat mengutarakan perasaannya pada Bian, tapi dia malah mendapatkan kenyataan pahit jika lelaki itu akan menikah dengan wanita lain? oke, ternyata selama ini, Ratu saja yang berharap lebih, padahal dia selamanya akan menjadi seorang adik untuk Bian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD