Aureli, terus menatap tanya pada asistan pribadinya ketika Tedy Kusuma pengacaranya pergi dari ruangannya. Ia lalu berjalan ke arah Ri sambil tetap melipat tangan di dadanya. "Aku melihat sesuatu di matamu, Ri." "...?" Ri hanya mengerutkan keningnya kepada Aureli. "Kamu sudah nggak bisa berbohong lagi, Ri. Ayo, mengaku saja!" Ri tersenyum lalu meringiskan tawa, satu hal yang hampir tak pernah Aureli lihat selama ia mengenal Ri. "Apa? aku hanya nggak tahan dengan kumis tipisnya itu." "Ah..., dari situ?!" Aureli meninggikan sebelah alisnya. "Kamu tahu satu hal, Ri?" "Apa, Nona?" "Kamu itu sedang jatuh cinta." "Uhuk... uhuk!" "Ayolah Ri, kamu sudah nggak bisa mengelak lagi. Dan apa yang salah dari Tedy Kusuma? Dia memiliki segalanya yang diinginkan oleh semua wanita. Tentunya aku

