AUTHOR POV
DUA PULUH TAHUN KEMUDIAN.
Seorang gadis yang sudah tumbuh dewasa, gadis yang cantik, baik hatinya karna mamanya selalu mengajarkan ia untuk menjadi anak yang rendah hati, iyaa dia Janeanestaputri, usianya sudah beranjak 20 tahun.
sedangkan mamanya Anastasya Gisly sudah berusia 47 tahun, ia bekerja dibutik milik sahabat nya Clarissa Ruilla.
Sejak kecil Jane selalu mengikuti Gisly pergi kebutik, sehingga ia dewasa, jika ada waktu luang Jane selalu pergi kebutik, oleh karena itu setelah Jane tamat sekolah menengah atas Jane kuliah mengambil jurusan Design, Jane hanya kulliah 3 tahun kini ia sudah wisuda, sekali kali iaa membantu tante Ruilla untuk mendesign gaun atau semacamnya.
Disaat Jane ada dibutik tante Ruilla, Gisly meminta Jane untuk menjaga butik untuk sementara, karena ia ingin membeli makan siang, tapi saat ia ingin menyebrang naasnya ia malah ditabrak mobil, bukan Gisly tidak hati hati tapi orang mengendari mobil tersebut dari simpang kanan belok kiri jalan dengan buru buru mobilnya langsung melaju, tapi sayangnya terlambat saat ia menyadari ada yang ingin menyebrang mobil nya sudah semakin dekat, sang pemilik mobil segera ngerem mendadak, tapi sudah nasib Gisly ditabrak, Gisly tidak menyadari karena jalanan memang tidak ramai, lagipun mobil itu muncul dan melaju dari tikung sebelah kanan Gisly, saat menyadari mobil itu melaju, Gisly membatu kedua tangannya menghalang wajah nya memaling sebelah kiri, matanya memejam.
"Aaaaaghhhhhhhhhh". teriak Gisly.
'Bbbrrrrkkkkkk' suara mobil yang melaju menghantam tubuh Gisly.
Gisly terpental, dan yang mengendari mobil berhenti dan panik, orangorang yang berada dikawasan tersebut berbondong bondong berlari karena mendengar kan suara yang sangat kuat.
sang pemilik mobil seorang laki laki paruh baya itu langsung menghampiri dan meminta warga setempat membantu membawa perempuan yang ditabraknya itu memasukki kedalam mobilnya, ia akan membawa Gisly kerumah sakit terdekat.
Jane dan tante Ruilla yang sedang mendapat kabar segera menutup mengunci toko butiknya karena mereka ingin segera pergi kerumah sakit, Jane tak henti hentinya khawatir dan menangis, ia takut mama nya terjadi yang tidak ia inginkan.
sesampainya Jane dan Ruilla dirumah sakit mereka langsung disambut oleh seorang dokter, kini Jane dan Ruilla meminta izin melihat keadaan Gisly, setelah itu Dokter meminta Jane dan Ruilla untuk mengikuti masuk kedalam ruangan dokter untuk mendapatkan informasi yang tepat, dengan berat hati Jane meninggalkan mamanya dan mengikuti sang dokter.
dokter mengatakan bahwa "ibu Gisly sekarang sedang kritis, ia banyak kehilangan darah, keadaan Ibu Gisly sangat parah bagian kepalanya cukup kuat terbentur, jika iaa selamat pun dia akan geger otak, tulang kakinya juga retak, seperti nya Ibu Gisly terpental sangat parah dikecelakaan itu, saya harap kalian banyak berdoa semoga Ibu Gisly baikbaik saja" . begitulah kata sang dokter
suster berlari memanggil keluarga pasien atas nama Anastasya gisly itu , dikarenakan gisly sudah sangat sekarat , dokter langsung menangani Gisly, Dokter keluar dari ruangan pasien mengatakan bahwa iaa tidak bisa menyelamatkan ibu Gisly, Tuhan lebih menyayanginya.
Setelah mendengarkan kata-kata pahit dari sang Dokter, kaki Jane lemes, ia pun tersungkur kelantai, air matanya mengalir sangat deras, dadanya sesak, hingga tangisnya pecah.
" MaaaaaMaaaa, mama kenapa pergi secepat ini, aku belum sempet ketemu mama, mama kenapa ninggalin aku." teriak Jane.
Ruilla yang menyaksikan pun tak bisa menahan tangisnya, dia sangat menyayangi Gisly dan Jane, ia sudah memanggap mereka saudara, tapi ia berusaha kuat untuk memberi semangat untuk Jane, yang sudah seperti anaknya sendiri.
" Sabar sayang, tante tahu sehancur apa hatimu, kamu harus ikhlaas nak, ini sudah Takdir, Tuhan lebih sayang mamamu, makanya dia mengambil mamamu." seru Ruilla menenangkan Jane
" Tapi tante, mama tinggalkan aku sendiri." jawab Jane
" kan ada tante, ada kak Bella, ada Reka juga, Om Iyan juga, kami semua sayang sama kamu Jane, tante gak keberatan kamu tinggal sama Tante, kamu udah kayak anak tante, anak bontot, enak dimanja, bella sama reka mah udah gedek mana bisa tante manjain,
tante akan jagain kamu nak, kamu jangan sedih terus, kasian mama, coba untuk ikhlaas". tante Ruilla berusaha membuat kutenang, dia menyemangatkanku, agar aku tidak larut dalam kesedihan.
" Jane belum siap tante, Jane masih membutuhkan mama." tangisku mereda sisanya isakkan.
" Tante ayuk masuk, aku akan berusaha untuk kuat melihat mama." ajakku
Kudorong pintu ruangan, kupandangi mama, yang sudah lepas dari alat medis, mama terkujur kaku, ditutupi selimut putih rumah sakit, ku jalan perlahan mendekati ranjang, kupandangi mamaku belum siap membuka kain itu, aku berdoa semoga jika ku buka kain itu, bukan mama yang dibalik kain itu.
lamaku pandangi, tante Ruilla menyuruh ku tegar dimenyusut pundakku, dan menyuruhku membuka kain.
kupegang kain tersebut lalu ku buka perlahan.
kupejamkan kedua mataku berdoa semoga bukan mama, ku coba buka mata, air mataku tak bisa kutahan lagi, wajah mamaku pucat, matanya terpejam.
aku tidak bisa lagi meyakinkan diri, karena itu memang benar mama.
" Maa." suara ku bergetar
" kenapa secepat ini maa, Jane masih membutuhkan mama." tanyaku lagi, mama hanya diam, dia tidak menjawab pertanyaanku, biasanya mama selalu menjawab, jika mulutku tak berhenti tanya, karena keingin tahuanku
" Ma, apa ini alasannya mama menyuruh Jane jadi anak mandiri, tangguh, untuk meninggalkan Jane sendiri." tangis kupecah.
tante Ruilla menenangkankan ku lagi, aku dibawa kedalam pelukkannya, rasanya seperti dipeluk mama, mungkin karena mama dekat dengannya, pelukkan tante Ruilla membuatku rindu dipeluk mama, sekarang mama tak bisa memelukku seperti ini lagi.
kulepas pelukan tante Ruilla, aku menguat kan hatiku lagi, dupandangi wajah mama, kugenggap jari kemarinya yang sangat dingin dan pucat, tangan ini yang selalu memelukku, tangan ini yang selalu membelaiku, kucium wajah mama, berkali kali.
'Mama yang tengang dialam sana, semoga mama ditempatkan disisi Allah swt, terimakasih mama, sudah menjadi mama yang baik buat Jane, mama akan menjadi yang mama inginkan, menjadi wanita yang tangguh, Jane akan selalu mengingat mama, merindukan mama' batinku bicara, sementara air mataku ngalir semakin deras, kuusap air mataku membuktikan kalau aku anak yang kuat, kupeluk mama yang terkujur kaku, karena aku tak akan pernah bisa memeluknya lagi."
" sayang, tante urus kepulangan mama mu sebentar yaa." ucap tante Ruilla yang hanya kubalas dengan anggukkan.
yang lakukan hanya memandang wajah mama, sambil menggenggam tangannya, tidak ada kata apapun yang kuucapkan, hingga tante Ruilla balik lagi.
" Udah selesai, tinggal menunggu ambulance."kata tante Ruilla dan duduk disampingku.
" Makasih yaa tante." balasku, tante Ruilla mengangguk dan tersenyum.