8. Kembali ketanah kelahiran

1006 Words
AUTHOR POV SATU BULAN KEMUDIAN Kepergian Gisly sudah satu bulan, Jane akan mengikuti papanya, keluarganya satu satunya kesingapure tempat asal Patra, Jane mengemasi barang barang peninggalan mamanya, seperti album foto, barang barang berharga mamanya ia jadikan satu koper bersama barang barangnya. Rumah peninggalan keluarganya Gisly ini akan ia titipkan keRuilla, karena Patra yakin Ruilla adalah orang yang baik, jadi Patra mempercayai Ruilla. Sambil menunggu Jane, Patra duduk di soffa, ia mengingat kenangan ia bersama Gisly, ia dulu sebelum menikah dengan Gisly ia selalu kerumah Gisly, ia tersenyum mengingat masa-masa indah bersama Gisly, seandainya waktu bisa berputar pikirnya, lalu setelah ia dan Gisly merencanakan menikah diSingapure, rumah ini kosong, Tidak ada yang menjaganya. Rumah peninggalan kedua orang tua Gisly sangat mewah, bagaimana tidak papanya Gisly pengusaha sukses, papa Gisly seorang pemuda rantau yang berhasil suksus diusia muda, hingga bertemu mamanya Gisly, yang hanya seorang wanita biasa, yatim piatu, mamanya Gisly sempat tinggal bersama neneknya, tetapi waktu mamanya Gisly masih sekolah menengah atas, dia telah ditinggal kan neneknya, neneknya telah meninggal dunia, perjalanan hidup mama Gisly yang bertahan hidup seorang diri berubah karena bertemu dengan papanya Gisly , dan mereka saling mencintai hingga maut memisahkan. sedangkan Gisly bernasip seperti mamanya, ia kehilangan kedua orang tuanya diwaktu ia masih kuliah, ia juga kehilangan kakanya yang bernama Anastasya Rahel, akan tetapi Gisly ditinggalkan Rumah dan harta milik keluarganya, sedangkan mamanya hidup susah, setelah Gisly ingin menikah dan menetap disingapure saham perusahaan papanya ia jual, mobil sport milik rahel dijualnya, hingga sisa rumah, dia fikir rumah tempatnya untuk pulang. " Pa, Jane udah siap, papa ngelamun?". ucap jane memperhatikan wajah patra " Haah maaf papa hanya keingat kenangan bersama mamamu, sudah siap ayo berangkat". ucap patra yang dikejutkan dengan suara jane. " Ayoo pa". ajak Jane sambil tersenyum Mobil yang akan mengantar mereka kebandara sudah siap, barang barang Jane telah dimasukkan didalam mobil, kini Jane pamit ke Ruilla. "Tante, makasih untuk semua ini, Jane gak akan melupakan semua kebaikkan tante, tante udah kayak mama buat Jane, Jane pamit ya tante, tante jaga diri baik baik". Jane menangis mengatakan kata pamit sambil memeluk Ruilla " Anak gadis tante jangan sedih, tante ikhlas membantu kamu dan mamamu sayang, kamu juga jaga diri baik baik, sering sering kabari tante". Ruilla membalaas pelukkan Jane, juga menghapus air mata Jane. " Ruilla ,terimakasih telah banyak membantu Gisly dan juga putriku". ucap patra " sudah tugas ku membantu sahabatku, kamu jaga Jane baik baik ya, aku yakin kamu ayah yang baik". tulus Ruilla Patra hanya tersenyum dan mengganggukkan kepalanya. " Om iyan, makasih yaa." uluran tangan Jane dijabat Iyan, dicium Jane tangan Iyan " sama-sama, jaga diri baik-baik yaa Jane." ucap Iyan yang dibalaas anggukkan Jane. "Kak Bella." Jane memeluk Bella " pasti aku kangen banget sama kak bella". ucap Jane yang menangis dipelukkan Bella. " sutttt, udah jangan nangis gitu, kan nanti bisa ketemu, bisa Vc juga iih, jaga diri jaga kesehatan, baik-baik disana yaa adekku" kekeh Bella sambil mencium puncak kepala Jane, Jane melihat sebelah Bella ada Reka dengan wajahnya yang ditekuk. " Loe kenapa kak", ujar Jane melepas peluk dari Bella " Gue sedih, ditinggal loe." sendu Reka Jane membuka kedua rentangan tangan ingin disambut peluk Reka, Reka tersenyum langsung memeluk Jane. " Jangan nakal ya disana, jaga Hati, jangan Genit sama cowok disana." ucap Reka mengejutkan Jane " kaaak." teriak " Ayoo kita perlu bicara." tarik Reka, Jane yang masih terkejutpun mengikuti langkah kaki Reka, saat tiba ditaman Reka mengambil kedua tangan Jane, kedua mata mereka bertemu " Jane, gue." jeda Reka, Jane mengerutkan alisnya, Reka menghela nafasnya dan memberanikan bicara " Jane gue sayang sama loe, bukan sebagai Kaka, tapi sebagai seorang laki-laki, jujur gue suka sama loe sudah lama, gue takut mau jujur sama loe, jadi gue memilih untuk mencintai loe secara diam, gue sering memperhatikan loe dari jauh, gue juga buat cowok disekolah dan dikampus jauhin loe, gue cuma mau hanya gue yang jagain loe." kejujuran perasaan Reka " Kak, gue juga sayang sama kaka, tapi maaf sayang gue kekaka hanya sebatas kaka, gak lebih, gue menghargai semua perasaan kaka, tapi Maaf gue gak bisa balaas perasaan lebih ke kaka." ucap Jane menundukkan kepalanya " Hahaha, gak papa kali Jane, gue ngerti kok, tapi tolong beri gue kesempatan untuk memperjuangin loe." Reka ketawa setelah penolakkan, tapi ia berusaha untuk mendapatkan kesempatan, Jane hanya menggelengkan kepala. " Yaudah jangan dipikirin, ayok udah ditungguin tuuh." ajak Reka mencoba untuk tersenyum. " kak Reka tetap jadi kaka guekan." ucap Jane " Iya, lupain aja, apa yang gue ngomong tadi." ucap Reka melangkah bersama. " ngapain siih ,lama banget, udah tingguin Om Patra Reka iih, pakai ngajak Jane ngomong jauh-jauh segala lagi, bicarain apa haa?." tanya Ruilla " Rahasia." balas Reka Reka dan Jane sama-sama tersenyum melihat Ruilla kesal. Patra dan Jane segera menaiki mobil " Bay Tante, om Iyan, kak Bella, Kak Reka". Jane melambai kan tangan keRuilla Ruilla membalas lambaian tangan Jane " Hati hati sayang" Iyan, Bella, Reka juga ikut melambaikan tangan. Jane menutup Jendela mobil masih melihat kearah rumahnya, rumah yang ia tinggal selama dua puluh tahun ini, kini ia harus pergi dan menetap dinegara Ayahnya. Dalam perjalanan menuju bandara Jane hanya diam memikirkan kata-kata isi perasaan Reka, yang seperti boomerang dikepalanya, karena ia hanya menganggap perhatian Reka hanya sebatas kaka, ia merutuki dirinya sendiri karena tidak pernah menyadari, tidak bisa dipungkiri Reka memang Tampan, ia memang mengagumi sosok Reka tapi itu tidak melebihi dari mengagumi sebagai saudara, mereka dekat dari kecil, hingga main bersama. 'Andai saja kita tidak berpisah kak, mungkin saja aku bisa menerima, tapi takdir tidak mendukung, karena aku butuh papa, kalau saja kita berjodoh kita akan bertemu sebagaimana takdir menuntun kukembali padamu kak, bohong kalau aku tidak merindukanmu nanti kak, karena hanya kaka yang selalu menjaga dan melindungiku, kaka selalu ada denganku, tapi aku yang bodoh yang tidak pernah ingin tahu perasaanmu ini, jika saja dari dulu kaka mengatakannya mungkin saja, hatiku akan terbuka untuk kaka, Maaf kak see you.' batin Jane mereka sudah sampai kebandara, mereka langsung chek in, karena tiket sudah diboking online dan mereka langsung masuk kepesawat, hingga pesawat mendarat sempurna. Jane melihat Pesawat sudah mendarat, ia pun mengucapkan "See you indonesia."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD