POV JANEANESTAPUTRI
Kuingat foto yang pernah kulihat dikamar mama, aku yakin itu foto papa, aku hanya tanya dimana papa? Mama hanya menjawab papa ada disingapure, mama sama papa sudah pisah, tidak banyak ku tahu tentang papa, karena mamaku bilang aku akan bertemu papa jika aku sudah dewasa,
Kini seorang laki-laki yang masuk keruang dimana mama ku sudah tak bernyawa lagi, sedih hatiku ditinggal mama tercinta, membuatku lupa akan siapa yang datang melihatku aku terlalu larut dalam kesedihan, saat lakilaki itu mengatakan dia adalah papaku, aku langsung sadar tapi aku menghiraukannya, pikiranku hanya ke mama, aku hanya ingin mama, kutahu ada rasa kecewa diwajahnya, aku hanya menunduk.
Jenazah mama akan segera ingin dibawa pulang, mobil ambulance sudah siap ingin mengantar, aku mengikut mobil ambulance itu tapi bukan hanya aku, ada papa dan juga tante Ruilla, saat air mataku banyak terkuras, dan tubuhku melemah, tante Ruilla tidak pernah sekalipun melepasku dari pelukkannya, aku nyaman sekali, karena aku merindukan pelukkan mama.
Aku dipelukkan tante Ruilla hingga mobil ambulance itu sampai didepan rumahku, kami turun dan membawa jenazah mama untuk diurus, saat dimobil ambulance papa menelfon seorang meminta bantuan untuk mengurus pemakaman mama, saat sampai didepan rumah jenazah mama sudah disambut , aku papa dan tante Ruilla membantu sebisaku saja, karena aku tidak kuat lagi , tubuhku lemes, aku harus ikhlas.
Jenazah mama sudah siap mau dibawa kepemakaman hingga selesai.
Papa dan tante Ruilla selalu berada disampingku, menguatkanku, aku harus bisa hidup tanpa mama, walaupun mama tidak ada disisi ku tapi mama selalu dihatiku.
Kubersandar dibatu nisan mama
"Ma, jane sayang banget sama mama, kenapa mama tinggalin jane, bagaimana hari hari yang akan jane hadapi tanpa mama, jane gak bisa ma". aku menangis terisak-isak dibatu nisan mama.
"Sayang jane jangan seperti itu nak, mama kamu kan udah mengajarkan kami jadi anak yang kuat, tante yakin kamu pasti bisa, ikhlas kan mama biar mama kamu tenang dialam sana, tante juga terpukul, mama kamu orang yang baik banget, mama udah anggap dia seperti adik tante sendiri, sabar sayang kan kamu udah ada papa kamu yang akan jagain kamu". begitulah katakata tante Ruilla menyemangatkan aku.
kupandangi wajah papaku, aku tahu ia akan menjagaku, tapi kenapa dia datang disaat mama sudah gak ada lagi, aku seperti orang asing dengan keberadaan papa yang gak aku kenali, melainkan hanya foto dan nama.
kupegang dadaku untuk menerima takdir ini , aku dekati papa kupeluk ia.
"Maafin papa sayang, papa hanya seorang ayah yang pengecut, gak berani deketin kamu dan mamamu, tapi papa selalu memantau kalian, karna papa sibuk, papa menyuruh orang untuk menjaga kalian". papa mengatakan itu hingga ia menangis menyesali kepergiannya.
"Papa, maafin jane yang gak pengen tahu tentang papa". kumenangis dipelukkan papa.
papaku hanya tersenyum dan membelai kepalaku.
" bukan salah kamu nak, papa yang salah karena tidak pernah wujud dikehidupanmu dan almarhum mama, papa akan temani kamu disini untuk sementara waktu, setelah itu kamu ikut dan tinggal dengan papa yaa." papa mengelus kepala dan menciumnya, serta ingin menemai dan mengajakku ikut dengannya.
"Jane akan ikut papa." balasku hingga mengerat kan pelukkan.
Sesampai dirumahku tante Ruilla langsung kepasar untuk membeli bahan makanan, untuk orang-orang yang berkunjung kerumah untuk membaca surah yasin.
kak Reka menghampirku.
" Jane setelah ini apa rencana loe." ucap kak Reka
" Gue masih disini kak, papa yang temenin sementara waktu."balasku
" Terus." serunya
" Gue ikut papa kak." Jawabku
" Jadi loe mau pindah gitu, Tega banget sih loe, ninggalin gue." jawab kak Reka memelas
" keluarga gue cuma tinggal papa kak, jadi itu udah jadi keputusan mutlak." tegasku
" kalau gue kangen gimana." melasnya
" Vc aja kak." seruku
" kalau gue pengen ketemu, gue nyusul loe ya." tegasnya
" Iyaa Iya." jawabku malaas ngeladenin kak Reka
Aku pergi kebelakang meninggalkan Kak Reka, menuju kedapur membantu Tente Ruilla yang baru saja pulang dari pasar.
aku membantu membuat kue, sedangkan Papa bertemu dengan pihak polisi, atas kecelakaan Mobil yang Almarhum mama, aku bilang sama papa jangan mempersulit mereka karena ini musibah, pasti bapak yang menabrak Almarhum mama tidak sengaja.
SEMINGGU KEMUDIAN
Seorang gadis tengah terlelap sambil memeluk foto dirinya dengan ibunya, karena sedang merindukan kehadiran sosok seorang ibu, sedangkan malam semakin larut, seseorang membuka pintu kamar dan masuk, senyumnya merekah melihat sang putri sudah terlelap, ia mendekati, mengambil frame foto, senyumnya memudar karena didalam frame foto itu Gisly yang menggendong Putrinya yang berusia 3 tahun sedangkan dirinya tidak pernah memiliki foto sekeluarga bersama Gisly dan Jane, ditaruhnya frame foto diatas meja lampu Rias, ia menyelimuti putrinya agar tidak kedinginan, mengecup singkat dahi putrinya, dan melangkah keluar dari kamar Jane.
Dirumah peninggalan orang tua Gisly, hanya tinggal Jane dan Patra, saat ini tinggal dan mengabiskan waktu bersama, akhirnya tidak ada lagi jarak antara Anak dan Ayah.
Jane sudah terbiasa dengan kehadiran papanya, Jane sangat bahagia walaupun ia masih mengharapkan sosok ibunya yang ada disisi.
saat ini mereka sedang sarapan pagi, Jane sengaja bangun pagi membuatkan sarapan pagi untuk papanya, setelah selesai ia membuat nasi goreng, dilihat dari jauh Patra menuruni tangga, senyum mereka merekah " selamat pagi Jane." ucap Patra menuju meja makan " selamat pagi kembali pa, ayo sarapan, ini Jane udah bikin nasi goreng, Kopi buat papa." Jane mengambil piring menyendokkan nasi goreng untuk Patra
" Makasih sayang." senyum Patra melihat Jane, melihat senyum Jane, Patra melihat senyum itu seperti senyum Gisly " sama-sama pa." ucap Jane sambil mengisi nasi goreng kepiringnya sendiri.
suasana dimeja makan sunyi hanya suara dentingan sendok, suara ketukkan menyadarkan mereka yang lagi asik mengunyah "Jane buka pintu sebentar pa." ucap Jane yang hanya dibalas anggukkan oleh Patra, Jane melepaskan sendok lalu tegak berdiri melangkah menuju pintu dan membukanya
" Selamat Pagi princess." ucap Reka mengejutkan Jane.
Jane memutarkan bola matanya "Pagik." seru Jane meninggalkan Reka didepan pintu.
" Yaelah jutek banget, mana gue ditingalin lagi." ucap Reka kesal, dari jauh Jane terkekeh mendengar Reka menggerutu, Jane menyambung lagi aksi sarapannya.
" Pagi om." ucap Reka menyelonong duduk disamping Jane.
" Pagi". seru Patra
' Bapak sama anak sama aja, sama-sama jutek.' batin Reka
" kapan loe pindah.? tanya Reka
" dua mingguan lagi".balas Jane
" nanti Gue nyusul yaa, bolehkan om.? tanya Reka lagi, hanya dibalas anggukkan Patra.
setelah itu mereka saling diam sambil mengunyah makanan masing masing.