Penantian yang tertahan.

1203 Words
Ingatlah bahwa orang-orang hanyalah tamu dalam ceritamu - sama seperti kamu hanya menjadi tamu dalam cerita mereka - jadi buatlah bab-bab tersebut layak dibaca. *** Rintik hujan turut hadir menemani malam penuh duka di rumah besar bergaya American Classic seluas 2000 meter persegi itu. Air mata yang tidak diharapkan hadir untuk kondisi seperti sekarang jatuh begitu saja dari sudut mata semua orang. Pakaian hitam yang dikenakan setiap orang dalam rumah itu membuktikan bahwa apa yang terjadi saat ini adalah nyata. Sandi Sastronijaya, konglomerat yang disegani semua bos besar dan berbagai perusahaan terkemuka di Jakarta menghembuskan napas terakhirnya saat menyambut matahari pagi. Rumah yang awalnya sepi menjadi sangat ramai ketika satu persatu orang yang ikut berkabung datang memberi salam perpisahan terakhir pada almarhum yang sangat di kenal baik dan bijaksana. Pemakaman yang harusnya dilaksanakan siang tadi terpaksa ditunda karena harus menunggu putra satu-satunya Sandi Sastronijaya yaitu, Jere Lio Sastronijaya. "Belum ada kabar dari, Lio?" seorang wanita paruh baya bertanya pada Ari saat ia memasuki dapur. "Belum, Tante. Biar Ari telepon dulu." Wanita paruh baya itu menyentuh lengan Ari. "Iya, Nak. Soalnya udah malam belum sampai-sampai." "Iya, Tante." Ari pergi dari dapur mencari Jamal untuk menghubungi Lio yang dimaksud oleh wanita tadi. Ari menyusuri parkiran, taman dan ruang supir tapi tidak menemui keberadaan Jamal. Rasa lelah membuat otak Ari bekerja lebih baik. Tidak terpikir olehnya sejak tadi menelepon Jamal dari pada mencarinya seperti sekarang. "Halo, Pak. Di mana?" "Di Alfamart, Mas." "Pantas aku cari-cari nggak ketemu Bapak." "Ada apa, Mas?" "Minta tolong hubungin, Lio, Pak. Tanya udah di mana." "Lio atau Lion, Mas." "Jere, Pak." "Maaf, Mas. Namanya mirip." "Nggak papa, Pak. Tolong ya, Pak." "Oh iya, Mas." "Makasih, Pak." Ari memutus sambungan dan memasukkan kembali handphone nya ke dalam saku. Renggangnya hubungan kekeluargaan Ari dan juga Sandi memang hanya orang-orang yang tinggal bersama mereka saja yang mengetahuinya. Kedua keluarga itu sangat handal menyembunyikan ketidaksukaan mereka satu sama lain di depan khalayak luar.  "Gimana, Ri?" wanita paruh baya sebelumnya kembali menghampiri Ari. "Udah Ari telepon, Tan. Katanya sebentar lagi sampai," dusta Ari. "Syukurlah. Udah banyak yang menunggu, Lio." Ari hanya mengangguk pada wanita itu. "Kalau gitu Ari mau cari Jasmine dulu, Tan." "Iya, Nak." Lio adalah panggilan dari saudara-saudara terdekat Jere untuknya. Sementara di sekolah dan bagi orang luar, pria yang sebenarnya adalah sepupu Ari itu dipanggil Jere, karena itu hingga saat ini Jasmine belum mengetahui fakta bahwa Lio yang dimaksud adalah orang yang sama di masa lalunya. Di kamar kosong ber-cat putih. Jasmine mengelus lembut kepala Jessie yang sudah tidur karena kelelahan menangis tanpa henti, sejak mereka sampai di rumah duka dan mendapati Opa yang ia ajak bicara tidak menjawab pertanyaannya seperti biasa. Untuk sesaat semua orang yang ada di sana menatap Jessie dengan air mata berlinang termasuk Jasmine, membayangkan bagaimana jika Opa yang baru sangat dekat dengan dia itu tidak akan bisa lagi menjawab pertanyaannya untuk selama-lamanya. “Kamu enggak bakal ketemu opa, lagi, Nak.” Jasmine berkata dengan nada suara yang sangat pelan karena tidak ingin membangunkan Jessie. “Ternyata rencana Tuhan mendekatkan Jessie dengan Opa untuk memberikan kenangan singkat buat kamu bersama Opa.” Sudah setengah jam berlalu, Jasmine terus menggumamkan berbagai kalimat yang mungkin saja, jika di dengar orang dewasa akan terasa menyayat hati. Dari luar kamar, di sela-sela pintu yang terbuka sedikit. Seorang pria kembali menahan tangis yang menyesakkan hatinya. Perasaan yang tidak tertahan membuatnya ingin masuk menemui Jasmine, tapi sebuah tangan kokoh menariknya begitu kuat menjauhi ruangan itu. “Kenapa, Pak?!” Jamal menggeleng. “Belum waktunya, Nak. Kamu harus sabar.” “Tapi-“ Jamal meletakkan jari telunjuk di depan mulut nya, menginterupsi Jere untuk diam karena Ari yang sedang berjalan ke kamar tempat Jasmine dan Jessie berada. “Kamu nggak akan bisa dapatin mereka kalau maju sekarang.” Ucapan Jamal memang masuk akal bagi Jere. Ia menyeringai saat melihat wajah tenang Ari yang masuk ke dalam kamar tanpa beban sedikit pun. “Makasih, Pak. Kalau Bapak nggak ada, Jere pasti udah lakukan kesalahan.” “Nggak papa, Nak. Mulai sekarang kamu harus lebih tenang ... tinggal sedikit lagi waktu kamu menunggu. Sampai waktu itu tiba, sebisa mungkin jangan menampakkan diri di hadapan Jasmine dan Jessie.” Jere mengangguk, kedua sudut bibirnya naik membentuk sebuah senyuman indah untuk Jamal. “Makasih banyak, Pak.” “Tapi, kenapa aku enggak lihat foto-foto ku di rumah ini? Foto keluarga di depan juga nggak ada.” Jere akhirnya bertanya tentang foto-foto yang membuatnya bingung sejak ia menginjakkan kaki di rumah satu jam lalu. “Setelah kamu pergi dari rumah. Pak Sandi menyembunyikan semua foto yang ada, Mas Jere. Ia benar-benar menjaga supaya Jasmine nggak tahu kalau Mas Jere, anaknya.” Jere tersenyum lirih. Setetes air mata kembali hadir mengingat dirinya tidak sempat mengucapkan selamat tinggal pada papa yang merawat dan mencintainya sejak kecil. Jamal berdeham mencoba menetralisir suasana yang kembali penuh emosional. “Lion enggak ikut?” ia bertanya sangat pelan mengalihkan rasa sedih Jere. Menyadari keberadaan mereka saat ini, Jere akhirnya mengerti kenapa mereka harus menjaga volume suara agar tidak menarik perhatian telinga yang memiliki tingkat penasaran sangat tinggi. “Dia menyusul, Pak. Ujian akhir udah mau selesai.” Jere menghapus bekas air mata di pipi nya. Jamal mengangguk-anggukkan kepala. “Kalau gitu bapak pergi dulu. Kamu yang sabar, ya.” “Jere cuma punya bapak sekarang,” gumam pria itu kembali meneteskan air mata. Perasaan Jamal cukup terluka melihat pria dewasa yang sangat ia rindukan itu meneteskan air mata lagi di hadapannya setelah beberapa tahun berlalu. “Kamu harus kuat.” Jamal memeluk Jere sebentar untuk menguatkannya. “Nanti kita bicara, lagi,” bisik Jamal sebelum pergi meninggalkan Jere yang kembali menangis. ~~ Di dalam kamar, Ari sedang berdebat dengan Jasmine mengenai hari yang semakin malam dan tentang kepulangan mereka. “Yang meninggal itu om kamu, Kak. Kita enggak mungkin pergi sekarang.” “Besok kita bisa ke sini sayang,” bujuk Ari yang sangat ingin pulang. “Kamu kenapa, sih, Kak?” Jasmine mulai geram dengan sikap Ari yang jauh dari kata sopan. “Oke! Kalau gitu kamu dan Jessie yang pulang, gimana?” “Aku mau di sini.” Ari menghela napas berusaha tetap sabar menghadapi Jasmine. “Kamu juga harus mikirin, Jessie. Kasihan dia tidur enggak nyenyak di suasana seperti sekarang. Rumah jauh lebih nyaman buat anak kecil seperti, Jessie.” Pikiran Jasmine mulai membenarkan perkataan suaminya itu. “Aku bakal nginap di sini dan kamu pulang sama, Pak Jamal,” lanjut Ari memperjelas maksudnya. Jasmine menatap Ari sebagai permohonan terakhirnya untuk tetap tinggal di sana. “Kasihan, Jessie.” Ari tetap pada keputusannya yang membuat Jasmine menyerah. Ia tidak ingin berdebat lagi dengan Ari dan memilih pulang bersama dengan Jessie. “Sebentar lagi Jamal datang. Aku enggak bisa antar kalian karena harus nemenin keluarga. Kalian hati-hati, ya. Langsung pulang!” tegas Ari di akhir kalimat. “Hem.” Jasmine hanya berdeham, memandang lesu suaminya. Ari memberi kecupan singkat di dahi Jasmine dan juga Jessie, kemudian keluar dari kamar meninggalkan Jasmine. Jasmine menghela napas. “Padahal aku mau lihat anaknya, Om Sandi,” gumamnya. *** "Remember that people are only guests in your story - the same way you are only a guest in theirs - so make the chapters worth reading." - Lauren Klarfeld  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD