Flashback

1202 Words
Di sebuah taman dengan luas 15 meter persegi, tepatnya di belakang rumah bergaya eropa Jere sedang duduk di ayunan sambil melihat ponselnya dengan senyum yang tidak pernah luntur sejak satu jam lalu. Pria itu terus memutar video di mana seorang paruh baya sedang memangku anak perempuan yang sedang menangis. Pria itu menenangkannya dengan penuh kasih sayang. Air mata mulai memenuhi pelupuk mata Jere merasakan kebahagiaan melihat kedekatan Sandi, ayahnya bersama dengan Jessie, putrinya. “Bos,”panggil Lion yang baru datang dari dalam rumah. Jere hanya berdeham membalas panggilan Lion sambil menghapus air matanya. Namun, senyuman tidak pernah luntur dari bibir pria itu. Lion mendekati Jere. Melirik sedikit layar ponsel yang menjadi perhatian Jere sejak tadi. Setelah mengetahuinya, Lion duduk tepat di sebelah Jere. Menatap sekeliling rumah yang beberapa tahun ini ia tinggali dari tempatnya berada. “Akhirnya keinginan Om Sandi terwujud juga.” Jere mulai tertarik dengan perkataan Lion. Ia mematikan layar ponselnya, meletakkan tepat di sampingnya. “Gue bersyukur dia bisa rasain gimana rasanya punya cucu,” gumam Jere menatap lurus ke depan. “Kak,” panggil Lion ragu. “Hem.” “Sebenarnya... aku penasaran sama jalan cerita kalian, Kak.” “Jalan cerita apa? Cerita nggak ada jalannya. Adanya alur doang.” “Pokoknya masalah tentang Kakak sama Kak Jasmine.” Lion menatap Jere yang terus diam menunggu jawaban pria itu. “Kak Jere yang baik.” Jere melirik Lion. “Heh! Ada maunya sok dekat lo!” “Aku penasaran pakai banget, Kak.” “Drama banget. Nanti lo nggak kuat.” “Aku suka drama.” Jere menatap najis Lion. “Seriusan!” tegas Lion meyakinkan Jere demi mendengar cerita pria itu. Sejujurnya dia sangat tidak menyukai drama. “Lo udah tahu alasan gue dekat sama dia. Awalnya yang gue harapin memang kebebasan, tapi semenjak gue tinggal bareng sama dia, setelah gue terbiasa sama dia, malah rasa bersalah yang gue rasain. Gue sering tinggalin dia sendiri di apartemen, berhari-hari. Gue biarin dia kelaparan karena gue mau sadarin diri kalau yang gue lakuin ke dia cuma permainan. Gue tanamin dalam diri buat tega sama dia. Waktu pulang gue benar-benar tertekan karena paksaan yang nggak bisa gue lakuin. Gue mabuk tanpa sadar perkosa dia dan berakhir gue nyesal...” Jere menarik napas, lalu menghembuskannya. “Pertama bangun gue lihat dia nangis, Yon. Dia kelihatan hancur banget dan harusnya gue puas, tapi lo tahu? Bukannya gue senang gue malah sakit lihatnya.” Jere terkekeh membayangkan dirinya yang menjijikkan saat itu. “Parahnya waktu bangun gue maki dia lagi bro. Padahal gue ngerasa sakit banget lihat dia menderita. Untuk pertama kalinya gue benci diri gue sendiri karena seorang cewek. Saat itu gue mutusin bakal tetap di samping dia, tapi kebodohan gue hancurin semuanya.” Jere kembali menceritakan semua yang terjadi di kafe saudaranya, Ari. “Gue enggak bakal pergi!” Ari yang semula bersender di sofa langsung menegakkan tubuhnya mendengar ucapan Jere. “Kenapa? Bukannya ini yang lo mau? Kesempatan udah di depan mata lo, Jer!” Cukup lama Jere berpikir untuk menjawab ucapan Ari. “Gue suka sama dia! Gue enggak bakal ambil kebebasan gue!” Ari menatap Jere intens. “Lo bakal tetap di sini sama dia? Lo mau kasih dia makan apa?” Pikiran Jere mulai dirasuki oleh ucapan Ari yang ia juga benarkan. “Lo mau nanggung hidup dia pakai uang bokap lo? Sampai kapan?” Jere menatap tajam Ari yang berada di depannya. “Maksud lo apa?” “Pergi! Lo bisa balik kapan pun kalau lo udah hasilin duit. Lo bisa pegang ucapan gue, Jasmine tetap aman. Gue cuma jagain dia dan enggak akan pernah lebih.” Ari meyakinkan Jere. “Setelah lo kembali, Jasmine tetap punya lo. Enggak akan ada yang berubah.” Jere menatap Ari cukup lama. Sampai akhirnya sesuatu yang tidak diharapkan terucap olehnya. “Oke. Gue pegang janji lo!” Jere tersenyum tipis mengingat kebodohan besar yang ia lakukan semasa hidup. Terlalu mudah percaya pada orang yang jelas-jelas menjadi musuhnya sejak awal. “Terus Kakak pergi gitu aja?” Jere menggeleng. “Gue minta waktu beberapa hari bareng, Jasmine. Seminggu kurang banget buat gue, tapi semakin lama gue pergi, semakin susah buat gue ninggalin dia. Gue pergi gitu aja tanpa ngucapin apapun dan janji sama diri gue sendiri bakal balik dan nebus semuanya... dan sebentar lagi gue bakal penuhin janji gue.” “Dan semua yang kita kumpulin selama ini buat bayar perjanjian yang dilanggar,” gumam Lion yang akhirnya tahu awal dari semuanya. “Hem... gue mau rebut apa yang menjadi hak milik gue.” “Aku bakal bantu sampai tuntas.” Jere melirik Lion setelah mengingat sesuatu. “Gimana perkembangannya? Masih belum ditemukan juga?” Lion menggeleng. “Kita lagi masa pencarian bos. Tadi pagi, pesuruh aku tambah untuk mencari di tempat-tempat dulu dia kerja.” “Baguslah. Cari sampai ketemu!” “Iya bos. Jere memberi tatapan sengit pada Lion yang kembali memanggilnya dengan sebutan ‘bos’. “I-iya, Kak.” “Udah makan belum lo?” “Udah, Kak.” “Nggak ada tugas?” “Nggak ada, Kak.” “Lo nggak jalan keluar?” “Nggak, Kak. Mager.” “Lo nggak tidur?” “Belum ngantuk, Kak.” “Yon...” “Iya, Kak?” “Lo emang nggak peka atau bego, sih? Gue pengen lo pergi sekarang.” Jere merasa kesal. “Gue lagi pengen sendiri,” lanjutnya. Lion tertawa sejenak. “Biasanya kakak juga langsung ngusir kenapa sekarang malah kode-kode?” “Nggak tahu. Kayaknya gue makin baik sama lo belakangan ini.” “Bagus! Memang harus begitu, Kak. Enggak boleh jahat sama adek.” “Gue bos lo bukan kakak lo!” Lion menatap Jere tidak percaya. “Dasar labil,” umpatnya lalu pergi meninggalkan Jere sendiri dengan senyum yang terukir di bibirnya karena bahagia berhasil menggoda Lion. Ponsel yang berada di sisi kanan Jere berdering cukup lama membuanya mengalihkan pandangan dan dengan sigap mengambil setelah melihat nama seseorang yang sangat ia sayangi menelepon. “Halo.” “Di mana kamu?” “Di sini, Pa.” “Iya, Papa tahu kamu di situ, tapi di mana?” “Di taman, kenapa?” “Papa cuma mau bilang kalau Papa ketemu sama anak kamu.” “Iya, aku tahu.” “Papa baru tahu kamu punya mata-mata di sini.” “Aku anaknya, Sandi. Nggak mungkin ninggalin Indonesia gitu, aja.” “Papa tahu.” "Papa serba tahu." "Gimana kerjaan kamu di sana?" "Pernah dengar ada masalah nggak?" "Papa nggak pernah dengar." "Artinya aman, Papa." "Akhirnya kamu tumbuh jadi anak yang Papa mau." "Makasih, Pa. Aku baru sadar kalau yang Papa lakuin semuanya buat aku." “Kapan kamu pulang?” “Sebentar lagi, Pa. Jere bakal pulang sebentar lagi.” “Papa cuma takut nggak bisa lihat kamu.” “Pa! Kenapa sekarang jadi cowok drama banget?!” “Hahaha... sudahlah. Kamu baik-baik di sana.” “Papa juga.” “Oh iya. Jaga Lion baik-baik.” “Iya-iya.” ~~ Apapun hal negatif yang kau lakukan, pasti  akhirnya menghasilkan sesuatu yang tidak baik juga. Karena itu, wujudkan apapun keinginan mu dengan cara yang benar. Mulai semua langkahmu dengan hal-hal yang positif untuk hasil terbaik. –The 21th
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD