Khawatir

1235 Words
Dalam mobil Jamal melihat Jasmine berlari kecil dari dalam rumah ketika mobil yang ia kendarai memasuki pekarangan rumah. Perasaan Jamal sudah tidak enak melihat raut wajah Jasmine yang sangat serius. Jamal melepas seat belt setelah mobil berhenti tepat di depan rumah. Ia mengelus lembut rambut hitam milik Jessie sebelum turun dari mobil untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai pertanyaan Jasmine. “Kamu harus tolong kakek, J. Mama kamu pasti marah-marah sama kakek.” Terdengar helaan napas yang keluar dari mulut Jamal. Tangan kanan nya tergerak membuka pintu mobil dengan perlahan. “Jessie mana, Pak?” Wajah datar Jasmine ketika bertanya membuat Jamal merasa aura di sekitarnya semakin gelap. “Lagi tidur, Mbak. Biar bapak gendong dulu.” Jamal memutari mobil ke arah kursi penumpang untuk membawa Jessie. Jamal menyentuh tangan Jessie lembut, meletakkan kepala kecil Jessie di bahu dengan perlahan, memeluk pinggang dan punggung Jessie sambil mengeluarkan suara lembut yang menenangkan agar tidak membuat tidurnya terganggu. Sangat penuh hati-hati Jamal mengangkat tubuh Jessie untuk mengeluarkannya dari mobil dengan kaki yang sengaja ditekuk untuk menghindari kepala Jessie terbetur langit-langit mobil. “Hush ... Hush ....” Suara kecil bernada ia bunyikan kembali ketika Jessie mulai bergerak karena merasa tidurnya terganggu. Jamal menggerak-gerakkan tubuh ke kanan dan ke kiri mengelus punggung Jessie agar kembali tenang. Kemudian, ia menghampiri Jasmine yang sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya dengan Jessie. “Langsung ke kamar, Pak,” perintah Jasmine dengan nada sopan. Jamal menuruti Jasmine melangkah menuju kamar majikannya yang menampakkan pintu sudah terbuka lebar. Jamal menaikkan lutut kanan nya ke atas tempat tidur berukuran king size itu untuk meletakkan Jessie di tengah, menghindari kemungkinan majikan kecilnya terjatuh. “Makasih, Pak,” cicit Jasmine. “Sama-sama, Mbak. Kalau gitu bapak ke depan dulu.” Jamal berpamitan dengan volume suara kecil. “Kenapa pulangnya lama banget, Pak?” Jasmine bertanya masih dengan volume suara kecil dan sopan. “Tadi, Jessie minta makan ice cream, Mbak.” Jasmine mengangguk-anggukkan kepala. “Biasanya bapak kabarin, Jasmine.” “Bapak lupa, Mbak. Soalnya, Jessie nangis lumayan lama.” “Ya udah, enggak papa. Lain kali kabarin, Jasmine, ya, Pak.” Jamal membungkuk sedikit. “Iya, Mbak. Bapak keluar dulu.” “Jangan lupa makan siang, Pak.” “Oke, Mbak.” “Oh, iya, Pak. Apa Papi Jessie udah telepon?” Jamal tersenyum kembali mengingat wajah ceria Jessie saat melihat Jere. “Udah, Mbak. Sewaktu di kafe Lion telepon bapak dan sempat video call dengan, Jessie.” Jasmine tersenyum melihat Jessie yang tertidur pulas. “Semoga dia enggak murung lagi, ya, Pak.” Jamal tersenyum lebar menanggapi ucapan Jasmine yang sempat melirik ke arahnya. ‘Ibu yang mementingkan kebahagiaan anaknya’ tentu saja kumpulan kata itu nyata. Bahkan, semua ibu merelakan kebahagiaannya untuk anak mereka. Itu yang Jamal ketahui sejak dulu. Sejak ia menjadi seorang anak sampai menjadi seorang ayah. “Kalau gitu, bapak permisi dulu, Mbak.” Sepeninggal Jamal. Jasmine mengambil beberapa bantal untuk diletakkan di sisi kanan dan kiri Jessie agar tidak mendekati pinggir ranjang yang berbahaya, mengingat putrinya tidur dengan posisi yang selalu berubah-ubah. Setelah memastikan Jessie aman, ia memberikan kecupan di dahi Jessie sebelum pergi ke luar kamar untuk mempersiapkan makan siang Jessie. Ponsel yang berada di saku Jasmine berdering sejak beberapa menit yang lalu. Tangannya yang kotor karena bahan makanan membuatnya tidak langsung mengangkat telepon dari orang yang belum ia ketahui namanya. Susi berucap, “Angkat dulu, aja, Mbak.” “Iya, Buk.” Jasmine mencuci tangan karena ponsel tidak juga berhenti berbunyi. Nama Dian tertera di layar tipis miliknya. “Kenapa?” “Gimana anak lo?” “Aman. Cuma telat pulang, doang.” “Kan tadi gue udah bilang sama lo.” “Ya udahlah. Namanya juga seorang ibu.” “Iya, dah ibu-ibu.” “Lo berdua masih di sana?” “Iya kita masih di sini. Lo mau ke sini lagi?” “Nggak! Ntar anak gue nyariin. Lo berdua aja ke sini.” “Serius?” “Iyalah. Biar sekalian gue buatin makan siang, nih.” “Ya udah kita ke sana.” “Eh, beneran? Gue cuma bercanda.” “Lo jangan main-main sama gue, Jas!” “Sini-sini.” “Oke, otw!” Jasmine meletakkan ponsel nya di atas meja dapur yang berada tidak jauh darinya, lalu melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. “Makan siangnya dilebihin, aja, ya, Buk. Soalnya Mota sama Dian mau datang.” “Baik, Mbak.”                                                                                     “Aku lihat Jessie dulu, ya, Buk.” Susi mengangguk. “Nggak papa, Mbak.” Jasmine melangkah pergi meninggalkan dapur sambil memberitahu Ari tentang kedatangan Mota dan Dian siang itu. Ari tidak mempermasalahkannya karena berpikir sesekali istri nya perlu bertemu dengan teman-temannya. Tangan Jasmine memegang knop pintu dengan mata yang masih memperhatikan ponsel. Sampai ia merasakan seseorang memegang knop pintu dari dalam bersamaan dengannya. Jasmine membiarkan pintu terbuka dari dalam untuk melihat gadis kecilnya yang baru bangun tidur. Pintu terbuka memperlihatkan Jessie yang sedang menangis dengan peluh yang hadir di dahi nya. “Anak Mama kenapa?” Jasmine membungkuk untuk menggendong Jessie dalam dekapan nya. Jessie meletakkan kepala di bahu Jasmine menghadap ke leher Jasmine masih dengan air mata yang bercucuran. “Kenapa, Nak?” “Kamu mimpi buruk?” Jessie mengalungkan tangan nya ke leher Jasmine tanpa menjawab pertanyaan dari sang Mama. Jasmine mengelus punggung Jessie lembut untuk menenangkan gadis kecilnya itu. “Jessie, mimpi apa sayang?” “Mama boleh tahu mimpinya nggak?” tanya Jasmine saling menatap dengan Jessie. Tangisannya sudah berhenti tapi ia masih enggan untuk berbicara. Gadis itu meletakkan kepala di bahu Jasmine untuk mencari kenyamanan dari sang Mama. Jasmine mengelus lembut kepala putrinya sambil berjalan keluar kamar menuju ruang keluarga. “Jessie, mau makan?” Jessie diam. Jasmine tidak tahu harus berbuat apa agar Jessie membuka suaranya. Jasmine benar-benar curiga kalau diamnya Jessie ada hubungannya dengan mimpi yang ia alami saat tidur tadi. “Kalau Jessie mau cerita. Mama janji bakal telepon Papi buat kamu.” Penawaran yang diucapkan Jasmine menarik perhatian Jessie yang sekarang sudah menatap wanita yang melahirkannya itu. Jasmine sangat yakin kalau menceritakan ulang mimpi sangat sulit bagi anak seumuran Jessie. Wanita muda itu hanyak ingin melihat reaksi anak kesayangannya itu kalau mendengar Papi nya disebut. Jasmine menjatuhkan b****g nya di atas sofa empuk ruang keluarga. Jessie merengek saat Jasmine ingin memindahkannya ke sisi kanan Jasmine. “Ya udah sama Mama.” Gadis kecil itu kembali tenang. Ia meletakkan kepala nya di bagian atas tubuh Jasmine dan dapat mendengar detak jantuh sang mama. Memeluk pinggang Jasmine sebelum mengeluarkan suaranya. “Jessie mau lihat Papi, Ma,” keluhnya masih dengan posisi yang sama. “Mama nggak punya nomor Papi. Kita tunggu Papa dan Kakek Jamal pulang, ya.” Jasmine merasakan Jessie mengangguk dalam pelukannya. “Kalau gitu kamu ganti baju dulu terus kita makan.” “Nggak mau,” jawab Jessie untuk pertama kalinya setelah beberapa saat tidak mengeluarkan suara. “Biar nanti bisa langsung teleponan sama Papi. Kalau kamu nggak makan, pasti Papa nggak izin telepon Papi.” “Ma...” rengeknya. “Makanya harus makan dulu, Nak,” bujuk Jasmine lagi. “Iya.” Jasmine melirik ke bawah untuk melihat wajah Jessie yang tidak menatapnya. “Kita makan?” “Iya, Ma,” balas Jessie kembali. Jasmine tersenyum lebar. Ia berusaha bangkit dari duduknya sambil menggendong Jessie. “J, mau turun,” pinta Jessie yang sekarang menatap Jasmine. Jasmine membiarkan Jessie turun dari pangkuannya dan berjalan duluan menuju kamar meninggalkan Jasmine mengikutinya dari belakang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD