Saat ini, Jamal dan Jessie sudah berada di dalam mobil yang masih berada di parkiran kafe tempat mereka membeli ice cream. Di dalam mobil itu Jamal akan memberi kejutan yang dijanjikannya pada Jessie sejak tadi. Tangan kanan Jamal terulur untuk memasang safety belt untuk Jessie lebih dulu agar gadis itu tidak bisa lompat-lompat karena kegirangan.
“Siap?” Jamal tersenyum melihat Jessie yang mengangguk dengan penuh semangat.
Jamal mengambil ponsel yang berada di saku baju, membiarkan Jessie duduk di samping nya tanpa melakukan apapun.
“Kakek....” Jessie memanggil Jamal yang terus memperhatikan ponsel nya.
Jamal melirik Jessie sebentar. “Kakek lagi telepon. Sebentar, ya.”
Jessie terus melihat Jamal tanpa menjawab. Entah dia paham yang dimaksud Jamal atau tidak, tapi terlihat dari wajah nya ia sangat bosan.
“Halo?”
“Halo bos.”
“Pak! Kenapa Bapak dan Lion sama saja?!”
“Hahaha ... Ini anak kamu.”
Jamal mengarahkan ponsel ke depan wajah Jessie. Wajah yang sebelumnya memberi ekspresi datar langsung berubah ceria melihat layar tipis di depan nya.
“Papi!!”
“Sayang... papi rindu.”
“Papi....”
“Iya, Nak?”
“Papi....”
“Iya, sayang? Anak papi kenapa nangis?”
“Jessie rindu papi?”
“Maafin papi, ya. Papi udah jarang telepon, Jessie.”
“Papi janji, deh. Mulai sekarang Papi bakal selalu telepon kamu, tapi kamu harus berhenti nangisnya.”
“Beneran?”
“Iya, bener. Ayo, hapus air matanya. Anak cantik enggak boleh nangis, nanti berubah jadi jelek.”
“Papi, tadi Jessie makan ice cream sama Kakek.”
“Jessie, kenapa nggak ngajak, Papi?”
“Papi sini, dong. Biar makan ice cream sama, J.”
“Sebentar lagi Papi pulang.”
“Kakek juga bilangnya gitu.”
“Iya, Jessie denger kata Kakek, ya.”
“Iya, Papi.”
“Papi sayang, J.”
“Papi mau makan, Nak. Nanti sampai rumah kamu langsung makan, ya.”
“Engak mau! J, masih mau ngomong sama Papi.”
“Nanti Papi telepon, lagi, Nak.”
Sambungan telepon seketika terputus. Bersamaan dengan itu tangis Jessie pecah. Setelah beberapa hari tidak bertatap muka dengan Jere. Ia benar-benar merindukan ayah biologisnya itu.
“Jangan nangis, ya. Papi kan udah janji akan telepon, Jessie, lagi.” Jamal mengelus kepala Jessie lembut menenangkannya.
Tidak berhasil. Jessie malah meronta-ronta ingin melihat wajah Jere kembali.
“Kek! Hiks....”
“Jangan nangis sayang.”
Jessie menangis histeris sambil menatap Jamal. Tatapan memohonnya membuat Jamal semakin tidak tega, memangkunya setelah melepas safety belt.
“Jessie, mau ice cream lagi?”
Jessie menggeleng cepat. “Pa-papi!!”
“Papi lagi kerja sayang.”
Tangisan Jessie yang terus berlanjut sampai membuatnya terbatu-batuk membuat Jamal kembali menelepon Jere, mengabaikan rasa segannya pada bos kecilnya itu.
Dering ketiga terdengar suara ribut yang berasal dari seberang telepon.
“Ada apa, Pak? Jere lagi sibuk sekali.”
“Anu ... Jessie dari tadi nangis terus sampai batuk-batuk. Bapak khawatir dia jadi sakit kalau dibiarin bos.”
“Kenapa enggak kasih tahu Jere lebih awal, Pak? Alihkan ke video call, Pak.”
“Iya, Nak.”
Jamal mengubah panggilan menjadi video call. Terlihat jelas Jere sedang berada di kantor nya.
“Kalau lagi sibuk nanti, aja, Bos. Jessie biar bapak tenangin.”
“Enggak, Pak! Jere mau ngomong sama, Jessie.”
“Pa-papi....”
“Nak ... ya ampun anak Papi. Maafin Papi.”
“Pa-papi....” Jessie kembali menangis.
“J, papi di sini sayang. Udah, ya, nangisnya. Papi jadi sedih lihat kamu nangis.”
“Maafin papi, Nak.”
Jessie batuk-batuk sampai ingin muntah.
“Badan nya jadi panas dingin, Mas.”
“Bawa ke rumah sakit, aja, Pak.”
“Nggak papa, Mas. Dia pasti kecapean, aja.”
“Kalau gitu biar aku tidurin, aja, Pak.”
“Jessie, ini papi sayang. Jangan nangis lagi, ya, Nak,” pinta Jere dengan suara lembut.
Jessie menatap layar ponsel Jamal cukup lama, perlahan tangisnya berhenti menyisakan senggugukan yang membuat Jere sedih mendengarnya karena merasa bersalah telah membuat putrinya lelah menangis sejak tadi.
Jamal memindahkan Jessie ke bangku sebelah nya dengan handphone yang terus dipegang oleh gadis kecil yang masih menatap wajah papi-nya tanpa henti.
“P-papi,” panggilnya pelan.
“Iya, sayang? Papi di sini.”
Jamal memasang safety belt Jessie, lalu mengambil bantalan leher Jessie di bangku belakang agar ia pakaikan pada leher Jessie untuk memberikan kenyamanan.
“Sekarang Jessie tidur, ya, nak. Papi temenin, Jessie.”
“Twinkle twinkle little star...,”
Jamal duduk sambil memperhatikan Jessie yang terus melihat layar menampakkan Jere yang sedang bernyanyi sebagai pengantar tidur Jessie.
Tidak menunggu lama, Jamal sudah melihat mata Jessie berubah sayu. Ponsel yang berada di tangan kecilnya terjatuh di atas paha Jessie ketika tanpa sadar mata nya terpejam. Namun, kembali terbangun karena terkejut dengan HP yang terjatuh. Jessie kembali mengambil benda pipih milik Jamal dengan mata yang sudah terasa berat menatap layar tipis yang masih menunjukkan wajah Jere sedang tersenyum di sana.
“Kakek pegang, aja, ya.” Jamal menyentuh lembut ponsel yang berada di tangan Jessie untuk mengambilnya.
Jessie merengek tidak ingin Jamal mengambil ponselnya. Membuat Jamal mengalah dan berkata kalau ia tidak akan mengambilnya.
Kembali, kejadian Jessie terpejam terulang dan kali ini ponsel Jamal terjatuh ke bawah, tepat di sebelah kaki Jessie. Terdengar suara tawa Jere mengetahui apa yang terjadi karena sejak tadi ia terus menyaksikan wajah putrinya yang sedang menahan kantuk.
“Kek...!” sungut Jessie melihat ponselnya jatuh.
“Makanya kakek yang pegang, biar kamu enggak sakit tangannya, ya?” bujuk Jamal kesekian kalinya.
Karena kantuk yang tidak tertahan Jessie akhirnya memberikan HP dengan sukarela pada Jamal. Menepati Janji, Jamal meletakkan HP nya di hadapan Jessie dengan jarak tidak terlalu dekat dengan wajah gadis itu. Sementara, Jere kembali melanjutkan nyanyian untuk menyelesaikan tugasnya.
Hingga bait lagu selesai, Jessie sudah tertidur pulas menikmati dunia mimpi. Jamal menurunkan jok Jessie ke belakang untuk memberinya posisi nyaman.
“Bos udah bisa lanjut kerja. Bapak juga mau pulang dulu, nanti Mbak Jasmine kecarian.”
“Makasih, ya, Pak. Nanti kalau Jessie cari aku langsung kabarin Lion, Pak.”
“Iya, Bos.”
“Titip Jasmine dan Jessie, ya, Pak.”
“Iya, Bos juga jaga kesehatan. Cepat sembuh bos.”
“Makasih, Pak. Bapak juga jaga kesehatan”
“Banyak yang harus dipikirin, tapi bos juga harus ingat istirahat.”
“Iya-iya, Pak. Ternyata bapak lebih bawel dari Papa.”
“Hehe ... yaudah kalau gitu bos. Bapak mau pulang dulu.”
“ Kalau gitu aku matiin, Pak. Hati-hati di jalan.”
“Bos ... bapak juga titip, Lion.”
“Dia aman, Pak.”
“Makasih, Bos.”
“Pak!!”
“Hehehe ... iya, Nak.”
Jamal menggelengkan kepala dengan senyum tipis tampak pada bibirnya, saat mengingat wajah marah Jere jika ia memanggilnya bos atau tuan. Sejak kecil Jere memang selalu dipanggil mas atau nak oleh Jamal. Namun, melihat Jere yang sudah beranjak dewasa Jamal semakin sungkan memanggilnya dengan santai.
Jamal memasukkan ponsel ke dalam saku setelah sambungan telepon terputus. Melihat ke arah Jessie sebentar untuk memastikan kalau seat belt terpasang dan melihat seberapa besar kemungkinan kepala Jessie aman dari benturan pintu. Setelah memastikan semuanya, Jamal mulai melajukan mobil pelan meninggalkan parkiran kafe.
“Semoga sampai rumah. Mama kamu nggak jantungan, ya, J.” Harapan Jamal untuk keselamatan dirinya.
~~~
The 21th akhirnya bakal publish setiap hari mulai tgl 1 kemarin setelah melewati berbagai macam prosedur dan akhirnya bertemu dengan teman-teman Sejo (TeJo).
Sesuai janjiku sama TeJo. The 21th adalah Squel dari The 17th yang akan menjawab semua rasa penasaran kalian tentang hubungan Ari, Jasmine dan juga Jere.
Makasih udah nungguin, Sejo.
Kalian memang luar biasa banget. Maaf lo buat kalian nunggu lama.
Selamat membaca, ya, TeJo.
Luv..
noted: Buat yang baru baca di cerita ini, pastikan dulu kalian udah baca The 17th karena ini adalah lanjutan ceritanya. Kalau kalian langsung ke sini nanti takutnya nggak ngerti alur ceritanya.