Firasat

1327 Words
Jasmine menatap kesal kedua sahabatnya setelah ia memasuki kafe dan menemukan Mota melambaikan tangan padanya serta Dian yang menatapnya jenaka. “Muka lo jelek banget, Jas.” “Lo berdua ngapain, sih? Kurang kerjaan banget jam segini udah nongkrong.” “Yaelah emak-emak. Sekali-sekali, doang. Kita rindu lo, Jas,” ujar Dian melankolis. Jasmine menarik kursi yang berada di sebelah Dian. “Gue banyak banget kerjaan di rumah. Beneran, deh.” “Bentaran, doang. Lo sadar enggak, sih? Semenjak lo nikah kita enggak pernah pergi bareng, lagi.” Kali ini Mota membuat Jasmine terdiam. “Bener kan gue?” tanya Mota sekali lagi. “Ya udah, iya. Kita mau ngapain sayang-sayang ku?” “Dengerin lo curhat,” jawab Dian dan Mota serempak. Jasmine menatap kedua temannya secara bergantian. “Lo berdua suruh gue ke sini Cuma buat dengerin cerita gue doang?” Mota mengangguk. Jasmine menghela napas kasar. Beberapa saat ia fokus menatap kedua temannya bergantian sambil mengingat apa cerita yang akan dirinya bahas dengan kedua sahabat gilanya itu. Untuk sesaat ketiganya hanya diam dengan Mota dan Dian yang membalas tatapan Jasmine pada mereka. “Lama banget, Jas. Biasanya lo punya banyak cerita.” “Sabar kali. Gue harus pilih cerita yang bagus.” Semenjak menikah cukup banyak yang berubah dari pribadi Jasmine. Ia lebih terbuka pada sahabat-sahabatnya tentang masalah yang ia hadapi atau perasaan yang ia rasakan. “Oke! Gue dapat!” seru Jasmine yang membuat kedua temannya tersenyum senang. Mota dan Dian lebih mendekatkan diri ke arah Jasmine untuk lebih fokus mendengar cerita gadis itu. “Ini tentang... Jere.” “Kok jadi dia?” Mota bersuara lebih tegas. “Kenapa sama dia?” tanya Dian dengan nada suara yang biasa saja. “Gue mimpi Jere kemarin,” balas Jasmine datar. “Pasti lo mikirin dia kan?” Dian menggoda Jasmine yang sekarang menatapnya jijik. “Nggak mungkin lah gila! Gue udah punya, Kak Ari!” tegas Jasmine. “Iya, sih. Tapi aneh juga tiba-tiba lo mimpi dia setelah bertahun-tahun,” ujar Dian. “Jas.” Mota memanggil nama Jasmine dan menatapnya serius. “Apaan? Lo jangan buat gue takut, deh!” Mota menggelengkan kepalanya. “Bukan apa-apa, tapi tiba-tiba pikirin itu datang ke kepala gue.” “Ngomong, Ta! Lo buat gue penasaran!” “Gimana kalau dia balik?” “Enggak mungkin lah,” sergah Jasmine. “Santai-santai. Ini masih pikiran gaib gue, doang.” “Kalau dia beneran balik gimana, Jas?” Kali ini Dian bersuara. Jasmine beralih menatap Dian. “Gue nggak bakal terima dia, lagi, Di!” “Lo yakin?” “Menurut lo? Gue tetap terima dia setelah apa yang terjadi?” “Lo bego kalau terima dia, Jas.” “Dan gue enggak bego buat terima dia, lagi!” Terdengar jelas nada tegas dalam perkataan Jasmine. ~~~ Pukul satu siang Jamal sudah menunggu di depan gerbang sekolah Jessie. Ia menunggu gadis kecil itu sambil berkomunikasi dengan Jere melalui chat. Setelah mengantarkan Jasmine kembali ke rumah. Di perjalanan Jamal menyempatkan diri menghubungi Jere yang beberapa hari ini memang kurang sehoat karena kesibukannya mengurusi anak perusahaan sang Ayah serta pencarian bukti masa lalu Ari. “Kakek!!” terdengar teriakan Jessie berlari menghampiri Jamal yang sudah merentangkan tangan ingin menangkap Jessie. “Aduh.” Jamal mengadu ketika Jessie menubruk dirinya sangat kuat. “Kamu makin besar, aja, J. Kakek hampir jatuh,” ujar Jamal mencubit pelan pipi kanan Jessie. Jessie tertawa melihat wajah cemberut Jamal, setelah itu memberi kecupan kecil di kedua pipi kakek nya itu. Jamal tersenyum. “Gimana sekolahnya?” Jamal bangkit berdiri dengan Jessie di gendongannya. Membawa gadis kecil itu menuju mobil yang ia parkir di depan sekolah. “Tadi, J mewarnai, Kek. Terus kelas, J, ada temen barunya.” Teman baru yang Jessie maksud adalah anak baru yang pertama kali masuk ke kelasnya. “Dia baik sama kamu?” Jessie mengangguk semangat. “Tadi dia kasih, J, makanannya.” Jamal membuka pintu penumpang di samping pengemudi, lalu mendudukkan Jessie. “Dia perempuan?” Jamal bertanya sambil memasangkan safety belt untuk Jessie.  “Cowok, Kek.” Jamal mengerutkan dahi nya mendengar jawaban Jessie. “Mulai sekarang jangan makan apapun yang dikasih sama orang yang tidak dikenal, ya.” “Kenapa, Kek?” “Bahaya sayang.” “Andi kan temenya, J.” Jamal memperbaiki rambut Jessie yang jatuh ke wajah mungilnya. “Kamu kan udah ada makanan dari mama. Kamu makan itu, aja, ya. Makanan yang dikasih mama buat Jessie itu sehat, biar Jessie nggak sakit.” “Iya Kakek,” balas Jessie akhirnya. Membuat Jamal menghela napas lega. “Anak pintar.” Jamal memberi kecupan kecil di kepala Jessie sebelum menutup pintu mobil. Ia memutari mobil untuk menggapai tempat duduk nya. “Kita beli ice cream dulu mau? Kakek punya kejutan buat, J.” Jamal berkata setelah ia memasang safety belt untuk diri sendiri. Wajah Jessie sangat bahagia mendengar Jamal akan memberikannya kejutan yang sangat ia sukai. Walau hanya kejutan atau kado kecil, tapi sejak umur satu tahun Jessie sangat menyukai yang namanya kejutan dan hadiah. ~~~ “J, mau ituh, Kek.” Jamal kembali dibuat bingung oleh Jessie yang menunjuk ke arah gambar ice cream rasa coklat yang tidak pernah ia sukai. “Jessie yakin?” Jessie mengangguk cepat sangat antusias dengan gambar di menu yang menurutnya sangat enak itu. Jamal menuruti permintaan Jessie, walau ia mulai merasa tidak enak. “Pesan satu yang  itu, Mbak. Jadi, saya beli dua yang ini sama yang rasa strawberry tadi.” “Itu saja, Pak?” “Iya, Mbak.” “Tunggu sebentar, ya, Pak.” “Makasih, Mbak.” Jessie menggoyang-goyangkan kaki nya sambil menopang dagu. Sesekali melihat keadaan sekeliling karena rasa penasarannya. “Selesai makan ice cream kakek kasih kejutannya, oke?” Putri kecil itu mengangkat jempol mungilnya ke atas, mengarahkan pada Jamal sebagai persetujuan atas ucapannya. Jamal kembali dibuat bingung oleh Jessie. Tidak pernah sekalipun Jessie ingin menunda yang namanya kejutan atau kado, tapi kali ini dia menyetujui perkataan Jamal begitu saja tanpa paksaan.   Kenapa hari ini dia aneh? batin Jamal. Jessie menaikkan kaki ingin berdiri di atas tempat duduk, tapi belum sempat terjadi, Jessie sudah ditahan oleh Jamal agar tidak mengakibatkan kejadian yang berbahaya. “Duduk yang bener, J, nanti kamu jatuh.” Jessie kembali duduk tenang seperti sebelumnya menuruti perintah Jamal. Pesanan mereka akhirnya datang setelah menunggu selama sepuluh menit. “Selamat menikmati,” ucap Waiters sambil memberikan senyum pada Jamal dan Jessie. “Terima kasih, Mbak.” “Ini punya, Jessie.” Jamal memberikan ice cream rasa cokelat ke tangan Jessie untuk ia pegang. Jessie dengan semangat mengambil dari tangan Jamal, tapi Jessie malah diam tidak berekspresi ketika ia menyuapkan sesendok ke dalam mulut nya. “Jessie nggak mau ini, Kek.” Meletakkan ice cream itu di atas meja. Jamal tersenyum memaklumi. “Ini punya, Jessie.“ Jamal memberi ice cream rasa strawberry yang berada di atas meja untuk gadis kecil itu. Jessie melahap ice cream itu tanpa henti membuat mulut nya kotor dengan bekas-bekas ice cream. “Pelan-pelan, J. Sampai rumah kakek pasti dimarahin mama karena baju kamu kotor.” Gadis berkuncir kuda itu tertawa kecil melihat wajah cemberut Jamal. “Kamu senang sekali kalau Kakek dimarahin.” Jessie mengambil sesendok ice cream miliknya dan mengarahkannya ke depan mulut Jamal. Jamal dengan senang hati menerima suapan Jessie. “Enak,” sahutnya. “Papi pulangna kapan, sih, Kek?” Jessie melihat ke arah Jamal yang sedang menikmati ice cream nya. Jamal tersenyum. “Sebentar lagi papi pulang.” “Sebental agi itu lama anget, ya, Kek? Jessie kesal!” Jamal tersenyum simpul melihat wajah cemberut Jessie. “Jessie berdoa, aja, supaya Papi segera pulang.” Tidak ada reaksi apapun dari Jessie. Ia hanya fokus memakan ice cream nya dengan wajah tanpa ekspresi. Jamal mengelus lembut puncak kepala Jessie. “Sekarang, habisin ice cream nya. Biar Kakek kasih kejutannya buat kamu.” Nada suara Jamal yang penuh semangat membuat senyum Jessie merekah. Ia menganggkat jempol kanan nya ke atas untuk memberikan Jamal jawaban.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD