bc

Denganku atau Bersamaku?

book_age16+
1
FOLLOW
1K
READ
mafia
mystery
like
intro-logo
Blurb

Zubair Tedjaja memang sangat pintar mengenai hukum, tidak heran dia menjadi Ketua MA paling muda sepanjang sejarah. Tampan , pintar, berpengaruh, kaya raya dan tidak banyak berbicara. Semua itu adalah hal yang selalu dikatakan orang ketika melihat Zu untuk pertama kalinya.

Namun orang-orang tidak tahu kalau Zu memiliki kelemahan. Liliana Martadinata—istri yang dinikahi Zu atas dasar kesepakatan memperoleh perusahaan keluarganya. Namun tidak ada yang menyangka bahwa pria yang tidak pernah terlibat skandal dan citra paling bersih itu akan jatuh cinta pada istrinya sendiri dan menjadi pria bodoh.

Sementara Lili tidak mengetahui bahwa suaminya mencintainya, tidak hingga saat tertentu. Lili yang tidak pernah mendapatkan afeksi dari keluarganya bingung dengan sikap baik yang diberikan Zu. Bahkan keluarga Zu memberikan perhatian yang tidak pernah Lili rasakan. Aneh, namun Lili kecanduan dengan perasaan itu.

Sayangnya tidak banyak orang yang menyukai keluarga Lili. hingga keselamatan Zu berada di ujung tombak ketika bersama Lili.

Pilihan yang dimiliki Zu hanya ada dua,

Denganku atau Bersamaku?

chap-preview
Free preview
1. Zubair Jordan Tedjaja
The Given Pesta off limit yang diselenggarakan awal tahun setiap tiga tahun sekali adalah pesta yang hampir seperti tradisi bagi keluarga-keluarga konglomerat yang sudah saling mengenal untuk waktu yang sangat lama. Para tamu kebanyakan sudah mengenal satu sama lain karena meraka sudah sering bertemu bahkan sering kali berteman karena berasal dari latar belakang keluarga yang sama. Pesta ini diselenggarakan oleh suatu organisasi yang ketua panitia pestanya selalu berganti setiap tahun. Walaupun begitu, tradisi acaranya selalu sama dan pemilihan anggota serta ketua pelaksana pesta selalu dengan kesepakatan anggota yang dilaksanakan seperti rapat pemegang saham. Pesta ini juga disebut sebagai pesta debut untuk anggota keluarga belum pernah diundang di pesta ini. Bedanya, para tamu yang disebut debut memiliki variasi umur yang berbeda jauh. Debut dalam pesta ini berarti diakui dalam organisasi pengusaha ataupun dunia sosial kelas atas. ”Tebak siapa yang bakal debut malam ini?” ujar salah satu tamu pria yang mengenakan tuxedo hitam rancangan rumah mode terkenal. ”Alah paling pengusaha baru, as always” balas temannya, pria tuxedo itu tidak tersinggung karena diremehkan temannya. Kebanyakan pria memang jarang tertarik dengan gosip, jadi dia mewajarkan temannya seperti itu. Sebaliknya, pria tuxedo itu tersenyum mengejek, membuat temannya yang lain penasaran. ”Emang siapa sih, bikin penasaran aja lo” kali ini pria dengan setelan abu tua menimbrung penasaran setelah mengalihkan pandangannya dari ponselnya. ”Penasaran kan lo pada” ”Elah cepet bilang” ”Cucu kesayangan Irfan Martadinata” “The Martadinata yang itu?” Ah.. Martadinata. Keluarga konglomerat berpengaruh yang bisnisnya merambah ke berbagai bidang. Aku tidak mengikuti beritanya, dan baru tahu kalau dalam keluarga itu memiliki cucu kesayangan. “Perempuan satu-satunya diantara cucu pria, tentu saja Irfan Martadinata memberikan perhatian khusus padanya” pria itu melanjutkan. Aku menguk minuman ditanganku kembali. Sedikit penasaran, namun tidak ingin ikut campur di dalamnya. Pria tuxedo hitam itu mengangguk bangga, bisa membuat temannya yang hanya tertarik kepada bisnis dan sosial media terkejut. Sebagai generasi penerus yang harus mempertahankan citra dan harga saham perusahan mereka, membuat mereka sering bergelut dengan sosial media. “Perempuan?” Pria sumber gosip itu mengangguk. “Akhirnya ada kesempatan untuk mesuk ke dalam The Martadinata” Sedikit yang kutahu kalau semua pengusaha pria disini menginginkan untuk masuk ke dalam keluarga Martadinata mengingat pengaruh keluarga itu yang cukup untuk mengembangkan bisnis, namun juga cukup untuk menghancurkan bisnis mereka. Ting.. ting.. ting.. Ketukan pada gelas wine yang menandakan bahwa meminta perhatian terdengar hingga ujung ruangan. Semua tamu menaruh gelas di meja terdekat mereka dan mulai memberikan perhatian pada sumber suara. Seorang pria yang kurasa ketua panitian acara ini memulai pidatonya sekaligus membuka pesta malam ini. Setiap tamu yang debut dipanggil dan melewati tangga ballroom setelah diumumkan prestasi dalam dunia bisnisnya, dan kontribusi atau sumbangan dalam organisasi ini yang dikembangkan untuk amal. Namun tidak ada anggota Martadinata yang disebutkan. Sama sekali tidak ada Martadinata dalam debut kali ini. Sebaliknya semua anggota Martadinata yang dikonfirmasi akan hadir dalam pesta ini sudah datang. Jadi sangat tidak mungkin seseorang Martadinata baru akan hadir sendirian tanpa didampingi anggota Martadinata yang lain. Alunan lagu sudah mulai terdengar tamu undangan mulai berpencar dan membuat koneksi—nama lain berkenalan untuk berteman dengan satu sama lain. Aku masih berdiri di tempatku. Beberapa orang yang menyadari kehadiranku mulai mengajakku berbicara. Sebagai pejabat dengan tinggi yang stabil, otoritasku tidak mungkin tidak menarik perhatian para pengusaha ini. Beberapa menit berlalu dan orang terus bergantian mengajaku berbicara hingga suara ponselku berbunyi yang membuatku terlepas dari mereka. Aku berjalan menuju pintu keluar untuk mengangkat panggilan yang tidak bisa kutolak ini. Pintu utama ballroom terbuka tepat saat aku mendekat, dan seorang wanita muda berjalan dengan percaya diri melewatiku. Mengenakan gaun satin berwarna champange dia berjalan dengan mata lurus. Hingga untuk pertama kalinya aku merasa diriku tidak menarik. Dalam sejarah hidupku, aku tidak pernah membuat wanita tidak menatapku. Namun wanita ini berbeda. Benar-benar tidak perlu menatapku. Getara ponselku membuatku tersadar bahwa Nyonya Floura Tedjaja menungguku menjawab panggilannya. Aku melanjutkan langkah ku dan keluar ballroom. ”Ada apa Bu?” ”Ibu sudah mengirimkan berkas yang diperlukan untuk mendirikan rumah sakit, kamu bisa memprosesnya” ”Ya.” jawabku. Ibu sedang berada di luar negeri dan sedang mempersiapkan mendirikan rumah sakit di Pulau Lombok dan memintaku mengurus surat izinnya, padahal ayah saja bisa melakukannya. Tapi apa yang tidak bisa dilakukan oleh Zubair Tedjaja yang merupakan Ketua MA termuda dalam sejarah. ”Akan siap besok” ”Bagus” ujar Ibu yang diseberang. “Oiya, ngomong-ngomong dimana ayah kamu? dia tidak menjawab ponselnya” Ayah memang orang yang sering mengabaikan ponselnya. “Kami sedang di acara The Given. Aku akan memintanya menenghubungi ibu” ”Ya. Ibu tau penampilanmu pasti sangat menakjubkan hari ini. Ibu menunggu hasil jepretan reporter kalau begitu” Aku tersenyum mendengar pujian ibu yang jarang terlihat karena sibuk dengan acara amalnya. “Bye mom” “See you soon, Zu” Kembali ke ballroom pesta yang kini menampilkan salah satu diva Indonesia yang menyanyikan sebuah lagi dan beberapa orang berdiri ikut menyanyikannya sementara yang lain sibuk berbincang dan berbisik. “…tidak salah kalau dia cucu kesayangan...” “…sudah kuduga penampilannya akan sangat menarik…” ”…aku tidak menyangka dia akan melewati tradisi debut…” “…cukup menarik perhatian…” Sepertinya seorang yang diduga akan debut datang terlambat dan berhasil mengambil perhatian banyak orang di ballroom ini. Aku masuk dan kembali menuju mejaku ketika melihat salah satu Martadinata dikelilingi banyak orang dan wanita bergaun champange yang sepertinya melewatiku tadi di dekatnya. Gadis itu memiliki tubuh seperti model dengan perawakan tinggi yang sama dengan pria-pria yang mengelilinginya. Walaupun aku yakin pasti sepatu yang dikenakannya juga cukup tinggi untuk menunjang tinggi badannya. Seseorang mengajakku berbicara lagi hingga aku tidak bisa memperhatikan gadis Martadinata itu lagi. Satu jam berlalu dan aku tidak menemukan Erwin Tedjaja—Ayahku sama sekali padahal aku sudah berjanji pada Floura untuk menyampaikan pesannya. Aku memutuskan undur diri kepada orang-orang di dekatku untuk mencari restroom yang barang kali menemukan Erwin juga. Masalahnya semua sekretaris pribadi peserta pesta tidak diperkenankan masuk dan tentu saja Erwin akan mengabaikan ponselnya. Erwin akhirnya mengangkat panggilanku dan secara singkat menyelesaikan percakapan kami. Segera aku berjalan keluar area restroom untuk kembali ke ballroom ketika seseorang hampir menabrakku di lorong menuju restroom. ”maaf” suara lembut terdengar di pendengaranku. Aku melihat seorang gadis mundur beberapa langkah dengan gaun panjangnya. Ah.. gadis ini. Gadis yang berdiri di depanku adalah bintang utama yang mengabaikanku tadi. Aku mengangguk sopan dengan jarak ini aku bisa memperkirakan tingginya hanya sebatas daguku. Aku berusaha melewatinya ketika mendengar suaranya lagi. “Permisi” Kini jaraknya lebih jauh dan aku bisa melihat dengan jelas wajahnya. ”Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku sopan. Aku tidak yakin apa yang akan keluar dari mulut gadis yang baru pertama kali kutemui ini. “Maaf jika terkesan tidak sopan padahal baru pertama kali bertemu, bolehkah saya tahu parfum apa yang Anda kenakan?” Aku sedikit mengangkat alisku ketika mendengar pertanyaanya. Heran dengan pertanyaan gadis muda yang jarang aku dengar dari orang lain. ”Saya Liliana. Saya melewati anda di depan pintu ballroom tadi sebelum akhirnya bertemu anda disini. Dan saya tertarik dengan aroma parfum yang anda kenakan, bolehkan saya mengetahui merknya?” Gadis itu sedikit tersipu walaupun wajahnya tetap datar dan sopan menatapku. Aku harus mengingat-ingat parfum mana yang aku kenakan tadi untuk memberikannya jawaban dan menghindari gosip tidak perlu jikalau ada yang melihat kami. Setidaknya aku sedang tidak ingin terlibat dengan wanita manapun ketika menjabat posisi ini. Gadis itu ingin membuka mulutnya lagi ketika aku berhasil menjawabnya. ”Tom Ford, Ombré Leather sepertinya” Aku menyebutkan salah satu merk koleksi parfumku yang cukup sering kugunakan, sepertinya memang benar itu yang kukenakan sebelum menuju pesta malam ini. Gadis itu segera mengetik sesuatu di ponselnya dan kehilangan fokus kepadaku. ”Terima kasih” Aku mengangguk dan meninggalkannya yang masih sibuk dengan ponselnya, samar aku mendengar suaranya menyebutkan parfum yang aku sebutkan. ”…pastikan kamu membawanya saat kembali dari premier film...” Gadis yang sangat terus terang tanpa rasa takut.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
205.2K
bc

Kali kedua

read
223.5K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
51.0K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
26.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
197.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
238.3K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook