The Staff

1698 Words
Viola belajar Pole Dance sudah 2 tahun ini untuk hobinya akan seni tari dan sekaligus untuk membentuk tubuhnya dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Lagipula ia suka gaya ala Burlesque. Menurutnya itu membuat wanita terlihat seksi. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Mata para pria yang menatap nyalang, berkilat dan b*******h. Via mengindahkannya. Sepertinya kaca itu sebentar lagi akan buram karena nafas memburu para pria itu. Aneh juga, bisa-bisanya hari ini tidak ada satu pun pengunjung fitness wanita. Atau Pusat Kebugaran ini hanya dikhususkan untuk kaum pria?! Lagi pula bukan hanya mereka yang menyewa ruangan klub kebugaran, ada ruang Yoga dan ruang Belly Dance juga di sebelah. Tetapi mau bagaimana lagi, Pole Dance memang tarian yang cukup bernada eksotis dan mengundang perhatian. Itu sebabnya, mereka semua kali ini juga memakai topeng setengah wajah. Untuk 'keamanan' kata Coach. Namun dilain pihak, topeng itu justru membuyarkan konsentrasi mereka. Via memanjat tiang dengan kedua tangannya dan berputar. Pendaratan yang manis! Para pria bersorak ribut. Via mengeluh. “Dasar laki-laki kurang digoyang,” dengusnya.  Semua temannya tertawa masam menanggapinya dengan setuju. Walaupun profesi sebagian besar dari teman-temannya adalah penari profesional, namun jika sedang latihan mereka tak ingin ada sorakan murahan yang berasal dari gangguan. Karena saat mereka salah gaya dan gerakan karena konsentrasi pecah atau karena kurang ancang-ancang, salah-salah akan mencederai bagian tubuh mereka. Dan sering kali itu fatal. “Via, lo makin kurus kayaknya ya?!” desis salah satu teman Via. “Sepertinya iya. Kerjaan kantor gue cukup menyita. Biasa kalo udah mau masuk triwulanan jadi sibuk pada cari proyek,” desis Via. “Dan lagi lo tau Boss gue.” “Gerald Bagaswirya itu memang terkenal tangan besi dan termasuk sadis. Terkenal di dunia bisnis,” kata Asri. “Gue kan udah bilang hati-hati. Malah lo terima aja jabatan jadi sekretarisnya lagi. Ya habis lah badan lo. Apalagi dia terkenal pembenci wanita,” “Ada yah orang begitu. Sampe diprotes sama Perkumpulan persamaan hak wanita segala,” “Yang jadi sekretaris ada 10 orang, tetep aja kerjaan segunung,” desis Via. “Dan kayaknya dia udah ngga suka ama gue.” “Lo bikin ulah?” “Gue salah ngejamu tamu. Harusnya pertemuannya di Ritz Carlton dan gue harus booking ruang rapat 2 jam sebelumnya,” “Terus?” “Gue kesiangan 5 menit, udah full booked, dan gue ganti di JW Marriot,” Semua saling berpandangan. “Itu kan ngga masalah sebenernya?” “Yang masalah, dia beranggapan bahwa gue ngga kompeten,” “Hm ... ” desis semua. Lalu secara serentak mereka membalikkan badan mereka dan bersangga pada tiang lalu salto. “Yap! Selesai! Bagus, tinggal keseragamannya ditingkatkan lagi besok.” Ujar Coach. Ruang ganti wanita itu cukup indah sebenarnya. Dindingnya dihiasi mozaik keramik warna pink terang dan perabotnya cukup modern. Teman-temannya sudah terlebih dahulu bergegas pulang karena masing-masing sudah ditunggu pasangannya di lobi gedung. Tinggal Via yang tidak dijemput siapa-siapa. Jadi ia bilas dan berganti pakaian agak santai. Di depan kaca besar yang dihiasi ukiran burung merpati dan keran air bersensor modern, Via melerai rambut panjangnya yang dicat merah dan menyisirnya dengan jari. Lalu ia memakai syalnya dan menyambar tasnya. Wajahnya bercahaya karena ia cukup membuang keringat hari ini lewat gerakan tarinya tetapi ia harus cepat pulang ke rumah. Saatnya istirahat. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Besok ada meeting yang harus dihadirinya, ia akan menjadi notulen. Jadi ia harus berkonsentrasi penuh. Via membuka pintu ruang ganti dan berbelok ke kanan menyusuri lorong gudang penuh kardus berisi alat-alat kesehatan dan membuka pintu besi besar. Tiba-tiba seakan-akan ada sudut yang menghalangi pandangannya. Aura yang terpancar sangat kuat untuk menoleh. Via mengangkat wajahnya. Ia melihat Direktur Utamanya sudah menunggu di depan pintu. Dengan wajah muramnya dan bibir seksi merengut. Dan tangannya tersilang di d**a. Via memekik terkejut dan menghentikan langkahnya. “Sudah saya duga itu kamu,” geram Gerald Bagaswirya. Via berusaha mencerna kata-kata Boss-nya itu , jadi alih-alih bertanya ‘Kenapa bapak bisa disini?’ pertanyaannya ia rubah menjadi … “Malam pak, habis fitness?” sambil memasang wajah innocent. “Jangan pura-pura polos kamu. Saya hafal sekali sama p****t besar kamu itu,” ujar Gerald. Via mengernyit dan otomatis menengok ke belakang, ke arah bokongnya. Sebenarnya bokongnya tidak sebesar itu. Kalau dibandingkan sama Kim Kadarshian ya jelas kalah. “Saya nggak mau ada ‘wanita nakal’ yang kerja di tempat saya. Mulai besok kamu tidak usah masuk kantor!” ujar Gerald sambil beranjak pergi menuju ke pintu keluar. Via melongo. Nggak usah masuk kantor artinya apa? Dipecat? ---------***--------- Seminggu kemudian. Via mengangkat telepon yang berada di sebelahnya. “Iyaaaaa?” sapanya malas-malasan. “Nduk, Tolong kamu ambilin minyak yang ada di lemari Bude, Sing tutup e warna Biru yo. Tolong dikawal kanggo kamar nomer telu,” terdengar suara lembut logat Jawa. (yang tutupnya warna biru ya, Tolong diantarkan ke kamar nomor tiga) Itu Bude Yanti, Budenya yang juga berprofesi sebagai Pemijat Khusus Kejantanan Pria yang sudah terkenal di Kawasan Merapi dan sekitarnya. “Aku yang bawain kesana budeeee?” keluh Via malas-malasan. “Lah, sopo meneh*? Sudah, kamu diam saja kalau ada yang menggoda kamu. Jalannya cepat-cepat saja.” Bude Yanti memberi semangat. (*Lah, siapa lagi) Sambil menutup telepon, Via mengeluh. Saat itu ia berada di Rumah Budenya di Daerah pedesaan di Kabupaten Sleman. Tanah berukuran sekitar 5000m2 itu terbagi atas beberapa rumah bergaya Jawa Aristokrat. Rumah Utama, tempatnya berada sekarang, berada di tengah. Terbagi atas 5 kamar tidur, ruang tamu dan ruang keluarga.  Rumah kedua ada di arah Barat, letaknya terpisah dari rumah utama dan harus berjalan menyusuri trotoar batu dengan taman-taman ala keraton Jawa, jauhnya sekitar 5 meter. Rumah kedua itu berisi dapur kotor, dapur bersih, ruang makan dan kamar-kamar pembantu. Ada 10 orang pembantu, jadi pastinya kamarnya juga banyak. Via belum sempat menghitungnya. Rumah ketiga adalah tempat praktek Budenya. Berada di arah Timur. Seperti layaknya tempat praktek, ada kamar-kamar kecil untuk pijat dan ada ruangan tunggu yang luas. Jangan berpikiran ruangan praktek ini untuk pijat plus-plus. Kebanyakan karyawannya adalah laki-laki juga. Sejauh ini Hanya Bude dan Mbak Asih - asistennya- yang wanita. Dan mereka hanya menangani langsung tamu-tamu VIP. Tamu-tamu yang hanya datang untuk konsultasi dan pijat rutin akan dilayani oleh karyawan laki-laki. Para karyawan diberi pelatihan sebelumnya oleh Bude Yanti selama bertahun-tahun sehingga bisa semahir sekarang. Karena itu biasanya tamu-tamu itu jadi jahil kalau melihat wanita. Apalagi yang masih muda seperti Via yang gaya berpakaiannya khas ibukota. Di Jakarta saja Via tak terhindar oleh pelecehan seksual apalagi di tempat ini? Kenapa sih kegiatannya banyak yang seputaran kumpulan pria-p****************g. Via meletakkan ponselnya dan membuka lemari yang ada di ujung ruangan. Lemari obat-obatan Budenya yang penuh berisi botol dalam berbagai ukuran. Isinya rata-rata minyak-minyakan yang baunya khas rempah-rempah. Kelihatannya Budenya meraciknya sendiri. Ada beberapa botol yang tutupnya warna Biru. Via mengambil salah satunya dan berjalan dengan langkah gontai ke rumah praktek yang terletak di sebelah rumah utama. Benar saja, belum naik ke pendopo saja banyak pria yang bersiul-siul menggoda. Beberapa mengelu-elukan Via memakai Bahasa Jawa kasar yang Via sendiri tidak ambil pusing dengan artinya. Yang jelas bernada m***m. Secara umum begitulah laki-laki memperlakukan Via selama ini. Karena penampilan Via sendiri bisa dikatakan sangat menarik. Dengan tinggi 160 cm, berat 43 kg, Ukuran d**a 32 cup D, cukup besar, dan kulit putih sehalus sutra, jika ia ditawari endorse ya tidak ada yang heran. Kenapa ia bisa terdampar di daerah pedesaan di pedalaman Sleman - Kaliurang seperti ini? Ya, gara-gara tempo hari ia dipergoki Boss Direktur Utama yang menyebalkan itu. Tidak ia kira Gerald akan mengenalinya di antara cewek-cewek seksi lainnya! Bukankah saat menari ia memakai topeng?! Dan bagaimana bisa Gerald ada di kerumunan cowok-cowok beradrenalin dan berotot di malam minggu? Dan bagaimana mungkin pria itu bisa tidak terlihat? Padahal tubuh laki-laki itu cukup menarik perhatian dengan tingginya yang 190cm seperti raksasa. Mungkin ia punya ilmu kamuflase kayak ninja. Mungkin, loh. Sejak kejadian itu, besoknya Via tetap ikut meeting. Karena ia ditunjuk menjadi Notulen.  Dan Via menyadari sepanjang meeting Gerald menatapnya dengan pandangan setajam silet. Rasanya badan seperti ditusuk-tusuk akibat sugestinya. Namun tetap saja Via tidak bisa mengundurkan diri semudah itu. Ia sedang dalam proyek Officer Development Program di mana karyawan yang bersangkutan terikat kontrak selama satu tahun dengan perusahaan. Apabila yang bersangkutan mengundurkan diri diharuskan membayar kompensasi. Dan apabila yang bersangkutan dipecat dari perusahaan dengan alasan tertentu perusahaanlah yang harus membayar sejumlah kompensasi.  Proyek itu hanya bisa meloloskan orang-orang pilihan. Tentu saja Via yang menjadi bintang kelas sejak SD dan Sarjana Magister Management dengan prestasi Summa c*m Laude dapat terpilih. Setelah selesai meeting Gerald memanggilnya ke ruangan kerja pria itu. Dan sekali lagi hanya orang-orang terpilih saja yang ... Yah, bisa dikatakan kalau tidak untuk dimarah-marahi ya untuk negosiasi, dipanggil untuk bisa masuk ke sana. Beberapa orang menjulukinya ruangan panas. Hal-hal menjengkelkan berada di dalam ruangan seluas 5x6 meter yang ditata kaku minimalis modern itu. Apalagi perpaduan warnanya, putih abu-abu hitam membuat ruangan itu sedingin si pemilik. Via tak dapat mengingat dengan jelas ejekan dan makian Gerald kepadanya yang seingatnya cukup menusuk hati. Ia tak ingat detailnya, yang ia ingat sampai pada kalimat : “Kapan kamu akan pergi dari sini?” suara Tenor Gerald memenuhi ruangan kedap suara itu. Via mengernyitkan keningnya. Nada suara Gerald benar-benar membuat telinganya panas. “Akan saya usahakan secepatnya. Saya juga tidak akan menuntut kompensasi apapun dari perusahaan asalkan...” Via menghentikan kata-katanya karena serasa tercekat di tenggorokannya. “Asalkan?” Gerald menanti kata-kata berikutnya. “Apabila bapak bersedia untuk merahasiakan kegiatan Saya. Saya berani menjamin hal itu bukan untuk tujuan komersialitas. Itu hanya konsumsi pribadi untuk menjaga kebugaran dan rasa percaya diri saya,” “Kebugaran? Percaya diri? Banyak kegiatan selain STRIPTEASE yang bisa diambil untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Alasan kamu nggak masuk akal dan bisa mengancam perusahaan!” “Saya hanya menyukai Pole Dance seperti bapak menyukai fitness. Dan saya berani jamin tidak akan ada yang mengenali saya saat latihan. Dan itu Bukan Striptease!” “Saya bisa mengenali kamu,” “Itu yang saya heran,” Gerald menghela napas tidak sabar. “Baiklah, saya beri waktu seminggu buat kamu berkemas-kemas. Setelah itu saya akan mengusulkan surat pemecatan ke HRD.” Setelah itu Via mengambil cuti untuk liburan ke rumah budenya, jauh dari hingar bingar Ibukota Jakarta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD