Mana sih kamar nomor tiga,
Kok semakin ke dalam makin banyak pria-pria yang duduk di ruang tunggu?!
Keluh Via dalam hatinya.
Ia juga sedang berpikir, apa benar Budenya seterkenal itu?
Dan buat apa sih mereka memperpanjang ‘alat laki-lakinya’ atau membuatnya mempunyai daya tahan lebih lama?
Bukankah itu akan membuat kaum wanita semakin tersiksa dengan rasa sakit akibat tusukannya?
Via sambil misuh-misuh sendiri mempercepat langkahnya.
Ruangan nomor tiga ternyata adalah ruangan VVIP dengan pasien berkebutuhan khusus. Jadi letaknya agak ke dalam.
Via membuka pintu jati berukir di pojok ruangan.
“Budeee? Ini minyaknya,” panggilnya.
Lalu ia terkesiap, hampir menjatuhkan botolnya.
Gerald ada di sana,duduk di kursi pasien yang terbuat dari kulit berwarna hitam.
Dengan tubuh bagian bawah terbuka tanpa pakaian.
Dan alatnya yang hanya seukuran telunjuk wanita.
Loyo dan melambai.
Membuat bibir Via yang merah itu membentuk huruf O besar.
Dan Gerald melihat Via seperti melihat setan.
“Taruh saja di situ Nduk. Si Winarto hari ini nggak masuk jadi Bude terpaksa minta tolong kamu.” Budenya keluar dari bilik sambil memegang mangkuk berisi ramuan. Lalu menghentikan langkahnya karena menyadari atmosfir yang menghiasi ruangan.
Atmosfir permusuhan.
Bibir Via yang tadinya berbentuk huruf O langsung berubah menjadi senyuman kecil selicik rubah.
“Iya Bude,” sahutnya lembut. “Maaf mengganggu ya Pak,” desisnya licik sambil berlalu ke balik pintu.
Dan cepat-cepat berjalan berjalan setengah berlari ke arah rumah utama sambil tersenyum penuh kemenangan.
-------*****-------
Gerald duduk di pendopo rumah praktek Jeng Yanti yang seluruh bagiannya terbuat dari jati.
Pendopo itu berada di belakang Rumah Ketiga karena pemandangan di sana terlihat indah. Hamparan sawah menguning dan danau kecil dengan angsa-angsa peliharaan Jeng Yanti berenang di sana. Pohon-pohon dengan daun berbagai warna terlihat seperti menari ditiup angin sepoi.
Pendopo itu dipesan khusus olehnya agar ia bisa rileks sendirian tanpa diganggu tamu lainnya, juga untuk alasan privasi.
Seharusnya, biasanya, Gerald akan duduk rileks sambil minum ramuan herbal setelah selesai pijat sambil berpikir rencana-rencana kegiatannya setelah ini.
Tetapi hari ini,
Benar-benar sial!
Umpatnya dalam hati.
Viola Sandro
Jantungnya masih berdebar keras memikirkan kemungkinan terburuk.
Sudah cukup ia dihina oleh orang-orang sekitarnya semasa remaja dahulu. Dan untung saja masa remajanya tidak dihabiskan di negara ini. Sering kali ia harus berpindah-pindah tempat karena di-bully dan akhirnya ia merasa harus menunjukkan kekuasaannya untuk meredam kekurangannya.
Ia tak peduli dikatai sadis atau tidak berperikemanusiaan, asal rahasia yang satu ini tertutup rapat-rapat. Apapun akan ia lakukan untuk menyembunyikannya.
Nah,
Untuk gadis ini,
Si Via ini,
kira-kira apa yang harus dilakukannya agar gadis itu bungkam?
Selagi berpikir keras, si biang masalah malah lewat di depannya.
Via yang hari itu mengenakan kaos putih polos dan celana pendek berbahan jeans warna pink dengan rambut panjang berwarna merah melambai mengikuti aliran angin membuatnya tampak seperti bidadari yang turun untuk mandi.
Gadis itu sedang menaburkan semacam butiran untuk makan angsa-angsa di danau.
Umumnya angsa akan galak jika didekati manusia. Salah satu angsa besar berwarna hitam mengincar Via bermaksud untuk menyeruduk b****g gadis itu dengan moncongnya, namun Via dengan sigap berbalik dan memukul kepala angsa itu dengan sandal jepitnya. Lalu ia meneriaki sesuatu yang membuat angsa hitam itu menjauh dan menurut.
Kalau kondisi normal mungkin Gerald sudah tertawa terbahak-bahak.
Namun kali ini ia malah semakin marah.
Mengapa gadis itu menjadi semakin menarik, membuat kepalanya menjadi pusing.
Gerald beranjak dari duduknya dan turun dari pendopo bermaksud untuk menghampiri Via.
Namun Via sepertinya merasakan aura gelap di belakangnya, telah terlebih dahulu menoleh dan menyadari Gerald berjalan ke arahnya bagaikan seekor singa yang akan menerkam mangsa.
Dan ia adalah mangsanya. Dan insting mangsa adalah lari menjauhi predator.
Dan itulah yang ia lakukan.
Lari!
“Tunggu!!” seru Gerald.
“Nggak!!” teriak Via sambil berlari menjauh.
Ia mengira Gerald sudah pulang ke Jakarta sehingga ia bisa bebas berjalan-jalan menghabiskan waktu di halaman belakang Bude Yanti-nya itu.
Langkah Gerald yang lebar membuatnya bisa dengan mudah menangkap lengan gadis itu.
Ya Tuhan, Pikir Gerald,
Lengannya kurus sekali dan lembut seperti kapas. Aku bisa saja dengan mudah mematahkannya seperti memecahkan kerupuk.
“Aooowww!!” keluh Via sambil meronta.
“Diam sebentar!” kahut Gerald.
“Saya kan sudah dipecat! Udah ngga ada hubungannya lagi sama Bapak, jadi setidaknya biarkan saya hidup dengan tenang!” Via mulai melantur karena panik.
“Mana bisa saya biarin Kamu hidup tenang?! Sini Kamu!!” Gerald menyeret Via memasuki pendopo.
“Sakit Pak!! Ini namanya sudah perbuatan tidak menyenangkan. Kekerasan fisik!” sahut Via.
“Jangan bawa-bawa hukum deh, Kamu kan tahu kualitas jajaran pengacara yang saya punya,” Gerald mulai menyombong, membuat Via terpekik tidak percaya akan pendengarannya.
“Duduk!” Gerald mendorong Via ke sofa kayu di pendopo.
Via akhirnya duduk sambil merengut.
Ia mengelus-elus lengannya yang nyeri. Jari Gerald besarnya bisa 3x lipat jarinya, membuatnya memar kemerahan. Padahal Gerald sama sekali tidak menggunakan tenaganya untuk menyerat Via ke sana.
Gerald menarik kursi di seberang ruangan dan meletakkannya di depan Via, untuk mengunci gadis itu agar tidak bisa kabur, lalu duduk di kursi itu dan mendekatkan wajahnya sehingga hanya berjarak beberapa senti dari hidung bangir gadis itu.
“Kira-kira apa yang bisa membuat Kamu bungkam yah? Apa saya streples saja mulut Kamu? Atau lidah Kamu harus saya potong?” desis Gerald bernada mengancam.
“Bapak sebenarnya psikopat yah? Tapi saya pernah mendengar bahwa laki-laki frigid bisa berbuat nekat melebihi laki-laki normal karena kebutuhan seksual mereka tidak bisa tersalurkan,”
“Siapa bilang saya frigid? Dan siapa bilang kebutuhan seksual saya tidak tersalurkan?! Kamu berbicara tanpa berdasarkan bukti,”
“Nah itu buktinya, mengancam saya dengan cerita-cerita menakutkan,”
“Jadi Kamu harus saya apain biar diam?!”
“Oh, sudah mulai yah negosiasinya?! Dikiranya saya bisa semudah itu ditawar? Saya bukan klien Bapak!”
“Jadi biar Kamu bisa ditawar, saya harus apain?!”
Hm.
Via berpikir.
Apa yang ia ingin lihat dari seorang manusia setengah iblis, Via menganggapnya demikian, seperti Gerald?
Apa yang menjadi ‘khayalannya’ selama ini saat ia kesal terhadap Gerald yang sering memperlakukannya semena-mena di kantor?
“Minta maaf. Cium kaki saya,” desis Via sambil mengangkat bahu.
Hanya asal bicara sebenarnya.
Pria sombong seperti Gerald jangan dikasih hati menurutnya.
Lihat saja wajah pria itu yang seksi seperti model celana dalam laki-laki itu memicingkan mata menatapnya.
Sinis sekali!
Di usianya yang mendekati 40 tahun seharusnya Gerald lebih dewasa dalam menjalani kehidupannya. Bukannya malah cari-cari musuh seperti ini.
Di luar dugaan tangan besar Gerald mengangkat kaki Via untuk didekatkan ke wajahnya, dan pria itu mencium jari jemari kaki Via.
Dengan lembutnya.
Via ternganga tak percaya.
Ia bagaikan melayang dan masih terjebak di alam mimpi.
Wanita itu bahkan tak yakin saat ini adalah dunia nyata.
“Puas?” desis Pria itu dengan kesinisannya yang khas.
“Wow ... ” gumam Via
“Err ... ” Via bergumam cukup lama karena rasa shocknya. Gerald bahkan belum melepaskan genggaman tangannya dari kaki via.
“Jadi, kamu bisa Jaga rahasia saya? “ Tanya Gerald lagi, kali ini nadanya menuntut.
Membuat Via yang tadinya terkesima menjadi jengkel. Otak liciknya mulai mendominasi pemikirannya, Ia memegang Kartu AS orang paling sadis di kantornya, orang paling sombong dan angkuh yang telah membuat ratusan karyawan menderita di bawah kepemimpinannya.
Ia tidak akan memutuskan hubungan ini secepat itu.