Dunia benar-benar sedang bercanda denganku.
Dari sekian banyak wanita, kenapa harus yang ini?
Dari sekian banyak manusia di Bumi, kenapa harus Viola Sandro yang dipilih untuk mengetahui aibku?
Aku ingin sekali menghindarinya sejak lama!
Setiap hari memikirkan bagaimana cara membuatnya raib dari hidupku.
Kenapa?
Karena dia sangat cantik, dan itu sangat menggangguku!
Kalau dia bukan keponakan dari orang yang penting bagi bisnisku, mana mau aku menerimanya bekerja di perusahaanku.
Dan tibalah kesempatanku saat melihatnya di Gym menari tiang.
Kupikir itulah saatnya menghilangkan wanita yang membuatku ... Hm, apa istilah tepatnya?
Terbangun secara sek-sual.
Sehingga hari-hariku tidak akan lagi terasa menyiksa.
Nyatanya, kenapa aku malah semakin dekat dengannya?!
Tolong sayangilah aku sedikit saja, Tuhan!
Gerald bersumpah-serapah dalam hati. Mengutuki jalan takdirnya.
Kenyataannya, yang membuatnya sangat membenci wanita selama ini memang karena disfungsinya.
Ada beberapa wanita yang tahu, tentu saja sudah jadi ‘mantan pacar’. Dan perpisahan mereka begitu menyakitkan.
Cercaan, ejekan, apalagi melihat wajah mereka yang licik.
Mereka sudah disingkirkan.
Tapi rasa trauma itu terus menghantui hati Gerald.
Bagaimana cara menyingkirkan si para mantan?
Hal itu,
Adalah pekerjaan Para Pengawal. The bodyguard.
Bambang dan Yudhis.
Lengkapnya, Bambang Reginald dan Yudhistira Bagaswirya.
Di lain tempat, saat Gerald sedang berurusan dengan Via, di sebuah ruang tunggu terpisah, kedua asisten pribadi, pengawal, sekretaris, dan sekaligus supir pribadi, bahkan kalau bisa sebagai pembantu rumah tangga juga, dari Gerald Bagaswirya yang termasyhur,
Bambang dan Yudhis menunggu atasannya dengan sabar.
Urusan pribadi Gerald yang satu ini memang harus disembunyikan rapat-rapat.
Tidak, mereka tidak mengejek Boss mereka sembunyi-sembunyi. mereka berdua termmasuk jenis staff yang loyal dengan Bossnya.
Bambang setia pada Gerald karena pria itu pernah menolongnya yang hampir mati. Jadi seumur hidup rasanya Bambang sangat berterimakasih pada Gerald.
Gerald tidak minta balas budi, tapi Bambang yang memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya melayani Gerald.
Sementara Yudhis adalah sepupu Gerald, yang memang diberi tugas khusus untuk menjaganya.
Bisnis yang Gerald jalani adalah sumber penghasilan utama banyak orang di keluarga besar mereka. Jadi sudah sepantasnya Yudhis melindungi tulang punggung keluarga.
Walaupun dia adalah sepupu Gerald. Tapi sikapnya tidak aji-mumpung. Perangainya agak kasar dan ambisius. Berbeda dengan Bambang yang menghadapi semua masalah dengan santai, Yudhis termasuk type yang main libas kalau ada ancaman mendekat.
Penampilannya memang kurang sesuai standar perusahaan. Kemeja digulung sampai siku dan tato tebal memenuhi kedua lengannya.
Ia juga kurang suka pekerjaan administratif seperti terlalu lama duduk di depan komputer, namun kondisi fisiknya lebih fit dari siapa pun.
Angin sepoi pegunungan di siang hari membuat tubuh mereka relax.
Bambang menyandarkan tubuh tinggi menawannya ke dinding kayu di ruang tunggu Bude Yanti.
Ia sedang mengutak-atik ponselnya, memeriksa pekerjaan dan jadwal atasannya.
Setelan jas kerjanya elegan, yang memang merupakan seragam karyawan Jarvas, menambah pesona seorang eksekutif muda mumpuni yang selalu tampil dengan kacamata bingkai hitamnya dan senyum manisnya itu.
"Si Boss kok lama ya?!" Yudhis mengernyit sambil membuang puntung rok-oknya ke tanah dan menginjaknya.
Bambang mengangkat wajahnya dari ponselnya.
"Emang udah lama ya bro? Gue bahkan belum selesai bikin spreadsheet loh,"
Yudhis mengangkat alisnya. "Oh. Terus mau kita biarin si Boss sendirian sampai lo selesai bikin spreadsheet, gitu? Nunggu sampe besok itu sih namanya," sahutnya.
Yudhis beranjak dari duduknya, menegak kopinya sampai tinggal ampasnya yang tertinggal di cangkir, lalu menggeret Bambang ke dalam pendopo dengan tak sabar.
"Duh," keluh Bambang saat ia ditarik Yudhis untuk memeriksa keadaan Boss mereka.
Benar saja.
Pemandangan absurd terjadi saat mereka tiba di pendopo VIP.
Mereka melihat boss mereka.
Ada di sana.
Sedang mencium kaki seorang wanita.
Dan mereka mengenal si wanita.
Viola Sandro, atau mereka mengenalnya dengan panggilan Via.
Yang mana, skema mengenai mereka bertiga di kantor adalah :
Via menyukai Bambang tanpa sepengetahuan siapa-siapa, namun Bambang menghindarinya dan menunjukan penolakan secara halus.
Dilain pihak, Yudhis tampaknya sudah lama menunjukan ketertarikan terhadap Via. Namun tawaean untuk makan siang bersama atau tawaran antar jemput selalu ditolak Via karena wanita itu menyukai Bambang.
Sementara Gerald berusaha menyingkirkan Via dengan berbagai cara.
Hm.
"Pak Presdir?" Yudhis memasang wajah tak percaya saat melihat adegan itu. Pun Bambang sudah melupakan aktivitas pekerjaannya di ponsel.
Gerald menghela napas dan mengernyit.
"Akhirnya kalian datang juga. Kemana saja dari tadi?" sindir Gerald.
Yudhis menghampirinya dengan panik. Langkahnya menghentak-hentak.
"Jangan bilang kalau dia tahu," geram pria itu.
Gerald tidak menjawab, namun raut wajahnya sudah merupakan jawaban untuk Yudhis.
"Sial!" Yudhis maju dan mencengkeran kerah kaos Via dengan kasar. "Lupakan semuanya atau kamu akan kami bereskan!"
Via terpekik kaget dan tersentak ke belakang akibat dorongan Yudhis yang kasar.
Bereskan, katanya?
Bereskan itu maksudnya apa??
Batin Via ketakutan.
Ia bahkan tidak percaya ini adalah laki-laki yang tempo hari berani menyatakan 'suka' padanya.
"Hoi, Bro! Kalem aja duluuuu!" seru Bambang sambil menghentikan tangan Yudhis.
"Dia tahu, bro! Itu bisa menjadikan Pak Presdir sebagai bahan gurauan! Belum kalau dia punya request aneh-aneh!"
"Ugh! Lepas..." Via meronta karena tangan Yudhis menekannya ke dinding dengan kuat.
"Ya tapi kalo begitu caranya lu bisa bun-uh orang! Dia udah kehabisan napas!" seru Bambang sambil menarik tangan Yudhis ke belakang.
"Ngga bisa semudah itu!" seru Yudhis. Ada kepanikan dalam nada suaranya.
Kenapa malah Via yang ada disana?!
Tapi pekerjaannya adalah melindungi Gerald dari setiap ancaman.
Dan Via adalah ancaman.
Benar-benar suatu dilema!
"Yudhis, lepaskan dia." desis Gerald.
Pria itu kini sudah duduk di selasar sambil meluruskan kakinya dengan santai.
"Pak!!" protes Yudhis.
"Serius?!" Bambang mendengus setengah tak percaya mendengar atasannya memerintahkan untuk melepaskan Via.
Walaupun dia bersyukur itu adalah perintah yang keluar dari mulut Gerald, karena sesungguhnya ia tak ingin Yudhis tenggelam dalam emosinya.
Kalau sudah emosi, ia tidak melihat kanan kirinya, fokusnya hanya ke Gerald.
Monster sekaligus robot yang berbahaya, menurut Bambang.
"Mbak Via kenapa ada di sini, Pak?" tanya Bambang penasaran.
Via mengatur napasnya dengan gugup sambil melirik Yudhis dengan was-was.
Dan Yudhis menatapnya dengan ancaman.
"Dia keponakan Bu Yanti." jawab Gerald.
"Oh."
Bagai tidak percaya Bambang membulatkan bibirnya.
"Kok bisa?"
Pertanyaan selanjutnya terdengar bodoh.
"Hm. Menarik, kan?" desis Gerald sambil bersungut-sungut.
"Apa dia mengancam Bapak dengan sesuatu yang tidak masuk akal?" Tanya Yudhis. Tatapannya ke Via begitu angker dan mengancam.
Via bahkan harus mengalihkan pandangannya ke tempat lain karena merasa terintimidasi.
Inikah pekerjaan lain dari Bambang dan Yudhis?
Pikir wanita itu dalam hati.
Selama ini yang Via tahu, mereka berdua memang asisten pribadi Pak Presdir.
Mereka selalu mendampingi Gerald kemana pun. Pokoknya kalau ada sesuatu yang harus disampaikan ke Gerald, pasti harus melalui mereka berdua dulu.
Mengenai kehidupan pribadi kedua assisten pribadi Gerald ini, jarang ada orang lain yang tahu. Mereka tidak pernah terdengar atau terlihat berhubungan secara in-tens dengan siapa pun.
Namun Via tidak menyangka kalau seperti ini lah kerja mereka yang sebenarnya.
Sok penting sekali sih si Gerald ini !
Sungut Via dalam hati.