The Agreement

1133 Words
"Jadi, apa tawaran kamu? Kalau masuk akal, akan saya coba penuhi. Kalau tidak masuk akal, mereka berdua yang akan membereskan kamu," Gerald melirik Bambang dan Yudhis yang berdiri di sebelah Via dengan tegang. "Ah, sebagai bahan pertimbangan, mereka berdua ini sudah 'membereskan' beberapa orang yang mengan-cam hidup saya. Sampai sekarang tidaj ada lagi yang pernah muncul di depan saya." Gerald dan senyum liciknya. Ga-nas, ang-ker, dan sedingin es. Memperingatkan Via dengan tatapan tajamnya yang dibuat senormal biasanya. Namun, Via dapat melihat kebencian yang luar biasa terukir di manik hijaunya. Via pun nyalinya ciut. "Heeemmmm ... ," wanita itu bergumam tanda sedang berpikir. Alisnya mengerut karena sedang berpikir keras. "Pak Presdir," Bambang maju ke sebelah Gerald sambil merangkul bahu pria itu untuk menariknya menjauh dari sana. Gerald sampai mengerutkan dahinya saat tangan Bambang melingkari bahunya. "Apa?" Gerald menepis tangan Bambang. "Ish! Maaf Pak, reflek." Bambang mengelus punggung tangannya yang ditepis. "Jadi, begini Paaaaak," bisik Bambang. "Ngomong saja, jangan kebanyakan basa-basi!" tegur Gerald. "Saya sebenarnya masih butuh Via untuk pekerjaan kantor," Gerald memicingkan matanya. "Butuh Via? Untuk apa?" "Bapak pikir gara-gara siapa slide presentasi selesai tepat waktu? Lalu Via juga membanntu saya koordinasi dengan tim lain untuk mengumpulkan data annual report yang diminta shareholder. Belum masalah legalisasi, saya kan jarang ada di kantor, selama ini Via yang bolak-balik bekerja-sama dengan rekanan pengacara." bisik Bambang. "Loh? Ternyata selama ini kamu minta bantuan Via, toh? Saya pikir kamu sehebat itu, loh." "Memangnya saya Bandung Bondowoso, bisa bangun seribu candi dalam semalam?! Dia aja minta bantuan, apalagi saya!" "Haaaah, kamu nih semprul juga!" Gerald menggelengkan kepala sambil berkacak pinggang. "Jadi, kalau Bapak berkenan, tolong lebih lembut sedikiiiiit saja ya ke Via." "Ya sudahlah, bisnis lebih penting. Pastikan saja kalau dia bungkam." "Nanti kita bikin perjanjian di atas materai, di depan pengacara." sahut Bambang. Sementara Bambang dan Gerald berdiskusi, Via dan Yudhis... "Sakit ... " gumam Via sambil terisak dan membuang muka. Ia mengelus pundak bagian depan yang tadi ditekan Yudhis dengan kasar. "Itu pekerjaan saya," ujar Yudhis "Ya tapi lebih lembut sedikit dong! Saya itu perempuan!" protes Via. "Saya tidak memandang gender kalau urusan Pak Presdir. Bukankah ada emansipasi wanita yang kalian gaung-gaungkan itu?!" sindir Yudhis "Ya tapi bukan begitu juga konsepnya!" "Terkadang mulut wanita lebih tajam dari pada pisau yang sering kami hujamkan." Mata Via membesar. "Hujamkan kemana?!" "Ada deh," "Itu hanya gertakan saja," "Ooh, mau lihat bukti?" tantang Yudhis. Via mengelus lengannya yang merinding. "Nggak usah," dengusnya. "Menyesal saya, suka bantuin kerjaan kamu kalau kamu ngga di kantor," "Hem. Kalo yang itu saya memang harus meminta maaf. Tapi buat saya, yang ini lebih penting." Via mengambil napas dalam-dalam untuk menguasai dirinya. Saat itu Bambang dan Gerald sudah selesai berdiskusi dan menghampiri mereka. "Urusan kita sudah selesai, ya. Nanti ada perjanjian yang harus kamu tandatangani di depan pengacara. Kamu mau minta penawaran apa?" Kata Gerald. Via, yang saat itu masih mendendam ke Yudhis, ingat kalau gelagat pria itu di kantor menunjukan ketertarikannya ke Via. Di lain pihak, Via juga pernah ditolak Bambang saat wanita itu mengajaknya makan siang. Sering ditolak Bambang, lebih tepatnya. Oke, dua pria yang terlibat 'perasaan pribadi' dengannya di tempat kerja, dan seorang pria yang lebih berkuasa dan kebetulan menyebalkan. Jadi ...? "Penawaran pertama, saya minta diterima bekerjaa kembali namun sebelumnya saya cuti 1 minggu." "Kedua, saya minta gaji saya dinaikan 150%" "Ketiga ..." Semua hening. Menunggu. Via menatap Gerald dengan lurus dan tajam. Dan kemudian, Sebuah senyum licik menghiasi wajahnya, menampilan lesung pipitnya yang menggemaskan. "Ketiga, saya ingin Pak Gerald jadi pacar saya." Tidak ada yang bicara. "Ck ! Deportasi saja ke Kutub Selatan. Es mulai tipis kan?! Hari gini masih bercanda saja," Gerald beranjak pergi. "Saya serius kok." sahut Via. Ia menyelidiki raut wajah Yudhis dan Bambang yang masih ternganga karena kaget. "Buat apa jadi pacar saya, ha? Kamu ngga bakalan dapet enaknya!" "Memangnya pacaran itu harus melakukan ade-gan ena-ena?! Kan ngga harus Pak!" ujar Via. "Ya terus buat apa? Tujuan kamu apa?" "Biar reputasi saya terangkat di kantor." "Hah?" dengus Gerald. "Ck." decak Yudhis. "Hehehehehehe." Bambang malah terkekeh. "Pinter banget kamu. Memang cewek langka! Sudahlah Pak, sah-kan saja jadi pacar! Kebetulan kan Bapak juga terbebas dari perjodohan orang tua!" Gerald langsung berbinar. "Benar juga kamu!" "Perjodohan orang tua?!" tanya Via. "Iya selama ini dia disangka G-ay, orang tuanya ngga tau kalau dia begini. Jadi yaaaah lumayan lah kamu bisa jadi pengalih perhatian. Paling tidak bertahan setahun lah jadi pacar Pak Gerald. Kalau dia agak rese , cuekin saja." "Maksudnya saya rese, gimana?!" ujar Gerald. "Lupakan Pak, itu cuma curahan hati saya," Bambang tersenyum manis. "Ini serius jadinya begini? Gue ngga setuju! Via jadi pacar Pak Gerald belum tentu dia ngga bakalan sesumbar ke orang-orang!" protes Yudhis. Jelas sekali dia merasa cemburu. "Memangnya selama ini saya dianggap tukang gibah ya?" sungut Via. "Ada perjanjian tertentu kalau kamu sampai ketahuan menceritakannya ke orang lain. Kamu akan mengancam perusahaan dan mata pencarian semua orang yang kamu kenal. Termasuk Om kamu yang merupakan rekan bisnis Pak Gerald, juga usaha Bude Yanti," kata Bambang. "Mereka tidak ada hubungannya!!" seru Via. "Kami jadikan ada hubungannya. Terpaksa, agar kamu jaga sikap," kata Bambang. "Astaga," keluh Via "Oke, tapi, saya juga minta sesuatu saat saya jadi Pacar-pacaran Pak Gerald." "Awas kamu aneh-aneh." sungut Gerald. "Saya minta diperlakukan seakan-akan Pak Gerald benar-benar menyayangi saya. Mungkin bapak bisa memanjakan saya di depan orang, atau selalu di sebelah saya sepanjang hari, kencan berdua di akhir minggu, atau bisa juga mengirimi saya wa romantis. Dan hadiah-hadiah." Via menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman. Dia benar-benar akan membuat Bambang cemburu, dan membalas perlakuan Yudhis padanya tadi. "Terserahlah." Gerald memicingkan mata sambil memandang Via dengan sinis. "Saya banyak kerjaan." Dan tanpa basa-basi dia pun beranjak ke arah pintu keluar. "Wah, akhirnya ngga jomblo lagi, selamat yaaa," sahut Bambang sambil cekikikan dan mengikuti Bossnya. "Kamu ini..." geram Yudhis, masih tetap menatap Via dengan tak percaya. "Mulai sekarang, kita musuh! Pundak saya masih sakit!" gerutu Via sambil masuk ke dalam pendopo. Saat gadis itu menghilang ke balik pendopo, Yudhis meninju tembok disebelahnya hingga berlubang. Bambang memgikuti Bossnya ke mobil sambil memeriksa ponselnya. "Pak, malam nanti hadir di meeting rencana melikuidasi usaha properti?" tanya Bambang. "Hadir saja, saya perlu kerja yang banyak untuk melupakan masalah ini. Kamu ngga usah datang. Nanti saya tunjuk notulen lain." sahut Gerald. "Ah, terus, saya minta nomer telepon siapa tadi? Si Bandung?" "Ha? Bandung, Pak?!" Bambang mengernyit tak mengerti. "Iya. Bandung woso-woso tadi. Saya perlu tahu dari perusahaan mana dia bisa bikin seribu candi dalam semalam. Saya butuh nomor kontraktornya." "Bapak ini serius atau bercanda? Kalau bercanda, garing banget Pak, kalau serius malah jadi lucu ada turunan keraton yang ngga kenal Bandung Bondowoso!" "Memangnya dia dari kerajaan mana? Masih hidup kan orangnya?" "Ah! Terserahlah. Pusing saya ..." Bambang mengibaskan tangan dan membalas email "Hei, harusnya saya yang pusing!" seru Gerald sambil berkacak pinggang. *******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD