The Girlfriend

1043 Words
Cuti Seminggu!! Luar biasaaaaaaa! Sorak Via dalam hati. Dan yang lebih mendebarkan. Statusnya sekarang adalah : Pacar CEO! "Hahahahahahahahah!!!" Via terbahak dengan licik di kamarnya. Ia tidak menyangka kejatuhan rejeki sebanyak ini. Sudah begitu, gajinya akan naik 1,5 kali lipat! Padahal menurutnya kualitas kerjanya biasa-biasa saja, dan siapa yang menyangka boss pelitnya itu akan menyanggupinya. "Hebaaaaatttt!" serunya senang, sekaligus bangga ke dirinya sendiri. Walaupun Ia mengakui, dia bersimpati juga ke Gerald sebenarnya. Gerald dan aibnya. Namun, pria itu sudah 'menyiksa' banyak orang dengan aturan-aturan kolotnya di kantor. Jadi menurut Via, "Tidak usah dikasihani! Ini hukumanmu, Gerald Bagaswirya!!" serunya senang. "Nduuuk kok teriak-teriak sendiri sih? Wis bengi loh iki, sare!" (sudah malam loh ini, tidur!) keluh bude Yanti sambil mengetuk pintu kamarnya. "Maaf Bude, lagi main game!" begitu alasan Via. "Istirahat yo, nduk!" kata Budenya lagi. Sejenak tidak ada suara dari luar dan terdengar suara pintu kamar Bude Yanti yang ditutup. Dan Via cekikikan lagi, kali ini dengan suara agak pelan. Iya, main game. Game Cinta. Hihihi!! Via cekikikan sendiri sambil berguling-guling di atas tempat tidurnya seperti remaja sedang jatuh cinta. Ia sadar sedang bermain-main dengan sesuatu yang berbahaya, namun adrenalinnya terpacu. Jiwa petualangnya tergugah, untuk mengerjai Gerald si Manusia Congkak. ****** Pagi harinya, Via bersiap kembali ke Jakarta. Tadi malam ia sudah memesan tiket kereta, ia akan menempuh perjalanan santai dari Jogja Ke kosannya. Di Jakarta tidak ada siapa-siapa, ia tinggal sendiri di kosan daerah Jakarta Barat. Ayahnya di Stresa, Italia, sudah menikah lagi sejak lama, sepeninggal ibunya. Sebenarnya di Bekasi tinggal Omnya dari pihak Ayah, yang merupakan rekan Bisnis Gerald juga, namun Via terbiasa hidup mandiri. Ia tidak mengenal ibunya, namun ayahnya selalu bilang kalau Via sangat mirip dengannya. Rambut Via sebenarnya hitam legam, sama seperti milik ibunya. Dan karena ayahnya suka berkaca-kaca teringat almarhumah saat menatap Via, akhirnya Via mengganti warna rambutnya menjadi merah terang. Sejak usia Via 5 tahun, Via memiliki ibu tiri. Jangan salah sangka, Ibu tirinya wanita Indonesia yang kalem dan sabar menghadapi segala jenis tantrumnya Via. Via menyayanginya seperti ibu kandung sendiri. Mama Anggid, begitu Via menyebutnya, selalu mengkhawatirkan keadaan Via. Sudah ini belum-sudah itu belum, jangan ini-jangan itu, kalimat-kalimat favorit Mama Anggid yang senantiasa ditujukan ke Via. Dan Bude Yanti adalah saudara Mama Anggid. Sebelumnya Via belum pernah ambil cuti. Kantornya di Jarvas Corp benar-benar menuntut perhatian. Untung saja tub-uhnya tidak memerlukan perawatan khusus karena diberkahi kecantikan khas wanita Italia. Sek-si, body gitar, da-da besar, kulit eksotis mulus dan mata besar menawan. Jadi sesibuk apa pun Via, tetap bisa tampil cantik. Walaupun tidak terlalu tinggi, hanya 155cm, namun Via dianggap cukup menarik bagi sebagian besar pria. Pacar? Beberapa kali ia memiliki pacar. Sudah pasti sosok seperti dirinya tidak mungkin berlama-lama single. Per-awan? Sayang sekali, sudah berlalu begitu saja tanpa bekas saat ia baru mendapatkan e-KTP. Via memang menyesal, tapi apa gunanya? Apalagi dia tinggal di metropolitan dimana hal tersebut tidak menjadi tabu lagi. Memang hal itu salah, apalagi dirinya wanita beragama. Jadi, ia pun sedang menata hatinya, memperbaiki kualitas dirinya, sebisa mungkin menghindari hal-hal buruk, dan sepertinya ia harus berhenti senam tiang. Itu sebabnya sikap Via di kantor, disetting tidak bersahabat. Dia dalam kondisi vegetatif. Me-reset kembali hatinya dan lebih selektif mencari pasangan. Walaupun bukan sifat Via untuk memperlakukan orang dengan jutek dan dingin. Sifatnya yang sebenarnya ceria dan supel. Namun laki-laki suka jadi salah kaprah. Juga, saat ini Via lebih mempercayai instingnya. Instingnya bilang, kalau ia harus berhenti dari senang tiang. Toh, masih banyak olahraga lain. Saat sesuatu tidak berjalan lancar, tandanya dirimu sedang diperingatkan kalau hal itu berdampak buruk bagi dirimu. Namun ... Benarkah? Pole dance lah yang membuatnya bisa dikenal Gerald. Dia dipecat dan akhirnya tinggal di rumah Bude Yanti untuk menenangkan diri. Tunggu, Tidak tepat. Alat Gerald-lah yang membuatnya ditimpa keberuntungan. Loh? Terasa ada yang salah, ini. Dunia benar-benar sedang bercanda. -----*****----- Dan sekali lagi, Gerald merasa pagi ini sedang dikerjai oleh Dunia. Saat melihat Via di gerbong eksekutif kereta. Dan Via juga tertegun saat melihat tiga serangkai itu. Gerald dan dua serigala di belakangnya. Sejak kapan macan bisa akur dengan serigala? Lalu Via apa? Rubah? Karena rambutnya merah. Boleh juga, bersikap licik bagai tawa sang rubah mungkin akan menjadikan hidupnya lebih kuat. Gerald menatapnya dengan tajam, lebih ke amarah yang tertahan. Sedangkan Yudhis menatapnya sambil menelan ludah. Pria itu menatap ke bagian puncak kembar yang besarnya diatas standar. Membuat Via mendecak. Yang kalem, paling hanya Bambang yang tersenyum manis padanya. Wajah pria itu memang sudah disetting ramah sejak dulu, bagaikan melengkapi wajah muram Gerald dan wajah sok galak Yudhis. Dan Via, boro-boro tampil bersahaja. Ia bahkan kini mengenakan dress seksi dan jaket kulit. Walaupun di balik dressnya ada celana pendek, tetap saja pa-hanya kemana-mana. "Eh, Via! Selamat pagi, Neng! Cantik amat kamu hari ini." sapa Bambang sambil tersenyum. Memang ia biasa bermulut manis seperti ini. Entah bagaimana hatinya. Karena tatapan lembutnya terasa tidak tulus. "Kapan saya ngga cantik?" balas Via. "Iya, kamu selalu cantik kok." sahut Bambang lagi, mengakui. Kedengarannya sih, tulus. Sikap inilah yang membuat Via jatuh hati ke Bambang. Dia selalu bersikap manis ke siapa pun yang ia temui. Sebut saja Via naif. Laki-laki yang bersikap manis ke siapa saja, biasanya masuk kategori 'berbahaya'. Karena di hatinya tidak ada yang spesial, semua sama rata. Apa boleh buat. Toh, cinta itu buta. Walaupun Via tahu Bambang seorang Don Juan. Tetap saja, namanya sudah suka. Itu juga tujuannya menjadikan Gerald pacar. Untuk membuat Bambang cemburu. Tapi, malah yang cemburu orang lain. Biar saja, lah! "Pagi, Pak Pacar." Via menyapa Gerald sambil menunduk hormat. Decakan kesal Gerald menghiasi telinganya, membuat Via semakin senang. Tanpa mengindahkan Via, Gerald duduk di kursinya, di bagian paling depan. Yudhis mengikuti Gerald sambil mencuri pandang berkali-kali ke Via. Walau wajahnya sinis, tampak sekali kalau Yudhis begitu mendamba ke Via. Via cuek saja dan mencari nomor kursinya. Lagipula, gerbong eksekutif tidak terlalu banyak orang. Kenapa sih Bigboss harus pulang dengan kereta? Bukankah dia punya heli pribadi? Atau naik pesawat saja lah! Sudahlah, untuk apa juga dipikirkan! Via sengaja membeli tiket eksekutif karena gajinya akan neik 1,5kali lipat. Dan ia menyukai pemandangan alam dan suasana yang tidak terburu-buru. Maka ia duduk santai di kursinya yang terletak agak ke tengah, memasang headphonenya dan membuka novel romantis yang baru dibacanya setengah. Hidup itu harus dinikmati, Walaupun ada kuman di depan mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD