Sesuatu membangunkannya.
Via mengeluh karena merasa terganggu.
Susah payah ia tidur karena dari semalam ia memang tidak dapat memejamkan matanya.
Itulah salah satu alasannya menggunakan kereta, agar dia bisa puas tidur di perjalanan.
Biasanya matanya bisa terpejam kalau ada goncangan kendaraan.
Priviledge yang semacam itu tidak akan didapatkannya jika bepergian menggunakan pesawat, karena selain dia selalu was-was di ketinggian, gugup melanda, perjalanan dengan pesawat terasa singkat.
Dan kini,
Siapa sih yang memanggil-manggilnya?!
Via mengerjabkan matanya yang buram.
Loh?
Kenapa aku tidur di lantai kereta?! Masa aku terjatuh saat tidur?
Ah! Via ingat.
Dia sempat menelan obat anti mabok kendaraan, yang mengandung dosis obat tidur rendah, tadi sebelum tidur. Berharap dia akan terlelap sepanjang perjalanan.
Tapi itu tidak menjawab pertanyaan kenapa ia sampai terbangun di posisi sudah berada di lantai kereta.
Samar-samar ia mendengar seseorang memanggil namanya.
"Via!!"
Siapa itu...?
Suaranya samar-samar.
Via mengerjabkan matanya kembali.
"Umh ..." keluhnya.
Dimana ini?
Kenapa keadaan kereta berantakan begini?
Sayup-sayup suara deburan air yang deras mendera telinganya.
Via mengangkat wajahnya.
Sungai dengan banjir bandang di depannya.
Hujan deras dan keadaan langit gelap mendung.
Ini seharusnya masih siang.
Dan dimana lokasinya?!
Via menatap bawahnya.
Bukan lantai.
Ia sedang berada di atas jendela kereta.
Tembus pandang ke bawah memperlihatkan suasana sungai kecoklatan yang mengalir seakan meluapkan amarah.
Astaga...
Apa yang terjadi?!
Via celingukan memandang sekitarnya.
Gerbong keretanya sudah tidak berbentuk.
Tampak lampu mati dan dinding kereta coak terbuka.
Bajunya basah akibat deraian hujan.
"Via!! Bangun cewe be-go!!"
Suara itu lagi!
Suara seorang laki-laki.
Via langsung tersadar sepenuhnya.
Dan apa tadi yang dipanggilnya?!
Cewek Be-go?!
Sialan! Siapa itu yang manggil aku be-go?!
Kurang ajar banget sih!
Via merasakan sakit pada bagian keningnya.
Saat ini tubuhnya sudah bisa merespon kondisi.
Bisa jadi ia terbentur dalam keadaan tidur, tadi.
Lalu ia merasakan tubuhnya sakit semua dan susah digerakan.
"Via!!"
Suara yang cukup familiar di telinganya.
Itu suara Gerald.
Dan setelah pandangannya pulih, gadis itu terkesima.
"Ya Tuhanku," desisnya langsung ketakutan.
Ia kenal warna jembatan di tempatnya sekarang berada, beberapa jam lagi seharusnya sudah sampai ke tempat tujuan, dan masih berada di wilayah Jawa Tengah.
Jembatan ini sudah berdiri puluhan tahun dan dibawahnya mengalir sungai besar.
Apakah terjadi banjir?! Jembatannya ...
"Putus?!" gumam Via seakan tidak dapat mempercayai penglihatannya.
"Kalo udah sadar cepetan lari, nanti kamu kebawa arus! Mumpung gerbong kereta belum ikut hanyut!" Seru suara itu lagi.
Itu positif suara Gerald dan Via sangat mengenalnya.
Via melihat jendela berada di yang berada di bawahnya
Ia perlahan merambat ke pinggir untuk memeriksa keadaan. Ia memandang sekitar dan memeriksa keadaan dirinya.
Kepalanya terbentur dan benjol sedikit, tas selempangnya masih ada di sisi badannya namun entahlah dengan kopernya. Ia tidak melihat penumpang yang lain.
Gerald di mana…?
Laki-laki itu hanya berjarak beberapa kursi didepannya seingatnya. Namun kini ia hanya mendengar suaranya.
"Pak Gerald?" panggilnya ragu.
"Apa panggil-panggil?! Cepetan sana lari!"
"Bapak dimana siiih?"
"Ngga penting banget nanyanya! Cepet sana!!"
Via berjalan berhati - hati ke arah suara itu melewati satu demi satu jendela yang mulai retak akibat injakannya.
Sampailah ia di posisi sekitar bangku Gerald. Tidak ada orang didalam gerbong.
Ia kembali lagi ke tempat semula. Gerald mengetahui kalau ia sudah sadar, berarti pria itu dalam posisi dekat dengannya.
"Ngapain balik lagi sih?!" seru Gerald.
Suaranya diarah sebelah kanannya. Ia menunduk mencari sosok boss nya itu.
"Astaga ..." desisnya.
Gerald sedang berpegangan diantara roda-roda kereta.
Lantai kereta itu berlubang sangat besar. Itu berarti dari tadi sebenarnya ia berada di sebelah Via. Tubuhnya terombang-ambing mengikuti arus yang sangat deras.
"Pak ..." Via mencoba meraihnya dengan tangannya yang tergapai tidak cukup panjang.
"Ngga bisa Via, orang terakhir yang mencoba menolong saya hampir jatuh tadi. Sepertinya ia sudah lari menyelamatkan diri juga. Kamu cepat menyusul," sahut Gerald. Suaranya terdengar putus asa.
"Nggak mau, raih tangan saya pak," desis Via sambil perlahan mendekat dan memantapkan pijakan kakinya.
Tiba-tiba gerbong itu goyah dan miring ke kanan.
Via terpekik dan terdiam, gerbong itu sebentar lag terlepas dari lokomotif dan pasti ikut terseret banjir.
"Pak, tangkap tangan saya pak," Via menjulurkan tangannya sambil berlutut ingin meraih tubuh Gerald.
"Kalau saya tangkap tangan kamu, kita berdua akan jatuh. Saya terlalu berat," desis Gerald.
Via menoleh kebelakang berharap menemukan tali.
Ia mendapati ada tiang logam mencuat dari dalam gerbong, bekas.
Via melingkarkan kakinya ke logam itu dan menjulurkan tangannya. Ia akan menggunakan kemampuannya dalam pole dance, mengeratkan pitingan kakinya ke tiang.
"Bukannya lebih baik mati sama-sama pak? Atau ngga mau yah kalau didampingi saya?" Via tersenyum.
Gerald menaikkan alisnya.
Dia langsung menatap Via seakan wanita itu sudah gila.
Ataukah Gerald salah dengar?
Kenapa rasanya ada secercah harapan semu dalam kalimat itu?!
Aku melihat malaikat saat itu ...
tersenyum ke arahku, mengajakku pergi ke surga bersama.
Ia begitu cantik diantara lebatnya hujan.
Menghipnotisku untuk mendekatinya dan meraih tangannya.
"Cepetan mikirnya! Jangan kebanyakan gengsi!! Tangan gw pegel nih!!" seru Via.
Malaikat itu memakiku.
"Ck!" Decak Gerald.
Buyar sudah bayangan indahnya.
"Kalau sampai kita berdua jatoh, kamu saya kasih surat peringatan ya!" ancam Gerald.
"Ya sudah mending saya pergi, deh!" sahut Via.
Tapi entah kenapa wanita itu masih mengulurkan tangannya.
Gerald menangkap tangan ringkih itu dengan sekali sentakan.
Seketika beban sangat berat langsung mendera tubuh Via.
Rasanya tangannya mau copot akibat tarikan yang besar!
"Astaga!!" pekiknya menahan sakit sambil berusaha menarik Gerald.
"Sedikit lagi, saya bisa meraih pijakan!" seru Gerald.
"Eeerghhh!!" pekik Via sekuat tenaga menarik Gerald. Kini pinggang dan kakinya yang serasa mau copot.
Entah bagaimana Gerald berhasil meraih pijakan dan Via langsung merasa tidak bertenaga!
Seluruh daya tubuhnya langsung menguap.
Ia jatuh berdebam di lantai kereta sambil terengah-engah. Pasahal ia merasakan gerbong kereta mulai bergeser terbawa arus.
"Tetap sadar sampai bantuan sadar." Sahut Gerald sambil mengangkat tubuh Via dan langsung lari sekuat tenaga ke ujung jembatan.
Berikutnya Via merasa dunia ini gelap gulita.
Tenaganya langsung habis seketika.
*******
Gerald bisa melihat orang-orang mulai berdatangan dalam derasnya hujan.
Ia bisa mendengar suara Bambang memanggil-manggil namanya.
Namun entah mengapa kakinya tidak bisa beranjak dari tempatnya.
Ia dalam posisi duduk diatas rerumputan sambil memeluk Via yang sudah tidak sadarkan diri.
Bahkan untuk balas berteriak saja ia tak mampu, suaranya seakan menghilang dan tenggorokannya sangat kering.
Jadi ia hanya duduk di tempatnya semula sambil mendekatkan mulut dan dagunya di kening Via.
Di depan matanya, gerbong kereta sudah hanyut terbawa banjir.
Terlambat 2 detik saja, mereka pasti sudah terbawa arus.
Kini, Ia harus memikirkan cara bagaimana agar wanita itu tidak kedinginan, agar gadis itu tidak basah kehujanan dan terlindungi dalam pelukan dan kehangatan tubuhnya.
Ia tahu itu semua sudah terlambat karena tubuh gadis itu sendiri basah kuyub tidak berbeda dengan dirinya.
Tetapi entah bagaimana ia hanya ingin ada di sana.
“Pak Gerald! Bapak tidak apa-apa?!” terdengar suara Bambang mendekati dirinya.
Bambang yang pertama kali menyadari ada yang salah pada gerakan kereta sehingga Bambang dapat menjadi awal peringatan keadaan yang genting.
Saat itu sebenarnya Gerald sudah digiring untuk berada di tempat yang aman, dan saat kereta mulai terguling, sebelum terjatuh dari jembatan dan terbawa arus, Gerald mempunyai waktu setengah detik untuk menyelamatkan diri.
Kemudian ia teringat Via.
Gadis itu berada di kursi dibelakangnya dan ia yakin sekali Via belum menyadari kondisi yang terjadi.
Alih-alih berlari menyelamatkan diri bersama anak buahnya, Gerald malah kembali ke dalam gerbong dan mencari Via.
Saat itulah gerbong kereta nahas itu terjatuh menggantung dari jembatan.
Namun matanya sudah menangkap sosok gadis itu.
Via sudah hampir jatuh ke bawah, Gerald menangkapnya dan melemparnya ke atas, nahas, malah ia yang terpeleset jatuh, tadi.
Bambang menyentuh bahu Gerald dan sedikit mengguncangnya.
"Pak Gerald! Bapak terluka?!" terdengar suara Bambang di antara bising hujan
Pria itu melihat tubuh atasannya menggigil dan memandangnya dengan pandangan aneh, walaupun bibirnya bergetar menahan dingin namun raut wajah Gerald Bagaswirya tetap penuh wibawa ditunjang dengan harga dirinya yang tinggi membuat sosoknya sangat kuat.
“Pak? “ panggil Bambang lagi.
“Kamu menemukan tempat berteduh?” tanya Gerald tenang.
Sebenarnya Bambang dalam hatinya membatin, memang hebat sosok bossnya ini, tetap tenang dan bisa berpikir jenih dalam situasi apapun. Ilmu itu yang belum bisa dipelajari Bambang selama beberapa tahun berada di bawah bayang-bayang Gerald.
“Ya pak, ada tempat penampungan di kantor lurah, jaraknya sekitar 50 meter dari sini. Tim SAR juga sudah datang. Kami mencari-cari bapak dari tadi,” desis Bambang.
Yudhis menghampiri mereka berdua. “Badainya sangat parah, ada angin p****g beliung tapi tidak besar, di dekat sini. Saya sudah menghubungi helikopter operasional kita untuk segera menjemput, sekitar 2 jam mereka akan datang, agak tersendat karena cuaca. Kalau diijinkan sepertinya saya juga akan membantu warga untuk mencari korban hilang.”
“Saya ijinkan, lakukan semaksimal mungkin, saya sudah tidak apa-apa. Ayo kita ke penampungan, Hujan semakin deras dan kita berada di tempat yang banyak pohon, kemungkinan petir akan menyambar didekat kita.” Gerald berusaha berdiri sambil menggendong Via yang terbujur lemah di lengannya.
“Perlu dibantu pak? Kami sudah membawa tandu untuk Via,”
“Tidak usah, biar saya saja,” Gerald berjalan bagaikan tidak membawa beban.
“Kamu pegang saja tasnya Via. Hubungi keluarganya mengenai keadaan kita, dan lokasi kita. Bilang saya akan menjaganya sampai ia sembuh jadi tidak perlu kuatir,”
“Baik pak," Bambang tampak ragu saat memegang Tas Via.
Ia seakan merasa ada hal yang aneh dan ganjil akan tingkah Bossnya yang berubah menjadi begitu posesif terhadap Via.
Namun karena dalam keadaan yang genting, ia memutuskan untuk berjalan bersama Bossnya dan melupakan keganjilan itu dan mulai menunjukan arah ke lokasi penampungan.