"Pak," terdengar suara Bambang memanggilnya.
Gerald sedang duduk sambil menunduk di salah satu kursi plastik di Kantor Kelurahan.
Tempat terdekat yang bisa dijadikan bangsal pengungsian dari jembatan naas itu.
Terlihat tenaga medis dari puskesmas setempat sigap berlalu lalang merawat yang terluka.
Bambang menyerahkan segelas kopi panas padanya.
Minuman hangat untuk tubuhnya yang menggigil, di saat matahari sudah mulai terbenam dan hujan masih turun dengan derasnya.
"Rumah sakit besar terdekat dari sini hanya di Jatibarang, atau bapak akan kembali saja ke Jakarta? Saya bisa panggil heli."
"Ya, atur saja."
"Saya akan pesankan hotel untuk bapak malam ini, namun sepertinya Via harus menginap dulu di rumah sakit."
"Atur helinya saat Via sudah bisa diangkut, saya akan menginap di rumah sakit bersamanya."
Bambang langsung menaikkan alisnya.
"Begitu pak?"
Ia bahkan tidak yakin akan pendengarannya sendiri.
"Iya begitu."
"Ini Via loh Pak." Karena setahu Bambang, Gerald sangat membenci Via.
"Terus? Ada masalah?" Tantang Gerald mulai kesal.
"Sebenarnya ada perjanjian apa lagi yang kami tidak tahu? Apa yang terjadi di dalam kereta tadi?" Bambang menatapnya dengan pandangan menyelidik.
Gerald balas menatap Bambang sambil memicingkan mata. Sejak kapan anak buahnya jadi rese semua seperti ini?!
"Bukan urusan kamu. Lakukan saja perintah saya," dengus Gerald.
Bambang menghela napas dan akhirnya mengangkat bahunya. "Baik, Pak. Saya akan siapkan kamar VIP."
Dan pria itu berlalu dari sana.
Tidak berapa lama saat pegawai puskesmas itu membalut betis Via, tiba-tiba gadis itu terbangun sambil tersentak.
“Mana dia?! Mana Gerald?!” seru gadis itu panik.
Raut wajahnya tampak ketakutan dan memandang semua orang dengan kalut. “Ini di mana?! Dia selamat?! Dia tadi menggendong saya di atas kereta! Kalian ini siapa?!”
“Mbak, tenang dulu. Mbaknya sudah selamat, ini di kantor Lurah di pengungsian,” jawab si tenaga kesehatan lirih.
“Dimana Gerald?! Dia ngga papa kan?!” Jerit Via sambil mencengkeram Lengan si nakes dengan erat sampai laki-laki itu meringis kesakitan.
“Via,” panggil Gerald buru-buru mendekati Via.
“Via, saya di sini, saya ngga apa-apa,” Desis Gerald.
Via memekik tertahan dan tangannya berusaha menggapai tubuh Gerald. “Kamu jangan kemana-mana!” isaknya kalut.
Gadis itu memeluk tubuh Gerald dengan erat sambil menangis sejadi-jadinya. “Iya saya nggak kemana-mana. Dari awal juga saya nggak ninggalin kamu. Saya selalu di samping kamu,” gumam Gerald.
“Ini bukan mimpi kan?! Ini beneran kamu kan?! Kamu selamat kan?!” Via mengangkat wajahnya dan menatap Gerald dengan panik.
Gerald kebingungan. Ia tak tahu harus apa. Kenapa Via bisa sekalut ini mengkhawatirkan dirinya? Pertama kali dalam hidupnya dia merasa tidak tahu harus mengambil tindakan apa.
Jadi pria itu menoleh ke tenaga medis di sebelahnya dengan pandangan bertanya. Tampak sang nakes sedang mengerutkan alisnya sambil mengamati tindak tanduk Via.
"Pak, kemungkinan mbaknya terserang separation anxiety disorder, pak. Mungkin di masa lalunya pernah ada trauma perpisahan yang cukup membekas, sehingga muncul lagi saat ia panik seperti sekarang.” kata si Nakes.
"Hah?" tanya Gerald tak yakin.
Si Nakes mengangkat bahunya. "Harus dibuktikan dengan hasil uji psikiater sih, tapi begitulah yang pernah saya pelajari."
Gerald menghela napas berat.
"Lalu apa yang harus saya lakukan?"
"Hm, Bapak bisa balas memeluknya dan merayunya agar tenang," kata si Nakes. "Tapi jangan terlalu kencang karena saya lihat beberapa tulangnya retak, terutama di bahu dan betis."
"Astaga," lirih Gerald. Itu karena Via menahan tubuhnya sekuat tenaga agar tidak jatuh dari jembatan dan terbawa arus banjir. Bobot yang harus ditanggung wanita ini diluar batas kemampuannya.
Akhirnya Gerald menyerah dan mengelus punggung Via dengan lembut.
Pakaian Via masih setengah basah.
Dan berbisik, “Saya nggak apa-apa, Kamu lupa yah, kan kamu yang menyelamatkan saya. Kalau kamu tidak ada, pasti saya sudah terbawa arus,” desis Gerald lirih dan tersenyum sambil mencubit dagu Via.
Tatapan Via perlahan berubah sayu dan bibirnya menyunggingkan senyum lega. “Bukan mimpi yah?” desisnya senang.
“Bukan mimpi,” balas Gerald meyakinkannya.
“Rasanya aku capek banget, kamu jangan kemana-mana. rasanya kayak melayang makanya ngga percaya kalau ini kenyataan.” Bisik Via dengan raut wajah seperti orang mabok.
Apa yang membuat malaikatku ini begitu menggemaskan. Bagaimana mungkin ia memakiku pada awalnya dan belum beberapa menit sesudahnya ia malah tak ingin kehilanganku? Ia memelukku dan memanggilku dengan begitu posesifnya seakan aku ini sesuatu yang amat berharga baginya.
Dalam hidupku, sepanjang napasku, baru kali ini ada orang selain ibuku yang begitu mengkhawatirkanku.
“Ini kenyataan,” bisik Gerald sambil membelai pipi Via.
Via tidak menjawabnya,
Hanya menatapnya sayu dengan Mata coklatnya yang besar.
Sesuatu yang aneh berdesir di d**a Gerald.
Membuat pria itu mengernyit saat gemuruh dadanya mulai merambat ke bawah perutnya.
Dan berikutnya tanpa bisa dikendalikan, hanya mengandalkan instingnya, ia mencium Via di bibir mungil gadis itu dengan hasrat yang tertahan.
Di saat itu Bambang menoleh, dan begitu kagetnya sampai ia hampir menjatuhkan ponselnya.
"Wah, kasus," gumamnya kaget setengah bengong.
Sejak ia mengenai Gerald, ia belum pernah melihat Pria itu bersentuhan dengan seorang wanita.
Karena kekurangan Gerald membuatnya sangat membencci makhluk indah ciptaan Tuhan yang bernama 'Wanita'.
Apalagi saat ini sampai memeluk Via dengan posesif.
Ditambah, sampai menciumnya,
Di depan orang banyak pula!
Benar-benar sejarah yang terukir manis, beruntunglah ia dapat melihat peristiwa penuh mukjizat ini.
Dan untuk menghormati Boss nya, ia mengambil gambar spektakuler itu dengan ponselnya sambil menyeringai jahil. Untuk sementara ia akan tutup mulut. Tapj kalau Gerald mulai galau,ia akan memperlihatkan hasil fotonya.
Bambang berdehem lalu kembali berbicara dengan seseorang di ponsel “Rugi lo kagak ngeliat adegan langka,” desisnya ke Yudhis.
Yudhis yang saat itu masih ada di lokasi kejadian, membantu warga memgevakuasi, hanya membalas percakapan dengan teriakan bernada bertanya, karena diseberang sana sedang hujan badai sehingga suara Bambang tidak terdengar jelas.
Yak, begitulah kejadiannya.
Via tampaknya tak ingat, karena waktu itu ia langsung kembali tertidur. Entah mana yang dianggapnya mimpi dan mana yang diangggapnya kenyataan, bahkan orangnya sendiri mungkin kebingungan.
Dan kini wanita itu terbangun dengan segar di kamar VIP rumah sakit di daerah Jatibarang.
Pertanyaan pertamanya ke Gerald adalah :
"Bapak ngapain di sini?"
Gerald berdecak.
“Kamu kan tidurnya kayak kebo! Dua hari loh kamu tidur sampe rasanya saya pingin banget ngebalik kasur kamu.” Gerald cuek membalik korannya.
“Rasanya saya sempat mimpi, tapi samar-samar.” Via memiringkan kepalanya berusaha mengingat. “Tau ngga sih pak, dimimpi saya ada Bapak juga loh. Dan dimimpi saya bapak tuh baeeeekkkkk banget kayak ngga mungkin banget kejadian di dunia nyata!” dan Via tertawa terbahak-bahak.
Gerald sempat tercekat panik.
Apa Via ingat yah perihal ciuman itu?
Lalu wanita itu menambahkan, “Tapi kayak ada scene yang saya lupakan. Apa yah, rasanya penting banget kok, tapi malah lupa,” desis gadis itu.
Gerald mendengus kesal.
Sial banget adegan sepenting itu malah ngga ingat.
Tau ngga sih kalau mencium seorang gadis duluan adalah hal yang mustahil bagi Gerald kalau dalam posisi normal, dan dengan gadis – gadis normal selain Via.
“Kalo ngga inget yah ngga usah diingat, toh cuma mimpi! Kecuali kalo pekerjaan, jangan sampai kamu lupa!” dengus Gerald sambil membalik korannya dengan kasar.
Via mencibir.
Lalu mulai menyentuh pudingnya dan makan dengan tenang.
“Pak,” desis gadis itu kemudian.
“Apa lagi?!” sahut Gerald.
"Kok orang se-highclass bapak, bepergian naik kereta sih?"