“Minggu depan ada acara keluarga penting, ulang tahun Nenek Buyut saya di kaki merapi. Jadi semua mobil dan jet pribadi dipakai ibu saya untuk angkut barang dan tamu ke sana,” kata Gerald.
“Bapak kan bisa pakai mobil sendiri,”
“Saya sekalian kerja,”
“Kerja nggak harus pakai kereta,”
“Serius kamu nggak ngerti ya?”
“Maksudnya?”
“Kemarin ada map di meja saya, laporan final mengenai suku cadang bijih besi dan baja yang digunakan untuk maintenance gerbong, siapa yang bikin ya? Kok tandatangannya mirip kamu,” ada nada menyindir di suaranya.
Via diam dengan kening berkerut. “Heh?!” desisnya. “Iya, itu saya yang bikin buat rancangan gerbong kereta panoramic ...” dan dia pun terdiam lagi.
Sesaat dia menatap Gerald.
Lalu menyeringai malu-malu.
“Oh, hehehe, Bapak mau memeriksa kelayakan gerbong yang memakai suku cadang dari kita yaaa, ya ampun, sampai lupa saya!”
“Nggak usah alesan, sekretaris be-go,” gerutu Gerald.
“Kata-kata itu kasar banget loh pak, saya sebel dengernya,”
“Itu yang cocok buat kamu saat ini,” dengan tak acuh Gerald melanjutkan memeriksa ponselnya untuk mengamati harga saham. “Hebat juga ada sekretaris lulusan c*m laude yang nggak hafal daftar usaha Bossnya sendiri,”
“Pak, title sarjana saya tidak ada hubungannya sama imgatan saya, lagi pula sekelas profesor saja nggak mungkin haal daftarnya, kita punya 67 Usaha Induk, 180 anak usaha dan ratusan lagi sister company, masing-masing punya produk andalan sendiri dan itu nggak hanya sejenis, bisa 30 jenis bahkan lebih,”
“Saya ingat kok satu-satu produk,”
“Ya wajar, bapak kan beli Hermes dari sana, harus ingat lah. Saya beli nasi padang aja mikir pake rendang apa telor dadar doang kalo akhir bulan,” kali ini gantian Via yang menggerutu.
“Ngomong-ngomong, Bapak kamu dari Italia dalam perjalanan ke sini, ya. Tadi malam Bambang jemput dia di Bandara, seharusnya sekarang sudah-“
BRAKK!!
"Amoreeeeeeeee!!" Seru Nico Sandro, Papa Via. Saat tiba di rumah sakit siang itu, pria itu...eh, wanita itu... yah sebut saja keduanya, Waria itu memeluk tubuh Via sampai gadis itu mengeluh dan mulutnya berbunyi 'ugh' karena Nico lupa dengan kekuatan tubuhnya sendiri.
"Sayang maafin papa ngga bisa langsung kesini. Menjelang tahun baru begini banyak banget klien! Alhamdulillah sih ya tapi papa jadi ngga bisa nemenin kamu!"
Via merengut sinis mendengat kalimat pembuka Nico. Atau kita sebut saja beliau dengan nama Nicole, yang kerap digunakan sebagai nama panggungnya sebagai Drag Queen di salah satu negara bagian Italia sana.
"Bapak macam apa coba yang anaknya nyungsep ke kali hampir mati, tiba-tiba bapaknya malah pilih nemenin klien?!" Sahut Via sambil menggebuk Nico dengan bantal.
"Ssh! Nanti wig papa lepas nih aaah!" Seru Nico.
"Bodo amat!!" Seru Via
"Sebenernya kemarin malam papa habis nonton berita di i********: katanya ada kecelakaan kereta masuk jurang, tiba-tiba ada telepon masuk dari yang namanya Bambang. Katanya dia staff ahli di kantor kamu? Katanya papa ngga perlu kuatir soalnya kamu udah ditangani tim medis. Ada fotonya segala loh pas kamu dirawat. Nih," Nico menunjukan layar ponselnya yang terpampang adegan di ruangan berdinding putih kusam dengan banyak orang serta peralatan medis dimana-dimana, ruangan yang sangat berantakan, dan posisi Via sedang dipeluk oleh seorang pria yang hanya tampak punggungnya.
Punggungnya Gerald.
Via tahu persis bentuk bahu bidang macam model pakaian kerja di pinterest semacam itu.
Dan Gerald benar-benar tampak mencolok di ruangan itu. Tema foto kali ini adalah Raja di tengah-tengah keramaian kurcaci.
Lalu bagaikan ada lorong waktu didalam otak Via, gadis itu merasa pusing karena frame demi frame mulai terbentuk satu persatu, bagaikan puzzle, dan kini tiba-tiba potongannya telah lengkap.
"Bukan mimpi ternyata..." gumam Via sambil melirik Gerald. Gerald hanya memperhatikannya - dengan wajah tegang - masih dengan wajah angkuhnya, duduk di sofa sudut ruangan.
Apa foto yang telah dikirimkan Bambang ke si Nico? Pria itu berpikir waspada.
Via memutuskan untuk membahasnya nanti saja.
"Terus kok nggak langsung kesini?" tanya Via menuntut.
"Yah, papa akhirnya memutuskan untuk bekerja saja di club sambil menunggu perkembangan karena kan sudah ditangani Boss kamu, pasti mereka memperlakukan kamu dengan baik. Lagian kamu juga masih ngga sadar. Kalau papa masuk belum tentu diijinin sampai ke kamar loh,"
"Pak Gerald bisa masuk nemenin tiap hari," balas Via.
"Ya iya lah" desis Gerald. "Orang saya yang punya rumah sakit," begitu gerutunya.
Via langsung menatap kotak tissue dengan lambang rumah sakit berwarna biru hijau, lalu membaca nama rumah sakit yang tertera disana. Lalu mencibir.
Benar juga, selain di bidang IT , Perbankan, dan Konstruksi, Gerald juga memiliki usaha di bidang farmasi dan kesehatan. Lagipula dua hari berlalu dia ternyata sudah dipindahkan ke ruang VVIP dari Ajibarang ke Jakarta.
"Jadi sambil nungguin kamu, saya bisa kerja. Tadinya kan memang mau sidak kesini, kebetulan banget. Dan kamu itu benar-benar harus ikut training mengenai sister company sepertinya. Bego banget sekretaris nggak hapal nama perusahaan atasannya," lagi-lagi Gerald menyindir.
"Saya bahkan nggak kepikirin saat ini saya ada di planet apa, mana mungkin saya pikirin saya ada di rumah sakit yang mana. Pokoknya bapak ada disini, saya udah tenang," kata Via.
Gerald sebenarnya tersenyum mendengar kalimat itu, tetapi wajahnya ia tutupi dengan ponsel.
“Terus sekarang udah ada disini, Papa mau ngapain?” Via sedikit ngambek.
“Duileh anak papa satu-satunya ngambek gitu sih…” Nico mencubit kecil dagu lancip Via. Gadis itu hanya melengos. “Papa bukan Cuma mau nengokin kamu, tapi papa juga bawa baju ganti niiiih.” Nico mengangkat koper berwarna merah –warna kesukaan Via- yang tampaknya baru, dan ia membuka koper itu. Isinya baju-baju berbagai model.
“Taraaaahhhhh” seru Nico genit. “Papa ngerti kali kalo koper kamu kan hanyut kebawa arus, makanya papa kepikiran buat beliin kamu koper baru plus baju ganti satu set untuk 1 minggu.”
Namun bukannya senang Via malah mengerutkan keningnya. Ia merasa ada yang beres dengan isi koper tersebut. Ia mengangkat salah satu helaian baju bermotif pink panther dan melebarkannya, lalu terperangah speechless.
Gaun tidur yang sangat seksi, dengan bahan yang transparent dan bagian dadanya berlubang di bagian putting. Dan Celana dalamnya hanya seutas tali dengan bahan kecil berbentuk love dibagian privat.
“Bagusnya kamu pake buat nari strip-tease,” Gerald terkikik geli.
Via melempar gaun itu kearah Gerald. Gerald dengan sigap mengelak.
“Bagus banget, papa yang pengertian,” Sindir Via. “Ini mah semua seleranya papa, mana bisa aku pake cuma seutas tali begini?! Aku kan bukannya mau mangkal di warung remang-remang!” sembur Via sambil menutup koper itu dan merengut.
“Eeeh yang begini tuh dibutuhin loh buat malam pertama!” sahut Nico.
Bibir tipis Via melongo. “Malam pertama sama siapa pula?!”
“Ya sama Pak Gerald laaah!” balas Nico.
Gerald terdiam, Via terpaku.
Nico sepertinya salah pengertian.