Suasana saat Eyang Putri datang begitu mencekam. Entah bagaimana, Via dapat melihat banyak orang gemetaran melihat Eyang Putri yang berdiri di atas podium. Tatapannya sedingin es, sangat berbeda dengan wajah yang dilihat Via saat di kamar mandi tadi.
Semua tegang, semua tak berani menatap wajah Eyang di atas sana. Ia bagaikan makhluk abadi setara Dewa, semua tampak takut padanya.
Via menatapnya dengan mata mengernyit dan mulut ternganga. Kenapa dia tampak masih sangat muda?
Kenapa wajahnya seakan tidak mencerminkan usianya?
Di sini banyak Kakek-Kakek, Nenek-Nenek, tapi semua berlutut untuknya!
Via malah merasa ia jangan-janganbermimpi, atau kesasar di dimensi berbeda.
Suasana saat itu menyesakkan d**a, semua hening, sampai...
Krriiiingg!! Ponsel Gerald berdering.
“Reginald! Kenapa bisa salah mengirimkan konsep ke Beaufort, Hah!? Habis-habisan saya diejek sama Alex!! Kamu tahu nggak harga diri saya kecoreng hanya gara-gara cover video game, hah?! Du verarscht mich! Du kannst mich mal das reicht! Bescheuert!!” Dan pria itu malah memaki dalam Jerman. Artinya kurang lebih : Jangan bercanda sama saya!! Breng-sek kamu, udah cukup bertingkahnya ya, Be-go!!
Terang saja semua menatap Gerald dengan wajah yang lebih tegang lagi.
“Pak!” Via berbisik sambil menyenggol-nyenggol Gerald supaya ia lebih tenang sedikit.
Tapi Gerald tampaknya tidak dengar dan makiannya ke Bambang di seberang sana semakin kasar, “Pak, Woi Paaaak,” Via sampai menepuk-nepuk peunggung Gerald, takut kalau Eyang Putri yang misterius itu marah.
Dan benar saja, Eyang Putri menoleh ke Gerald dan menghampiri pria itu. Ia sempat dicegah oleh seorang nenek-nenek yang usianya sudah sangat tua dan memanggilnya “Ibunda, mohon sabar,”
“Sssh!” tapi Eyang Putri menepis tangannya.
Dan mengeplak kepala Gerald dengan sandal, “Heh Scheißding!” tegurnya (Artinya kurleb ‘semprul, hehe)
“Eh,” Gerald baru sadar kalau ia barusan merusak moment penting, “Hehe, kerjaan Eyang,” ia tampak jengah.
“Kamu ngerusak wibawaku saja deh, orang mau berlagak serius malah diajak bercanda...” gerutu Eyang sambil menarik Via ke atas podium.
“Mau dibawa kemana pacarku Eyaaaang?!” protes Gerald.
“Kalo dekat kamu dia bisa kena kontaminasi sifat sontoloyomu itu!!” seru Eyang Putri sambil menarik kursi di samping podium dan mempersilakan Via untuk duduk. Ia bahkan menyuguhkan teh mawar dan kuker untuk Via. “Biar aja Gerald cari duit, kamu nanti yang habisin!” sahutnya.
Via sampai berdehem mendengarnya.
Kalau Eyang Putri tahu mereka hanya akting, bisa ambyar semua...
**
Prosesi saat itu, satu persatu keturunan Eyang Putri nak ke atas podium meminta restunya, untuk semua hal. Dari mulai bisnis, jual-beli, keputusan penting, jodoh dan pernikahan, sampai beberapa minta diterawang.
Tibalah saat orang Tua Gerald, Agatha dan Dewo menghadap. Dewo adalah Cucu Pertama dari Anak Pertama Eyang Putri.
Gerald memanjangkan lengannya untuk diraih Via. Wanita itu berdiri menyambut uluran tangan Gerald. Pria itu memeluk pinggangnya dan mengecup dahinya dengan sayang.
Di depan semuanya.
Via bisa mendengar banyak yang bergumam melihat adegan itu. Tapi ia tahu kalau Gerald berusaha menampakkan kemesraan agar tidak ada yang mengganggu mereka. Dan Pria arogan itu suka cari perhatian banyak orang.
“Dewo, Agatha,” Sambut Eyang Putri sambil tersenyum lembut. Para cicit favoritnya. Dewo dan Agatha menunduk menghormat dan mencium tangan Eyang Putri. “Jangan terlalu memikirkan duniawi, yang terjadi sudah ketetapanNya,”
“Eyang, Sandra dan Gerald...”
“Ssssh! Sandra akan bertemu jodohnya tahun depan, kamu tenang saja. Semua butuh proses,” Sandra adalah adik Gerald. Saat ini tidak bisa datang karena sedang berada di Jerman. Kepergiannya ke Jerman juga karena melarikan diri dari tekanan orang tuanya yang bersikukuh akan menjodohkannya dengan pengusaha entah-siapa.
“Siapa jodohnya, Eyang?” tanya Dewo.
“Orang yang baik, sangat baik sampai-sampai aku menghormati orang itu,” kata Eyang Putri.
Dewo dan Agatha hanya saling bertatapan dengan tegang sekaligus tak yakin.
“Lalu, si semprul di belakang itu tidak perlu dikhawatirkan, Kudoakan awet sampai kakek nenek loh, hihihihi,” kikik Eyang Putri sambil menatap Gerald dan Via dengan mata berkilat. Seakan ia mengetahui rencana rahasia mereka berdua.
Gerald menipiskan bibirnya mengancam Eyang supaya tutup mulut, Eyang hanya menjulurkan lidahnya untuk mengejeknya.
Tampaknya kedekatan Gerald dengan Eyang Putri sudah sangat akrab melebihi koneksi semua yang ada di sana.
Bude Nimas dan suaminya, Joko, menghadap Eyang Putri dan mencium tangan wanita itu dengan penuh hormat. “Nimas, Joko,” sapa Eyang Putri. Lalu wanita itu menatap kumpulan cewek yang berdiri dibelakang Nimas. “Siapa gadis-gadis cantik ini?”
“Anuu…” Nimas agak salah tingkah. “Tadinya mau saya kenalkan ke Gerald. Siapa tahu jodoh. Eeeh ternyata dia udah punya pacar,” Bude Nimas melirik Via dengan sinis.
“ Waaah… Nimas, Jodoh itu di tangan Gusti Allah SWT. Ya tapi siapa tahu bisa tambah pertemanan yah,” Eyang Putri mengucapkan kata-kata “pertemanan” dengan intonasi yang dalam seakan menegaskan kepada kelima gadis itu supaya menjauh dan dia jelas-jelas tidak merestui perjodohan.
Nimas semakin merasa bersalah. “Iya Eyang, semoga pertemanan itu membawa berkah,”hanya itu ucapan dari Bude Nimas.
Lalu wanita itu dan suaminya turun dari podium dengan gugup. Tapi ia sempat mengernyit menatap Via dengan pandangan tidak suka. Pun gadis-gadis di belakangnya semua menatap Via sinis.
Eyang Putri berdehem supaya mereka melanjutkan prosesi dan tidak terlalu menekan Via. Semua langsung buru-buru kembali ke kerumunan di bawah podium. Wajah Eyang Putri penuh wibawa dan tampak ketegasan yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
Acara penuh ketegangan itu berhenti setelah dua jam yang menyesakkan, Eyang Putri turun dari podium dan langsung merangkul pundak Via. Lalu menyeretnya keluar Villa, “Temenin aku, mau healing!”
“Eeeeh? Aku nih?” seru Via kaget.
“Hoi Cucu Semprul, tak pinjem pacarmu dulu!” seru Eyang Putri sambil menggeret Via ke arah Taman.
“Aku canggah, Eyaaang,” balas Gerald.
“Cucu aja lah biar aku kedengaran muda sedikit!” tukas Eyang Putri.
**
“Haaa...ah!” Eyang Putri berbaring telentang di tengah rerumputan sambil merentangkan tangannya, “Ya Allah Gustiii! Capek gila, sumpeeeh,” bahasa yang digunakannya langsung berubah 180 derajat.
“Pingin makan soto kudus,” gumamnya selanjutnya.
Via berbaring di sebelahnya menatap ke arah langit berawan.
Dalam hati ia pun bingung mau bersikap seperti apa. Makhluk di sebelahnya ini begitu unik.
Terang saja Via memiliki segudang pertanyaan,dan mungkin saja Eyang Putri sering diberondong pertanyaan semacam yang Via akan tanyakan.
“Mau ngomong apa, tanya saja,” desis Eyang Putri, sebelum Via sempat berucap.
“Kamu itu ‘apa’ sebenarnya?” tanya Via. “Manusia atau setan?”
“Gandhes,” gumam Eyang Putri.
“Apa?”
“Khusus untukmu, boleh memanggilku dengan nama. Terserah mau Putri, Mau Gandhes, Mau Bhanowati. Panggil aku dengan nama. Kamu kuanggap teman sebaya,” desis Eyang Putri. Selanjutnya kita akan sebut dia Gandhes.
“Kamu bebas memperlakukan aku seperti apa, sekurang ajar apa, aku janji akan menerimamu,” kata Gandhes lagi.
“Baiklah, Gandhes...”
“Aku ini manusia yang dikutuk iblis untuk hidup abadi, tersiksa melihat keturunan sendiri mati satu persatu,”