Via terdiam, lalu menatap Gandhes dengan kecewa. “Ternyata bukan hanya kami saja yang tahu,” bisiknya. Menggundang pertanyaan seberapa dekat Gerald dengan Gandhes.
“Aku juga bisa mengendus kalau kamu hanya diminta membantu menjaga rahasia Gerald dengan berpura-pura menjadi calon istrinya,” kata Gandhes lagi.
Via terpekik dan menahan napas.
“Tapi jangan kuatir, saya mengerti kok kesulitannya. Dan sepertinya saya lebih senang kamu yang mendampinginya dibandingkan Gerald mencari wanita lain,”
“Kenapa?”
“Karena masa lalu kamu,”
Via terdiam dan menatap Gandhes dengan waspada. “Apa saja yang sudah kamu ketahui mengenai saya?”
“Banyak hal, Via... Kami terbiasa menyelidiki satu persatu dengan siapa kerabat kami berhubungan. Karena satu dan lain hal, informasi tersebut penting kami ketahui. Kami memiliki bermacam-macam pengalaman yang berhubungan dengan latar belakang orang asing yang masuk ke dalam keluarga kami,”
“Lalu? Apakah saya lulus sebagai pendamping?”
Gandhes tersenyum lembut. Saking lembutnya Via sampai merasa kalau ia sedang berhadapan dengan ibunya sendiri, atau seseorang yang jauh lebih tua.
“Sebenarnya, Via... kamu adalah pendamping yang sangat cocok,”
“Oh, kenapa?”
“Kamu sebenarnya takut laki-laki, dan Gerald kamu anggap bukanlah ancaman,”
Via menarik napas panjang lalu mengalihkan pandangannya. Gandhes sepenuhnya benar.
Via berpikir, pastinya Gerald sangat frustasi saat ia tidak bisa mendapatkan pasangan yang mengerti keadaanya. Kadang kita berpikir, siapa saja orang didekat kita di saat-saat terakhir menjelang kematian. Apakah orang-orang yang menyayangi kita, ataukah bahkan kita hanya sendirian.
Memikirkannya dapat membuat d**a terasa sesak.
“Bagaimana cara Gerald... maksud saya apakah dia cerita sendiri atau… yah dia kan bukan tipe laki-laki yang begitu saja cerita ke orang lain.” Via mulai salah tingkah. Ia juga merasa cemburu ke Gandhes. Karena tiba-tiba di benaknya terdapat bayangan bahwa Gerald bisa sangat serasi kalau disandingkan dengan Tante ini. Mereka tampan dan cantik dan sepertinya usia mereka tidak terlalu jauh. Dan yang lebih penting lagi, Gandhes adalah wanita yang mengetahui rahasia Gerald.
“Haha! Kamu cemburu yah!” sahut Gandhes
“Tante nih cenayang yah?! Kok tahu semua isi hati saya,” gerutu Via.
“Saya nebak-nebak saja kok, kan dari pengalaman,” Gandhes mengelus lengan Via bermaksud menenangkannya. “Saya sebenarnya sudah lama tahu keadaan Gerald,” Mata Irina menerawang. “Dulu itu Gerald itu supel banget anaknya. Aktif dan cerdas. Dia selalu jadi pemimpin kawanannya, yah semacam ketua geng gitu laaah. Semua sepupunya mengelilinginya. Tapi tiba-tiba disaat ia mulai dewasa, diusianya yang beranjak 20 tahun kalo nggak salah, sepulangnya dari Kuliah di Amerika, tingkahnya mulai berubah dingin. Aku memergokinya menangis di taman dalam, dipinggir kolam,”
Gandhes menghela napas prihatin. Ia melemaskan tubuhnya ke sofa dan bercerita sambil menunduk seakan-akan itu menjadi pengalaman terburuknya. “Dia menjawab pertanyaan saya dengan tangisan. Kamu bahkan tidak ingin membayangkan Gerald menangis. Tapi air matanya benar-benar membuat hati saya pilu. Ia berkali-kali dicampakkan oleh gadis-gadis di Amerika dan dipermalukan. Dan ia hampir bunuh diri karenanya,”
“Astaga,” Via menutup mulutnya.
“Sejak saat itu ia menatap Perempuan dengan pandangan berbeda. Dan ia jadi membenci Perempuan. Ia membuat saya berjanji menjaga rahasia dari keluarganya dan dari siapa pun karena ia tak ingin membuat ibunya kuatir. Lalu saya mengenalkannya pada ahli pijat terkenal di Sleman. Lumayan agak besar ukurannya dari yang dulu, katanya, dan sudah bisa tegang. Namun masih bisa dibilang kecil sih,”
“Hm… ahli pijat itu... namanya Jeng Yanti, bukan?!”
“Iya benar! Kok kamu tau?”
“Saya keponakannya, dan ditempat Jeng Yanti itu juga saya tahu rahasianya,”
“Waaahhh!!”Gandhes bertepuk tangan. “Tampaknya kalian berdua benar-benar sudah jodoh! Hati-hati, awalnya pura-pura, lama-lama bisa jadi beneran. Hahahahha!!”
“Sama Boss Angkuh sombong itu?! Kalau dia mau bertekuk lutut dihadapan saya baru saya bakal pertimbangkan!”
“Hahaha kamu ini…”
Smartphone Gandhes tiba-tiba berdering.
“Eh, katanya pertemuannya sudah dimulai. Aku pergi duluan yah!”Gandhes mencium kedua pipi Via.
*
*
Via menghampiri Gerald yang menunggunya sambil duduk di pinggir jendela dikelilingi oleh sepupu-sepupunya. Gadis itu meraih tangan Gerald – sesuai dengan scenario yang disepakati.
Pasal 1 nomor 1, saat Gerald mengulurkan tangan, Via harus langsung menyambutnya - dan menempatkan tubuhnya di antara kedua paha Gerald, dan Gerald merangkul pinggangnya dari belakang dengan posesif lalu mencium kening gadis itu – sesuai scenario juga,
Pasal 1 nomor 5 tempatkan posisi semesra mungkin, usahakan pelukan posesif dari arah belakang menambah keintiman.
Dan Pasal 1 Nomor 4 perbanyak ciuman di seputar kening, bibir, dan kalau diperlukan di area leher.
“Lama banget, ngapain aja?” Bisik Gerald (Pasal 1 nomor 2, usahakan berbicara dengan berbisik didekat telinga untuk memperlihatkan kemesraan, walaupun sedang dalam kondisi berdebat).
“bahu saya nyeri banget Pak, smapai sakitnya ke kepala! Tapi mendingan barusan diurut sama Tante Gandhes.” Bisik Via.
“Tante... Gandhes?” Gerald mengerutkan keningnya.
“Iya, tante-tante yang cantik buanget katanya dia tahu rahasia bapak juga,”
“Nggak ada yang tahu rahasia saya selain kamu dan e…. “ lalu Gerald menyadari satu hal. “Maksud kamu Gandhes Bagaswirya, Bukan?”
“Iya! Itu nama lengkapnya. Dia sepupu bapak yah?”
Gerald menghela napas berat dan menggelengkan kepalanya.
“Hah?! Jadi dia siapa?” Wajah Via mulai memucat. Kalau Gerald udah pasang tampang macam begitu, sepertinya memang benar yang namanya Gandhes itu mungkin sebenarnya tidak ada di dunia ini alias… hantu?! Hii!
“Sedulur-sedulur, kakak-kakak, adik-adikku dan kerabat yang tercinta,” Seorang wanita tua dengan wajah seorang ningrat berbicara di podium. Semua menghentikan aktifitasnya dan menatap ke podium dengan serius. “Para teman-teman keluarga yang juga kami hormati. Terimakasih telah menyediakan waktu untuk bisa datang ke kediaman Keluarga Besar Bagaswirya dalam rangka merayakan malam tahun baru bersama-sama dengan Gusti Eyang Putri. Kanjeng Gusti tahun ini bertepatan dengan malam tahun baru akan menginjak di usia yang ke...” si wanita itu sejenak berpikir.
“Hanya beliau yang tahu berapa tahun,” tambahnya kemudian sambil mengatur nafasnya tanda kegugupannya, “Dan tentunya akan sangat senang dikelilingi oleh kita semua. Malam keakraban keluarga ini marilah kita jaga agar tali persaudaraan kita semakin erat, kita sama-sama saling menjaga, saling membutuhkan, saling menghargai, rukun-rukun sampai selamanya. Gusti Eyang Putri akan memberikan sepatah dua patah kata sebagai pembuka pertemuan ini, Monggo Eyang Putri,” desis Wanita itu.
Wanita di atas itu, kalau dari sosoknya sudah sangat sepuh sebenarnya. Dan dia memanggil Eyang Putri dengan sebutan ‘Eyang Putri’ juga. Jadi siapa dia? Cucunya? Sudah setua apa Eyang Putri ini? Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak Via.
Dan Gandhes pun keluar dari balik tirai.
Tetap dengan setelan hijab masa kini dengan style pakaian yang sangat santai dan sepatu kanvas semata kaki.
Dengan senyum lebar diwajahnya.
“Gusti Eyang Putri… Putri Gandhes Bhanowati – Bagaswirya.”
Dan semua menundukan badan, menghormat.
KROMPYANG!!!!
Via menjatuhkan gelas kristalnya dengan wajah pucat.