Gandhes Bagaswirya

1298 Words
Via mengelap wajahnya dengan handuk bersih yang disediakan di wastafel kamar mandi aula pertemuan. Ia merasa sangat lelah… bayangkan tadi Jutaan wajah menatapnya, sebagian dengan sinis, sebagian dengan takjud, sisanya dengan wajah-wajah yang sulit untuk dideskripsikan, dan semua itu membuatnya capek. Terutama saat Bule Nimas mengenalkan 5 orang wanita dengan tampang mirip artis-artis Korea yang cantiknya luar biasa kepada Gerald, dan kelimanya menatap Via seakan-akan ingin menerkamnya saat itu juga. Bule Nimas sih sudah minta maaf karena ia tidak tahu kalau Gerald sudah mempunyai ‘Calon Istri’ namun kelima wanita itu tetap tidak mau kalah untuk mendekati Gerald. Selain karena ini pertemuan keluarga dan Gerald tidak bisa memasang tampang ‘Anti Wanita’nya yang terkenal dingin itu (alasan sopan santun), kelima wanita itu berasal dari keluarga kolega perusahaan Gerald yang sedang menggarap proyek bersama bernilai jutaan Dollar. Kelimanya merasa mereka terlalu berharga untuk ditolak Gerald. Dilain pihak, Via sebenarnya merasa cemburu - dan ia juga tidak mengerti kenapa dia merasa cemburu – namun ia juga merasa santai karena ia memegang rahasia Gerald yang membuat pria itu tidak akan macam-macam dengan wanita lain. Ia menolong Gerald untuk memisahkan diri dari gerombolan wanita - wanita itu dengan sikap manjanya dan menaruh Gerald di kumpulan pria-pria pebisnis di pojokan ruang baca yang tak lain adalah Paman-paman Gerald, dan selagi Gerald berbincang dengan Pria-pria elit, Via tiba-tiba merasa capek luar biasa dan mengambil napas sebentar… di toilet. Gerald mengirimkan pesan singkat yang tulisannya, “Jangan kelamaan dandannya, sebentar lagi Eyang Putri muncul.” Via terlalu capek untuk membalasnya dan ia duduk di sofa di depan wastafel sambil mengurut bahunya yang tiba-tiba nyeri. Mungkin dia memang belum benar-benar smebuh. Semakin lama nyerinya semkain merambat ke kepala. Via akhirnya duduk di lantai sambil menghela napas dan memijit-mijit bahunya. “Kenapa kamu?” sapa seorang wanita yang baru saja keluar dari salah satu bilik toilet. Via tersentak kaget dan menatap wanita asing itu dengan tampang aneh. “Tante… manusia kan?” desis Via waspada. Wanita itu bengong menatap Via, dan tak berapa lama ia langsung terbahak geli. “Kamu pikir aku setan yaaaah!!” serunya disela-sela tawanya yang renyah. “Habis… tiba-tiba muncul! saya bahkan ngga ngeliat tante masuk ke sini!” “Aku masuk waktu kamu sibuk cuci muka,” jawab wanita itu. “Saya nggak denger langkah kaki.” “Kamu cuci muka sambil ngomel-ngomel soalnya. Semacam kata-kata ‘dasar cowok nggak tegas, egois, sok gengsi… dan lainnya. Lucu deh, ada orang bisa cuci muka sambil misuh-misuh,” kata wanita itu sambil menyampirkan jilbab panjangnya ke belakang bahu. Wajah Via memerah menyadarinya. “Bahu kamu kenapa?” tanya wanita berjilbab itu. “Nyeri tiba-tiba. Saya memang baru sembuh dari keseleo sih. Katanya tulangnya agak bergeser waktu kecelakaan kemarin,” “Kecelakaan? Tunggu sini aku liat.” wanita itu berlutut di depan Via dan membelai bahunya. Via memperhatikannya dan menyadari kalau tangan wanita itu hangat, menandakan kalau ia manusia. “Wah,strukturnya memang nggak beres nih, masih agak kaku soalnya. Mau di ‘kretek’ aja nggak sedikit?” kata wanita itu. “Aku punya sertifikasi di bidang Orthopedi juga soalnya,” “Ohya? Serius? Boleh deh kalau memang bisa,” sahut Via bersemangat. “Coba baring di bench sebentar,” kata wanita itu sambil membantu Via bangun. “Saya baru keluar dari rumah sakit kemarin,”kata Via. “Dirawat sekitar seminggu, sih.” “Masih terlalu dini untuk aktifitas berat, pantas saja sakit. Harusnya kamu istirahat loh,” Wanita itu meraih smartphonenya dari dalam kantong celana pendeknya, menelepon seseorang, tak berapa lama seorang pelayan datang membawa satu set handuk dan minyak urut. Saat Wanita itu memposisikan bahu Via dan menekannya sampai berbunyi ‘krekk!’ sambil meringis tanda kelegaan yang amat sangat, Via pun tersenyum. “Gilaaaa Ya Tuhan sakitnya ilang!” “Sebentar, dikit lagi ngreteknya,” Lalu Wanita itu membalik tubuh Via dan menekannya lagi sedikit. Bunyi ‘Krek’ yang indah terdengar nyaring. “Gimana, Jeng? Sakit,” “Magnficooooo!” seru Via lega. “Bravooooo!” balas wanita itu sambil ikutan mengangkat tangannya ke atas ikut bersorak. Wanita itu setidaknya berusia sekitar 40 tahunan mungkin seumuran dengan Gerald. Ia memakai setelan hijab masa kini denganstyle pakaian yang sangat santai dan sepatu kanvas semata kaki. Caranya berpakaian sebenarnya tidak cocok untuk pertemuan formal seperti ini, namun Via malah menyukainya. wanita ini mungkin bagaikan pemberontak ditengah-tengah keluarga dictator, bebas dan cuek. Wajah wanita itu cantik, dengan hidung mancung sempurna dan bibir tipis yang lembut, kulitnya sangat putih, bahkan bisa dibilang pucat. “Kita belum kenalan.” Ia menjulurkan tangannya, Via menjabat tangannya sambil tersenyum. “Viola Sandro. Panggil aja Via. Saya calon istrinya Gerald,” Via memaksakan senyumnya dikalimat terakhir. Wanita didepannya ini mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum licik seakan mengetahui isi hati Via. “Namaku Gandhes Bagaswirya. Salah satu dari sekian banyak kerabat Gerald,”katanya. “Kerabatnya Gerald banyak banget Tante, saya sampai lupa lagi nama-namanya,” “Iya soalnya dari keturunan ke empat semua tumplek di sini,” “Keturunan keempat? Jadi Eyang Putri itu sebenarnya siapanya Gerald?” “Gerald bisa dibilang yaaaa, cangah ya. Dia anaknya cicit,” “Gila. Eyang Putri itu masih hidup? Apa dia bukan robot? Atau korban konspirasi, gitu?” “Korban konspirasi?” “Iya, kayak digantikan sama manusia yang sudah dioprasi plastik supaya kelihatannya masih hidup,” “Kayak gosipnya Avril Lavigne yak?” “Nah, begitu!” Gandhes tampak menggaruk kepalanya yang ditutupi jilbab sambil memonyongkan bibirnya, “Lumayan juga idenya jadi nggak ada yang curiga,” “Hah?” dengus Via. “Nggak jadi,” Gandhes menyeringai, “Di sini yang perlu kamu ingat paling adik dan orang tua Gerald, lalu saya, dan lainnya seingat kamu aja,” “Oh begitu yah tante. saya sebenarnya juga minder di sini. Keluarga Gerald semuanya kayak bidadari, cantik-cantik semua sampai menantu-menantunya juga kayak boneka. Jadi saya minggir dulu deh ke sini, hehe…” Gandhes tertegun sebentar namun setelah itu menyeringai. “Yang penting hidup kita berguna bagi orang lain, ya kan? Dulu aku yah sama kayak kamu. Minderan… tapi Alm. Suamiku itu selalu meyakinkan aku kalau tidak peduli apa pandangan orang lain asalkan ada seseorang yang mencintai kita apa adanya. Apalagi semakin bertambahnya usia, aku malah jadi uring-uringan takut ngga cantik lagi dan dia milih cewek lain yang lebih muda. Hahaha… aku mati-matian merawat wajah dan tubuhku sampai aku sensitive kalo ditanya soal umur, ” “Ya udah saya nggak tanya-tanya deh, takut diamuk sama tante.” Mereka berdua terbahak. “Btw, Aku tahu loh rahasia Gerald…” kata Gandhes kemudian. Via membeku. Lalu melirik Gandhes yang sedang senyum-senyum di sebelahnya. “Rahasiaaaa apa? Kalau dia nggak tahan kopi pait? Atau rahasia pas dia sumbangkan uang sogokan proyek jalan tol ke pemulung di Bantar Gebang? Atau pas dia beli Hermes di salah satu artis tapi ternyata palsu dan dia diinterogasi imigrasi Singapur? Rahasia yang mana?!” “Hah? Pernah ada kejadian begitu toh? Siapa artis yang jual Hermes Palsu?! Kurang ajar banget sih?!” Gandhes ikut emosi. “Udah ditangkep sih, tiba-tiba dia ngaku bipolar. Tapi tumben aja Gerald nggak bertindak lebih jauh dan malah memberikan Hermesnya ke Ibu-ibu Office Girl di kantor,” “Loh bagus dong,” “Ya kenapa harus ke ibu-ibu OG? Kan di sini ada sayaaaaa, saya kan juga mauuuu,” Via langsung kesal. “Oh iya juga,hihihi!” Gandhes cengengesan. “Bukan! Bukan rahasia yang itu! Percuma kamu mau mengalihkan perhatian saya! Ih...” “Hm,” Via menunduk. “Seharusnya hanya saya yang tahu,” “Dan Bambang dan Yudhis, Dan Jeng Yanti. Gitu kan ya?” tambah Gandhes. Hal itu semakin membuat Via terperangah kaget. “Bagaimana...” “Saya kenal dia dari kecil, jadi saya tahu. Itu juga yang menyebabkan dia tidak dekat dengan lawan jenis,” Gandhes tersenyum, namun senyumnya terkesan prihatin. Bukan senyuman bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD