Sekitar Lereng Merapi, Lebih mengarah ke Kecamatan Magelang, dimana terdapat bekas-bekas peninggalan candi Hindu dari era Mataram Kuno.
Dari sana, agak masuk ke dalam, terdapat sebuah jalan masuk, yang baru-baru ini di buat beraspal agak akses jalan lebih mudah.
Sekitar lebih dari 1000 hektar tanah itu adalah milik turun temurun keluarga kerajaan Raja Sanjaya, wangsa Dinasti Sailendra.
Beberapa keturunan Raja Sanjaya, diantaranya ada yang bernama Mpu Sindok, seorang Raja pendiri Dinasty Isyana. Eyang Gerald, adalah merupakan salah seorang dari beberapa keturunannya.
“Rumah Eyangnya Bapak punya kode pos sendiri yah pak,?” Via menutupi dahinya dengan tangan kanan untuk menghalau sinar matahari yang terik sambil berkacak pinggang.
“Sok tau kamu, masih masuk Kecamatan Sawangan kok. Walaupun luasnya memang 15 hektar,”
“Buset…” desis Via. “Itu sih bisa dikategorikan kelurahan sendiri, Pak,”
Gerald membuka bagasi mobil dan mengeluarkan kopernya dan koper Via. “Yuk, yang tengah itu Rumah Utama.”
“Pak itu masih… kira-kira 50 meter lagi dari sini.”
“Iya, batas kendaraan dari sini. Biar tertata katanya Eyang,“
“Terus jalan kaki gitu kesana? Ogah! Saya minta digendong laaah,” sahut Via.
“Kamu lama-lama cerewet kayak mama saya yah. Kita naik itu lah,”
2 buah golf car buggy bertenaga listrik datang dan Gerald menaikan kopernya kesana.
**
Rumah Eyang Putrinya Gerald tidak pantas disebut rumah. Mungkin lebih tepat istana atau kastil model Jawa. Ini seperti rumah Bude Yanti tapi lebih besar 20x lipat. Rumah utama yang besar berbentuk bagaikan candi raksasa, dikelilingi 7 buah rumah yang lebih kecil. Bagaikan kompleks kerajaan jaman Sriwijaya – Majapahit.
“Dulu itu pekerjaan Eyangnya bapak itu apa yah?”
“Dukun, kayaknya,”
“Hah?!” seru Via kaget.
“Habis dia sering bikin ramuan nggak jelas, dan punya khodam ratusan. Kita aja yang ditempeli satu khodam kadang suka pusing, nah ini ratusan. Kalau dia ngaku Vampir saya juga nggak heran,”
“Bapak punya Khodam,”
“Nggak tau, tapi gejala kalau saya sakit mirip sama orang ketempelan,”
“Bapak sudzon aja kali,”
“Bukan sudzon. Eh, tapi kamu nnati bisa lihat sendiri deh keanehan dari Eyang saya, baru bisa ambil kesimpulan sendiri. Males juga saya jelasin sama cewek ngeyelan kayak kamu,”
Via hanya mencibir mendengarnya.
“Lalu, Eyangnya Bapak ini siapa sebenarnya?”
“Hm, setahu saya, Eyang Putri keturunan dari keraton Mataram Kuno. Dia sebenarnya memiliki beberapa Vila juga di Kaki Gunung Sindoro, juga di Kaki gunung Lawu, Slamet, dan entahnya di kaki gunung mana lagi. Bisa jadi juga punya vila di Kaki Gunung Kilauea, biar kesapu lava sekalian,” kenapa sepertinya Gerald agak mengeluh.
“Sampai sekarang dia tidak mau memberitahu anak-anaknya mengenai pekerjaannya. Dia hanya memberitahu kami untuk tidak mencari tahu mengenai hal itu karena ia tak ingin keturunannya terseret-seret ke dunia politik. Katanya riskan akan resiko. Ah iya, kamu usahakan jangan kaget yah kalau ketemu dia, paling tidak, usahakan raut wajah kamu biasa aja. Kamu kan sering spontan teriak kalo kaget,”
“Eh? Emang kenapa sih pak?”
“Nanti aja kamu liat sendiri.”
“Lah, katanya saya nggak boleh kaget, ya kasih tau lah biar nggak kaget!”
Gerald menghela napas berat.
Lalu ia melirik kearah pintu rumah utama, di mana ada ibu-ibu separuh baya dengan muka mirip orang bule sedang melambaikan tangannya dengan semangat.
“Sudah sampai,” Gerald Menyeringai. “Ingat, kamu ini calon istri saya, jadi pasang sikap mesra.”
Via mencibir. “Siap Boos…” desisnya ngga bersemangat.
**
“Geraaaaald!” Seru Agatha Bagaswirya, Mama Gerald, sambil memeluk Gerald dan mencium pipi pria itu dengan bersemangat. “Kemana aja kamu dari kemarin, mana jarang main kerumah! Kemarin ponakan kamu diwisuda kamu juga nggak datang, tau-tau kamu udah di Paris kan mama jadi nggak bisa nitip sepatu!”
“Ngapain juga bilang-bilang nanti mama kebanyakan nitip, aku malah nggak bisa kerja soalnya sibuk cari oleh-oleh,” gumam Gerald.
Bu Agatha mengacak-acak rambut Gerald saking gemasnya. Wanita berusia 58 tahun itu berparas Ayu dengan muka khas Jerman yang kental, namun logatnya Jawa. Gerald mewarisi setidaknya setengah dari paras rupawannya. Tubuh wanita itu masih tetap langsing tidak berubah dari dulu, namun terdapat kerutan pada leher, lengan, dan punggung tangannya, tanda penuaan.
“Mah, ini Via,” Gerald membimbing Via kedepan Bu Agatha.
Wanita itu terpekik dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. “Meine Güte Gerald,” (Astaga Gerald). Lalu matanya berkaca-kaca.
“Wirklich? Ungelogen?” (ini serius kan? Nggak Bohong?) Bu Agatha tampak terkesima melihat Via. “Mama baru kali ini seumur hidup kamu, melihat kamu… uhuk!” Ia mulai terisak. “Melihat kamu dekat dengan makhluk yang namanya perempuaaaan….” Dan isakannya makin kencang. “Dan diajak ke sini pula,”
Via dengan canggung melirik Gerald, Gerald hanya memutar ola matanya tanda ia sebal melihat sikap mamanya yang berlebihan.
“Biasa aja dong mama lebaynya… nggak gitu juga kali.” Gerald cuek menurunkan kopernya.
“Sampai mama curiga jangan-jangan kamu itu Gay loh nak! Ato jangan-jangan dia cuma acting jadi pacar kamu biar nutupin orientasi seksual kamu?!”
Hampir saja Gerald tersedak saat mendengar penuturan Bu Agatha, namun ia ingat kalau mamanya punya fantasi berlebihan jadi Gerald memutuskan untuk tidak terpancing.
“Jangan pikirin ucapan mama, masuk yuk sayang,” desis Gerald sambil mencium ringan bibir Via dan merangkul bahunya menggiringnya masuk.
Via sejenak kaget namun ia segera ingat dengan kewajiban beraktingnya dan segera menguasai keadaan. Lagian nyium bibir orang ngga bilang-bilang… eh, sejak kapan Gerald bilang-bilang kalo mau cium bibirnya … kebiasaan jelek !
Sementara Bu Agatha mengikuti keduanya sambil menutup pintu. Via merasa tak enak hati dan melepaskan rangkulan Gerald. Lalu berjalan di sebelah Bu Agatha.
“Nama saya Viola Sandro, tante. Saya sekretaris Gerald di kantor. Saya juga kenal sama Yudhis,”
“Ach so,” (Walah) “Cinta bersemi di kantor ya ternyataaaa, hihihi,”
Kecantikan Bu Agatha semakin membuat Via insecure. “Tante ini cantik banget yah… sekarang aku tahu darimana tampang ganteng kamu berasal.” Sahut Via sambil tertawa. Sebenarnya dia hanya bermaksud menggoda Gerald. Tapi ternyata ucapannya lumayan kencang. Bu Agatha yang pada dasarnya tidak kuat dengan pujian, langsung terpekik kege-eran.
“Kamu bisa ajaaa! Kamu juga cantiiik, kamu ada keturunan Londo yah?!”
“Iya, Papa saya orang Italy,”
“Pantaaaas, Kalau saya sih dari Jerman. Kepincut sama bapaknya Gerald yang menurut saya sih manis juga ya. Eh, ternyata keturunan Ningrat jadi ya begitulah tampang anak-anak saya lain daripada yang lain!”
“Begitu yah tante? Pantesan kecantikannya aristokrat,”
“Kyaaa…” Jerit Bu Agatha. “Kamu bisa aja deh! Pinter muji, beda banget sama Gerald yang juteknya selangit! Kok bisa kamu mau sama yang wajahnya kayak batu gitu siiiih?!”
Dan bla bla bla yang lain.