The Plan

1489 Words
Kini, saat telah kembali ke rumah sakit, Gerald tengah menatap gadis yang sedang tertidur pulas diatas ranjang rumah sakit. Raut wajah gadis itu manis sekali. “Apa masih ada bayangan gelap dalam diri kamu saat ini?” Gerald mengelus pipi gadis itu. “Kamu sebenarnya menganggapku apa?” Gerald menghela napas dan telunjuknya sampai pada bibir mungil kemerahan gadis itu. “Bagaimana sikap kamu didepan laki-laki lain? Apakah sama dengan sikap kamu ke aku?” KRIIINGGGGG…!!! Gerald terlonjak oleh suara dering ponselnya. “Ck…” dia mengeluh. Ia melihat layar ponsel dan lebih mengeluh lagi saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. “Iya, Mama…” desisnya menyapa seseorang di seberang sana. “Kamu dimana sih sayaaaaaaang. Mama udah sampai di Solo dari Kemarin! Acaranya juga udah selesai! Habis dari sini kita mau ke rumah Eyang Putri nih!! Kamu kan harus hadir loh disana! Kamu kan kasta pertama, Gerald!” Astaga… dia benar-benar lupa memberitahu mamanya. “Katanya kemarin kamu kan ke Jogja dulu, Jogja - Solo kan cuma 1 jam kalo pake mobil?! Kecuali sekarang kamu naik becak jadi nggak nyampe-nyampe!” Omelan demi omelan diterimanya. Ia juga heran, kapan mamanya menarik napas yah? “HP kamu ngga aktip, mama kan nggak tau nomor Hape operasional kamu, nggak pernah kamu kasih tau mama. Dan sekarang semua sodara pada nanyain kamu, mama harus jawab apa coba?! Ini Bude Nimas bawain calon buat kamu sampai 5 orang, cantik-cantik semuanya loh. Entahlah kamu suka atau nggak, kenalan saja dulu yah, penjajakan. Siapa tahu salah satunya kamu suka dan mama jadi bisa nimang cucu! Inget yah, menikah itu kewajiban untuk menghilangkan fitnah! Begitu katanya, jadi sekarang kamu nggak bisa nolak lagi! Mama ultimatum kamu harus menikah tahun ini atau kamu jadi anak durhaka! Oke sayang? Udah cepetan kamu kesini!” Dan sambungan telpon pun terputus. Diputuskan sepihak lebih tepatnya. Kening Gerald makin berkerut karena pusing langsung melandanya. Ia meliat ke jam tangannya… Pukul 1.45 dini hari. * * “Coba diangkat perlahaaan,” desis Dokter Ortopedi sambil memberikan instruksi dengan sabar. Via mengikuti arahannya sambil meringis. Ada sedikit rasa nyeri di lututnya, namun sudah tidak sesakit waktu hari pertama. “Tekuk sedikit pelan pelaaan,” kata Dokternya. Via menekuk lututnya, lalu menyeringai. “Mendingan yah dok, nggak sesakit kemarin. Saya kan juga udah tidak minum pain killer lagi,” “Bagus kalau begitu, namun tidak bisa langsung bergerak berlebihan. Hindari angkat barang yang lebih dari 3kg, jalan pelan-pelan, jangan lari. Turun tangga jangan terburu-buru,” Kata Dokter sambil menuliskan sesuatu di bukunya. Gerald masuk ke ruangan didampingi kedua staffnya, raut wajah mereka tegang. “Dokter Herman,” Sapa Gerald sambil menjabat tangan si dokter. “Pak Gerald, apa kabar?” “Baik Dok, bagaimana keadaannya?” tanya Gerald sambil menatap Via. Via hanya melirik Gerald sambil mendengus, lalu memijit-mijit bahunya sendiri. “Mbak Viola mengalami kemajuan yang cukup signifikan yah, semangatnya tinggi. Sedikit lagi ia akan bisa berakifitas dengan normal asalkan dalam sebulan ini ia tidak bekerja terlalu keras,” jelas Dokter Herman. “Syukurlah kalau begitu,” Gerald tersenyum ringan. “Baik kalau begitu, saya pamit dulu ke pasien selanjutnya,” “Oke Dok, terimakasih,” desis Gerald sambil menutup pintu kamar. Lalu ia menuju kearah kursi tamu dan mendiskusikan pekerjaannya dengan dua staffnya, Bambang dan Yudhis. Via hanya melihat gelagatnya sekilas, lalu ia kembali menyibukkan diri dengan smartphonenya, browsing gosip viral. * * “Ada apa pak? Kok tadi serius banget?” tanya Via sambil menggigit pisangnya. “Pekerjaan biasa, agak sibuk karena kantor akan saya tinggal selama 2 minggu,” “Mau kemana pak?” Alih-alih menjawab, Gerald malah menatap Via dengan pandangan aneh, seakan memohon. Via merasa ada yang tak beres. Perasaan waspada bertambah saat Gerald menarik kursi dan meletakkannya disamping ranjang Via. Lalu pria itu duduk disana dan menatap Via dengan serius sambil menipiskan bibirnya. “Saya mau ke Solo selama 2 minggu untuk acara keluarga, sekaligus merayakan Tahun Baru di sana,” kata Gerald. “Oh, gitu doang. Kok serius banget sih pak? Memangnya keluarga bapak kenapa?” desis Via. “Kenapa apa maksud kamu?” “Yaaa, siapa tahu keluarga bapak yang turut andil dalam menciptakan raut wajah kaku mode on yang biasa bapak pasang sehari-hari itu. Ditambah sifat angkuh dan sombong bapak, rasanya saya bisa membayangkan kehidupan masa kecil bapak. Makanya sekarang sikap bapak tegang begitu,” Via menyeringai. “Jangan asal ngomong kamu. Ibu saya cerewet banget kayak ibu-ibu nawar sayur dipasar. Bapak saya memang agak angkuh tapi dia andalan orang-orang se RT kalau ada acara tujuh belasan,” “Lalu raut wajah itu,” telunjuk Via bergerak membentuk lingkaran di depan hidung Gerald. “Menurun dari siapa pak? “ Gerald terkekeh. “Baru kali ini ada orang ngomong segamblang kamu. Bambang aja nggak berani ngomong kayak gitu,” “Pak Bambang kan masih staff bapak, kalau saya kan...” Via diam sambil menyeringai. “Apa? Kamu apanya saya?” tantang Gerald sambil mengangkat alisnya. “Euuuum, Pacarnya Pak Boss, hehe. Kalo situasi masih normal kayak dulu sih mana saya berani ngomong begini,” “Bagus, kamu memang pacar saya. Pacar kontrak. Inget tuh! Manfaatkan saja waktunya semaksimal mungkin asal nggak bikin saya kesal. Tapi kamu juga kjaryawan saya, loh. Kamu nih hitungannya lagi Dinas ke luar kota.” “Saya kan harus istirahat sebulan nggak boleh kerja berat, Kata Dokter Herman,” Via menyeringai lagi. “Iya kamu nggak saya suruh-suruh angkat galon kok. Cuma ngetik ini-itu di hape aja apa susahnya sih,” Gumam Gerald. Via akan memprotes hal mengenai ‘ini-itu’ tadi, namun Gerald menghentikannya dengan mengangkat telunjuknya di bibir Via. “Anyway, saya ada satu permohonan buat kamu,” desisnya. Via mengatupkan bibirnya, membulatkan matanya tanda bertanya, dan memiringkan kepalanya sedikit. Membuat Gerald termangu karena pose itu sangat menggemaskan bagi pria itu. Aku bersumpah akan menjadikan kamu milikku, sehingga aku bisa menatap mata bulatmu lebih lama, membelai pipimu, mencium bibir mungilmu, dan memeluk tubuh lembutmu sambil menghirup wangi rambut merahmu. “Pak ? “ panggil Via. Gerald tersadar dari lamunannya. “Ehem!” tiba-tiba tenggorokannya kering. “Begini…” Pria itu menunduk menatap lantai untuk menyembunyikan wajahnya yang merah menahan malu. Ia mencoba kembali fokus pada kata-katanya. “Kamu… mau menemani saya ke Solo?” Hening. Selama kurang lebih satu menit. “Untuk apa? Kan ada Bambang dan Yudhis? Tumben minta temenin saya,” “Bambang menggantikan saya di kantor dan Yudhis juga harus datang karena dia kan juga sepupu saya, tapi dia akan datang di waktu yang tidak berbarengan karena harus menangani kantor. Di sana semua menanti kedatangan saya sebagai canggah tertua,” “Canggah? Itu berarti ini pestanya nenek buyut ya?” “Betul,” “Makin aneh kalau bapak ngajak saya, kita bisa disangka pasangan.” “Memang itu tujuan saya minta tolong kamu,” Hening lagi. Kali ini hampir 2 menit. Setelah Via dapat menelaah kata-kata Gerald, “Memangnya nggak ada perempuan lain pak?” “Wanita yang tahu Kartu AS saya kan cuma kamu.” “Hm…” Via menggaruk tengkuknya yang merinding. “Memangnya ada apa sih pak?” “Jadi begini… kamu tahu umur saya hampir 40 tahun dan belum pernah menikah,” kata Gerald. Via mengangguk pelan. “Semua sepupu saya mulai berkeluarga, adik saya juga sudah mengumumkan tanggak pernikahannya, Ibu saya mulai cerewet, terutama sejak LG-BT dilegalkan di Amerika, dia mulai curiga sama saya,” Gerald tersenyum masam. Via menyeringai. “Memangnya ibunya bapak nggak tahu kondisi bapak?” “Setahu saya dia tidak tahu,” “Bagaimana bisa seorang ibu tidak mengetahui kondisi anaknya?” “Karena saya terbiasa memendam masalah saya sendiri. Dan ibu saya orangnya panikan, saya tidak ingin dia tambah kuatir saat mengetahui keadaan saya yang sebenarnya. Keadaan ini baru ketahuan saat saya dalam masa puber remaja, usia 13 - 14 tahun, mengetahui perkembangan teman-teman saya yang pesat, sedangkan ukuran adek saya masih seperti anak kecil umur 8 tahun, saat itu saya mulai berkesimpulan bahwa saya memiliki kekurangan yang fatal bagi seorang laki-laki.” Gerald menggosok-gosok telapak tangannya yang mulai terasa dingin. Mengakui rahasia terbesarnya ada seseorang membuatnya gugup. “ Cowok usia 13 tahun sudah mulai tertutup pada orangtuanya, dan keluarga saya cukup terpandang. Prestasi saya di sekolah lumayan memuaskan. Namun saya takut kalau cewek-cewek menghina saya. Jadi saya berpikiran kalau saya bersikap acuh tak acuh, maka semuanya bisa ditutupi. Saat itulah wajah ini…” Gerald melingkari wajahnya dengan telunjuknya meniru gerakan Via. “…mulai terbentuk.” Bibir Via membentuk huruf O dan menyunggingkan senyum merasa tidak enak. “Dan besok, Bule Nimas, Adik bapak saya, membawakan 5 orang calon istri untuk saya,” “Hm… jadi maksudnya saya disuruh pura-pura buat jadi tameng begitu?!” “Menurut kamu bagaimana tampang ibu saya kalau ia mengetahui yang sebenarnya, ditambah saya bakalan jadi bahan omongan seumur hidup, dia pasti bakalan terpukul banget, and the worst case, dia bisa jantungan.” “Iya sih,” desis Via. “Tapi nggak gratis yah pak.” “Hah?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD