The Identity of Via

1286 Words
Gerald bertemu dengan Bambang malam itu di salah satu restoran di Hotel bintang lima yang jaraknya dekat dengan rumah sakit tempat Via dirawat. “Bagaimana keadaan Via?” Tanya Bambang. Pria itu sedikit khawatir karena raut wajah atasannya itu tampaknya sangat tersiksa. “Dia sudah bisa mencela saya, jadi sepertinya dia sehat-sehat saja,” gerutu Gerald. Bambang tersenyum tipis. Sejak rahasia Gerald diketahui oleh Via, atasannya itu memang sering ngedumel sendiri. Namun menurut Bambang, inilah mungkin takdir yang harus dijalani Bossnya itu, tidak melulu soal pekerjaan. Sebagai manusia biasa, hidup tidak lengkap kalau tidak dibumbui oleh rasa cinta, bukan?! Rasa patah hati mungkin akan membuat Bossnya ini menemukan kepribadiannya yang sebenarnya. Apalagi kalau yang ditemukannya benar-benar rasa cinta, dan cinta itu tumbuh. Bambang benar-benar menantikan saat-saat yang ia kira akan menarik seperti ini. Dan ia menikmati setiap adegannya. “Sampai kapan Bapak akan meneruskan kegiatan ‘bekerja dari Rumah Sakit’ seperti ini?” tanya Bambang. “Sampai saya puas, sepertinya,” “Tidak bisa begitu dong Pak, bahkan seorang Komisaris saja harus ke kantor untuk merasakan ‘vibe’ nya. Karyawan bisa tidak tenang kalau atasannya berhari-hari tidak di ruangan. Mereka akan kesulitan minta persetujuan ini-itu,” “Kamu bisa back up saya,” kata Gerald. “Bisa saja sih, tapi mohon maaf saya tidak digaji lebih untuk itu,” Bambang menyeringai. Satu-satunya asisten yang bisa kurang ajar terhadap Gerald ya si Bambang Reginald ini. Mereka disatukan dengan ikatan batin yang kuat, karena balas budi di masa lampau. Bambang bisa saja berbuat curang di sana-sini mengingat dia tahu semua Kartu AS Bossnya. Mulai password ponsel, sampai kewenangan untuk seluruh aset pribadi Gerald. Tapi kalau dipikir Bambang, buat apa semua itu? Kalau dia bisa mencuri semuanya, apakah hidupnya akan tenang? Jadi karena Bambang pria yang lebih banyak memikirkan sesuatu berdasarkan logika, bisa jadi saraf yang menghubungkan ke aktifitas emosionalnya sudah mati saking dinginnya dia, jadi ia lebih memilih bekerja sesuai porsi. Tidak lebih dan juga tidak kurang. Kalau tidak sanggup ya bilang saja. Dan yang ia tahu, menjadi seorang Gerald Bagaswirya tidaklah mudah, apalagi menghadapi keluarga si Bossnya ini. Setelah membicarakan pekerjaan malam itu, raut wajah Gerald tetap tegang. “Sudah kamu selidiki soal latar belakang Via?” Tanya Gerald. “Sudah pak,” Bambang mencondongkan badannya ke arah Gerald. “Tapi, daripada mendengarkan laporan saya bukankah lebih baik bapak tanyakan sendiri kepadanya?” “Maksud kamu?” “Rasanya lebih enak kalau kita mengetahui jati diri seseorang saat orang tersebut dengan ikhlas menceritakan tentang keadaan dirinya daripada kita menelitinya seperti sedang menyelidikinya seperti ini?” Gerald mengangguk membenarkan perkataan Bambang. Bambang Reginald, pria keturunan Sunda Irlandia ini adalah salah satu staff ahli yang sudah ikut bekerja dibawah kepemimpinannya selama belasan tahun. Ia sangat mempercayai pria berusia 29 tahun tersebut. Walaupun jarak usia mereka hanya terpaut 10 tahun, namun Bambang dengan sifat dewasanya telah merebut hati Gerald bagaikan saudara sendiri. Jadi apapun yang dilakukan Bambang secara garis besar ia percaya begitu saja kepada pria itu. Dan lagi posisi awal Bambang sebenarnya adalah bodyguard, jadi kemanapun Gerald berada ia selalu ada. Walaupun Gerald tidak secara gamblang mengakui keadaan dirinya, ia yakin Bambang sudah dapat mengambil kesimpulan sendiri. Dan yang paling Gerald suka adalah, Bambang bisa menjaga rahasia. “Saya lagi kesal sama dia, jadi ceritakan sajalah bagaimana perkembangannya…” desis Gerald sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa restoran. “Nanti saya pura-pura ngga tau aja.” Bambang mengangguk mengerti. “Informasi yang saya dapatkan cukup mengejutkan,” sahut Bambang. “Sebaiknya Pak Gerald tarik napas dulu,” “Nggak usah lebay kamu,” “Viola Sandro, biasa dipanggil Via, Tinggi 160, berat 43kg, ukuran d**a 32 cup C, Sunda-Jawa, Selalu rapi dan perfeksionis. Golongan darah B, tanggal lahir 1 Oktober. mengenai ukuran yang lain tidak sepantasnya saya bicarakan, Saya rasa bapak akan tahu sendiri,” “Akan tahu sendiri itu maksudnya apa?!” Dengus Gerald. Bambang tersenyum simpul sambil membalik kertas kedua. “Namanya juga pacaran Pa, masa tidak terjadi hal-hal yang diinginkan,” “Saya bukan kamu, Bambang,” “Tapi Pak Gerald laki-laki normal kan,” “Ya jelas tidak, kamu tahu sendiri,” “Selain disfungsi yang itu,” “Normalnya saya, juga memiliki batas etika,”Gerald berdecak. Bambang menghela napas dan menutup Mapnya, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit, “Pak Gerald, banyak yang nasibnya seperti bapak dapat menjalinkeluarga harmonis, kalau saja Pak Gerald lebih percaya diri dan tidak mengutamakan gengsi,” “Cukup kalian saja yang tahu kelainan saya, hal itu bisa digunakan untuk memeras,” “Saya masih percaya kalau penyakit Pak Gerald itu bikinan loh. Coba bapak ingat-ingat lagi, siapa saja yang bapak sakiti hatinya,” “Ya banyak, lah,” Bambang hanya bisa tersenyum memaklumi. “Baik, kita lanjutkan hasil investigasi saya,” Kata Bambang sambil membuka kembali Map-nya, “Buang-buang kertas seperti ini dan mengharuskan saya menghapus semua email yang berkaitan,” ia sedikit mengeluh. “Data seperti ini lebih mudah di retas kalau dalam bentuk digital,” “Memang Pak Gerald itu kolot, tapi saya maklum,” “Ck,” decak Gerald. “Orangtuanya bernama Nicholas Sandro dan Valentina. Lalu Valentina meninggal saat Via berusia 10 tahun dan saat Via 15 tahun Nicholas menikah lagi dengan wanita Indonesia yang kebetulan bekerja di Kedutaan Italia bernama Anggid. Jeng Yanti itu sepupunya Anggid, makanya Via bisa di sana kemarin,” “Oh, gitu...” gerutu Gerald. “Dunia ini sempit Pak, yang luas akhirat,” tambah Bambang. “Dan ini yang menarik, Kenapa Nicholas, a.k.a Nico, bisa banting stir menjadi Nicole,” “Itu yang mau saya dengar,” “Jadi, saat Via di rumahnya dengan Valentina, ibu kandungnya, rumah mereka dibobol perampok. Mereka membunuh Valentina dan menculik Via yang saat itu berusia belum 10 tahun. Seharusnya hari itu ia akan berulang tahun ke 10 tapi ada kejadian itu,” Gerald langsung tegang dan duduk dengan kaku mengarah ke Bambang. “Penculiknya bernama James, saat ini dipenjara seumur hidup Dikarenakan kasus ruda paksa dan penganiayaan terhadap anak dibawah umur. Sedikitnya James dan 4 orang teman-temannya menyetubuhinya sampai belasan kali dan…” “Cukup sampai disitu!” desis Gerald. Jantungnya berdebar dengan kencang saat ini. “Baik pak, hasil psikiater menunjukan kalau Via mengalami shock berkepanjangan dan rasa trauma mendalam saat bertemu dengan laki-laki. Ia hanya mau diperiksa oleh dokter atau polisi Wanita. Itu sebabnya Nicholas berdandan seperti wanita saat bertemu dengan Via,” “Oh,” kini ada awan mendung di pandangan mata Gerald. “Ya, Pak. Juga... akhirnya karena hal itu dilakoninya bertahun-tahun demi Via, sampai-sampai ia dipecat dari pekerjaannya, jadi Nico sekalian saja bekerja menjadi Drag Queen. Dan ternyata di situlah rejeki yang besar malah datang. Ia jadi bisa membayar Therapist dan perawatan yang sesuai untuk Via dari penghasilannya sebagai Drag Queen,” “Tapi dia laki-laki normal kan?” “Iya, dia normal. Makanya dia menikah lagi dengan Anggid. Dan Via, mungkin itu juga yang membuatnya sampai sekarang tidak memiliki pasangan. Dia punya banyak teman kencan, tentu. Dia cantik dan pintar,” “Tumben kamu memuji wanita,” “Khusus Via, saya mengakui kalau dia memang sering membuat saya lupa diri,” “Hah?” “Skip, Pak. Jadi teman kencan yang dipilih Via rata-rata pria yang postur tubuhnya berbeda dari para penculiknya. Seperti laki-laki kurus, atau yang kepribadiannya kalem, dan mungkin yang melatar belakangi dia mau jadi pacar Pak Gerald karena kelainan yang bapak idap, jadi bapak kecil kemungkinan akan menyakitinya secara seksual,” “Astaga,” gumam Gerald. “Kalau bapak mau lihat, ini sosok para penculik,” Bambang menyodorkan kertas berisi foto yang membuat hati Gerald langsung berdebar kencang. Anak kecil dibawah umur, disiksa oleh para laki-laki ini... tidak terbayang bagaimana rasa traumatis yang dialami Via. Mungkin saat itu, Via kecil lebih berharap mati saja menyusul ibunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD