Sasya menghela nafas panjang setelah berada di apartemennya. Dia melepas alas kaki lalu menyimpan tasnya di atas meja di ruang tamu. Tubuhnya dia hempaskan ke arah sofa panjang. Sebelah tangannya langsung terangkat untuk menutupi kedua matanya.
Sagara melihat Sasya, dan tentu dia menyadari tentang perasaan Sasya yang sekarang sedang tidak baik-baik saja. Terpaksa mengundurkan diri di tempat kerja yang sudah terasa nyaman baginya bukanlah hal mudah. Pasti ada rasa kesal dan marah dalam diri Sasya sekarang.
"Jadi, Rena adalah orang yang terpaksa membuatmu mengundurkan diri dari perusahaan Alva?" Sagara bertanya seraya duduk di sofa yang berhadapan dengan Sasya.
"Siapa lagi kalau bukan dia? Sejak dia datang, kehidupan pekerjaanku tidak setenang biasanya," jawab Sasya dengan suara yang sedikit teredam.
"Dan sekarang malah aku yang harus mengalah. Sialan sekali memang wanita itu," gerutu Sasya. Setelahnya, dia menghembuskan nafas dengan kasar. Tangannya turun dan matanya langsung mengarah pada Sagara yang berada di depannya.
"Aku benar-benar tidak menyangka kamu pernah menjalin hubungan dengan wanita segila itu, Gar." Sasya berkata. Sagara tertawa pelan mendengarnya dan menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Aku hanya coba-coba saja. Mana tahu kalau ternyata dia begitu," balas Sagara disertai dengan kekehan pelan.
"Sudahlah. Jangan terlalu lama bersedihnya. Kamu tidak akan jadi pengangguran kok," lanjut Sagara. Sasya merotasikan bola mata mendengar itu.
"Kalau kamu merasa keberatan bekerja denganku, maka Sadewa yang akan memberikan pekerjaan untukmu. Aku dan Sadewa tak akan diam saja," ucap Sagara dengan serius. Sasya lagi-lagi menghela nafas saat mendengar itu. Dia hargai kasih sayang dari keduanya, namun Sasya juga tak mau terlalu bergantung pada mereka. Dia ingin mandiri, membuktikan kalau dia bisa melakukan apapun sendiri tanpa bantuan mereka. Tapi sepertinya, dia tetap membutuhkan bantuan dari dua sahabatnya tersebut. Apalagi sekarang Sasya tak memiliki siapa pun lagi selain mereka berdua.
"Pekerjaan apa yang akan kamu tawarkan padaku, Gar?" Sasya bertanya seraya bangkit duduk. Dia menatap Sagara dengan serius, dan Sagara terlihat antusias untuk menjawab pertanyaan Sasya.
"Apapun posisi yang kamu mau, Sya." Sagara menjawab dengan cepat.
"Ya nggak bisa begitu dong, Gar. Posisi yang kosong di perusahaanmu sekarang apa?" tanya Sasya serius.
"Semua posisi sudah terisi sih. Ada lowongan untuk resepsionis. Tapi resepsionis tidak cocok untukmu."
"Tak apa lah, aku ambil saja. Dari pada menganggur." Sasya berkata dengan yakin.
"Tidak. Aku tidak mau menempatkan kamu sebagai resepsionis. Bagaimana kalau kamu jadi asisten pribadiku saja?" Sagara menawarkan. Sasya tercengang mendengar itu. Tak menyangka Sagara akan menawarkan posisi yang sempat dia katakan pada Alva dan Rena tadi.
"Asisten pribadi buat apa sih, Gar? Kamu udah punya sekretaris sendiri yang bantu urusan kerja. Dan kamu juga punya banyak orang kepercayaan sendiri." Sasya berkata dengan heran.
"Ya apa saja lah, Sya. Selain urusan pekerjaan, kamu juga bisa bantu urusan pribadiku," jawab Sagara. Mata Sasya memicing mendengar perkataan Sagara barusan. Entah kenapa, Sasya memiliki feeling kalau Sagara akan memanfaatkan situasi nantinya.
"Gar, please deh jangan aneh-aneh. Kamu tahu sendiri kan kalau orang tuamu tidak menyukaiku. Jangan membuat kesan mereka padaku semakin buruk," ucap Sasya dengan sebal. Sagara langsung mendengus kasar.
"Buat apa dipedulikan? Aku bukan anak-anak lagi yang harus terus mendengarkan mereka. Aku juga punya hak untuk mengatur sendiri hidupku ingin bagaimana." Sagara membalas dengan cepat dan tegas. Sasya menghela nafas lagi mendengar itu. Mudah untuk Sagara bicara. Tapi dia lah yang kesulitan menghadapinya.
"Tapi, Gar ...."
"Sya, percayalah padaku. Aku tak akan membiarkan mereka mengusikmu dan membuatmu tidak nyaman. Aku janji akan menjaga dan melindungimu dari setiap orang yang ingin menyakitimu." Sagara berkata dengan sungguh-sungguh. Sasya menatap Sagara dengan lekat, dan dia tahu Sagara tidak berbohong.
Tidak. Sagara tidak pernah berbohong padanya. Pria itu selalu berusaha melakukan yang terbaik untuknya. Tak jarang Sagara mengorbankan diri sendiri demi Sasya.
Sasya terdiam beberapa saat sembari memijit pelipisnya sendiri. Dia mulai pusing memikirkan keputusan yang harus diambil.
"Baiklah aku terima tawaranmu. Tapi kamu harus benar-benar memberiku pekerjaan. Aku nggak mau makan gaji buta ya." Sasya berkata dengan tegas. Sagara tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya.
"Tenang saja. Kamu tak perlu khawatir masalah itu," jawab Sagara langsung. Lagi-lagi, untuk yang ke sekian kalinya, Sasya menghela nafas lagi. Pada akhirnya, dia tetap membutuhkan bantuan dari salah satu sahabatnya.
***
Sasya berdiri di bawah guyuran shower dan membiarkan air membasahi seluruh tubuhnya. Matanya terpejam, menikmati air hangat yang mengalir membasahi seluruh tubuhnya. Rasanya, hatinya berangsur tenang dan tak terlalu penat karena memikirkan masalah pekerjaan.
Saat Sasya sedang menikmati suasana, dia bisa merasakan sesuatu yang melingkari pinggangnya dan menyentuh perutnya dengan lembut. Detik berikutnya Sasya merasakan sesuatu menyentuh punggungnya. Tak perlu berbalik, Sasya sudah tahu siapa orang yang memeluknya dari arah belakang.
Sasya tak menolak atau pun memberontak. Dia tetap diam dan membiarkan saja saat tangan Sagara perlahan naik ke dadanya dan memijat buah dadanya dengan pelan.
"I miss you."
Bisikan Sagara di daun telinga membuat Sasya bergidik geli. Sasya mulai pasrah, menyandarkan kepalanya pada bahu lebar Sagara. Bibirnya terbuka, mendesah pelan saat tangan Sagara terus memainkan buah dadanya.
Saat tangan kiri Sagara sibuk memainkan dadanya, tangan kanan Sagara turun ke bawah dan menyapa pusat tubuh Sasya. Lenguhan Sasya semakin terdengar panjang saat jari Sagara menggesek klitorisnya.
Merasa tak tahan dengan rangsangan yang di terima, Sasya pun berusaha mencari pegangan. Sebelah tangannya berpegangan pada bilik shower, sedangkan tangannya yang lain melingkari leher Sagara.
Setelah beberapa saat, Sagara pun akhirnya membenamkan dua jarinya di dalam tubuh Sasya. Desahan Sasya semakin kuat dan kencang saat jari Sagara bergerak keluar masuk dalam dirinya.
Saat kedua tangannya bekerja, bibir Sagara juga tak tinggal diam. Bibirnya terus bergerak menciumi leher Sasya dan meninggalkan beberapa jejak di tengkuk Sasya.
Setelah merasa cukup dengan pemanasan, Sagara pun menarik jarinya keluar. Sasya yang belum mendapatkan o*****e merasa kosong dan kehilangan. Namun itu tak berlangsung lama saat milik Sagara yang sudah tegang dan keras masuk ke dalam dirinya dari arah belakang.
Sasya mendesah panjang saat milik Sagara terbenam sepenuhnya dalam dirinya. Kedua tangan Sasya berpegangan pada dinding dengan pinggul yang di tarik oleh Sagara ke arahnya. Gerakan Sagara pun membuat tubuh Sasya berguncang dan buah dadanya bergoyang.
Bibir Sasya terus mendesahkan nama Sagara saat Sagara bergerak dalam dirinya. Shower masih menyala, dan keduanya tak berniat untuk mematikan. Melakukan seks di bawah guyuran air memang bukan hal yang pertama kali mereka lakukan. Namun sensasinya tetap sama, tetap luar biasa.
Sasya mendesah panjang saat dia mendapatkan orgasmenya. Seolah tak membiarkan Sasya menikmati sisa-sisa orgasmenya, Sagara tak berhenti dan malah mempercepat gerakan pinggulnya. Tubuh Sasya tersentak-sentak saat gerakan Sagara semakin cepat. Tangannya berpegangan dengan kuat pada dinding agar tidak terjatuh.
Setelah beberapa saat, akhirnya Sagara pun mendapatkan klimaksnya. Dia menggeram dan menekan miliknya semakin dalam pada tubuh Sasya. Sasya pun tak kuasa menahan erangan saat Sagara membenamkan diri semakin dalam padanya.
Sagara menarik keluar miliknya setelah seks mereka selesai. Di bawah guyuran air, Sasya bisa merasakan cairan dia dan Sagara yang bercampur mengalir membasahi pahanya. Mata Sasya terpejam dengan nafas yang mulai teratur. Dan setelah selesai, dia baru ingat kalau Sagara tidak memakai pengaman, dan pria itu juga keluar di dalam dirinya.
"Harusnya kamu tidak keluar di dalam." Sasya berucap setelah Sagara mematikan shower dan mulai menyabuni tubuh mereka berdua. Mendengar ucapan Sasya, Sagara tak terlihat panik dan malah santai-santai saja.
"Jangan khawatir. Kalau spermaku berhasil membuahi sel telurmu, kita tinggal menikah saja. Gampang." Sagara berkata dengan tanpa beban. Sasya pun hanya mendengus pelan mendengar balasan Sagara barusan.