Setelah mendapatkan pesan dari Sagara, fokus Sasya pada pekerjaan sedikit terganggu. Walau begitu, dia tetap berusaha menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu.
Sasya merasa kesal dan marah pada Rena juga pada bosnya. Seandainya pun mereka ada hubungan yang spesial, Sasya tak peduli. Tapi dia kesal karena pekerjaannya di sangkut pautkan oleh Rena. Dan Sasya lebih kesal pada bosnya yang menerima informasi mentah-mentah tanpa mencari tahu lebih dalam lagi tentang laporan palsu tersebut.
Saat pikirannya sedang kalut, Sasya mulai mengetik surat pengunduran diri. Bagaimana pun juga, dia akan tetap kalah dari Rena dalam lingkungan kantor. Secara jabatan, dia sudah kalah dari Rena. Di tambah lagi Rena melakukan hal licik untuk menyingkirkannya. Sasya mau bersaing secara sehat pun tetap tak akan menang karena dia yakin bosnya akan berpihak pada Rena.
Di tambah, Sasya mengingat perkataannya sendiri pada Rena tadi, tentang dia yang tak akan kesulitan menemukan pekerjaan lagi karena dekat dengan Sagara dan Sadewa.
Ya, mungkin sekarang sudah waktunya dia menerima tawaran pekerjaan dari salah satu sahabatnya. Yang penting adalah ketenangan hidupnya. Dan selama dia bertahan kerja di sana, ketenangan hidupnya tak akan dia dapatkan karena ada Rena.
Saat jam pulang kantor hampir tiba, Sasya akhirnya menyerahkan surat pengunduran dirinya secara langsung pada Alva. Alva terlihat kaget dengan keputusan yang di buat Sasya di hari itu juga. Sasya bahkan sengaja membiarkan Rena menyaksikan ketika dia menyerahkan surat pengunduran diri tersebut.
"Hal yang paling penting bagi saya dalam kehidupan pekerjaan adalah ketenangan dan kenyamanan. Beberapa tahun saya kerja di sini, semuanya berjalan dengan baik tanpa ada masalah berarti. Namun beberapa hari ini, ketenangan saya terus diusik." Sasya berkata dengan nada tegas pada Alva yang duduk di depannya. Sedangkan Rena, berdiri tegak di samping Alva dengan senyuman puas terukir di bibirnya.
"Saya malas berurusan dengan orang yang tidak penting, karena masalah tak penting juga. Jadi saya memilih mundur saja. Terima kasih karena Anda sudah menjadi bos yang baik selama ini untuk saya, Pak. Saya izin untuk mengundurkan diri." Sasya melanjutkan perkataannya. Tatapan matanya lurus ke arah Alva, enggan menengok pada Rena walau hanya sesaat.
"Sya, kamu bisa memikirkan lagi keputusanmu ini. Saya tidak mau kamu resign." Alva berujar.
"Tujuan Pak Alva menanyakan lowongan pekerjaan pada Sagara untuk saya untuk apa jika bukan karena keinginan Anda agar saya resign, Pak?" Sasya melontarkan pertanyaan, yang membuat Alva terdiam. Dia tentu tak tahu kalau Sagara langsung memberitahu Sasya.
"Anda tak perlu merasa bersalah, Pak. Saya berterima kasih karena perhatian Anda yang bahkan rela sampai mencarikan lowongan pekerjaan untuk saya. Anda juga tak perlu khawatir tentang pekerjaan saya selanjutnya. Karena setelah keluar dari sini, saya akan langsung bekerja menjadi asisten pribadi Sagara." Sasya berkata lagi. Dia memang sengaja mengatakan kalimat terakhir barusan. Bukan ditujukan pada Alva, tapi pada Rena. Agar Rena tahu kalau kelakuannya yang berusaha menyingkirkan Sasya dari sana malah membuat Sasya semakin dekat dengan Sagara.
"Ah, baguslah jika begitu. Saya senang jika kamu langsung mendapatkan pekerjaan baru." Alva berucap. Nada suaranya terdengar lega dan tak enak secara bersamaan. Mungkin dia merasa bersalah pada Sasya.
Sementara Rena, dia yang semula tersenyum puas langsung memasang wajah kesal saat Sasya berkata akan bekerja sebagai asisten pribadi Sagara. Tatapan bencinya pada Sasya semakin menjadi-jadi.
"Kalau begitu, saya izin pergi." Sasya pun akhirnya berpamitan. Dia berdiri lalu memberikan salam perpisahan pada Alva. Setelah itu Sasya berjalan keluar dari ruangan tersebut tanpa melirik Rena sedikit pun.
Sasya keluar dari ruangan Alva dengan tenang. Dia berjalan dengan santai, tidak terburu-buru. Sebelum mencapai lift, Sasya mendengar suara langkah kaki yang cepat mendekat ke arahnya. Sasya pun berhenti melangkah di depan lift. Kemudian dia berbalik, menghadap pada orang yang menghampirinya.
"Ada apa lagi? Masih belum puas melihatku mengundurkan diri dari sini?" Sasya bertanya dengan nada sebal pada Rena yang berdiri dua meter di depannya. Sasya menatap Rena, memperhatikan ekspresi wanita itu. Awalnya Rena menatapnya dengan tajam, namun ekspresi Rena langsung berubah menjadi tatapan mengejek.
"Aku puas tentu saja. Inilah akibatnya jika kamu mencari masalah denganku." Rena menjawab dengan sangat bangga. Sasya menatap Rena dengan tatapan bosan dan sebelah alis terangkat. Mencari masalah? Rasanya Sasya tak lupa kalau yang memulai masalah adalah Rena sendiri. Tapi sekarang wanita itu berkata seolah Sasya yang memulai semuanya.
"Terserah kamu saja. Bicara dengan orang yang otaknya sudah rusak hanya menyia-nyiakan waktu saja," ujar Sasya. Setelah mengatakan itu, Sasya menekan tombol lift dan segera masuk.
"Apa kamu bilang?!" Rena terlihat marah setelah mendengar perkataan Sasya. Dia bergerak terlihat ingin mendekati Sasya. Namun sebelum berhasil, pintu lift lebih dulu tertutup. Sebelum pintu lift benar-benar tertutup, Sasya mengacungkan jari tengahnya pada Sasya disertai dengan senyuman mengejek. Dan hal tersebut berhasil membuat Rena semakin marah.
Sasya tidak tahu Rena melakukan apa, namun dia yakin wanita itu tantrum lagi. Seperti anak kecil yang keinginannya tidak terpenuhi.
Karena sudah tidak ada barang yang harus diambil, Sasya pun langsung menuju lobi. Selama di dalam lift, dia melamun dan merenung. Masih tak menyangka pekerjaannya berakhir dengan cara yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Namun, dia juga tak bisa melakukan apapun lagi. Dari pada dia stres menghadapi Rena ke depannya, lebih baik dia saja yang menghindari wanita gila itu.
Setelah sampai di lobi, pintu lift terbuka. Sasya pun segera keluar dari sana. Dia berjalan di lobi dengan tenang menuju pintu utama lobi. Hari ini cuacanya agak mendung, dan terlihat seperti akan turun hujan. Saat sudah sampai di parkiran, Sasya langsung mengeluarkan ponselnya, berniat memesan taksi online. Namun sebelum itu, pesan dari Sagara lebih dulu masuk.
Jangan pesan taksi online, Sya. Aku jemput saja. Sebentar lagi aku sampai.
Sasya memiringkan kepalanya setelah membaca pesan Sagara barusan. Tak menyangka dan agak kaget juga. Seolah pikirannya dan pikiran Sagara terhubung saja. Tapi, mungkin itu terjadi karena Sagara sudah lebih tahu setiap tindakan yang biasanya Sasya ambil.
Akhirnya, Sasya memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Dia berdiri di dekat trotoar dengan mata mengarah pada jalanan, menunggu kedatangan Sagara yang akan menjemputnya.