14. Fitnah

1038 Words
Sasya tak akan melupakan kejadian kemarin ketika Rena mengganggunya saat pulang kerja. Namun Sasya juga tak memperlihatkan pada orang lain kalau dia ada masalah dengan Rena. Saat berpapasan dengan Rena di depan orang lain, Sasya akan tetap bersikap profesional seolah tak pernah terjadi sesuatu. Sasya sebenarnya malas berurusan dengan Rena. Yang dia inginkan hanyalah bekerja dengan damai dan tenang tanpa gangguan. Tapi sepertinya, Rena memang orang yang ditakdirkan untuk menjadi masalah dalam hidupnya. Sasya tak merasa melakukan kesalahan saat bekerja dan melakukan semuanya dengan baik. Maka dari itu, Sasya heran saat dia dipanggil secara pribadi oleh sang bos. Awalnya Sasya tak berpikiran negatif, berpikir mungkin memang ada sesuatu yang ingin di diskusikan oleh bosnya. Namun, perkataan bosnya membuat Sasya tahu, ada seseorang yang berusaha memfitnahnya. "Sya, saya tahu kamu berteman dekat dengan Pak Sagara dan Pak Sadewa. Namun di sini, kamu tetap bawahan saya. Jadi tolong, jangan memanfaatkan nama dua teman baikmu itu untuk mengambil keuntungan saat bekerja di sini." Pak Alva, atasan Sasya berkata dengan perlahan. Beliau terlihat berusaha keras menahan nada suara agar tidak membuat Sasya tersinggung. Namun jelas Sasya tetap tersinggung karena dia tak merasa melakukan hal seperti itu. "Jika boleh saya tahu, apa hal yang sudah saya perbuat, Pak? Hal seperti apa yang sudah saya perbuat dengan memanfaatkan nama Sagara dan Sadewa saat bekerja di sini?" Sasya balik bertanya pada bosnya tersebut. Nada suara Sasya terdengar cukup tajam. Tatapan matanya pun sangat serius. Sasya masih bisa bersabar jika Rena mengusik kehidupan pribadinya. Tapi jika sudah mengusik masalah di tempat kerja, Sasya tak akan bersabar lagi. Apa yang Rena lakukan bisa membuat nama baiknya tercoreng. Lebih parahnya lagi, bisa saja dia kehilangan pekerjaan dengan meninggalkan kesan yang tidak baik. "Saya hanya mendapatkan laporan saja dari beberapa orang, Sya. Saya hanya ingin menegur saja secara baik-baik." Sasya memejamkan mata dan menghembuskan nafas panjang saat mendengar itu. Dia berusaha bersabar menghadapi bosnya sekarang. Berusaha keras untuk tetap bersikap sopan dan tidak kehilangan kendali diri. "Laporan dari beberapa orang, atau dari seseorang?" Sasya bertanya dengan nada ditekankan. Alva terdiam mendengar itu, tahu kalau Sasya sedang berusaha mengorek informasi orang yang memberikan laporan padanya. "Pak Alva, saya tidak suka cari masalah dengan karyawan lain. Saya bekerja demi uang, jadi hanya itu saja hal yang saya pedulikan. Saya tidak tertarik menciptakan drama yang tak perlu di tempat kerja. Kecuali memang ada seseorang yang berusaha mengganggu dan memfitnah saya kepada Anda dengan tujuan agar saya bisa Anda pecat." Sasya berkata dengan tegas. "Bertahun-tahun saya bekerja di sini, semuanya selalu berjalan dengan baik tanpa ada masalah yang berarti. Namun beberapa hari ini ketenangan saya diusik oleh karyawan baru Anda, Pak. Karena masalah pribadi di masa lalu, dia terus saja mengusik saya. Dan saya yakin, dia juga lah orangnya yang memberikan laporan palsu pada Anda tentang saya." Sasya melanjutkan perkataannya. Alis tebal Alva bertaut tajam mendengar penuturan Sasya barusan. Tanpa harus bertanya, dia mulai sadar siapa orang yang Sasya maksud. "Jika Anda tidak percaya pada apa yang saya katakan, Anda bisa langsung menanyai karyawan lain tentang saya, Pak. Dan jika Anda masih merasa keberatan, saya tak masalah untuk mengajukan pengunduran diri." Sasya berkata dengan nada tegas. Setelah mengatakan itu, Sasya berdiri dan menundukkan kepalanya dengan hormat. Lalu Sasya melenggang keluar dari ruangan bosnya, meninggalkan suasana yang agak tegang. Di luar, mata Sasya langsung terarah pada seorang wanita yang memakai rok ketat berwarna coklat dan blouse berwarna cream. Wanita itu juga melihat ke arahnya, dan Sasya tak bisa menyembunyikan ekspresi benci juga jijik. "Orang yang paling pantas untuk dikasihani itu adalah orang yang belum move on dari masa lalunya. Berusaha mencari-cari kesalahan orang lain, bahkan rela melakukan hal kotor dengan cara memfitnah. Beruntung lah ada Sadewa dan Sagara disisiku. Seandainya aku keluar dari sini pun, aku tak akan kesulitan mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik dari tempat ini." Sasya berkata disertai dengan lirikan mata tajam dan senyuman sinis. Setelah itu Sasya mengangkat dagunya, dan berjalan dengan gestur tubuh sombong meninggalkan tempat tersebut. Rena, wanita yang disindir oleh Sasya terlihat terpancing emosinya. Telapak tangannya mengepal kuat dan giginya saling beradu. Wajahnya pun berubah merah karena emosi. Ada keinginan kuat dalam diri Rena untuk mengejar Sasya dan menyerang wanita itu. Namun dia ingat malau dia lah yang menciptakan drama, dan dia tak mau kalah dalam drama yang dia buat sendiri. Jika dia menyerang Sasya, maka sudah jelas dia yang akan di salahkan. Apalagi jika sampai bosnya ikut menyaksikan. Rena hanya bisa berakhir dengan mendengus kasar dan menghentakkan kakinya dengan cukup kuat. Sedangkan Sasya yang sudah berada di dalam lift hanya bisa menghela nafas pelan. Sepertinya, dia harus menyiapkan diri untuk kehilangan pekerjaan. *** Hai, Sya. Kamu baik-baik saja kan? Aku hanya ingin memastikan saja karena aku khawatir dengan keadaanmu. Sebuah pesan dari Sagara di terima oleh Sasya beberapa menit yang lalu. Senyum simpul muncul di bibir Sasya ketika dia mengetik balasan untuk Sagara. Kadang, dia merasa lucu sendiri dengan semua perhatian yang diberikan oleh Sagara. Aku baik. Tak perlu khawatir. Balasan yang singkat Sasya kirimkan pada Sagara. Setelah mengirim balasan, Sasya mengembalikan layar ponselnya ke layar utama, memperlihatkan wallpaper ponselnya. Wallpaper yang dia pakai adalah foto dirinya, Sagara, Sadewa, dan juga Utari. Foto mereka berempat tersebut diambil di sebuah villa keluarga milik Sadewa saat acara ulang tahun pernikahan Sadewa dan Utari yang pertama. Ya, sekarang hanya mereka bertiga lah yang menjadi keluarga bagi Sasya. Jika dulu hanya Sadewa dan Sagara yang berada di sisinya, maka sekarang ada Utari juga yang berperan menjadi seorang ibu untuknya. Saat Sasya sedang mengenang masa lalu, muncul sebuah pesan lagi dari Sagara. Tanpa menunggu lama, Sasya langsung membuka pesannya dan membacanya juga. Aku tidak yakin kamu baik-baik saja, Sya. Barusan bosmu menghubungiku dan menanyakan lowongan pekerjaan untukmu. Dia bilang mungkin kamu akan segera resign dari kantornya. Sasya terdiam dengan raut wajah yang menegang setelah membaca pesan dari Sagara barusan. Apakah bosnya benar melakukan hal tersebut? Sasya memejamkan mata dan menggenggam ponselnya dengan erat. Ah, salahkah jika akhirnya dia berspekulasi ada sesuatu di antara bosnya dan Rena? Karena Sasya yakin bosnya melakukan semua ini karena hasutan Rena. Dan Sasya juga yakin kalau tidak ada sesuatu yang spesial di antara mereka, maka bosnya tak akan menuruti perkataan Rena. Wanita itu sangat menyebalkan memang. Dan juga gila. Sungguh, Sasya benci wanita bernama Rena itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD