Sasya pulang ke apartemennya pada jam 10 malam. Tidak sendirian, karena dia pulang bersama Sagara. Entah Sagara pulang dengannya atau sekedar mengantarkan saja, Sasya juga tidak tahu. Namun saat Sagara ikut masuk ke apartemennya dan melepas alas kaki, Sasya tahu kalau Sagara akan menginap.
Sesampainya di apartemen, Sasya langsung mengganti pakaiannya. Dia melepas dress milik Utari dan memakai piyamanya sendiri. Sagara sendiri langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Tak perlu pusing masalah pakaian, karena di apartemen Sasya ada banyak sekali pakaian ganti milik Sagara.
Saat Sagara masih di kamar mandi, Sasya mengeluarkan ponselnya. Ponselnya memang sudah cukup lama dia pakai, namun masih bagus juga untuk dipakai sehari-hari. Karena kelakuan Rena lah akhirnya mau tak mau Sasya harus ganti ponsel. Sebelum ke rumah Utari tadi, Sadewa mengajaknya membeli ponsel baru terlebih dahulu. Dan tentu saja Sadewa yang membayar. Katanya, anggap saja sebagai hadiah.
Sasya tak sempat memilih model dan tipe, yang penting ada ponsel baru saja yang bisa dia pakai.
Saat Sasya sedang memindahkan sim card, Sagara keluar dari kamar mandi. Pria itu melihat ke arah Sasya yang duduk di sofa. Sebelum mendekati Sasya, Sagara berpakaian dulu.
"Kamu langsung beli ponsel baru?" Sagara bertanya seraya mendekati Sasya. Sasya menengok sekilas lalu menganggukkan kepala.
"Sadewa yang membelikannya. Katanya anggap hadiah saja. Padahal tak ada sesuatu penting yang mengharuskan dia memberi hadiah padaku," jawab Sasya disertai dengan senyuman tipis. Sagara menghela nafas pelan mendengar itu. Dia lalu duduk di samping Sasya yang masih sibuk.
"Sadewa sudah cerita padaku tadi sebelum makan malam." Sagara memulai obrolan. Sasya melirik sekilas dan kembali sibuk pada kegiatannya.
"Kenapa kamu tidak cerita kalau Rena kerja di kantormu juga?" Sagara bertanya. Nada suaranya agak menuntut, merasa cukup kesal karena Sasya tidak cerita padanya.
"Dia baru masuk kemarin dan kita baru bertemu lagi hari ini." Sasya menjawab.
"Kamu bisa cerita padaku lewat telepon atau chat." Sagara membalas.
"Bukan hal penting untuk aku ceritakan padamu, Gar. Kamu terlalu sibuk hanya untuk mendengarkan berita tak penting dariku." Sasya membalas lagi, tak mau kalah. Dia memang memiliki sifat yang keras. Bahkan pada Sagara maupun Sadewa, dia susah untuk menurut.
"Sya, aku tak suka kamu berkata seperti itu." Sagara berkata dengan nada tak rela. Sasya menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Kegiatannya dengan ponsel sudah selesai, dan Sasya langsung menghadapkan tubuhnya pada Sagara.
"Sagara, itu bukan hal penting oke? Aku tak tahu apa yang sudah Sadewa ceritakan padamu, namun yang jelas aku baik-baik saja. Lagian ponselku juga sudah waktunya untuk diganti," ucap Sasya. Dia berusaha keras melembutkan nada suaranya, agar Sagara meyakini perkataannya.
"Jika aku diamkan, nanti dia juga cape sendiri kok. Kamu nggak perlu khawatir," lanjut Sasya. Jari lentiknya bergerak menyentuh rahang tegas Sagara dan mengelusnya lembut. Sasya melemparkan senyum, lalu dia memberikan kecupan lembut di rahang Sagara.
"Yakin dia akan berhenti dengan sendirinya? Aku lebih tahu dia segila apa, Sasya." Sagara berkata dengan tatapan serius.
"Aku bahkan butuh waktu lama untuk memutuskan dia karena dia selalu saja mengancam akan bunuh diri. Dan aku yakin dia juga akan terus mengganggumu sampai dia sendiri merasa puas. Dia itu memang gila, Sya. Dan tentu saja aku khawatir jika tahu kamu bekerja di kantor yang sama dengan wanita gila itu." Sagara berkata dengan nada suara yang meninggi. Sasya terdiam mendengar penuturan Sagara barusan. Terlalu berlebihan menurutnya.
"Baiklah. Kalau dia sudah keterlaluan, aku akan cari pekerjaan lain. Pembahasan selesai." Sasya berkata dengan tegas.
"Sya, kalau kamu tidak mau bekerja padaku, kerja pada Sadewa saja. Agar kami bisa mengawasimu dari dekat." Sagara sedikit memohon. Sasya menggelengkan kepalanya dengan tegas saat mendengar itu.
"Aku tidak mau terus bergantung padamu dan Sadewa," jawab Sasya. Dia kemudian berdiri dan menyimpan ponsel rusaknya ke dalam laci.
"Aku sudah dewasa dan aku bisa melakukan apapun sendirian tanpa bantuan kalian. Jadi please, jangan bereaksi berlebihan." Sasya berkata lagi. Setelah mengatakan itu, Sasya naik ke atas ranjang dan menarik selimut. Dia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut sampai kepala.
Sagara hanya bisa menghela nafas pelan melihat itu. Dia hanya mengkhawatirkan Sasya saja. Jika Sasya berada di bawah pengawasan Sadewa, maka dia juga bisa tenang. Tapi seperti biasa, Sasya memang susah di atur walau itu demi kebaikannya sendiri.
***
Karena kelelahan, semalam Sasya langsung tidur. Sagara sendiri sibuk dengan pemikirannya sendiri. Memikirkan cara yang ampuh untuk membujuk Sasya bekerja dengannya.
Pagi ini, Sasya dan Sagara sama-sama bangun lebih awal. Karena tak melakukan seks semalam, mereka menyempatkan diri melakukannya sebelum mandi. Sebuah hiburan untuk merilekskan diri sebelum bergelut dengan pekerjaan.
Seperti biasa, Sagara lah yang membuat sarapan untuk mereka berdua. Dia juga membuatkan bekal untuk Sasya. Sagara sebenarnya ingin mengajak Sasya makan siang bersama nanti, karena kebetulan siang nanti dia ada waktu luang. Tapi jelas, Sasya akan menolak.
"Ini bekalnya sudah aku siapkan. Jangan lupa masukkan ke dalam tas kamu." Sagara berucap seraya menyimpan kotak bekal berwarna abu-abu itu di depan Sasya.
"Terima kasih, Gar." Sasya berucap disertai dengan senyuman tipis. Dia lalu memasukkan kotak bekal tersebut ke dalam tasnya.
"Kamu yakin akan baik-baik saja, Sya?" tanya Sagara dengan tatapan khawatir.
"Aku pasti baik-baik saja, Gar. Jangan berlebihan," jawab Sasya dengan santai. Sagara menghembuskan nafas panjang mendengar penuturan Sasya barusan. Bukan hal aneh lagi. Sasya memang selalu begitu.
"Aku khawatir, Sya. Aku takut kamu kenapa-kenapa." Sagara mengungkapkan isi hatinya. Mendengar itu, Sasya malah tertawa.
"Aku tahu kamu memang selalu mengkhawatirkan aku. Tapi reaksimu sekarang terlalu berlebihan." Sasya membalas seraya menggelengkan kepalanya. Dia lalu menyantap sarapan yang sudah Sagara siapkan.
Melihat itu, Sagara ikut menyantap makanannya dan tak berkata lagi. Tatapan Sagara terus terarah pada Sasya, tak berpaling sedikit pun. Dan wajah Sasya terlihat santai saja seolah tidak terjadi apa-apa kemarin.
Sagara memang selalu mengatakan rasa khawatirnya secara langsung pada Sasya. Namun Sasya selalu menganggapnya berlebihan. Sebenarnya, Sagara juga pernah mengungkapkan perasaan pada Sasya. Entah itu secara langsung ataupun tidak. Tapi tentu saja Sasya selalu menolak dengan berkata lebih baik mereka cukup bersahabat saja.
Menyebalkan memang rasanya ketika sejak dulu Sagara sudah memakai perasaan, sedangkan Sasya tidak.