11. Awal Gangguan

1023 Words
Sasya tidak terlalu mempedulikan tentang Rena yang merupakan mantan Sagara dan sekarang bekerja satu perusahaan dengannya. Bagi Sasya, hubungan Rena dan Sagara sudah berakhir sejak lama, dan sekarang dia dengan Rena hanya sebatas kerja di tempat yang sama. Sejak awal bertemu dan saling menyapa, Sasya sadar kalau Rena berbicara dengan nada bangga, tentang perbedaan jabatan mereka sekarang. Dan sebenarnya Sasya juga tidak peduli dengan itu. Yang penting baginya hanya kerja dan gajian. Hari ini, setelah jam kerja selesai, Sasya hendak langsung pulang saja. Tidak berniat lembur, walau kerjaannya belum selesai semua. Tak ada yang mendesak dan masih bisa dikerjakan besok. Walau pulang dari tempat kerja tepat waktu, Sasya tetap sampai di apartemennya agak terlambat. Itu semua karena jalanan padat yang selalu membuatnya terjebak macet. Sasya berdiri di depan gedung kantornya dengan tangan memegang ponsel. Dia hendak memesan taksi online untuk pulang. Namun sebelum Sasya selesai memesan, tiba-tiba ada seseorang yang menyenggol lengannya, membuat ponselnya jatuh dengan keras ke atas trotoar. Sasya terkesiap kaget dan langsung mengambil ponselnya yang jatuh. Ponselnya masih hidup dan tidak mengalami kerusakan. Hanya terlihat beberapa goresan saja di bagian sampingnya. "Ah, maaf. Aku tidak sengaja." Sebuah suara terdengar. Sasya mendongak dan menatap orang tersebut. Walau bibirnya mengatakan maaf, namun raut wajahnya tidak terlihat menyesal atau merasa bersalah atas apa yang terjadi barusan. "Tak masalah." Sasya membalas singkat. Dia memutuskan kontak mata, terlalu malas untuk lama bertatapan dengan orang tersebut, yang tak lain adalah Rena. "Ponselmu nggak apa-apa kan? Aku nggak sengaja loh. Lagian lenganmu kesenggol pelan kok. Kayaknya kamu saja yang memegang ponselmu dengan tidak benar." Rena berkata dengan nada mencemooh. Sasya menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia berusaha menahan diri agar emosinya tidak meledak. Raganya lelah setelah seharian bekerja, dan dia tak mau rasa lelahnya bertambah karena emosi yang tak terkendali. "Ponselku nggak apa-apa. Tak perlu khawatir. Lain kali harap perhatikan sekitar jika sedang berjalan," ucap Sasya. Setelah mengatakan itu, Sasya menjauhi Rena dan membuka ponselnya lagi untuk memesan taksi online. Namun lagi-lagi niatnya harus tertahan ketika Rena kembali mendekat ke arahnya. "Ada apa lagi?" Sasya menengok dan bertanya dengan nada jengah saat Rena berdiri di sampingnya. Ayolah. Dia malas berdebat dalam keadaan seperti ini. Dia butuh istirahat. "Nggak. Heran aja gitu ya. Kamu nggak ada sedikit pun rasa bersalah karena jadi penyebab putusnya aku dan Sagara." Rena berkata dengan nada yang kurang enak di dengar. "Eh, para pelakor kan biasanya emang gitu ya. Bukannya sadar diri tapi malah merasa paling benar aja hidupnya," desis Rena. Sasya merotasikan bola matanya mendengar itu. "Kenapa aku harus merasa bersalah? Aku tidak menyuruhmu untuk putus dengan Sagara," ucap Sasya dengan nada kesal. "Memang nggak. Tapi kehadiranmu itu benar-benar membuat hubunganku dengan Sagara memburuk. Harusnya kamu bisa pengertian dong sebagai sesama perempuan." Sasya mendengus pelan mendengar itu. Sepertinya, Rena masih dendam padanya dan belum move on dari Sagara. Tapi, Sasya tetap pada pendirian. Saat Sagara menjalin hubungan dengan Rena maupun wanita lain, Sasya selalu membuat batasan antara dirinya dan Sagara. Dia bahkan tak pernah tahu apa saja alasan Sagara putus dengan semua pacarnya. Lalu kenapa semuanya jadi salah dirinya? "Aku dan Sagara memang teman dekat. Tapi aku selalu membatasi diri saat Sagara menjalin hubungan denganmu ataupun wanita lain. Jadi, jelas putusnya kalian bukan salahku. Mungkin harusnya kamu intropeksi diri. Bisa saja kesalahan ada padamu," balas Sasya dengan sebal. Dia membalikkan tubuhnya, enggan berhadapan terlalu lama dengan Rena. Tak disangka, Rena menarik tangan Sasya agar Sasya menghadap ke arahnya. Gerakan yang tiba-tiba tersebut membuat ponsel Sasya terlempar lagi untuk yang kedua kalinya. Ponsel Sasya jatuh dengan keras menyentuh aspal jalanan. Dan Sasya bisa melihat layar ponselnya yang langsung retak. "Apa sih maumu sebenarnya hah?!" Sasya akhirnya membentak Rena. Dia menghempaskan tangan Rena dengan kencang dan menatap wanita itu dengan marah. "Kalau kamu masih belum move on dari dia, sana temui saja dia langsung! Jangan menggangguku!" bentak Sasya marah. Mereka bertengkar di trotoar, dan tentu saja pertengkaran mereka berdua disaksikan banyak orang. Sasya berjalan mendekati jalan untuk mengambil ponselnya yang rusak. Dia menggeram marah saat melihat ponselnya yang rusak dan mati total. Matanya langsung melirik marah ke arah Rena yang malah terlihat puas. Pertengkaran mereka akan semakin sengit kalau saja Sadewa tidak datang tepat waktu. Pria itu menghampiri Sasya dengan tatapan khawatir. Dia terlihat bingung melihat ponsel Sasya yang retak parah. Namun sebelum bertanya, Sadewa sudah menangkap sosok Rena yang ada di sana juga. "Kamu baik-baik aja, Sya?" tanya Sadewa khawatir. Sasya tidak menjawab, dan Sadewa bisa melihat kemarahan di wajah Sasya. "Apa yang kamu lakukan di sini?" Sadewa akhirnya bertanya pada Rena yang berdiri di hadapannya dengan tatapan angkuh. "Seharusnya aku yang bertanya begitu. Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu sengaja meninggalkan anak istrimu demi wanita ini?" Rena mengutarakan pertanyaan dengan nada merendahkan. Alis Sadewa menukik tajam mendengar itu. Dia tidak suka perkataan Rena yang seolah merendahkan Sasya. "Jaga perkataanmu. Jangan merasa sok mengenal kami," ucap Sadewa dengan tatapan dingin dan tajam. Dia lalu meraih tangan Sasya dan segera membawa Sasya pergi dari sana. "Kamu ngapain di sini?" Sasya bertanya pada Sadewa yang membawanya ke parkiran. "Menjemputmu. Utari mengundangmu untuk makan malam," jawab Sadewa. Sasya menghela nafas pelan mendengar itu. Terlalu lelah, Sasya akhirnya memilih masuk ke dalam mobil Sadewa tanpa mengatakan apa-apa lagi. "Sepertinya dugaanku benar. Dia tidak akan membiarkan kamu hidup tenang," ujar Sadewa. Sasya menghembuskan nafas kasar mendengar itu. Merasa sebal karena ketenangan di tempatnya kerja selama ini rusak oleh kehadiran Rena yang bahkan baru masuk. "Kamu tahu sendiri kan, Sya. Rena adalah salah satu wanita gila yang pernah Sagara pacari. Walaupun mereka pacaran cuma sebentar, aku bisa tahu segila apa wanita itu. Makanya Sagara nggak betah pacaran lama dengannya," ujar Sadewa. Ya, tentu saja. Selain Sasya, Sadewa juga tahu deretan mantan pacar Sagara. Mulai dari yang kelihatan wanita baik-baik, sampai wanita gila semacam Rena. "Sebaiknya kamu doakan aku agar bisa menahan emosi ketika berhadapan dengan dia," ujar Sasya dengan nada malas. Sadewa malah tertawa mendengar itu. "Aku bertaruh kamu tak akan tahan bekerja di perusahaan yang sama dengannya lebih dari dua bulan. Karena aku yakin dia akan terus berusaha mengganggumu," ujar Sadewa. Sasya mendengus mendengar perkataan Sadewa barusan. Namun, perkataan Sadewa membuatnya cukup kepikiran juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD