10. Sahabat Rasa Saudara

1019 Words
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan Sasya kini sudah kembali dengan pekerjaannya. Semalam Sagara tidak datang karena ada urusan lain, dan tentu saja Sasya tak masalah dengan itu. Sagara tak harus selalu menemuinya setiap malam. Karena tidak ada Sagara, Sasya tidak sarapan jadinya. Dia bangun kesiangan karena semalam begadang mengerjakan laporan. Sasya tadinya hendak membuat sarapan simple yang biasa Sagara buat. Tapi ternyata dia malah kerepotan sendiri dan berakhir membuat rotinya gosong. Alhasil, sampai sekarang perutnya belum terisi apa-apa selain air putih saja. Sasya ingin menyeduh kopi, namun asam lambungnya akan langsung naik jika dia minum kopi saat keadaan perutnya kosong. Dan Sasya tak terlalu berani mengambil resiko besar yang bisa membuatnya jatuh sakit ketika pekerjaan sedang sibuk-sibuknya. Sasya menatap layar komputer dan fokus pada pekerjaan walau perutnya mulai terasa perih. Dia merasa malas untuk cari makanan di luar, atau bahkan sekedar membuka ponsel untuk memesan makanan secara online. Dia sudah terbiasa dengan kebiasaan buruknya menahan lapar sampai akhirnya perasaan lapar itu hilang sendiri. Saat Sasya sedang memeriksa laporan dan sudah di tahap hampir selesai, seseorang mengetuk pintu ruangannya. Pintu kaca yang terpasang di sana membuat Sasya bisa melihat sosok jangkung yang berdiri walau tak kelihatan jelas siapa orangnya. "Masuk saja." Sasya berucap. Tak lama, pintu pun terbuka. Sasya menatap orang itu dan menghela nafas pelan. "Ngapain kamu ke sini?" Sasya bertanya dengan alis bertaut. Sadewa, pria itu lah yang datang. Dia masuk ke dalam ruangan Sasya lalu duduk di hadapan wanita itu. "Sagara tidak menemuimu jadi aku yakin kamu melewatkan sarapan lagi, atau mungkin hanya sarapan roti yang porsinya tidak cukup untuk kebutuhan tubuhmu," jawab Sadewa. Dia lalu menaruh kotak bekal di atas meja Sasya. "Dewa, aku tak enak terus merepotkan Kak Utari," ucap Sasya dengan nada tak enak hati. "Bukan aku yang memintanya, Sya. Tapi Utari berinisiatif membuatnya sendiri dan menyuruhku mengantarkannya ke sini. Kamu tahu sendiri kan kalau sekarang Utari sudah menganggap kamu seperti adiknya sendiri," balas Sadewa. Sasya menghembuskan nafas pelan mendengar itu. "Baiklah. Tolong sampaikan terima kasihku untuk Kak Utari," ucap Sasya. "Untukku?" tanya Sadewa dengan nada menuntut. Sasya merotasikan bola matanya mendengar itu. "Iya, iya. Terima kasih juga untukmu," jawab Sasya dengan nada sebal. Sadewa terkekeh pelan melihat raut wajah Sasya sekarang. "Dewa, pekerjaanku masih banyak. Jadi sebaiknya kamu segera pergi. Aku nggak mau jadi bahan omongan para karyawan kalau mereka tahu aku menerima tamu terlalu lama di jam kerja," ucap Sasya. Mendengar itu, Sadewa melirik sekilas pada ruangan di sebelah. "Aku sudah minta izin atasanmu untuk menemuimu, Sya. Nggak perlu khawatir," ucap Sadewa seraya mengibaskan tangannya. Sasya mendengus pelan mendengar itu. Sebagai anak tunggal dari keluarga cemara dan kaya raya, tentu Sadewa bisa tak terlalu terikat dengan pekerjaan. Dia bisa membayar siapa pun untuk bekerja, dan dia hanya bagian mengawasi saja. Motto hidupnya adalah 'kalau bisa bayar orang lain, kenapa harus capek-capek ngerjain sendiri?'. Berbeda sekali dengan Sagara yang mengambil alih semua tanggung jawab perusahaan orang tuanya. Karena itu, jelas Sagara lebih sibuk dari Sadewa. Kadang Sasya masih tak percaya kalau dia bisa berteman dengan dua pria tersebut. Maksudnya, status sosial dia sekarang dengan mereka itu sangat jelas perbedaannya. Sekarang Sasya hanya seorang manager, bukan lagi seorang anak pengusaha seperti Sadewa dan Sagara. Kadang Sasya merasa minder ketika berada di tengah-tengah orang berkuasa seperti Sagara dan Sadewa. Namun sebenarnya dia sendiri yang terlalu berpikiran negatif. Padahal Sagara maupun Sadewa tak pernah mempermasalahkan apapun. "Oh ya, Sya. Barusan saat aku menemui bosmu, sepertinya aku bertemu dengan seseorang yang tak terlalu asing." Sadewa membuka percakapan lagi, dengan mata tertuju ke arah Sasya. Sasya terdiam mendengar itu, lalu bicara dalam hati. Pasti Rena lah yang Sadewa maksud. "Rena? Dia sekretaris baru. Baru masuk kerja kemarin," ucap Sasya. "Ah, pantas saja. Bukannya dia itu salah satu mantan Sagara?" tanya Sadewa. "Untuk apa bertanya lagi kalau kamu sudah tahu sih?" tanya Sasya balik dengan perasaan jengkel. "Memastikan aja sih, Sya. Santai aja kali. Nggak perlu sewot," jawab Sadewa dengan santai. Tangannya lalu bergerak mengambil salah satu dokumen yang ada di atas meja Sasya. "Makin hari pekerjaanmu makin banyak, Sya. Kamu kurang tidur. Kantung matamu makin menghitam saja," ucap Sadewa. Dia menaruh kembali dokumen itu setelah membacanya sekilas. "Aku tahu." "Ya udah sih. Kenapa nggak resign aja?" "Sadewa, aku tidak lagi sama seperti dulu. Tentu aku harus tetap bekerja untuk kebutuhanku dan tabungan masa tuaku." Sasya terlihat semakin jengkel pada sahabatnya tersebut. "Bukannya Sagara menawarimu pekerjaan jadi asisten pribadinya? Terima aja kek. Lumayan kan gajinya lebih besar dan Sagara juga nggak akan terlalu menekan pekerjaan padamu." Sadewa berucap. "Aku nggak mau." "Aha. Benar juga sih. Kalau kamu jadi asisten pribadinya, yang ada kalian semakin sering berzina nantinya," ucap Sadewa dengan nada menyindir. Sasya mendengus pelan dan mengabaikan perkataan Sadewa barusan. "Ya udah. Gimana kalau jadi babysitter anak-anakku aja, Sya? Utari pasti seneng." Sadewa menawari. Bukan pertama kalinya, karena Sasya sudah sering mendengarnya. "Dewa, aku nggak mau terlalu bergantung padamu dan Sagara. Kita semua sudah dewasa sekarang, dan aku bisa mengurus diriku sendiri." Sasya berkata. Sadewa menghela nafas pelan mendengar itu. Padahal dia hanya khawatir tentang kesehatan Sasya saja. "Kamu yakin bakalan tetap betah kerja di sini? Wanita itu menyinggung namamu tadi saat aku tak sengaja bertemu dengannya." Sadewa berkata lagi, dan tentu saja Rena lah yang dia maksud. "Aku udah biasa kali. Gak perlu khawatir," jawab Sasya dengan santai. Sadewa berdecak pelan mendengar itu. Sasya dan sikap keras kepalanya memang sulit untuk dipisahkan. "Baiklah. Doaku adalah semoga kamu nggak betah dan ingin segera berhenti kerja di sini," ucap Sadewa dengan enteng. Sasya mendelik tajam mendengar perkataan Sadewa barusan. "Jangan aneh-aneh kamu, Dewa." Sasya memperingati. Sadewa hanya nyengir saja mendengar itu. "Jangan lupa makan bekalnya. Aku pergi dulu." Setelah mengatakan itu, Sadewa berdiri dan pergi dari hadapan Sasya. Sasya mendengus pelan, namun berakhir dengan senyuman. Dia meraih kotak bekal yang diberikan oleh Sadewa barusan dan membukanya. Senyuman Sasya semakin lebar melihat isi kotak makan tersebut yang sangat menggugah selera. Masakan Utari memang selalu menjadi yang terbaik bagi Sasya. Sebelum kembali pada pekerjaan, Sasya mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Utari. Isi pesannya adalah sebuah ucapan terima kasih karena wanita itu selalu baik hati mau menyempatkan diri menyiapkan bekal untuknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD