Sagara duduk di dalam ruangannya dan tenggelam dalam kesibukan. Jam dinding yang tergantung di dekat pintu menunjukkan pukul 11 siang. Sebentar lagi jam istirahat dan makan siang akan dimulai. Sagara sebenarnya ingin mengajak Sasya untuk makan siang bersama, namun dia ada meeting dengan klien nanti saat jam makan siang. Lagi pula, dia juga sudah membuatkan makan siang untuk Sasya tadi.
Saat Sagara sedang sibuk dengan dokumen di atas meja, pintu ruangannya terbuka. Seorang wanita dengan rok span hitam dan kemeja merah marun berjalan masuk ke dalam ruangan Sagara dan mendekati meja kerja pria itu.
"Kamu mematikan ponselmu lagi, Sagara?" Wanita berambut hitam yang di cat pirang sebagian itu bertanya pada bosnya, yang merupakan adik sepupunya juga.
"Tidak." Sagara menjawab dengan santai.
"Ponselmu yang satu lagi." Wanita itu berucap diakhiri dengan helaan nafas pelan.
"Terlalu berisik. Mengganggu konsentrasiku," jawab Sagara sekenanya. Wanita bernama Kanya itu mendengus pelan mendengar alasan yang diberikan Sagara.
"Sagara, saranku sebaiknya kamu turuti perkataan ayahmu. Kelakuanmu yang begini membuatku ikut terseret." Kanya berkata dengan nada sebal. Ya, Sagara memang memiliki dua ponsel. Yang satu khusus untuk pekerjaan, juga untuk menghubungi kedua sahabatnya. Sedangkan yang satu lagi khusus untuk berkomunikasi dengan keluarga.
Karena sejak pagi tadi ayahnya terus menelepon, Sagara akhirnya memutuskan untuk mematikan ponselnya. Sebab dia tak mau mengangkat telepon ayahnya karena dia sudah tahu hal apa yang akan dibahas. Dan akhirnya Kanya lah yang terus dihubungi oleh ayah Sagara.
"Bilang saja padanya kalau aku sedang sibuk." Sagara membalas perkataan Kanya tanpa beban. Kanya menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan mendengar penuturan Sagara barusan.
"Baiklah, terserah kamu saja. Yang jelas, hidupmu tak akan tenang sebelum kamu menuruti perintah ayahmu," ujar Kanya. Dia menaruh beberapa dokumen di atas meja Sagara lalu berjalan keluar dari ruangan pria itu. Sagara hanya diam dan melanjutkan pekerjaannya lagi.
Hal yang ingin dibahas oleh ayahnya tak lain adalah masalah perjodohan dan kepindahan. Sagara diminta pindah ke London dan menikahi anak rekan bisnis ayahnya. Dan tentu saja semua itu demi bisnis.
Sagara sudah menolak semua perintah ayahnya itu sejak lama, namun ayahnya terus memberikan desakan. Orang tua Sagara walau sudah tak saling mencintai, tapi tetap mereka ingin Sagara melakukan yang terbaik untuk mempertahankan citra keluarga mereka. Mereka ingin Sagara menikah dengan sosok wanita yang menurut mereka layak untuk bersanding dengan Sagara. Dan mereka juga tahu kalau Sagara sudah terpincut pada Sasya sejak dulu.
Jika saja keadaan Sasya masih seperti dulu, mungkin orang tua Sagara tidak akan memberikan larangan. Namun kisruhnya berita perselingkuhan ayah Sasya dan juga kebangkrutannya membuat mereka menetapkan kalau Sasya tidak pantas untuk Sagara.
Kalau tahu semua ini, tentu Sasya juga tak memiliki niat untuk menahan Sagara agar tetap bersamanya. Namun masalahnya disini adalah hati Sagara sendiri. Dia benar-benar tak bisa berpaling dari Sasya.
Sudah berulang kali dia mencoba menjauh dari Sasya dengan memacari wanita lain. Tapi nyatanya tak ada yang berhasil. Dan akhirnya dia tetap kembali pada Sasya. Sasya tak pernah merasa kehilangan dirinya. Tapi Sagara sendiri yang selalu merasa kehilangan Sasya ketika sedang bersama wanita lain.
Andai saja hati bisa memilih kepada siapa jatuh cinta, tentu Sagara memilih untuk jatuh cinta pada wanita yang mudah dia dapatkan dalam segala aspek.
Raga Sasya memang bisa dia miliki kapan pun dia mau. Tapi tidak dengan hatinya. Dan Sagara sendiri hanya ingin Sasya seorang.
***
Jangan lupa makan bekalmu.
Sasya mendapatkan sebuah pesan singkat dari Sagara. Dia tertawa kecil karena merasa Sagara terlalu cerewet. Sasya sudah mengeluarkan kotak bekal dari tasnya. Sebelum membuka kotak bekal itu, Sasya memilih membalas pesan Sagara terlebih dahulu.
Dasar cerewet. Ini juga mau aku makan.
Selesai mengetik, Sasya langsung mengirimkannya pada Sagara. Dia menaruh ponselnya di atas meja dan mulai membuka kotak bekalnya. Sasya tersenyum kecil melihat tampilan bekal makan siangnya yang cantik. Ah, kadang Sasya merasa iri dengan kehebatan Sagara dalam memasak. Berbeda sekali dengannya.
Sasya segera menyantap makan siangnya dengan mata melihat ke arah ponsel. Ada satu pesan masuk lagi, yang ternyata dari Sagara.
Sya, kapan-kapan kita makan siang berdua.
Alis Sasya terangkat sebelah membaca pesan itu. Jarinya lalu bergerak mengetik balasan lagi untuk Sagara.
Entahlah. Aku malas pergi keluar. Dan kamu seharusnya ingat apa yang terjadi padaku setelah kita makan siang waktu itu.
Sasya menghembuskan nafas pelan dan menaruh ponselnya di atas meja. Sebagai sahabat dan juga rekan pemuas hasrat, tentu Sasya dan Sagara pernah makan siang bersama. Namun terakhir kali mereka makan siang bersama, Sasya tiba-tiba mendapatkan pesan dari nomor yang tak dikenal.
Jangan berlagak sangat mengenal Sagara. Kamu itu hanya sebatas pemuas nafsunya saja.
Sasya tidak tahu siapa yang mengirim pesan itu, namun Sagara mengetahui orangnya. Sasya tidak tersinggung sebenarnya disebut sebagai pemuas nafsu Sagara. Karena yang sebenarnya adalah dia juga sama nafsuan seperti Sagara. Jadi tentang urusan seks, mereka sama-sama membutuhkan dan sama-sama diuntungkan.
Karena mendapat pesan itu, Sasya jadi malas pergi makan siang dengan Sagara di hari kerja. Dia seringnya makan di tempat kerjanya atau di kantin kantor. Atau juga di cafe seberang kantor.
Sasya malas mencari masalah dengan orang yang mengirim pesan itu. Jadi, biarlah. Toh, ketika senggang pun Sagara selalu menemuinya di apartemen.
Sagara tak pernah memberitahu Sasya siapa orang dibalik pesan itu. Namun, Sasya berpikir kalau orang itu masih bagian dari keluarga Sagara yang tak menyukainya.
Kadang Sasya berpikir untuk berhenti melakukan seks dengan Sagara dan mulai membangun batasan antara mereka. Tapi, Sasya tak bisa. Ketika Sagara datang padanya, menyentuhnya, mencumbunya, Sasya tak bisa menolak.
Terlalu enak untuk dilewatkan.
Itulah isi pikirannya ketika dia dan Sagara menyatukan diri. Ya, mau bagaimana lagi? Sasya juga membutuhkan tubuh Sagara untuk memuaskan hasrat seksualnya.
Saat sibuk dengan pikirannya sendiri, sebuah pesan masuk lagi, balasan dari Sagara.
Baiklah. Maafkan aku karena membuatmu tak nyaman perihal masalah itu. Semoga kita bisa secepatnya bertemu lagi.
Sasya tertawa kecil setelah membaca pesan Sagara barusan. Dia hanya sekedar membaca pesan tersebut tanpa membalasnya lagi dan memilih fokus pada makan siangnya.