7. Rahasia Yang Terbongkar

976 Words
Delapan tahun yang lalu. Waktu terus berjalan, tak terasa ternyata sudah satu tahun berlalu sejak Sasya dan Sagara melakukan hubungan badan pertama kali. Selama satu tahun ini, mereka selalu bermain aman agar tak terjadi hal yang tak diinginkan. Selain itu, mereka juga selalu bermain sembunyi, terutama dari Sadewa. Keduanya belum siap untuk mengaku pada Sadewa, namun tak bisa juga untuk berhenti. Akhirnya hal tersebut terus terjadi berulang di antara mereka berdua selama setahun ini. Malam ini, Sasya berada di apartemen Sagara. Dia datang menemui laki-laki tersebut karena butuh teman cerita. Sore tadi dia bertengkar hebat dengan ibu tirinya. Karena pertengkaran itu Sasya mendapatkan sebuah tamparan keras dari sang ayah. Sasya marah dan kecewa pada ayahnya dan memilih pergi dari rumah. Sebenarnya, sejak ayahnya menikah lagi, Sasya sudah ingin pergi dari rumah dan tinggal sendiri. Namun larangan ayahnya tak bisa dia langgar. Apalagi dia juga masih membutuhkan uang dari ayahnya untuk kebutuhan hidup juga biaya kuliah. Akhirnya Sasya terpaksa tetap di rumah dan tinggal satu atap dengan wanita yang sangat dia benci. Karena tak tahan berada di bawah atap yang sama dengan wanita itu, Sasya lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah. Entah itu keliling tak jelas di tempat umum, atau menghabiskan waktu di apartemen Sadewa juga Sagara. Dan sekarang, Sasya kabur dari rumah. Dia datang ke apartemen Sagara dengan keadaan kacau. Mata sembab karena menangis dan pipi memerah karena tamparan ayahnya tadi. "Jika hal ini terus terjadi, sebaiknya kamu mulai mandiri saja. Punya tempat tinggal sendiri," ujar Sagara. Dia membuatkan secangkir teh hangat untuk Sasya. "Aku ingin begitu. Tapi kau tahu sendiri bagaimana ayahku," balas Sasya dengan suara pelan. Sagara menghela nafas pelan mendengar itu. Dia tak bisa membantu banyak kecuali selalu menerima kehadiran Sasya saat perempuan itu butuh dirinya. "Ya sudah. Malam ini kamu menginap saja di sini," ucap Sagara. Sasya menoleh lalu mengangguk pelan. "Tadinya aku mau ke apartemen Sadewa. Tapi saat aku telepon, ternyata dia sedang kencan dengan Kak Utari. Aku tak mau mengganggu waktu mereka." Sasya bercerita. "Lebih baik kamu datang padaku saja, Sya. Kamu tahu sendiri Kak Utari kurang menyukaimu," ujar Sagara. Sasya terkekeh pelan dan mengangguk. Memang benar sih kalau Utari tidak menyukainya. Karena Utari selalu menaruh rasa cemburu pada Sasya. "Bukan hanya Kak Utari saja. Kalau kamu lupa, semua perempuan yang dekat denganmu juga tidak menyukaiku," balas Sasya diakhiri dengan kekehan pelan. "Aku tahu. Tapi sekarang hanya kamu yang penting bagiku. Makanya aku tak menghiraukan mereka." Sagara berusaha membela diri. Tangannya bergerak menyentuh kepala Sasya dan mengacak rambutnya pelan. Seperti idola, Sagara dan Sadewa memang memiliki banyak penggemar. Tak heran kalau penggemar mereka tidak menyukai Sasya. Bahkan Sasya pernah dengar kalau Utari juga sempat mendapat surat ancaman saat wanita itu resmi berpacaran dengan Sadewa. Selain para laki-laki, sebenarnya para perempuan juga menakutkan ketika mereka sudah dikuasai obsesi. "Butuh pelukan?" Sagara bertanya, menawarkan diri. Dia duduk di samping Sasya dengan tangan direntangkan. Sasya tertawa pelan dengan kepala mengangguk. Dia akhirnya mendekati Sagara dan membenamkan tubuhnya dalam pelukan laki-laki tersebut. "Orang-orang bilang punya kakak laki-laki itu enak. Nyatanya aku tak merasakan itu. Aku malah takut kalau sedang bersamanya," ujar Sasya. Kakak laki-lakinya memiliki temperamen yang buruk, di mana kesalahan kecil saja bisa membuatnya marah besar sampai mengamuk dan melempar barang-barang di sekitar. Sejak kecil sampai dewasa sekarang, Sasya tak pernah akrab dengan kakaknya sendiri. "Tak masalah. Kamu masih punya aku dan Sadewa. Tapi untuk sekarang, kamu hanya punya aku. Karena Sadewa sudah dimiliki oleh Kak Utari," balas Sagara. Sasya tersenyum kecil mendengar itu. Dia memejamkan mata, menikmati rasa hangat dari pelukan Sagara yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Untuk beberapa saat, mereka hanya diam saja dengan televisi yang menyala di depan mereka. Tangan Sagara terus memeluk tubuh Sasya dengan erat. Membuat Sasya merasa aman dan nyaman. Sasya hampir terlelap dalam pelukan Sagara kalau saja laki-laki itu tidak mencuri sebuah ciuman darinya. "Gar." Sasya bergumam pelan. Tatapan mereka bertemu, dan Sasya bisa melihat sebuah keinginan dalam tatapan Sagara. Udara yang dingin, lalu mereka hanya berdua saja di sana. Tentu situasi tersebut seolah mendukung mereka untuk kembali memadu kasih. Sasya menatap Sagara cukup lama. Lalu tangannya bergerak menarik kepala Sagara agar semakin dekat dengannya. Dan akhirnya, bibir mereka kembali menyatu. Mata mereka terpejam, menikmati penyatuan bibir yang sensual. Hawa sekitar yang semula dingin mulai terasa memanas ketika percikan gairah dalam diri mereka bangkit. Sagara mendorong pelan tubuh Sasya agar berbaring di atas lantai yang dilapisi karpet bulu. Bibir mereka menyatu dan terus berpagut dengan liar. Tangan besar Sagara bergerak menyentuh d**a Sasya dan meremas salah satunya. Desahan pelan terdengar dari Sasya di sela-sela ciuman mereka. Setelah beberapa saat, ciuman Sagara semakin turun ke bawah. Mulai dari pipi, dagu, hingga akhirnya sampai di leher. Sagara memberikan banyak ciuman basah di sana tanpa meninggalkan jejak satu pun. Sedangkan tangannya sudah masuk ke dalam baju Sasya dan semakin intens mempermainkan p******a Sasya. Suara televisi yang cukup kencang juga gairah yang sudah menguasai, membuat mereka abai tentang sekitar. Sampai-sampai mereka tak mendengar suara pintu utama apartemen yang terbuka disusul suara langkah kaki. Sagara dan Sasya baru berhenti dan saling menarik diri saat terdengar suara yang menyebutkan nama mereka disertai dengan kata umpatan. "SAGARA! SASYA! SIALAN! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" Wajah Sagara dan Sasya memucat seketika. Dengan cepat Sasya membenahi bajunya yang berantakan karena ulah Sagara. "Dewa, kita bisa jelaskan." Sagara berkata dengan sedikit terbata. "Tentu saja kau harus menjelaskannya b******k!" umpat Sadewa lagi. Sasya memejamkan mata dengan erat dan menundukkan kepalanya juga. Tentu mereka tak boleh lupa kalau Sadewa bisa masuk kapan pun karena laki-laki itu memiliki akses keamanan apartemen Sagara. Setelah setahun lamanya mereka bersembunyi, akhirnya sekarang waktunya mereka mengaku pada Sadewa. Mereka tak akan bisa mengelak karena Sadewa sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri saat mereka hampir bercinta. Ya, berdoa saja semoga Sadewa tidak marah besar. Kalaupun dia marah, semoga saja dia bisa memberikan maaf karena merasa sudah dibohongi juga dikhianati oleh sahabat-sahabatnya sendiri selama ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD