6. Alasan

1073 Words
Di antara Sasya, Sagara, dan Sadewa, hanya Sadewa lah yang bisa dibilang berasal dari keluarga harmonis. Dia memiliki orangtua yang lengkap. Selain dilimpahi dengan harta kekayaan, Sadewa juga dilimpahi kasih sayang dari keluarganya. Karena itu, saat masih remaja dia cukup manja. Selain manja, dia juga memiliki sifat sombong. Namun semakin bertambah umur, dia juga semakin terlihat dewasa. Walau sifatnya yang berisik masih saja ada dalam dirinya. Sementara itu, Sagara dan Sasya berasal dari keluarga yang tidak bahagia. Sagara memiliki orangtua lengkap, namun orangtuanya bukanlah pasangan yang harmonis. Saat kuliah semester empat, Sagara baru paham kalau orangtuanya bertahan hanya demi nama baik saja. Kekayaan keluarganya yang melimpah membuat perceraian akan dilalui dengan sulit karena masalah gono-gini. Jadinya mereka memilih bertahan walau sudah tak saling mencintai. Sagara memiliki seorang adik perempuan yang usianya selisih tiga tahun dengannya. Sejak awal masuk perguruan tinggi, adiknya memilih kuliah di luar negri. Hingga akhirnya bekerja dan menikah dengan orang luar negri juga. Sagara masih sering berkomunikasi dengan adiknya lewat ponsel. Lalu Sasya, bisa dibilang dia lah yang berasal dari keluarga paling tidak bahagia dan berantakan. Dulu ayahnya juga seorang pengusaha yang namanya sejajar dengan nama keluarga Sadewa dan Sagara. Namun saat Sasya kelas dua SMA, ayahnya ketahuan selingkuh. Karena hal itu akhirnya orang tuanya cerai. Setelah bercerai, ibu Sasya sakit-sakitan dan meninggal dunia. Bertahun-tahun menikah dengan sang selingkuhan, ayah Sasya akhirnya jatuh bangkrut saat Sasya akan wisuda. Sasya meyakini kejatuhan ayahnya sebagai balasan atas sakit hati ibunya. Dan tak lama setelah bangkrut, ayahnya pun meninggal dunia. Perselingkuhan ayahnya lah yang awal mula menjadi alasan Sasya tidak mau menikah. Dia trauma dengan kisah orang tuanya sendiri. Lalu Sasya memiliki seorang kakak laki-laki, yang kelakuannya tak kalah bejad dari sang ayah. Kakaknya selingkuh dan melakukan KDRT saat istrinya sedang hamil hingga akhirnya istrinya mengalami keguguran. Karena kejadian itulah kakak Sasya dipenjara. Sasya sempat didesak untuk membayar uang tebusan kakaknya agar kakaknya bebas. Namun Sasya menolak dengan tegas karena dia tak mau berada di pihak seorang penjahat, walau penjahat itu keluarganya sendiri. Karena perbuatan ayah dan kakaknya membuat Sasya semakin skeptis tentang pernikahan. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat ibunya dan juga kakak iparnya menderita karena seorang laki-laki. Lalu apa yang bisa Sasya harapkan setelah melihat semua itu? Memang iya, tidak semua laki-laki sama jahatnya seperti ayah dan kakaknya. Seperti Sadewa dan Sagara contohnya. Sejak awal Sasya mengenal mereka sampai sekarang, mereka berdua selalu bersikap baik padanya. Walau begitu, ketakutan Sasya tidak bisa hilang. Karena dia sendiri tak bisa menjamin beberapa tahun ke depan keduanya tak akan berubah. Ayahnya dan kakaknya juga dulu adalah sosok suami idaman. Dan tak ada yang menyangka mereka berdua bisa berubah jadi jahat seperti itu. Jadi, seperti itulah pandangan Sasya terhadap dua sahabatnya, terutama Sagara yang sekarang memiliki hubungan lebih sebagai sahabat dengannya. Sagara adalah pria yang baik dan penuh perhatian, Sasya akui itu. Hubungan mereka yang sudah melewati batas persahabatan sudah berlangsung selama bertahun-tahun, dan tentu saja Sasya tak akan lupa. Sasya menikmati hubungan mereka sekarang. Namun untuk menjalin hubungan yang serius dengan Sagara, Sasya tetap tidak mau. Sasya tidak pernah menahan Sagara untuk tetap berada di sisinya. Saat Sagara resmi berpacaran dengan wanita lain, maka Sasya akan langsung membatasi kedekatan mereka. Namun saat Sagara gagal dengan hubungannya dan kembali pada Sasya, Sasya selalu menerimanya dengan tangan terbuka. Sadewa adalah orang yang paling cerewet tentang hubungan Sasya dan Sagara. Mulai dari menyindir dengan halus, menyindir secara langsung, bahkan bicara blak-blakan sampai keluar kata-kata yang kasar juga pernah Sadewa lakukan. Namun Sasya dan Sagara seolah tuli. Sadewa pernah mendesak Sagara agar meresmikan hubungan dengan Sasya, namun ternyata Sasya sendiri yang memang tak mau menjalin hubungan yang serius. Seandainya Sasya ingin dinikahi, maka sudah pasti Sagara akan langsung mengabulkannya. Dengan keadaan Sasya yang keras kepala dengan prinsipnya, tentu Sagara maupun Sadewa tak bisa mendesak lebih. Sadewa hanya berharap semoga suatu hari nanti Sasya bisa luluh dan percaya pada Sagara sepenuhnya. *** Jam menunjukkan pukul sembilan malam, dan Sasya masih berada di ruang keluarga dengan televisi yang menyala. Dia sedang menonton sebuah drama korea ditemani dengan setoples keripik kentang dan sekaleng minuman bersoda. Saat Sasya sedang serius menonton, terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Sasya melirik sekilas dan ternyata Sagara lah yang datang. Pria itu mendekati Sasya dan langsung memeluknya dengan erat. "Kupikir kamu tak jadi ke sini," ucap Sasya seraya menaruh toples yang dia pegang ke atas meja. "Biasalah. Para orang tua itu sangat merepotkan," balas Sagara dengan suara yang teredam. Dia membenamkan wajahnya di ceruk leher Sasya, menghirup aroma tubuh Sasya yang selalu bisa membuatnya merasa tenang dan nyaman. Kedua tangannya yang kekar pun memeluk tubuh ramping Sasya dengan cukup erat. "Kamu sudah makan malam?" Sagara bertanya setelah beberapa menit dia hanya diam. Tubuhnya terasa lelah dan dia hampir saja ketiduran barusan. "Sudah tadi." "Masak sendiri? Atau go-food?" "Masakan Kak Utari. Tadi siang Sadewa ke sini tak lama setelah kamu pergi. Dia nganterin masakan Kak Utari buatku," jawab Sasya. Sagara bergumam pelan mendengar itu. Dulu saat masih zaman kuliah, Sagara dan Sasya lah yang berperan sebagai orangtua untuk Sadewa yang manja dan kekanakan. Namun sekarang, justru Sadewa dan Utari yang seolah berperan jadi orangtua untuk Sagara dan Sasya. Setelah menikah dengan Utari, pembawaan Sadewa memang semakin dewasa. "Jadi Kak Utari hanya memberi untukmu saja?" tanya Sagara seraya mengangkat kepalanya. Sasya pun mengangguk pelan. "Iya. Lagian, Kak Utari tahu kalau kamu pandai masak buat diri sendiri. Nggak kayak aku," jawab Sasya. Sagara terkekeh pelan mendengar itu. Dia lalu mendaratkan sebuah ciuman singkat di pipi Sasya. "Hei, main bentar yuk sebelum aku mandi," bisik Sagara. Sasya meliriknya sekilas, lalu mendorong wajah Sagara agar menjauh darinya. "Enggak. Aku lagi asyik nonton," tolak Sasya. Sagara terlihat kecewa mendengar penolakan Sasya, namun dia tak menyerah. Tangannya langsung masuk ke dalam kaos Sasya yang oversize. Telapak tangannya yang besar langsung menangkup p******a Sasya dan meremasnya. "Gar." "Ayolah. Bentar saja," rayu Sagara. Sasya menoleh, hendak menolak dengan tegas. Namun sebelum Sasya bicara, Sagara lebih dulu membungkam bibirnya. Sagara mendorong tubuh Sasya agar berbaring di atas sofa. Kaos Sasya dia singkap hingga p******a Sasya yang tak memakai bra terlihat. Tangan Sagara pun langsung memainkan putingnya sampai mengeras. Sagara tentu sudah tahu bagian tubuh Sasya yang sensitif. Setelah memberikan sentuhan-sentuhan yang menggoda, akhirnya Sasya luluh dan pasrah. Dia tak lagi memberontak dan mulai mendesah. Sagara hanya tersenyum melihat reaksi Sasya sekarang. Sampai kapan pun, dia tak akan pernah bosan dengan Sasya. Setiap hari rasanya Sagara ingin selalu menyatu dengan wanita tersebut, dengan sahabatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD