Another Bestfriend

1360 Words
Sembilan tahun yang lalu. Setelah kejadian di apartemen Sadewa malam itu, tentu perasaan Sagara maupun Sasya jadi tak menentu. Saat Sadewa meninggalkan mereka berdua, bayangan saat mereka berciuman malam itu terus menghantui pikiran mereka. Merasa berdebar, canggung, namun juga penasaran. Ada perasaan tak nyaman dan bersalah dalam hati mereka, merasa telah mengkhianati persahabatan mereka, apalagi Sadewa tak tahu apapun. Namun rasa penasaran menguasai diri hingga kejadian tersebut terus berulang. Setiap ada kesempatan, Sagara akan meminta sebuah ciuman pada Sasya, dan Sasya tak pernah bisa menolak. Hingga akhirnya pada malam itu, Sasya menginap di apartemen Sagara. Dengan alasan awal untuk meminta Sagara membantunya mengerjakan tugas. Namun tentu saja, apa yang mereka lakukan bukan hanya sekedar mengerjakan tugas. Di atas ranjang Sagara, di atas kasur king size dengan sprei berwarna abu muda, mereka melakukan seks untuk pertama kalinya. Pertama kalinya bagi Sasya maupun Sagara. Dan ya, bisa dibilang keperawanan Sasya di renggut oleh Sagara. Namun, Sasya tidak menyesali itu semua. Sebab dia sendiri juga menikmatinya. Sasya berbaring di atas ranjang Sagara dengan mata sayu. Kedua tangannya melingkar pada leher Sagara ketika pria itu berhasil menerobos masuk ke dalam dirinya, untuk pertama kalinya. Rasa sakit, perih, dan tidak nyaman dirasakan oleh Sasya. Namun Sasya bertahan beberapa saat, membiasakan diri dengan keberadaan benda asing dalam tubuhnya. "Masih sakit?" Sagara bertanya lembut. Di ujung kalimat, suaranya terdengar bergetar. Rasa nikmat yang menguasai miliknya membuatnya hampir hilang akal. Sasya sangat ketat, basah, dan panas di bawah sana. Membungkus miliknya dan memijat dengan erat. "Sedikit," jawab Sasya lirih. Dia memejamkan mata lalu berusaha mengatur derus nafasnya. Pinggul Sasya bergerak perlahan, dan rasa sakit itu sudah berkurang. "Bergeraklah," bisik Sasya pelan. Rona merah menghiasi wajahnya, membuatnya terlihat semakin menggemaskan di mata Sagara. Mendengar perintah Sasya barusan, akhirnya Sagara mulai bergerak dengan perlahan. Dia menarik diri hingga menyisakan sisa ujung sedikit, lalu mendorongnya kembali sampai seluruhnya masuk. Sasya mengerang kuat dengan jari-jari mencengkram kuat punggung Sagara saat laki-laki itu masuk semakin dalam. Sagara menggeram di ceruk leher Sasya, merasa tak tahan dengan perasaan nikmat itu. Dia berusaha keras untuk tetap sadar agar tidak membuat Sasya kesakitan. Dia bergerak dengan sangat perlahan, walau rasanya ingin sekali mempercepat tempo gerakan. Semakin lama, Sagara merasakan Sasya yang semakin basah di bawah sana. Hal tersebut membuat miliknya semakin mudah untuk bergerak. Tempo gerakannya bertambah cepat setiap menitnya, membuat kenikmatan itu semakin terasa. Sasya yang sudah kembali terpancing gairah mulai mendesah. Rasa perih bercampur nikmat itu sudah menghilangkan akal sehatnya. Tangan dan kakinya memeluk erat tubuh Sagara ketika pria itu bergerak dengan cepat. Desahannya memenuhi kamar pribadi Sagara yang didominasi warna abu tersebut. Kepala Sasya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan jari kaki yang menekuk kuat. Tak lama dia menjerit dengan tubuh yang melengkung ke atas saat gelombang kenikmatan menghampirinya. Sagara mendesah saat merasakan Sasya yang menghisapnya dengan kuat. Setelah bergerak dengan cepat selama beberapa detik, akhirnya Sagara sampai di puncak juga. Dengan cepat dia menarik diri dan mengocok miliknya sendiri. Spermanya kemudian keluar membasahi perut dan d**a Sasya. Nafas keduanya memburu setelah permainan tersebut selesai. Sagara tumbang di samping Sasya dengan tubuh lemas. Setelah beberapa saat, nafas mereka mulai kembali teratur. Akal sehat mereka kembali bekerja setelah kebutuhan hasrat mereka terpenuhi. Keduanya terdiam dan menatap langit-langit kamar yang berwarna putih. Suasana yang semula sangat menggairahkan berubah menjadi canggung dan dipenuhi rasa bingung. "Sya, aku-" "Tolong rahasiakan ini. Aku tidak ingin Sadewa mengetahuinya." Sasya memotong perkataan Sagara dengan cepat. Sagara terdiam, dan kemudian dia ingat tentang sahabatnya yang lain. Akan sekaget apa Sadewa jika tahu tentang ini? Sagara melirik Sasya lewat sudut matanya. Suasana malam ini cukup panas, hingga mereka tak membutuhkan selimut untuk menghangatkan tubuh polos mereka. Seolah mengingat sesuatu, Sagara pun bangkit berdiri. Dia mengambil celana pendeknya dan memakainya. Setelah itu dia mengambil beberapa lembar tisu dari atas laci dan dengan inisiatif sendiri membersihkan tubuh Sasya dari cairannya. Sasya merasa malu dan hanya mampu menutup kedua matanya dengan lengan. Walau sebenarnya terlambat untuk merasa malu karena Sagara sudah melihat seluruh tubuhnya tanpa terkecuali. "Tunggulah di sini. Aku akan bawakan air untuk minum," ucap Sagara. Dia menarik selimut miliknya untuk menutupi tubuh Sasya. Setelah itu Sagara berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya. Sasya melihat kepergian Sagara lalu menghembuskan nafas panjang setelah sosok Sagara tak terlihat. Sasya merasa tak percaya kalau barusan dia melakukan seks dengan Sagara, yang merupakan sahabatnya sendiri. Sasya tak percaya kalau dia bisa merasa b*******h pada sahabatnya sendiri setelah sekian tahun mereka berteman. Kemudian Sasya teringat pada Sadewa, dan entah kenapa perasaan takut dan khawatir langsung merasuk ke dalam dirinya. Entah Sadewa akan tahu atau tidak, Sasya hanya berharap Sadewa tak akan mengamuk padanya nanti. *** Seperti perkataannya tadi, Sagara akan pergi ke pertemuan keluarga setelah makan siang. Setelah membersihkan diri, memasak dan makan siang bersama Sasya, akhirnya Sagara pamit untuk pergi. Sebelum pergi, Sagara memberikan sebuah ciuman lembut untuk Sasya dan berkata kalau malam nanti dia akan datang lagi. Sasya menghela nafas pelan setelah kepergian Sagara. Ruang tamunya sudah bersih karena dibereskan oleh Sagara. Tak terlihat jejak apapun di atas sofa, seolah mereka tak pernah bercinta di sana tadi. Sasya akhirnya berjalan, berniat untuk menonton di ruang keluarga. Namun belum juga sampai di sana, dia bisa mendengar suara pintu utama apartemennya yang dibuka. Sasya merasa heran karena Sagara belum lama pergi. Apa mungkin ada barangnya yang ketinggalan? Sasya akhirnya berbalik menuju ruang tamu. Dan ternyata, orang tersebut bukanlah Sagara. Tetapi sahabatnya yang lain, Sadewa. "Aku masih sering lupa kalau kau mengetahui sandi apartemenku," ujar Sasya. Sadewa hanya mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. Dia mendekati Sasya lalu menyerahkan sesuatu pada wanita itu. "Utari masak banyak tadi dan memintaku memberikannya padamu. Dia khawatir kau tidak makan dengan baik karena dia tahu kau orang yang payah dalam memasak," ujar Sadewa. Sasya mendengus pelan mendengar itu namun tetap menerima tas yang diserahkan Sadewa. "Terima kasih. Tapi aku sudah makan siang tadi," ucap Sasya. Dia berjalan menuju sofa lalu membuka isi tas tersebut. Ada beberapa jenis lauk. Namun karena sudah cukup kenyang, akhirnya Sasya memilih menyantap saladnya saja. Yang lainnya bisa dia simpan untuk makan malam nanti. "Oh ya? Aku yakin kau pasti membeli dari luar lagi," ujar Sadewa. Dia ikut mendudukkan dirinya di sofa dan menatap Sasya yang sedang menyantap salad buatan istrinya. "Kau salah. Ada seseorang yang memasak untukku," timpal Sasya. "Aha. Kau benar. Ini hari Minggu dan sudah jelas dia menginap di sini malam tadi. b******n sialan itu. Dia meninggalkanku kemarin sebelum pembahasan kami selesai." Sadewa menggerutu kesal. Tanpa menyebutkan nama, Sadewa sudah jelas tahu siapa orangnya. "Dia temanmu." Sasya menimpali singkat. "Temanmu juga. Atau bukan? Mana ada orang berteman dekat tapi melakukan seks," cibir Sadewa. Sasya hanya mengangkat bahunya tak peduli. "Sampaikan salam dan terima kasihku untuk Kak Utari. Masakannya selalu enak," ucap Sasya. Sadewa memutar bola matanya saat tahu kalau Sasya berusaha mengalihkan topik pembicaraan. "Sya, beberapa bulan lagi usia kita akan menginjak kepala tiga. Sampai kapan kau akan terus begini?" Sadewa bertanya. Sasya diam, tak langsung memberikan jawaban. "Kau tidak bisa selamanya diam di tempat. Harus bisa melangkah maju," lanjut Sadewa. "Dewa, aku-" "Seandainya sekarang kau ingin dinikahi, Sagara akan langsung menikahimu tanpa berpikir lagi. Aku tahu itu." Sadewa memotong kalimat Sasya dengan cepat. "Kau tahu sendiri kalau aku tidak mau terikat hubungan semacam itu." "Aku tahu. Tapi tak mungkin selamanya kau begini, Sya." Sadewa berkata dengan serius. Sasya terlihat mulai jengah dengan pembicaraan mereka sekarang. "Kita berdua sudah mengenal Sagara sejak lama. Dan aku yakin kau pun sadar kalau Sagara tidak akan menjadi laki-laki yang menambah traumamu. Dia tidak sama seperti ayah dan kakakmu." Sasya memalingkan wajahnya, enggan menatap Sadewa. "Pikirkan lah dengan baik, Sya. Aku menyayangimu dan aku tak mau melihatmu seperti ini seterusnya," lanjut Sadewa. Usia mereka hanya selisih dua bulan saja, lebih tua Sadewa. Namun selain sebagai sahabat, Sadewa sudah menganggap Sasya sebagai saudaranya juga. "Ini hari Minggu. Kamu tidak jalan-jalan dengan keluargamu?" Lagi, Sasya berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Sadewa mendengus pelan mendengar itu. Akhirnya dia berdiri lalu mendekati Sasya. Tangannya bergerak menyentuh kepala Sasya dan mengacak pelan rambutnya. "Jaga pola makanmu dengan baik. Istirahat yang cukup. Jangan sampai jatuh sakit," ucap Sadewa. Setelah mengatakan itu, Sadewa melenggang pergi keluar dari apartemennya. Sasya pun akhirnya bisa menghembuskan nafas lega setelah Sadewa pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD