Alana dan kedua sahabatnya menghela nafas lega karena jam kuliah sudah berakhir. Kini, mereka bertiga hendak memanjakan diri berjalan-jalan di Mall. Namun, Alana menghentikan langkahnya karena melihat Vanes bersama Diaz di parkiran. Vanes tampak bahagia karena Diaz menerima bingkisan pemberiannya.
“Hey... kamu cemburu ya liat Diaz sama Vanes,” ledek Keyla cengengesan.
“Ngapain cowok kaya gitu di cemburuin. Justru mereka pasangan serasi karena sama-sama ngeselin,” sangkal Alana murka.
Vita terkekeh karena Alana emosi dengan ledekan Keyla. “Harusnya sih ya, kalau nggak cemburu slow aja. Nggak perlu ngegas,” ucapnya mencubit hidung Alana.
Alana geram dengan sikap kedua sahabatnya, lalu menatap mereka penuh amarah. “Cukup ya kalian ledek aku selama ini. Selama ini kalian minta aku buka hati, oke aku turutin. Aku akan buka hati dengan pilihanku sendiri. Puas!” jawabnya tegas.
Siapa sangka, ucapan Alana yang akan membuka hati didengar Diaz dan Vanes. Diaz tak menyangka ucapan sepupunya benar mengenai Alana, ternyata Alana memiliki masa lalu kurang baik. Pantas saja dia sering membuat keonaran di kampus dan bisa saja hobi balapan Alana sebagai penyemangat Alana untuk hidup lebih baik.
“Sial! Gara-gara kalian dia jadi dengar kan,” ucap Alana gelisah, mengetahui ucapannya didengar Diaz dan Vanes.
Alana merutuki kebodohannya karena asal bicara, padahal jaraknya dan jarak Diaz tak terlalu jauh. Tak ayal Diaz maupun Vanes bisa mendengar ucapan lantang Alana, jantung Alana bahkan semakin memburu saat Diaz memperhatikannya. Alana menelan ludah gusar karena Diaz meninggalkan Vanes dan berjalan ke arah Alana. “Mati aku.” Batin Alana.
“Hey, kalian kenapa? Kok tegang gitu,” ucap Diaz memperhatikan sikap Alana dan sahabatnya.
“Diaz, kamu kok mendadak kesini?” Keyla malah balik bertanya, mencoba mengintrogasi apakah Diaz mendengar ucapan Alana atau tidak.
Diaz tak bergeming, hanya memperhatikan Alana. Diaz tersenyum dalam hati karena sikap Alana yang canggung dan tampaknya Alana mengeluarkan keringat dingin, namun Diaz tak tega mengatakan dia mendengar ucapan Alana. Diaz tak ingin Alana malu, apalagi ada Vanes yang mendadak menghampirinya. “Tenang Alana, aku nggak akan buat kamu malu.” Batin Diaz mengulum senyum khasnya.
“Eh Alana, kenapa sih kamu panggil Diaz kesini? Memangnya nggak tahu ya aku lagi ngobrol sama Diaz,” sambar Vanes membuat Alana kesal karena Vanes sudah berani lancang kepadanya. Padahal sebelum kedatangan Diaz, perempuan itu takluk pada Alana dan kawan-kawan.
“Hey... Kayaknya nggak ada yang ngajak kamu ngobrol ya. Diaz nya aja yang nggak betah di dekat kamu, makanya dia kesini,” ucap Keyla sinis.
“Aku juga nggak ngomong tuh sama situ. Kan aku nanyanya Alana,” Vanes tak terima Keyla ikut berbicara. Dia ingin Alana yang merasakan sakitnya dikucilkan Alana dan kawan-kawan.
“Vanes, apa-apaan sih. Mendingan kita lanjut ngobrolnya besok aja, aku ada urusan sama Alana,” timpal Diaz menatap Vanes kesal.
“Kok kamu malah ninggalin aku, kan aku duluan yang ngobrol sama kamu,” sahut Vanes kecewa karena Diaz malah memintanya pergi.
“Bukannya gitu. Aku ada urusan fakultas kedokteran, memangnya kamu bisa,” Diaz berusaha mencari alasan agar Vanes pergi. Tentunya Vanes memilih pergi karena bukan anak fakultas kedokteran.
“Oke, sampai ketemu besok cinta,” pamit Vanes mesra lalu pergi.
Alana kesal karena kehadiran Diaz dan Vanes membuat moodnya berantakan. Dia melipatkan tangan di d**a dan berkata ketus. “Aku nggak mau ya kamu nyamperin aku saat kamu bersama Vanes. Udah tahu kami rival, malah dipertemukan. Jadi lancang kan dia, merasa dilindungi kamu.”
“Ya udah, maaf deh. Sebagai perminta maafan mau kan aku ajak jalan,” ungkap Diaz dengan nada cool.
“Ogah,” sahut Alana cepat.
“Mau!” sambar Vita dan Keyla cepat.
Alana shock karena kedua sahabatnya kembali berulah. “Kenapa jadi kalian yang berkuasa,” pekiknya dengan mata melotot.
“Udahlah Alana, jangan ngomel terus ntar cepet tua,” cap Diaz gemes.
Alana geram dengan perkataan Diaz, jelas-jelas dia masih muda dan belum merasakan indahnya bersama Brian. “Udah deh to the point aja, mau ngapain kamu kesini?”
“Kan tadi udah bilang, mau ajak kalian jalan-jalan. Dijamin kalian suka, apalagi kalian lagi patah hati karena guru les lukisnya ke luar kota kan,” ucap Diaz bangga, membuat Alana dan kawan-kawannya melongo.
“Guru les lukis? Dari mana kamu tahu kita ikut les lukis?” tanya keyla penasaran.
Diaz memasukkan kedua jarinya ke saku celana, membuat ketampanannya semakin sempurna. “Nggak ada yang mustahil buat Diaz. Semuanya bisa diketahui hehee.”
“Waoo, Diaz keren banget ya Key. Aku jadi mellow nih,” ungkap Vita terpana dengan kecerdasan Diaz yang mengetahui segalanya.
“Biasa aja sih menurut aku. Nggak ada yang menarik,” Alana kesal dengan sikap Diaz, dia memilih menyampingkan kagumnya pada Diaz.
Diaz mendekatkan tubuhnya pada wajah Alana, membuat Alana menelan ludah dan mundur satu langkah. “Sekarang kamu bisa berkata seperti itu, tapi jangan salahin aku kamu berubah pendapat setelah mengetahui tujuan kepergian kita.”
Alana kesal dengan sikap Diaz yang kembali menyebalkan, padahal beberapa hari belakangan bersikap manis dan ramah. Sebenarnya, laki-laki itu memiliki berapa kepribadian sampai-sampai sikapnya berubah drastis dalam waktu singkat. Ah... sudahlah, itu bukan urusan Alana. Bagi Alana tak ada yang lebih penting selain Brian.
“Ayo,” ajak Diaz membuyarkan lamunan Alana.
“Bawel, iya-iya,” sahut Alana kesal.
Diaz tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mengajak ke 3 gadis jalan bersama. Mulai saat ini, Diaz sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan kenyataan penyakit leukimianya. Dia akan mengisi keseharian dengan keceriaan, Diaz ingin meninggalkan kebiasaan buruknya. Walaupun susah, dia akan berusaha agar sisa umurnya lebih berharga.
“Diaz, kamu nangis?” Vita tak sengaja menoleh ke arah Diaz dan mendapati mata Diaz memerah.
Diaz berusaha menenangkan dirinya dan menyangkal ungkapan Vita. “Ngaco kamu. Nggak ada ya dalam kamus aku. Yang ada kalian kaum cewek yang baperan, dikit-dikit nangis, ngambek,” sangkal Diaz dengan menyalahkan kaum hawa.
“Alana, kamu bonceng Diaz ya. Aku sama Vita,” ucap Keyla mengulum senyum setelah naik motor bebeknya.
“Huh... iya,” sahut Alana kesal.
Alana merutuk kesalahannya sendiri karena memilih naik ojek online karena motornya ada di bengkel. Andai saja dia membawa motor, pastinya tak akan membonceng laki-laki menyebalkan seperti Diaz. Apalagi Diaz tampaknya bahagia bisa membonceng Alana, wanita terpopuler di kampus. Pastinya kedekatan Alana dengan Diaz membuat kaum Adam di kampus sakit hati.
“Aku beruntung deh bisa ketemu kamu,” ucap Diaz saat Alana berhasil duduk di motor Diaz.
“So?” tanya Alana ketus.
“Ya, beruntung bisa buat kaum cowok patah hati. Walaupun aku nggak cinta kamu, tapi seru aja sih,” sahut Diaz sok bangga dengan dirinya. Tapi, Alana langsung mencubit pinggang Diaz.
“Awwuu... sakit tau,” pekik Diaz mengerang kesakitan.
“Makanya nggak usah Ge-er! Aku juga nggak sudi cinta sama cowok aneh kaya kamu. Sebentar sok berkuasa, sebentar baik. Aneh,” tolak Alana jika diberikan kesempatan menyukai Diaz.
Diaz menghela nafas panjang. “Ya siapa tahu kehendak Tuhan. Tuhan menakdirkanmu mencintaiku, atau mungkin sebaliknya. Ya walaupun mustahil,” pikirnya, lalu melajukan motornya mendahului motor Keyla.
***