Bab 16

1383 Words
Diaz menghentikan motornya di sebuah gedung megah yang luasnya tak main-main. Tanpa menunggu Alana berkomentar, Diaz meraih lengan Alana. Laki-laki itu membawa Alana masuk ke gedung megah, sementara Vita dan keyla mengikuti langkah Diaz di belakang. Pastinya, Alana dan kawan-kawan takjub karena sepanjang mereka melangkah banyak pemandangan lukisan berbagai model. “Diaz, ini apa sih? Kok banyak lukisan gini?” tanya Alana penasaran saat Diaz membawanya masuk ke ruangan bernuansa modern. Alana menjamah pandangannya, menatap lukisan yang terpajang di dinding. “Setengah jam lagi ada seminar lukisan dari sang pelukis luar negeri. Aku tahu, kalian bercita-cita menjadi pelukis. Untuk itulah aku ajak kalian kesini,” sahut Diaz mengulum senyum. Namun, Alana shock karena Diaz mengetahui hobinya melukis. “Dari mana kamu tahu? Aku nggak pernah cerita soal itu.” “Kan aku udah bilang. Nggak ada yang mustahil buat Diaz. So, kamu cukup nikmati seminar ini dan terapkan ilmunya biar kamu jadi pelukis profesional. “Eh Diaz, tunggu deh. Kok aku lihat kamu tahu banyak tentang lukis ya? Atau kamu suka lukis?” tebak Keyla penasaran. “Iya, nggak mungkin orang awam mengetahui secara detail mengenai lukisan,” sambar Vita tak mau kalah. “Udahlah, nggak usah kepo. Mendingan kita nikmati seminar ini bersama, aku udah lunasi biayanya kok,” ucap Diaz tak ingin membahas lebih jauh pertanyaan Vita dan Keyla. Dia duduk di deretan kursi depan. “Tapi, aku suka banget. Makasih ya.” Alana akhirnya mengucapkan terima kasih pada Diaz karena laki-laki itu mengetahui hal yang disukainya. Dia duduk di samping Diaz, membuat Vita dan Keyla ikut bahagia. Setengah jam kemudian, seorang MC dan beberapa rekannya masuk ke ruangan. Mereka menuntun sang pelukis handal luar negeri yang menjadi bintang tamu, lalu mereka duduk di sofa modern yang terletak di depan. Tepatnya menghadap seluruh peserta yang tak sabar mendengar perkataan dan ilmu sang pelukis. “Waw... Alana, sumpah ganteng banget ya. Aku baru liat dengan mata kepalaku sendiri ada Oppa korea deh,” kagum Vita seraya memandangi wajah sang pelukis. “Bener Vit, nggak nyangka banget ya kita bisa ketemu Oppa. Aku harus abadikan nih, terus wajib foto setelah seminar selesai,” lanjut Keyla tak kalah antusias. Alana hanya menanggapi komentar kedua sahabatnya dengan senyuman. Baik Vita maupun Keyla memang antusias saat melihat laki-laki tampan, tak seperti dirinya yang tak mudah menyukai lawan jenis walaupun sebatas kekaguman. Yang Alana pikirkan saat ini hanyalah ketampanan Brian, entah Alana kagum karena sama-sama bisa melukis ataukah karena cinta. Namun, Alana berusaha keras membuka hatinya untuk Brian. “Eh, Alana kamu kok diem? Nggak naksir sama Oppa handsome itu?” Vita malah kesal karena tak ikut mengomentari kegantengan sang pelukis. “Menurut aku sih, ganteng itu relatif. Nggak harus puja semua cowok ganteng kan, cukup satu aja,” sahut Alana tegas. Keyla mendengus kesal. “Iya yang lagi terpesona kegantengan Kak Brian. Kita diem aja deh.” “Brian? Siapa dia?” Diaz malah ikut bertanya. Dia penasaran seperti apa sosok Brian yang bisa meluluhkan hati Alana, padahal menurut cerita Alvar dan pengamatannya selama ini, Alana enggan berdekatan dengan laki-laki. “Brian itu guru les kita. Dia itu ganteng dan cool abis,” sahut Vita bangga. Diaz tak melontarkan perkataan, hanya mulutnya yang terbuka lebar seolah mengucapkan kata ‘Oh.’ Malahan, Alana yang antusias ingin mengenalkan Diaz pada Brian. “Besok, aku kenalin sama Kak Brian deh. Kamu kan suka melukis, siapa tahu kalian bisa care,” ucap Alana berbinar-binar. Diaz gusar, dia mengulum senyuman tanpa menyanggupi bertemu dengan Brian. Namun, melihat sikap antusias Alana pada Brian membuat hati Diaz seakan tercabik. Entah mengapa Diaz seolah tak terima Alana mengagumi laki-laki lain, bahkan Diaz ingin berada di dekat Alana dan membahagiakannya. Oh Tuhan... mungkinkah itu pertanda cinta? Apa mungkin Diaz telah mencintai Alana? Selama seminar berlangsung, semua peserta fokus memperhatikan penjelasan sang pelukis. Bahkan Alana dan kedua sahabatnya berhasil mengabadikan fotonya dengan sang pelukis, juga Keyla yang jahil mengabadikan foto Alana dengan Diaz dalam berbagai gaya.  “Eh, aku laper nih. Kita makan dulu yuk,” ajak Diaz setelah berfoto ria selesai. “Boleh, tapi aku yang traktir ya. Kamu pasti udah keluar jutaan buat biayai seminar hebat kita,” pinta Alana seraya mengulum senyum. Diaz terkekeh. “Nggak ada ya dalam kamus aku seorang cowok di traktir cewek. Bisa mati harga diri cowok dong,” tolaknya halus. “Tapi aku kan....” “Nggak! Aku yang bertugas membahagiakan kalian bertiga. Aku ke toilet dulu.” Diaz segera memotong ucapan Alana sebelum gadis itu melanjutkan ucapannya, setelah itu Diaz berjalan cepat ke arah toilet. Sementara Vita dan Keyla tersenyum memandang wajah Alana yang merona. Walaupun Alana belum berstatus menjadi kekasih orang, Vita dan Keyla bahagia karena sahabat tercintanya sudah membuka hati untuk cinta. “Kenapa ekspresinya aneh gitu,” kesal Alana melihat ekspresi kedua sahabatnya. “Cie... Aku bahagia banget deh akhirnya sahabatku yang cantik ini mengenal cinta. Sekali mengenal cinta, langsung dapat 2 pangeran lagi. Gokil,” ucap Vita bangga. Alana mendengus kesal seraya melipatkan tangan di d**a. “Maksudnya Diaz dan Kak Brian? Jangan asal ngomong deh ntar jadi masalah. Aku cuma buka hati buat Kak Brian kok, ini aja masih susah dan lagi diusahakan,” jawabnya. “Iya sih kamu emang ngomong gitu. Tapi mata dan tubuhmu enggak Alana sayang, justru aku lihat hati kamu lebih menyukai Diaz dibanding Kak Brian,” tebak Keyla layaknya sang pawang cinta. “Ngaco banget. Mana mungkin aku suka sama Diaz? Dia itu rival kita. Ingat itu!” Alana berusaha menyadarkan prediksi Keyla yang salah mengenai statusnya dengan Diaz. “Iya sih rival di awal pertemuan. Toh nyatanya makin kesini makin akur sampai-sampai aku mau nemenin Diaz di rumah sakit, apalagi Diaz jadi perhatian banget sama kamu.” Keyla semakin mengagungkan Diaz di depan Alana, tentunya membuat Alana jengah. Alana mendengus kesal karena kedua sahabatnya semakin memojokkannya. Dia merutuki dirinya karena ekspresi tubuhnya membuat Vita dan Keyla berasumsi Alana menyukai Diaz. Namun, apakah ucapan Vita dan Keyla benar? Memang, wajah Alana kerap merona setiap Diaz mengatakan kalimat pujian, bahkan jantung Alana selalu berdegup kencang setiap di dekat Diaz. Alana juga merasakan ada ikatan diantara Diaz, sayangnya Alana tak dapat mengartikan itu semua. “Diaz mana sih, kok lama banget,” ucap Alana mengalihkan pembicaraan. Vita mengangkat bahu, pertanda dia tak mengetahuinya. “Kita ke Cafe dulu deh, toh Cafenya di gedung ini dan Diaz nggak akan kesulitan cari kita,” ajak Alana karena merasa perutnya sudah kelaparan. “Kalau gitu w******p dulu gih, ntar dia malah nyariin kita,” pinta Vita bijak. “Oke,” sahut Alana cepat. Lalu mengetikkan pesan w******p untuk Diaz. “Udah kan, yuk,” ucap Vita, lalu merangkul Alana. Mereka bertiga berjalan riang menuju Kafe. *** “Diaz, kita bertiga udah kelaperan nih. Kita ke Kafe duluan ya, aku tunggu disana.” Diaz membaca isi pesan w******p Alana dalam hati. Lalu, memasukkan ponselnya di saku dan menatap cermin di toilet. Memastikan wajahnya sudah berseri dan merapikan sweater coklatnya. Diaz hendak keluar dari toilet, namun kepalanya mendadak berputar-putar dan kehilangan keseimbanga. Saat itulah darah segar keluar dari hidungnya dan Diaz terduduk lemas di lantai, membuat orang yang ada di dalam toilet terkejut dan menghampiri Diaz. “Ya Allah Mas, Mas kenapa?” tanya laki-laki paruh baya seraya menatap wajah Diaz yang pucat pasi. Diaz berusaha tersenyum. “Aku nggak papa kok Pak,” sahutnya lirih. “Tapi Mas mimisan gitu. Mas sakit ya,” ucap pria lainnya. “Benar Mas. Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang ya,” sambung pria muda. Diaz menggeleng. Dia mengambil tisu yang disodorkan pria muda, lalu berkata lirih. “Saya nggak papa kok. Tolong pesankan saya Taxi online saja biar saya pulan.” “Baiklah Mas, saya pesan dulu ya.” Pria muda ikut khawatir dengan kondisi Diaz, dia segera menatap layar ponselnya untuk memesan Taxi online. “Sudah Mas, mari kami antar sampai di depan Mas,” ajaknya lembut. “Iya Mas, ayo,” jawab laki-laki paruh baya. Diaz pasrah, membiarkan 4 orang laki-laki menggotong tubuhnya yang lemah. Dia memejamkan mata karena harus meninggalkan Alana dan sahabatnya di gedung, walaupun dia tak tega tetapi kondisi kesehatannya tak memungkinkan. Jika dipaksakan, Alana akan curiga dan mengetahui penyakit Diaz. “Diaz, kamu harus kuat. Jangan biarkan penyakit ini buat Mama dan Alvar sedih, setelah sampai di rumah harus kuat,” ucap Diaz dalam hati  seraya menguatkan dirinya sendiri. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD