Pukul 7 malam, Alana mengajak Keyla dan Vita ke Mall. Selain Alana berencana belanja kebutuhan harian, ia juga hendak membeli buku kuliah. Sementara Keyla dan Vita asik memburu novel romantis.
"Girls, udah dong beli novelnya. Mending kita makan," seru Alana letih.
"Sabar dong. Aku lagi nyari yang happy ending nih," sahut Keyla sambil memilih novel.
"Alana, kamu kan anak kedokteran. Wajib banget baca novel biar nggak stres mikirin mata kuliah," sambung Vita, kemudian terkekeh.
"Males." Alana berdecak kesal, kemudian ia mengambil satu novel dan membaca blurb di bagian belakang buku.
Keyla memandang Alana. "Itu ceritanya tentang apa?" tanyanya penasaran.
"Klise. Cowok penyakitan yang sok relain pacarnya buat cowok lain," ucap Alana, kemudian meletakkan novel itu di jajaran novel remaja.
"Romantis yah." Terdengar suara Brian menghampiri Alana membuat Alana terkejut.
"Brian,"ucap Alana gugup.
"Wah, mas brian juga suka baca novel yah?" tanya Vita ceria.
"Nggak sih, cuman ehmm pacar aku yang suka banget ngoleksi novel," sahut Brian, kemudian tersenyum.
Senyuman di bibir Alana sirna mendengar Brian mengatakan itu. Entah mengapa mengetahui Brian mempunyai kekasih, hatinya terasa perih. Namun dengan cepat Alana mengendalikan emosinya agar kesedihan tak nampak di wajahnya.
"Jadi mas Brian udah punya pacar yah," sambung Keyla tak bersemangat.
Brian terkekeh. "Iya tapi dia udah meninggal setahun lalu." jawab Brian sedih.
"Ohh, maaf yah. Kita nggak bermaksud buat mas sedih," ucap Alana, kemudian tersenyum.
"Nggak papa santai aja," jawab Brian tersenyum.
"Oya, dia cinta pertama mas Brian?" tanya Vita antusias.
"Bukan. Ehmm cinta pertama aku, ehmm aku berdosa sama dia. Andai Tuhan mengizinkan, aku pengen ketemu dia dan minta maaf. Aku sangat mencintai dia tapi aku nyakitin dia," cerita Brian sedih.
Deg! Perkataan Brian menusuk tepat di hatinya. Tak terasa buliran bening meleleh membasahi pipinya. Sementara tangannya terkepal menahan amarah. Walaupun Brian bukanlah laki-laki yang dahulu menyakitinya, namun ia dapat merasakan kesedihan perempuan yang udah di sakiti Brian. Ternyata semua cowok sama! Mereka pengkhianat. Alana membatin.
Brian memandang Alana. "Alana, kamu kenapa?" tanya Brian khawatir.
Alana menyeka air matanya. "Aku nggak papa. Tadi cuma kebawa emosi," sahut Alana mengulum senyum.
"Alana, kamu nggak boleh negatif thinking. Gimanapun, mas Brian khilaf." Keyla berbisik pada Alana, berusaha menenangkan Alana.
Alana tak berkomentar. Ia mencerna perkataan Keyla. Memang tidak dipungkiri bahwa setiap orang berbeda. Dan, ia yakin Brian bukanlah cinta pertamanya yang tega meninggalkannya di saat ia butuh perlindungan.
Selama beberapa detik Alana mengamati Brian. Menerawang jauh seperti apa sosok Brian. Dari wajah dan penampilan Brian, Brian menampakkan sosok yang lembut dan penuh kasih sayang. “Tuhan, maafkan aku telah berburuk sangka pada Brian.” Batin Alana.
"Oya, Alana, apa kamu kesulitan belajar melukis?" tanya Brian lembut.
Alana tersenyum. "Nggak kok. Aku menikmati belajar melukis," sahutnya ceria.
Tiba-tiba saja terdengar dering ponsel dari arah Brian. Brian segera mengambil ponsel di celana jeansnya, kemudian mengangkatnya.
"Hallo ma, apa? Iya ma ini sebentar lagi aku pulang kok. Iya udah aku beli semua," percakapan Brian bersama suara di seberang sana.
"Mas Brian akrab ya sama mamanya," ucap Vita setelah Brian memasukkan ponsel di saku celananya.
Brian tersenyum. "Maaf yah, aku buru-buru. Aku duluan yah," pamit Brian tak enak hati.
Alana tersenyum. "Iya nggak papa mas. Hati-hati yah," sahutnya lembut.
Brian melemparkan senyum pada Alana dan kedua sahabatnya, kemudian ia berlalu.
"Pria idaman banget ya mas Brian," kagum Keyla sumringah.
"Udah ah, makan yuk," ajak Alana lalu melangkah pergi.
"Iya iya," jawab Keyla dan Vita, kemudian mengejar Alana.
***
Diaz asik menikmati kopi yang masih mengepul di taman belakang rumah. Sementara jemarinya sibuk mendownload foto-foto Alana di f*******:. Ia senang karena hanya dalam beberapa hari akun facebooknya sudah merajah di grup milik mahasiswa di kampusnya. Tanpa repot-repot meng-add atau meminta bergabung, cewek-cewek di kampus sudah memasukkan akunnya di grub. Alhasil, ia bebas mendapatkan foto-foto Alana. Sebenarnya semua foto Alana tidak menarik, karena foto itu seperti diambil tanpa sepengetahuan Alana. Ia yakin Vita dan Keyla yang menghandle foto Alana ada di social media.
"Woi... Lagi ngapain si seneng banget," ucap Alvar merebut getget Diaz.
"Bisa nggak si nggak ganggu orang," gerutu Diaz.
Alvar tidak menanggapi kekesalan Diaz. Ia malah asik melihat foto-foto Alana yang sudah Diaz download.
"Wah diam-diam kamu kamu udah punya cewek," ujar Alvar senang, "Berarti komitmen kamu yang hanya menerima cewek jika cewek itu nemuin kotak dikubur udah sirna dong," lanjut Alvar bersemangat.
"Dia cuma temen kampus. Dan komitmen itu akan tetap berlaku," sahut Diaz tegas
"Aku tahu semua tentang kamu. Dan aku di saat kamu lagi kasmaran." Alvar cengengesan memperhatikan raut wajah Diaz.
DEG! Diaz tidak dapat menjawab perkataan Alvar. Sosok Alana yang lain dari cewek kebanyakan, memang membuatnya penasaran dan ingin menjadikan Alana sebagai kekasih. Namun ia juga tidak bisa menyatakan cinta pada Alana begitu saja. Apalagi komitmennya yang menerima cinta jika cewek itu menemukan kotak yang ia kubur, membuatnya merasakan seperti terpenjara. "Aku ikhlas kok kalau kamu buang komitmen aneh itu. Toh kamu juga udah bisa move on," tawar Alvar.
Diaz menghela napas berat. "Tapi aku takut bro. Gimana kalau kali ini gagal lagi?"
"Kamu harus percaya kalau cinta kali adalah takdirmu." Alvar menepuk bahu Diaz.
"Oke, akan aku coba," gumam Diaz lirih
***
Minggu pagi, Diaz memilih jogging bersama Alvar mengelilingi kompleks rumahnya. Setelah 10 menit jogging, Diaz melihat mobil yang pernah Alana pakai ke kampus melewatinya menuju rumah Om Darma. Dengan saksama Diaz melihat Alana, Keyla dan Vita keluar dari mobil.
Sementara Alana dan ke dua sahabatnya terperanjat melihat Diaz. Lantaran penasaran, mereka menghampiri Diaz.
"Lho, kamu ngapain disini?!" tukas Alana.
"Kok jadi kamu yang marah sih. Suka-suka aku dong mau dimana aja," sahut Diaz cuek.
Alvar memicingkan mata memperhatikan Alana. Ingatannya mengembara lantaran ia merasa pernah melihat wajah Alana. Sementara Keyla yang mengetahui tindakan Alvar itu berlebihan, langsung menginjak kaki Alvar.
"Hey! Ngapain kamu liatin temen aku kaya gitu." Keyla marah menatap Alvar tajam.
Alvar meringis kesakitan. "Galak banget si. Aku cuma lagi mikir, dimana ya aku liat temen kamu itu."
"Salah liat pasti kamu. Kita juga nggak kenal apalagi pernah liat kamu," sambung Vita mantap.
Kening Alvar berkerut. "Oya, kemarin aku liat kamu di gadget Diaz," seru Alvar lantang.
Seketika Diaz maupun Alana terkejut. Untuk beberapa detik mereka saling memandang dengan pikiran masing-masing.
"Hah? Jadi foto Alana udah ada di gadget Diaz. Yeay.." ungkap Keyla girang seraya melirik Alana yang menahan kesal.
“Pencurian itu namanya.” Alana berkata ketus, dia tak perduli fotonya ada di gadget Diaz karena bukanlah hal istimewa. Jika fotonya ada di gadget Brian, barulah hal istimewa.
Diaz mengalihkan pandangan. Ia gelisah karena Alvar dengan bodohnya jujur di depan Alana. Alvar keterlaluan. Harga diriku bisa hancur, batin Diaz.
Sementara Alana melipat tangan di d**a dan menatap Diaz. "Darimana kamu dapetin foto aku?!"
"Dari f*******: kamu. Kemarin kan Diaz stalker f*******: kamu," ucap Alvar gembira.
"Nggak usah percaya Alvar. Ada orang iseng ngirim foto kamu ke f*******: aku. Lagian ngapain aku simpan foto kamu, nggak ada pentingnya sih," elak Diaz.
Alana menatap Diaz penuh selidik. Sementara Diaz berusaha menetralkan pikiran dan hatinya yang tak menentu. Ia bersiul agar Alana tidak mengetahui kegelisahannya.
"Alana, kamu udah sampai nak." Suara Om Darma menggema. Detik berikutnya om Darma menghampiri Alana.
Alana tersenyum. "Halo om." Alana mencium tangan om Darma
Om Darma melirik Diaz. "Alana, kamu kenal sama Diaz?" tanya om Darma.
"Dia temen kampus om," jawab Alana males.
"Wah, kebetulan sekali kalian saling kenal. Jadi selama kamu tinggal disini, kamu bisa maen sama Diaz," ungkap om Darma senang.
"Ogah om," jawab Diaz dan Alana kompak.
Alvar terkekeh. "Ini bukan kebetulan om. Mungkin ini sebuah takdir."
Diaz mengepalkan tangan. Ia gregetan karena perkataan Alvar membuatnya malu. Lantaran tidak ingin dipermalukan lagi, Diaz menarik tangan Alvar.
"Kita permisi dulu om, mau jogging," pamit Diaz menarik tangan Alvar pergi.
Dalam langkahnya Diaz merutuk kebodohannya sendiri karena membiarkan Alvar mengetahui kalau ia menyimpan foto Alana. Diaz akan menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran, mulai sekarang ia akan berhati-hati.
***