Bab 6

2103 Words
Sembari menunggu Paman Darma pulang, Alana memilih bersantai di teras rumah sambil minum orange jus. "Kangen mama," gumam Alana, kemudian menghela napas. Alana mengedarkan pandangan ke sekeliling. Bola matanya terpaku pada kaleng berwarna biru yang tergeletak di pagar rumah paman Darma. Lantaran penasaran, Alana mengambil kaleng itu kemudian membukanya. Dalam kaleng itu berisi bunga mawar kering dan selembar kertas. Alana membuka kertas yang terlipat itu, kemudian membacanya. Dear Alana... Aku yakin kamu itu Malaikat yang dikirim Tuhan untuk Diaz. Aku mohon buat Diaz menjadi pribadinya sendiri. Dia butuh pelindung dan sosok yang mengisi hati dan pikirannya. Alana, Diaz nggak akan membuka hati jika nggak ada cewek yang bisa mengambil kenangan yang sudah dia kubur. Aku mohon, dengan apapun caramu, kamu kembalikan Diaz kembali ceria. Aku yakin kamu bisa, apalagi kamu dan Diaz banyak kemiripan. Terima kasih Alana. Alana terdiam menatap kertas di tangannya. Ia tidak tahu harus bagaimana, apakah ia harus mengikuti kemauan si penulis surat itu atau tidak. "Diaz... Diaz...," gumam Alana lirih. Alana menghembuskan napas panjang. 'Cinta' memang dapat menjadikan seseorang menjadi sosok diluar pribadinya. Ia dan Diaz sama-sama larut dalam kesedihan cinta dan membuat mereka menjadi orang lain. Takdir cinta emang ribet, Alana membatin. "Alana." Terdengar suara Keyla menghampiri Alana. "Key? Kamu kesini Pake apa?" tanya Alana heran, mendapati Keyla jalan kaki. Keyla cengengesan. "Pake motor sama Vita," Keyla menarik tangan Alana, "Ke rumah Diaz yuk, tadi kita disuruh mampir," lanjut Keyla senang. "Ogah ah, lagian paman Darma lagi pergi," tolak Alana cepat. "Udahlah, sebentar doang kok." Keyla langsung menarik lengan Alana. Alana tak berkomentar. Ia hanya pasrah tangannya di tarik Keyla. Selain itu ia akan memperhatikan Diaz untuk menentukan apakah ia harus menuruti penulis surat kaleng atau tidak. *** Alana berjalan mengikuti Keyla memasuki rumah Diaz yang besar dan mewah. Selama tinggal di rumah paman Darma, baru kali ini Alana masuk ke rumah Diaz. "Wow!" seru Alana ketika melangkahkan kakinya masuk rumah Diaz untuk pertama kali. "Keren banget ya Key." Alana merasa takjub, apalagi ketika melihat lukisan pemandangan indah yang memeluk dinding. "Iya. Akhirnya kita bisa juga masuk rumah dosen Mila yah." Keyla tersenyum, kemudian duduk di ruang tamu. Alana duduk di sofa empuk berwarna cokelat keemasan dengan ukiran khas jepara di samping Vita. Alana duduk berhadapan dengan Diaz. "Kenapa? Kagum yah sama rumah gue," ucap Diaz bangga. "Enggak, aku cuma kagum sama lukisan gede itu," elak Alana. "Wah berarti kamu naksir aku dong." Diaz tersenyum menatap Alana. Alana melototi Diaz. "Ngaco kamu. Aku cuma kagum sama lukisan itu." "Kan lukisan itu aku yang ngelukis," ucap Diaz bangga. Alana bungkam. Ia menelan ludah gusar. Ia semakin gelisah ketika Vita dan Keyla memperhatikannya dengan tatapan penuh arti. Dalam hatinya, Alana merutuki kebodohannya sendiri yang mengatakan kalau ia mengagumi lukisan besar itu. Dan, yang membuat ia malu lukisan itu buatan Diaz. b**o banget si aku, Alana... Alana, Batin Alana. "Wah ternyata kamu bisa ngelukis yah. Keren banget," kagum Vita. "Iya keren. Boleh dong kapan-kapan ajari Alana ngelukis. Di les, dia kesusahan," sambung Keyla cengengesan. Alana menatap Keyla geram lalu memandang Diaz. "Bohong. Justru tiap praktek, aku paling cepat dan bagus." Alana berusaha membela diri. Diaz tersenyum. "Ehmm tapi Keyla bener. Kapan-kapan aku ajarin kamu nglukis," ucap Diaz yang dianggukan Vita dan Keyla. Alana mengalihkan pandangan. Pandangan terkunci pada sebuah meja kecil, disana terdapat foto seorang bapak, dosen Mila dan anak laki-laki yang berumur sekitar 15 tahun yang membawa lukisan. Ternyata dari kecil Diaz udah jago ngelukis, Alana membatin. "Diaz, Alvar bilang di rumah kamu ada taman indah yah?" tanya Keyla. Alana berjalan mengikuti Keyla memasuki rumah Diaz yang besar dan mewah. Selama tinggal di rumah paman Darma, baru kali ini Alana masuk ke rumah Diaz. "Wow!" seru Alana ketika melangkahkan kakinya masuk rumah Diaz untuk pertama kali. "Keren banget ya Key." Alana merasa takjub, apalagi ketika melihat lukisan pemandangan indah yang memeluk dinding. "Iya. Akhirnya kita bisa juga masuk rumah dosen Mila yah." Keyla tersenyum, kemudian duduk di ruang tamu. Alana duduk di sofa empuk berwarna cokelat keemasan dengan ukiran khas jepara di samping Vita. Alana duduk berhadapan dengan Diaz. "Kenapa? Kagum yah sama rumah gue," ucap Diaz bangga. "Enggak, aku cuma kagum sama lukisan gede itu," elak Alana. "Wah berarti kamu naksir aku dong." Diaz tersenyum menatap Alana. Alana melototi Diaz. "Ngaco kamu. Aku cuma kagum sama lukisan itu." "Kan lukisan itu aku yang ngelukis," ucap Diaz bangga. "Diaz, Alvar bilang di rumah kamu ada taman indah yah?" tanya Keyla. "Iya ada. Kalau kalian mau ayo kita kesana," sahut Diaz, kemudian berdiri. "Kamu sama Alana ke taman dulu aja yah. Aku sama Keyla mau ngabisin cemilan dulu," sahut Vita cengengesan. Diaz tak berkomentar. Ia hanya menganggukan kepala, kemudian melenggang menuju taman belakang rumah. Sementara Alana terpaksa mengikuti Diaz lantaran sedaritadi Vita dan Keyla memaksanya. Dengan langkah berat, Alana berjalan mengikuti Diaz menuju taman belakang. Sesampainya di taman belakang, Alana kembali takjub. Matanya di manjakan dengan pohon-pohon setinggi lima meter, pohon-pohon itu nampak cantik dan terawat. Diantara pohon-pohon itu juga terdapat banyak aneka bunga yang harumnya semerbak. "Nggak nyangka cowok dingin kaya kamu rumahnya seromantis ini," ejek Alana tanpa memandang Diaz. "Ini semua dulu hasil kerjasama mama sama papa, tapi sejak papa pergi ehmm pembantu yang ngurusin," sahut Diaz lirih. "Emangnya papa kamu kemana?" tanya Alana dengan hati-hati. "Papa meninggal setahun lalu." Hati Alana mencelos. Ternyata kehidupan Diaz penuh rintangan. Diam-diam Alana memperhatikan Diaz, ia melihat kesedihan di raut wajah Diaz. Nampaknya tidak ada kebahagiaan yang terpancar di wajahnya. Alana memutar otaknya lebih keras. Penulis surat kaleng itu benar, ia harus membantu mengembalikan keceriaan Diaz, termasuk membuka kembali hati Diaz untuk cinta. Tiba-tiba Diaz menepuk bahu Alana. Sontak, membuat Alana terkejut dan tersadar dari lamunannya. "Aku masuk dulu yah. Ntar aku kesini lagi," pamit Diaz menatap Alana. Alana menganggukan kepala. Setelah sosok Diaz menghilang, Alana mengedarkan pandangannya mencari sesuatu. "Semoga disini ada botol," gumam Alana. Alana menggigit bibir bawahnya. Setelah beberapa detik matanya menatap botol air mineral tergeletak di dekat pohon. Ia segera mengambil botol itu sambil tersenyum senang. Alana mengambil secarik kertas dalam tasnya, kemudian ia menulis kepahitan hidup Diaz yang wajib di rubah menjadi kebahagiaan. Setelah itu ia memasukkan kertas itu ke dalam botol, kemudian ia menguburnya. "Semoga kamu lupain masa lalumu," gumam Alana tersenyum manis. Beberapa menit kemudian Diaz kembali ke taman belakang. Diaz menepuk bahu Alana di saat Alana tengah menanam bunga mawar merah di atas botol yang ia kubur. Sontak hal itu membuat Alana terkejut dan berdiri menatap Diaz ragu. "Kamu lagi ngapain?" tanya Diaz penuh selidik. Alana tersenyum ragu. "Aku udah tau dimana kenangan kamu terkubur." "Maksud kamu?" Diaz menatap Alana tajam. "Kamu pasti tahu apa yang aku maksud. Sekarang kamu gali mawar ini," pinta Alana seraya menunjuk mawar yang baru saja ia tanam. Diaz terdiam selama beberapa detik. Kemudian ia menggali nya, ia mengambil secarik kertas di dalam botol. Sebelum membaca guratan pena itu, Diaz menatap Alana yang melemparkan senyum manis ke arahnya. Kau begitu indah dan menusuk kalbu. Kehadiranmu memberikan warna di hidupku. Tangis, tawa dan rindu bersatu mengukir kebahagiaan. Aku tahu kau telah menancapkan duri dan mengukir luka. Namun, jiwa ini tetaplah hidup tanpamu. Kini, aku kembali mengenalmu. Mengenalmu lebih jauh lagi. Akan kupahat kembali hati yang rapuh ini. Seusai membaca surat itu Diaz menatap Alana selama beberapa detik. Sementara Alana menepuk bahu Diaz, menyalurkan energi positifnya pada Diaz. "Walaupun itu bukan kenangan asli kamu yang terkubur, paling nggak surat itu mewakili apa yang harus kamu lakukan," ucap Alana lembut. Diaz tak berkomentar. Ia hanya memandang dengan pandangan kosong. "Aku tau nggak gampang melupakan luka. Tapi percayalah, skenario Tuhan akan indah jika kamu menikmatinya," lanjut Alana bijak. Diaz tersenyum perih. Tanpa berkomentar, ia melenggang pergi meninggalkan Alana. Buliran bening meleleh membasahi pipi mulusnya. Ia tahu benar apa yang Diaz rasakan. Hatinya ikut perih melihat Diaz menampakkan kesedihan. Namun paling tidak ia sudah berusaha membantu Diaz agar berkehendak membuka hatinya kembali untuk wanita. "Aku yakin kamu bisa, Diaz," gumam Alana. *** Alana berjalan-jalan ke danau. Ia memperhatikan dedaunan kering yang menari oleh alunan angin, dan berjatuhan dari pohon. Suara gemerisik daun yang bertabrakan membuat suasana asri dan semilirnya angin serasa mengeramasi pori-pori kulitnya. Terkadang langkahnya terhenti untuk menghirup udara sejuk. Suasana sepi membuatnya terasa indah menikmati pemandangan taman seorang diri. Selangkah demi selangkah, Alana menelusuri taman yang asri dan terawat. Langkahnya terhenti tatkala ia melihat ponsel tergeletak di rerumputan. Ia merasa pernah melihat ponsel itu. "Kayanya ini hp Diaz," gumam Alana dengan kening berkerut. Alana melihat ke sekeliling. Ia terkejut ketika melihat Diaz melangkah menuju Danau. Dia? "Diaz... Jangan..!!" Alana berteriak, kemudian berlari ke arah Diaz. Diaz hanya menoleh. Saat Alana sudah mendekat, Diaz menceburkan diri ke danau.  "Diazz!!" Alana berteriak, kemudian membuka sandal dan melepas tasnya. "Kelihatannya berkuasa, tapi ternyata nekat bunuh diri." Alana langsung menceburkan diri ke danau. Sekuat tenaga, Alana berenang lalu menarik tangan Diaz. Alana bersyukur karena Diaz belum pingsan. Ia segera membawa Diaz ke permukaan dan merebahkan Diaz di rerumputan. "Eh, kamu gila ya? Mau bunuh diri segala. Aku pikir kamu kuat tapi ternyata cemen," ucap Alana kasar. Diaz tak berkomentar. Ia hanya memandang Alana. "Kamu sok-sokan nasehati aku, tapi ternyata kamu malah kalah dengan masalah," lanjut Alana, kemudian menghela napas berat. "Emang kamu peduli sama aku?" tanya Diaz dingin. "Ya jelas aku pedulikan..." Alana tak melanjutkan kalimatnya. Ia merutuki dirinya karena telah berkata seperti itu, pasti Diaz ke GR an dengan perkataan Alana. "Perduli sebagai apa?" Diaz berdiri, lalu maju selangkah menghadap Alana. Alana menelan ludah gusar. Sebisa mungkin ia menghindari tatapan mata Diaz yang terus mengekori wajahnya. Sementara Diaz tak mengizinkan pandangan Alana merajah bebas. Ia memegang dagu Alana agar Alana menatapnya. Dalam beberapa detik bola mata mereka bertemu. Senyum Diaz merekah. Ia takjub dengan kuasa Tuhan yang di ciptakan di hadapannya. Mata Alana begitu indah, hidungnya mancung kecil dan bibirnya tipis. "Ngapain kamu liatin aku?!" tukas Alana melototi Diaz. "Mulai sekarang kita pacaran," ucap Diaz cepat. Alana terpaku mendengar apa yang dikatakan Diaz kepadanya. Ngomong apa dia tadi? Aku nggak salah denger kan. "Sekarang kamu harus buatin aku kupluk yang bagus, gara-gara kamu kupluk aku hanyut," pinta Diaz. "Hey, aku itu udah nyelametin kamu. Seenaknya aja kamu nyuruh-nyuruh aku," cercah Alana. "Aku nggak bunuh diri. Tadi mau cuma mau ngambil kupluk yang hanyut," ungkap Diaz, membuat Alana terkejut. Sejurus kemudian Alana gelisah. Ia tak berani memandang wajah Diaz. Sungguh, tindakannya menyelamatkan Diaz malah menjadi bumerang untuknya. Dan, sekarang ia harus menanggung malu karena salah dugaan. Mampus aku, mau di taroh di mana muka aku, batin Alana. "Pacar, inget ya. Kamu harus buatin kupluk aku warna silver." Diaz tersenyum seraya memegang bahu Alana. Alana bimbang antara memandang Diaz atau tidak. Namun jika tidak, ia tidak bisa menjelaskan kalau ia menolak menjadi kekasih Diaz. Butuh beberapa menit untuk Alana memberanikan diri menatap Diaz. "Aku akan buatkan kamu kupluk. Tapi aku nggak mau jadi cewek kamu!" Alana menatap Diaz tajam lalu berlalu. "Mungkin sekarang enggak. Tapi nanti kamu akan terima cinta aku." Diaz lantang menatap punggung Alana, "I love you Alana," teriak Diaz gembira. Alana menghentikan langkahnya. Jantungnya berdetak semakin kuat. Ia menarik napas panjang, berusaha keras menetralkan pikirannya yang tak menentu. Maaf, aku belum bisa, Diaz. Alana merasa nafasnya sesak, jantungnya seakan berhenti berdetak. Matanya nanar. Detik berikutnya ia melanjutkan langkahnya. Alana memang sudah berusaha melupakan semua masalahnya dan membuka hati untuk cinta, namun ternyata itu tidak semudah dugaannya. Sangat sulit untuk kembali mengenal cinta. *** "Pagi." Sebuah suara cowok terdengar begitu sejuk, sesejuk udara pagi ini. "Diaz? Ngapain kamu di sini?" tanya Alana dingin, melihat Diaz sudah ada di depan rumah om Darma. "Jemput," jawab Diaz singkat. Alana menghela napas panjang. Ia menutup pintu agar om Darma tidak mendengar percakapannya dengan Diaz. Apalagi ia merasakan kalau om Darma setuju jika ia dekat dengan Diaz. "Nggak perlu. Aku nggak suka nebeng." Alana mengambil kupluk di tasnya lalu diserahkan pada Diaz, "Tanggung jawab aku sudah selesai, so... Jangan ganggu aku lagi." "Alana, kenapa si kamu nggak bisa terima aku? Emang apa kurangnya aku?" tanya Diaz menatap Alana. "Cinta! Aku nggak cinta sama kamu," sahut Alana tegas. Tak berapa lama om Darma membuka pintu dan terkejut melihat kehadiran Diaz. "Diaz, kamu mau jemput Alana ya," sapa om Darma. Diaz tersenyum. "Iya om, tapi Alananya nggak mau." Om Darma memandang Alana. "Nak, sebaiknya kamu bareng Diaz. Toh motor kamu di bengkel kan." Alana tak menanggapi permintaan Om Darma. Diam-diam ia melirik Diaz yang kegirangan lantaran tahu motornya di bengkel. Jangan harap aku mau, Alana membatin. "Om, aku berangkat yah. Mau naik angkot," pamit Alana seraya mencium tangan om Darma. Alana buru-buru pergi, ia meninggalkan Diaz begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Padahal sedari tadi Diaz terus memperhatikan Alana hingga punggung gadis itu tidak terlihat lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD