Seusai kuliah Farmasi, Diaz langsung menunggu Alana di depan kelas Alana. Kehadiran Diaz membuat cewek-cewek tampak sinis melihat ke arah Alana. Mereka berbisik membicarakan Alana.
"Diaz kok mau ya deketin Alana." "Alah, paling Alana ngancem Diaz."
Alana mulai gelisah tatkala dosen Mila melirik Diaz dan memperhatikannya. Diam-diam Alana melirik Diaz dan memberi kode semacam 'Pergi.' Namun Diaz malah melenggang masuk ke kelas Alana dan mencium tangan dosen Mila.
Diaz tersenyum. "Aku cuma mau ngasih ini Mami," ucap Diaz menatap dosen Mila seraya menyerahkan amplop berwarna biru.
"Ini untuk siapa Diaz?" tanya dosen Mila.
"Untuk murid kebanggaan mami, Alana," jawab Diaz mengulum senyum.
Dosen Mila berdecak. Ia tidak habis pikir pada tindakan anak tunggalnya itu. Akhir-akhir ini sifat Diaz berubah 180 derajat. Namun walaupun begitu ia senang dengan perubahan Diaz yang kini dapat tersenyum dan ceria kembali.
Dosen Mila menatap Alana tajam lalu menghampiri tempat duduk Alana. Samar-samar, Alana melihat raut wajah dosen Mila menahan amarah.
Mampus aku! Bisa kena hukuman aku. Alana menelan ludah gusar sambil memainkan bolpoin nya.
"Ini surat apa?" tanya dosen Mila tegas, "Apa ini surat cinta kamu dan Diaz?" tebaknya menatap Alana.
"A aku nggak tau bu. Aku sama Diaz cuma temen," jawab Alana gugup.
"Baca surat ini di depan." Dosen Mila meletakkan amplop itu di bangku Alana lalu kembali ke depan.
Alana meraih amplop itu lalu menatap Diaz geram, namun Diaz tanpa rasa bersalah langsung keluar dari kelas Alana tanpa menatap Alana sedetikpun.
"Dasar cowok perusak," gumam Alana lirih.
Alana melangkahkan kakinya ke depan. Butuh beberapa detik Alana membuka amplop itu. Sejurus kemudian matanya membulat memandang guratan pena yang Diaz tulis.
"Alana, cepat baca," perintah dosen Mila.
Alana mengangguk. "Kamu berbakat jadi designer. Tapi aku berharap kamu hanya menjadi dokter. Dokter Alana Meylista."
"Saya tunggu kamu di ruangan saya," seru dosen Mila.
"Kuliah sampai disini. Kita berjumpa dua hari lagi." Dosen Mila tersenyum, kemudian berjalan keluar.
Alana mengambil tas dan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, kemudian ia keluar menemui dosen Mila di ruangannya.
"Ma maaf bu. Ada perlu apa ibu memanggil aku kesini," ucap Alana ragu.
"Alana, jujur, selama ini kamu membuat saya marah karena ulah kamu, tapi saya tetap bangga karena prestasi kamu." Dosen Mila tersenyum menatap Alana.
"Jadi ibu nggak marah sama saya?" tanya Alana senang.
Dosen Mila tersenyum. "Tidak. Saya justru berterima kasih karena kamu udah berubah Diaz. Selama ini saya sudah berusaha tapi selalu gagal. Tapi dalam sekejap kamu berhasil, Alana," jawab dosen Mila panjang lebar.
Alana mengernyitkan kening. Ia tidak mengerti kemana arah pembicaraan dosen Mila. Dosen Mila bilang Alana sudah merubah Diaz, padahal Alana sendiri tidak tahu darimana ia dapat merubah Diaz.
"Kamu tahu, Alana? Dulu Diaz itu ceria, penyayang dan welcome pada semua orang. Tapi sejak ia di khianati cinta pertamanya, dia jadi dingin dan angkuh," cerita dosen Mila menitikkan air mata.
Alana tidak berkomentar. Ia hanya mendengarkan cerita dosen Mila dengan baik.
"Kami sekeluarga sudah berusaha keras membuat Diaz ceria lagi, tapi itu malah membuat Diaz jadi pemurung dan misterius," lanjut dosen Mila, kemudian menyeka air matanya.
"Ibu yang sabar yah. Saya ikut senang kalau ternyata Diaz sudah ceria lagi," ucap Alana ikut bahagia.
"Iya Alana, terima kasih. Baiklah, sekarang kamu boleh pulang." Dosen Mila menatap Alana penuh rasa terima kasih.
"Iya bu, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Alana.
Alana melangkahkan kaki dengan pikiran yang tertuju pada Diaz. Ia tidak pernah menyangka kalau Diaz bernasib sama seperti dirinya. Terluka dan tak berdaya karena 'cinta.'
Mungkin dosen Mila bener kehadiran Alana mampu merubah kepribadian Diaz. Dan, Alana juga mengakui kalau secara tidak langsung kehadiran Diaz pelan-pelan membuatnya bangkit dan mengubur masalah yang selama ini menyiksanya. Tuhan, pertanda apakah ini?
***
Sore hari Diaz sibuk memilih bunga di toko bunga Zatulini. Diaz menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia berdecak karena bingung memilih bunga yang pas untuk maminya.
"Cewek bikin ribet," gumam Diaz.
Di sisi lain toko bunga Zatulini, Alana juga sibuk memilih bunga. Ia terkejut melihat kehadiran Diaz. Alana buru-buru menghampiri Diaz saat dilihatnya pemuda itu hampir meninggalkan toko bunga.
"Diaz, ngapain kamu disini?" tanya Alana lembut.
"Tumben kamu baik ke aku," jawab Diaz cepet.
Alana menghela napas. "Aku galak salah, aku baik salah."
Diaz terkekeh. "Thanks yah akhirnya kamu nggak galak." Diaz menatap Alana, "Aku ngerti perasaan kamu. Aku nggak akan maksa kamu, tapi aku boleh jadi sahabat kamu kan? Please..." pinta Diaz memandang Alana.
Alana tersenyum. "Aku mau, asal kamu janji nggak akan ninggalin dan hianati aku," ucap Alana, kemudian mengangkat jari kelingkingnya ke arah Diaz.
"Aku janji akan selalu jagain kamu dan bahagiain kamu." Diaz mengaitkan jari kelingkingnya dan kelingking Alana, kemudian tersenyum.
Alana bahagia. Ia lebih tenang dari hari sebelumnya. Walaupun ia hanya bisa menerima persahabatan Diaz, tapi itu ia jadikan awal membuka lembaran barunya dekat dengan seorang laki-laki. Dan, jika di lain kesempatan hatinya telah dapat menerima laki-laki, ia berjanji tidak akan menyia-nyiakan itu. Ia akan memperjuangkan cinta itu. Tuhan, bantu aku ikhlas menjalani hidup ini, Alana membatin.
"Mau aku pilihin bunganya nggak nih?" tawar Alana.
Diaz mengangguk. "Aku mau bunga yang disukai sama cewek cantik dan pemberani," jawab Diaz ceria.
"Okey." Alana segera meninggalkan Diaz, lalu memilih bunga seperti yang diinginkan Diaz.
"Alana, gimana? Bunganya ada?" tanya Diaz menghampiri Alana.
"Nih." Alana menyodorkan bunga Lily pada Diaz. "Bunga lily itu bersih dan putih. Dari bentuknya mencerminkan ketulusan dan ketegaran," lanjutnya mengulum senyum.
Diaz mengangguk. "Bunga Lily emang cocok buat kamu. So, kamu simpen ya." Diaz menyerahkan kembali bunga lily pada Alana, membuat Alana tersipu
"Jadi bunga ini buat aku?" tanya Alana memastikan.
"Iya, cantik," jawab Diaz lembut.
Alana tersenyum. "Thanks." Alana mencium bunga Lily seraya memejamkan mata.
***
Setelah mengantarkan Alana pulang ke rumah om Darma, Diaz langsung pulang dan berdiri di kamar. Diaz merasa hari ini adalah hari terindah karena akhirnya Alana bersedia menjadi sahabatnya. Walaupun hatinya perih karena cintanya tak berbalas, namun ia yakin suatu saat nanti cinta Alana akan tumbuh untuknya. Dan, ia akan sabar menunggu cinta Alana.
"Kata orang persahabatan adalah awal sebuah cinta. Alana, aku akan tunggu cinta kamu," ucap Diaz sambil memandang foto Alana di ponselnya.
Sejurus kemudian, Diaz mengambil secarik kertas yang tergeletak di meja. Kemudian ia menggoreskan pena menjadi sebuah kalimat demi kalimat di kertas itu.
"Woi, lagi nulis surat cinta ya." Suara Alvar menggema, membuat Diaz terkejut.
Diaz buru-buru memasukkan kertas itu ke dalam tasnya saat melihat Alvar berjalan menghampirinya. Diam-diam ia menenangkan diri untuk menghilangkan rasa terkejut lantaran kedatangan Alvar yang mendadak.
"Bro, ini udah 2022, masa masih pake surat," ejek Alvar, lalu terkekeh.
"Aku cuma lagi nulis coretan mata kuliah kok," elak Diaz santai.
Alvar terkekeh. "ehmm, pasti udah jadian sama Alana ya, makanya mukanya sumringah gitu," tebak Alvar ceria.
"Iya, jadian sebagai sahabat," jawab Diaz santai.
"What? Sahabat! Jadi cinta kamu ditolak." Alvar shock mendengar jawaban Diaz.
"Tapi aku bahagia kok jadi sahabat dia. Pelan-pelan aku akan buat dia nyaman sama aku." Diaz tersenyum, kemudian mengambil handuk yang ada di kamar mandi. "Sana keluar, aku mau mandi," suruh Diaz.
Alvar berdecak kesal. "Iya iya," jawabnya lalu keluar dari kamar Diaz.
Seusai mandi dan berpakaian rapi, Diaz mengambil ponsel yang tergeletak di meja belajar. Kemudian ia menelpon Alana. Sejurus kemudian ia mendengar suara lembut Alana menggema di telinganya. Membuatnya pikirannya melayang bebas. "Halo, Diaz." Alana mengulangi ucapannya lantaran sudah 3 kali ia menyapa, tapi Diaz tidak menyahuti.
Diaz tersadar. "Alana, kita makan di kafe favorit aku yuk," ajak Diaz menyembunyikan kegelisahannya.
"Boleh, tapi aku izin om Darma dulu yah," jawab Alana lembut.
"Oke. Sampai nanti." Diaz mengakhiri percakapan, kemudian mematikan ponselnya.
.
***
Setelah menjemput Alana, motor Ninja merah Diaz menembus jalanan padat ibukota menuju kafe favorit Diaz. Sepanjang jalan, Diaz mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, zigzag ke kanan dan ke kiri, membuat kedua lengan Alana terus melingkar di pinggang Diaz. Diam-diam Diaz melihat wajah lembut Alana dari kaca spion.
"Diaz, jangan ngebut. Bahaya." Alana berkata keras, agar Diaz mendengarnya.
"Bukannya kamu suka balapan? Kok tau bahaya," jawab Diaz.
Alana mengerucutkan bibirnya. "Dasar kamu, diingetin malah ngeyel."
Diaz mengurangi kecepatan motornya lantaran Alana melepaskan pelukannya. "Iya, ini aku pelanin."
Alana tersenyum. "Nah gitu dong." Alana kembali memeluk pinggang Diaz.
Diaz mengajak Alana ke kafe Bugs Cafe, kafe yang sering dikunjungi Diaz dulu bersama kekasihnya. Diaz mengajak Alana duduk tepat di tempat dulu ia menunggu sang kekasih.
Sesampainya di sana, Alana terlihat takjub, tidak bisa mengatakan apa-apa, hanya terdiam memandang begitu indah dan romantisnya tempat itu. Detik berikutnya, Alana menitikkan air mata. Tak ayal Diaz khawatir, takut terjadi sesuatu dengan Alana.
"Alana, kamu kenapa?"
Alana tersenyum perih. "Nggak papa. Thanks yah, aku pikir dalam hidupku mendatang, tidak lagi melihat tempat romantis," jawab Alana menatap Diaz, kemudian tersenyum.
Diaz tersenyum. "Sama-sama."
"Selamat malam. Ini menunya." Pelayan kafe menghampiri Diaz, kemudian memberikan buku menu kepada Alana dan Diaz.
"Terima kasih," ucap Alana.
"Sama-sama. Semoga dinner nona cantik berkesan bersama mas Diaz." Pelayan itu pergi setelah mengulum senyum pada Alana.
"Kok pelayan itu kenal nama kamu ya?" tanya Alana penasaran.
Diaz tak berkomentar. Ia hanya tersenyum dan sesekali memandang Alana.
Alana memacu otaknya lebih keras, ia penasaran bagaimana pelayan itu tahu nama Diaz. Apalagi sepertinya pelayan itu sudah mengenal baik Diaz.
Alana semakin di buat heran tatkala mendapati nama Diaz terukir di meja, di hadapannya.
"Diaz, kok ini ada nama kamu?" tanya Alana sambil menunjuk ukiran nama Diaz.
"Ehmm meja ini memang di buat khusus buat gue dan..." Diaz tidak melanjutkan kalimatnya, "Monica, pacar aku," lanjutnya perih.
"Apa kamu masih cinta dia?" tanya Alana dengan hati-hati.
"Enggak! Kan aku udah cinta sama kamu," jawab Diaz tersenyum.
"Oh, ta tapi kan kamu udah janji kita cuma sahabat." Alana gelisah, ia tidak berani memandang Diaz karena takut menyakiti hatinya.
"Kita memang sahabat, kan ada juga cinta sebagai sahabat." Diaz tersenyum, berusaha mengembalikan keceriaan Alana.
"Kamu sabar ya. Jalani Saja skenario Tuhan untuk kita," seru Alana menyemangatkan Diaz. Kemudian Alana menghela napas, "Nasib kita sama kok," lanjut Alana mengulum senyum.
"Ja jadi kamu juga terperangkap karena cinta?" tanya Diaz memastikan.
Alana terkekeh. "Ternyata kita sama-sama bodoh ya." Alana menghela napas.
Keduanya hening beberapa detik. Karena tidak mau suasana menjadi kaku, Diaz pun bertanya, "Kamu mau pesen apa?" "Strawberry yoghurt freeze aja," jawab Alana cepat.
Setelah memanggil pelayan dan memesan menu yang diinginkan, Alana dan Diaz kembali mengobrol. Diaz tidak menyangka ternyata kisah cinta Alana juga membuat Alana larut dalam kesedihan dan sampai sekarang Alana belum mampu membuka hati. Namun ia berjanji akan membuat Alana kembali merasakan keindahan dan bahagianya mempunyai cinta sejati.
Sementara Alana bahagia melihat Diaz tersenyum. Ternyata senyuman Diaz dan lesung pipitnya menawan juga. Pantas juga cewek-cewek tergila-gila pada Diaz.
Tak berapa lama, Alana menatap Diaz lekat-lekat. Maaf Diaz. Andai saja aku bisa buka hati dan menerima cinta kamu.
Tatapan mata Alana jatuh pada bola mata Diaz yang berwarna coklat muda bening. Sejurus kemudian Alana dan Diaz saling berpandangan. Dari tatapan Diaz terpancar kalau Diaz adalah sosok yang penyayang dan hangat, namun sosok itu tertutup lantaran kepribadiannya yang dingin dan tertutup.
Tiba-tiba saja Brian datang menghampiri Diaz dan Alana. Membuat Alana dan Diaz terkejut.
"Sorry, aku ganggu yah." Brian merasa tidak enak hati, ia bergantian memandang Alana dan Diaz.
"Sama sekali nggak kok. Ayo gabung bro," ajak Diaz ramah.
Brian duduk di samping Diaz. Hal itu membuat Alana gelisah karena Brian sedari tadi memperhatikannya. Diam-diam Alana menghela napas dan mengalihkan pandangan. Ia tidak ingin Diaz maupun Brian tahu kalau tengah grogi.
"Bro, aku dengar kamu buka les ngelukis gratis ya?" tanya Diaz penasaran.
"Iya bro. Dikit lah bagi-bagi ilmu. Alana dan temannya juga ikut kok," jawab Brian ramah.
Diaz melirik Alana yang gelisah. "Ohh, kalau gitu gue kapan-kapan gue boleh mampir ke tempat kamu kan."
"Pasti bro." Brian melihat jarum jam yang melingkar di tangannya, "Sorry nih aku buru-buru. Duluan yah," pamitnya, kemudian pergi buru-buru.
Wajah Alana tampak sedih Karena kepergian Brian. Padahal ia berharap bisa lebih lama mengobrol dengan Brian. Tapi di setiap pertemuannya dan Brian yang sudah 4 kali ini, Brian selalu buru-buru meninggalkannya.
"Kok mukanya ditekuk gitu sih?" tanya Diaz, membuat Alana gugup.
"Enggak kok. Sok tau kamu," elak Alana.
Diaz terkekeh. "Sedih ya Brian pergi," ledek Diaz sambil mencolek dagu Alana.
"Biasa aja sih," ucap Alana datar.
"Aku tahu, kamu pasti suka sama Brian kan," tebak Diaz, membuat Alana terkejut.
"Apa sih" Alana menggerutu, mengerucutkan bibirnya.
Diaz meraih tangan Alana dan menggenggamnya lembut. Ia menatap Alana tajam dan melemparkan senyum khasnya. Aku mau kamu bahagia, Alana. Aku ikhlas kamu mencintai Brian, Diaz membatin.
"Diaz, kamu ngapain," tegur Alana gugup.
Diaz tersenyum. "Aku yakin Brian juga suka sama kamu," ucapnya, membuat Alana melepaskan genggaman Diaz.
Selama beberapa detik, Alana terdiam. Mulutnya mengatup sempurna. Sementara pikirannya merajah bebas membayangkan sosok Diaz dan Brian. Entah, mengapa ia merasakan kegalauan setiap berada di antara dua cowok itu. Ke dua cowok yang dalam sekejap mampu melelehkan dendam dan trauma hidupnya tentang cinta. "Diaz, kita pulang yah," ajak Alana mengalihkan pembicaraan.
"Siap, princess Alana." Diaz memberi hormat pada Alana, kemudian tersenyum manis.
***