Bab 8

1551 Words
Diaz dan Alana keluar dari kafe menuju parkiran. Namun dengan cepat Alana memegang tangan Diaz. "Ada apa?" tanya Diaz. Alana terkekeh. " kamu tunggu disini ya, aku mau beli itu," ucap Alana sambil menunjuk gulali di seberang jalan. Setelah mendapat anggukan kepala dari Diaz, Alana segera melenggang santai sambil mengayun tasnya. Saat hampir sampai di penjual gulali, Alana merasa tasnya ditarik dari belakang. Refleks tangannya memegang erat dan menarik tasnya kembali. Alana menoleh ke belakang dan melihat seorang laki-laki berusaha merebut tasnya. Alana dan laki-laki itu saling tarik-menarik tas itu. "Tolong... Diaz.. Tolong aku!" teriak Alana. Diaz terkejut mendengar suara minta tolong yang ia dengar adalah suara Alana. Diaz segera berjalan mencari Alana. Ia terkejut saat melihat Alana tengah tarik-tarikan tas dengan seorang lelaki. Diaz berlari dan langsung menghajar laki-laki itu. Laki-laki itu jatuh terjengkang. Beberapa detik kemudian laki-laki itu berdiri dan memukul punggung Diaz. Diaz kehilangan keseimbangan, untunglah Alana sigap menahan tubuh Diaz.  Sementara itu orang-orang berlarian mengejar penjambret yang melarikan diri. "Diaz, kamu nggak papa kan?" tanya Alana panik.  Diaz tersenyum. "Nggak papa kok. Pulang yuk," sahutnya lirih. Baru selangkah Diaz dan Alana melangkah, Diaz jatuh pingsan. Sontak Alana terkejut melihat Diaz terkapar di trotoar. Alana berlutut di sebelah Diaz, ia menepuk-nepuk pipi Diaz. "Diaz, bangun," seru Alana, ia menitikkan air mata, "Maafin aku." "Tolong... Tolong," teriak Alana panik. Alvar dan Keyla yang melajukan mobil tak jauh dari Alana dan Diaz, segera menghampiri Alana. Keduanya panik melihat Diaz terkapar. "Alana, Diaz kenapa?" tanya Alvar dan Keyla kompak. "Ceritanya panjang. Ayo bawa Diaz ke rumah sakit," perintah Alana yang dianggukan Alvar dan Keyla. Alvar dan Alana memapah Diaz menuju mobil Alvar, melewati kerumunan orang yang berhenti karena ingin tahu. Sesampainya di mobil, Alana dan Alvar mendudukkan Diaz di kursi jok belakang. Alana meletakkan kepala Diaz di pangkuannya. Beberapa menit kemudian, Alvar memacu mobilnya kencang menuju rumah sakit. "Diaz, kamu sabar yah. Kita akan ke rumah sakit," ucap Alana lirih. Diaz perlahan membuka matanya. Butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa ia sedang di dalam mobil dengan kepala bersandar di pangkuan Alana. Saat memandang Alana, tepat air mata Alana menetes di kening Diaz. "Hey, kamu kenapa? Aku nggak suka liat kamu nangis. Katanya cewek tangguh, kok nangis," tegur Diaz. "Kamu sabar yah, kita akan ke rumah sakit." Alana menyeka air matanya dan berusaha tersenyum. "Aku mau pulang aja. Aku cuma kelelahan kok," gumam Diaz, kemudian mimisan. Alana shock melihat Diaz mimisan. Tapi saat Alana hendak berkata, Diaz kembali pingsan. Tuhan, aku mohon sehatkanlah, Diaz, batin Alana. "Alana, kamu tenang yah." Keyla menoleh ke belakang, menenangkan Alana. Alana mengangguk. "Alvar, kita antar Diaz pulang aja," pinta Alana dengan nada bergetar. Alvar mengangguk. Ia mengemudikan mobilnya lebih kencang. *** Alana gelisah karena sudah satu jam lebih dokter belum keluar dari ruang tindakan. Alana mondar-mandir di depan ruang tindakan, dia menggigit bibir bawahnya kejam. Sementara itu, Keyla beranjak dan memegang bahu Alana untuk menenangkannya. “Ini salahku Key. Kalau aja dia nggak nolongin aku, nggak akan kejadian,” ucap Alana merasa bersalah. “Kamu tenang ya. Aku yakin Diaz nggak papa,” sahut Keyla mengulum senyum. “Keyla benar, kecelakaan kaya gini tuh kecil buat Diaz. Gue sering liat dia pulang babak belur, nggak tau alasannya apa,” timpal Alvar menenangkan Alana. Namun, Alana malah semakin shock mendengar ucapannya. “Sering babak belur? Berarti dia sering berkelahi?” tanya Alana penasaran. Alvar tak bergeming, dia hanya mengangkat bahu sebagai pertanda tidak tahu menahu soal urusan Diaz.  “Maaf, dengan keluarga Diaz,” ucap sang dokter keluar dari ruang tindakan. “Saya temannya Dok. Bagaimana keadaan teman saya Dok?” tanya Alana was-was. Dokter perempuan itu mengulum senyum. “Pasien tidak ada luka serius kok. Hanya memar di bagian punggung, untuk itulah pasien bisa pulang sekitar 2 hari,” sahut sang Dokter ramah. “Tapi, kenapa Diaz sampai mimisan Dok?” Alana kembali bertanya karena tak puas dengan jawaban sang dokter. “Hal seperti itu sering terjadi pada pasien yang mengalami trauma di bagian punggung. Itu hal wajar kok,” sahut sang dokter. “Maaf, kalau begitu saya permisi dulu,” lanjutnya lalu pergi. “Mustahil.” Alana bergumam dalam hati. Dia belum puas dengan jawaban sang dokter, apalagi Alana mengambil fakultas kedokteran sehingga sedikit mengetahui ilmu kedokteran. Pastinya, jawaban sang dokter janggal dan tidak sesuai dengan diagnosa luka Diaz. “Alana, ayo kita temui Diaz,” ucap Keyla memegang bahu Alana, membuyarkan lamunan Alana. “Iya, ayo,” sahut Alana lalu masuk ke ruangan bersama Keyla dan Alvar. *** Alana, Keyla dan Alvar masuk ke ruang tindakan. Mereka iba melihat Diaz terbaring lemah di atas tempat tidur khas rumah sakit dengan pergelangan tangan kanannya terpasang infus. Alana mendekati Diaz dan memegang lengan Diaz, dia merasa bersalah sudah mencelakai Diaz. “Maafin aku ya, andai aja kamu nggak nolongin aku. Kejadian ini tak akan terjadi,” ucap Alana lirih. “Bukan salah kamu kok, aku yang nggak becus lawan jambret itu,” sahut Diaz enteng. “Loe tenang aja Al, Diaz nggak mungkin kesakitan kok. Bagi seorang cowok, tepar di rumah sakit lebih mulia dibanding membiarkan seorang cewek terluka,” timpal Alvar bangga, kemudian melirik Diaz. “Iya kan Bro,” lanjutnya mengedikkan bahu. “Huss... kok kamu ngomongnya kaya gitu sih? Terbaring di rumah sakit juga hal terburuk, harusnya bilang ke duanya nggak boleh terjadi,” Keyla ikut berkomentar. Dia merasa ucapan Alvar salah persepsi. “Iya bagi loe, bagi kaum cowok kan nggak!” Alvar balik murka, dia tak terima persepsinya disalahkan. “Hey, kenapa jadi kalian yang berdebat. Harusnya kalian ikut menjaga ketenangan Diaz,” Alana mulai kesal obrolan berujung perdebatan Keyla dan Alvar. “Sorry,” sesal Alvar dan Keyla serentak. Alana memandang Diaz, kemudian mengambil ponsel di tas jinjingnya. “Aku telpon Bu Maria dulu ya, kasih tahu kondisi kamu sekarang,” ucapnya mengulum senyum. “Nggak perlu Al, aku nggak mau Mama khawatir. Palingan, sore aku pulang kok. Biar Alvar yang temani disini,” pinta Diaz cepat. “Ogah gue temenin di rumah sakit. Gue paling nggak bisa lama-lama di rumah sakit,” tolak Alvar tak terima. “Tapi loe kan sepupu gue, masa tega biarin gue sendirian. Kalau gue mau apa-apa sama siapa?” Diaz kesal, mendadak Alvar menolak keinginannya. Padahal biasanya sepupunya itu selalu menuruti kemauannya walaupun sering menyebalkan. “Gue ada urusan penting,” Alana heran memandang Diaz dan Alvar saling bersikukuh. Dia heran kenapa dua laki-laki itu tak ada yang mengalah, sampai akhirnya Alana menghela napas panjang dan berucap. “Biar aku yang jagain Diaz,” ucap Alana mengalah. “Nah, gitu kek dari tadi,” seketika Alvar bahagia mendengar ucapan Alana. “Siap Al, itu keputusan yang tepat. Kalau gitu aku sama Alvar pulang dulu ya. Baik-baik kalian.” Keyla mengulum senyum, kemudian berlalu. “Gue duluan ya bro. Have fun ya hehe,” seru Alvar terkekeh, lalu menyusul Keyla. Alana memandang punggung Diaz dan Keyla yang menghilang di balik pintu. Hatinya merutuk ucapannya yang bersedia menjaga Diaz, padahal hari ini ada janji dengan Brian belajar melukis. Pupus sudah harapannya berduaan dengan sang pelukis tampan yang dia idolakan, lebih tepatnya dia sukai karena setiap bersama Brian hatinya memburu layaknya tengah lari marathon.  “Kamu yakin mau nemenin aku disini?” tanya Diaz ragu. “Eh... iyalah. Emangnya kenapa?” Alana malah balik bertanya heran. “Ya aneh aja si. Seorang Alana yang populer di kampus bersedia menemani musuhnya,” ucap Diaz enteng. “Kan kepopuleran aku udah diganti kamu, udah deh. Ini kan salahku, jadi aku harus bertanggung jawab.” Alana mengakhiri obrolan, dia mengambil air mineral di meja dekat tempat tidur. “Nih, minum dulu.” “Makasih ya.” Diaz menyeruput sedotan pada botol air minum yang Alana dekatkan. Dia tersenyum karena gadis dihadapannya bersedia menemainya di rumah sakit. Selang beberapa menit, satu orang suster masuk ke ruang tindakan membawa kursi roda. Suster itu siap memindahkan Diaz ke ruang perawatan untuk memulihkan kondisi kesehatan Diaz. Alana pun membantu Diaz duduk di kursi roda, kemudian mengikuti langkah sang suster menuju ruang perawatan. Diaz ditempatkan di ruang VIP sehingga hanya ada Alana dan Diaz. Namun hati Alana berdesir hebat, dia tidak menyangka akan bersama Diaz dalam waktu yang ditentukan. Bagaimana jika Diaz lebih dari 2 hari atau satu minggu di rumah sakit, pastinya Alana semakin lama bertemu Brian. “Tenang Alana. dokter bilang cuma 2 hari, berarti besok pulang.” Batin Alana. “Nggak betah kan disini?” tanya Diaz setelah suster membaringkannya di tempat tidur khas rumah sakit. “Siapa bilang? Ngaco kamu,” elak Alana gugup. “Nggak usah bohong deh. Aku bisa melihat gelagat wajah kamu,” Diaz berargumen yakin. “Udah, mendingan kamu istirahat dulu. Biar kondisinya enakan,” pinta Alana cepat. Diaz akhirnya mengangguk, dia menatap Alana beberapa detik sebelum akhirnya memejamkan mata. Sementara Alana memandang wajah Diaz yang terlelap, dia merasa tak asing dengan sosok Diaz. Entah mengapa setiap bertemu Diaz hatinya merasa tenang, tetapi dia selalu menepis karena tak ingin ada hal lebih di antara mereka. Alana menggigit ujung kukunya kasar, dia gelisah memikirkan Brian. “Kalau aku nggak ada kabar, Kak Brian pasti kecewa nih. Gimana ya biar bisa ketemu dia di lain waktu, mungkin....” Alana memutar otaknya keras, dia mencari ide agar pertemuannya dengan Brian tak sepenuhnya gagal. “Oke, telepon dia aja deh,” ucapnya senang lalu keluar dari ruang rawat Diaz. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD