Satu Tinta Terakhir
"Aku sudah lama menyerah dari dunia author. Bukan karena tidak mampu menulis, tapi lebih besar sekedar itu."
"Pencurian ide adalah masalah terbesar jika aku membuat cerita baru. Akan banyak penulis-penulis lain yang lebih senior, dengan sengaja mencuri ideku, lalu membuat cerita dengan genre yang sama, kemudian akan mengaku sebagai ide baru mereka."
"Kesalahan terbesarku mungkin adalah mengunggah ceritaku di suatu platform online. Aku ucapkan selamat tinggal kepada dunia authors yang penuh dengan kemunafikan."
Itu, adalah tulisan terakhir dari seorang author yang mewakili perasaannya.
Perasaan yang kacau, lelah, dan ingin segera berhenti dari dunia author, kini di alami oleh seorang author pemula bernama asli Zeice Robert, 20 tahun, seorang penulis dari negara Spilantula, yang terkenal berbakat di dunia author.
Bagaimana tidak? Selama 2 tahun dia menjadi seorang author, berbagai isu negatif sering dilayangkan kepadanya.
Bukan karena tidak berbakat, tapi justru karena dia sangat berbakat.
Hanya saja, karena memang ide dan cerita Zeice yang benar-benar baru dalam dunia author, terkadang ada beberapa author senior yang dengan teganya mencuri ide cerita milik Zeice.
Bayangkan saja, karena gaya bahasa sastranya yang sangat indah, terlebih dengan detail ceritanya, dia sukses membuat karakter menjadi sangat hidup pada setiap cerita yang dia tulis.
Ya, maksud sukses di sini adalah, sukses untuk dicuri ide Zeice oleh author senior yang lain, tentu saja.
Sebagai author pemula, yang tentu saja belum banyak pengikutnya, setiap dia membuat cerita baru, akan ada beberapa author lain yang dengan sengaja membaca ceritanya.
Dengan itu, author yang mencuri ide itu, akan dengan sigap membuat sebuah karya baru persis dengan ide cerita Zeice, meskipun jalan ceritanya berbeda.
Dan sudah bisa ditebak, anggapan pembaca cerita saat membaca cerita Zeice, akan langsung melayangkan dugaan bahwa cerita Zeice adalah plagiat dari karya seorang author yang lebih senior.
Kini, Zeice sudah menyerah, dan dia ditertawakan oleh para author yang mencuri idenya.
Ingin rasanya Zeice bertemu dengan salah satu author itu lalu menghajarnya habis-habisan.
"Mereka memang berengsek!!," gumam Zeice. "Aku tidak bisa terus seperti ini, dan sebaiknya aku tinggalkan dunia author yang penuh kemunafikan ini," tekadnya.
Meskipun sedikit berat, lambat laun Zeice merasa pasti dia akan bisa melalui semua ini.
"Sebaiknya, aku mencari kesibukan atau pekerjaan lainnya," gumam Zeice.
Dengan hati dan jiwa yang goyah, Zeice berjalan keluar dari rumahnya. Ada perasaan tak biasa saat ini, saat dia mengingat dua tahun penuh perjuangan sebagai seorang penulis.
Tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan untuk Zeice, selain karyanya dibaca oleh para pembaca, tanpa ada embel-embel plagiarisme.
Karena jantung hati seorang author, berada pada pena dan kertas yang selama ini dia bawa, kemanapun.
"Zeice! Zeice! Tunggu!"
Teriakan seorang wanita sambil berlari-lari, yang hubungannya dengan Zeice, mungkin lebih dari sekedar teman, mungkin dia sahabat, oh tidak, lebih dari sekedar sahabat biasa, tapi belum sampai dalam tahap menjadi sepasang kekasih.
Wanita itu bernama Fleurine Vexia, 20 tahun, teman satu universitas Zeice di universitas Cardfore di negara Spilantula.
"Oh, ternyata kau, Fleurine?" sapa Zeice sambil tersenyum, meski ada rasa gundah dalam hatinya atas semua permasalahan yang terjadi di hidupnya.
"Zeice!," kata Fleurine sambil terengah-engah. "Ada apa denganmu?," tanyanya lagi.
"Aku?," jawab Zeice. "Aku baik-baik saja," lanjutnya.
"Kau... Jangan... Berbohong kepadaku, Zeice!," suara terengah-engah terdengar dari mulut Fleurine. "Aku ingin tahu, apa arti tulisanmu itu...," pinta Fleurine yang masih penasaran.
"Tidak apa-apa, Fleurine," jawab Zeice. "Aku benar-benar baik-baik saja," lanjut Zeice kemudian mengalihkan pandangannya.
"Apa kau menyerah, Zeice?," tanya Fleurine tiba-tiba. "Apa kau... Sudah tidak tertarik lagi dalam dunia kepenulisan?," lanjutnya.
"Untuk saat ini, jujur, aku menyerah," jawab Zeice singkat. "Dunia yang aku jalani itu sungguh penuh dengan kemunafikan!," lanjutnya.
"Kenapa, Zeice? Kenapa? Masih ada aku yang selalu mendukungmu, apapun yang terjadi," tanya Fleurine kembali merasa penasaran.
"Aku tahu, Fleu... Aku tahu itu. Sudah tidak diragukan lagi bahwa kau adalah salah satu pembaca setiaku," jawab Zeice.
"Tapi, Fleu, semua tidak semudah yang kau kira atau yang terlihat. Semua sampah-sampah itu. Aku jujur, sangat marah kepada mereka!," lanjut Zeice.
"Sampah-sampah itu? Maksudmu?," tanya Fleurine lagi.
"Author yang lain. Maksudku, author senior yang lain, yang sudah mempunyai banyak follower, dan mereka mencuri ide-ide ceritaku, dan membuat cerita yang bergenre sama denganku. Aku... Merasa kalah," jawab Zeice yang terdengar putus asa.
"Andai saja, ini hanya pengandaian. Jika saja kau tidak mengenalku, lalu membaca dua cerita dengan genre yang sama, sedangkan satu orang yang lain adalah author pemula dan yang satu lagi adalah author senior, maka siapa yang akan dianggap plagiarisme?," lanjut Zein, kemudian bertanya.
Fleurine diam sejenak, memikirkan apa jawabannya. Dan dengan anggukan, Fleurine mantap menjawab, "Tentu saja author pemula itu yang dianggap si plagiat."
Zeice tersenyum, "Begitulah aku sekarang," jawabnya santai.
"Zeice...," kata Fleurine ragu-ragu. "Aku minta maaf," lanjutnya.
Zeice hanya tersenyum saja, "Sudahlah, ayo bersama-sama berangkat ke universitas," pintanya.
Fleurine hanya mengangguk, dan beberapa langkah saat dia berjalan bersama Zeice, tiba-tiba langkah Zeice berhenti.
"Ada apa, Zeice?," tanya Fleurine. "Apa ada sesuatu?," lanjutnya.
Zeice menoleh ke arah Fleurine, kemudian membungkukkan badannya sedikit. Zeice mencium pipi Fleurine.
"Ah... Zeice!," Fleurine langsung memerah wajahnya. "Apa yang kau lakukan?," tanyanya.
"Aku mencintaimu, Fleu. Hanya itu yang ingin aku katakan," jawab Zeice kemudian berjalan melanjutkan langkahnya ke universitas.
Fleurine masih berdiri di tempatnya, menatap kosong ke arah punggung Zeice yang kian lama kian terasa menjauh itu.
"Apa tadi yang Zeice katakan?," gumam Fleurine. "Dia...? Dia mencintaiku?," lanjutnya tidak percaya dengan keadaan tadi.
Sesaat kemudian, pipi Fleurine kembali memerah, dan kali ini terlihat lebih memerah dari sebelumnya.
Sadar dirinya sudah tertinggal jauh dari Zeice, Fleurine berteriak, "Tunggu! Tunggu Zeice! Apa kau serius dengan perkataanmu itu? Hei.. Zeice, jangan terlalu cepat berjalan!," katanya sambil berlari.
'Ah... Sudah lama aku mengharapkan ini. Sudah lama aku mengharapkan Zeice menyatakan perasaannya kepadaku. Dan hari ini, semuanya terjadi kepadaku,' kata Fleurine dalam hatinya.
Mereka berdua, Zeice dan Fleurine, kemudian bersama lagi, bersebelahan, tapi hanya sedikit kata yang keluar dari bibir Fleurine.
Tentu saja. Perempuan mana yang tidak merasa malu dan salah tingkah, jika lelaki yang dicintainya, mengungkapkan rasa cinta kepadanya.
"Aku harap kau serius dengan ucapanmu tadi, Zeice," kata Fleurine kemudian berlari, berbelok ke arah kiri, tempat di mana fakultasnya, yaitu fakultas ekonomi berada.
'Hari ini, aku rasa adalah hari terindah dalam hidupku!,' kata Fleurine lagi-lagi, dalam hati.