Xena dispesialkan

1291 Words
'Kacau. Ada apa dengan pikiranku ini. Hampir saja aku tadi menciumnya. Oke, harus tahan dulu untuk melakukan itu padanya.’ batinnya. Veronika masuk dan membawa berkas kearah Xavier. Ia berdiri tepat didepan meja kerja tersebut. “Maaf, Pak. Saya bawa beberapa berkas yang harus Bapak tanda tangani.” ucapnya. “Oke, mana saja yang harus saya tanda tangani?” tanyanya seraya mengambil bolpoint disaku jasnya. Veronika pun membuka beberapa lembar tersebut dan memberitahu kepada Xavier. Disaat Xavier tengah menandatangani berkas-berkas itu, Xena masih mengatur napasnya namun ia mulai melirik kearah Xavier beberapa kali dan membatin dalam relungnya atas apa yang akan Xavier lakukan padanya tadi. ‘Belum bekerja disini saja, aku hampir dilecehkan. Bagaimana kalau sudah bekerja disini nanti? Apa yang harus aku lakukan, apakah aku tetap akan menerima bekerja disini?’ Xavier telah selesai menandatangani beberapa berkas tersebut. “Ada lagi yang harus saya tanda tangani?” “Tidak, Pak. Hanya itu saja, kalau begitu saya permisi, Pak.” ucap Veronika yang langsung dianggukan oleh Xavier. Veronika pun langsung keluar dari ruangan itu. Dan Xavier lagi-lagi memandangi gadis cantik didepannya ini. Melihat wajah Xena yang menunduk, membuatnya yakin bahwa Xena pasti takut akan tindakannya yang hampir saja menciumnya. Ting. Sebuah notifikasi masuk pada ponselnya, Xavier pun melihat kelayar tersebut dan segera membaca pesan yang dikirimkan oleh Lucas padanya. Ia mengangguk lalu segera menoleh pada Xena. “Xena." Gadis itu perlahan, menatap dirinya namun masih ada rasa was-was. Ia mengangguk kecil kearah Xavier. "I-iya, Pak." “Kamu bisa keluar sekarang, dan nanti ambil seragam OB di ruang resepsionis ya. Tadi Lucas sudah menaruhnya disana." Xena menganggguk dengan senyuman kecil. “Baik, terima kasih, Pak.” ucapnya lalu cepat-cepat berdiri dan segera pergi dari sana. “Xena.” panggil Xavier yang membuat gadis itu pun menghentikan langkahnya dan mmebuat dirinya berbalik pada Xavier. “Iya, Pak.” “Jangan lupa besok kamu datang pagi ya. Karena kamu harus membereskan seluruh ruang kerja saya, dan kamu saya pekerjakan menjadi satu-satunya OB yang membereskan ruang kerja saya." "Hah? Ruangan ini, Pak?" "Iya. Nanti saya akan bicara dengan kepala OB, karena mulai sekarang hanya kamu yang boleh membereskan ruang kerja saya. Begitupula sebaliknya, kamu tidak boleh membereskan ruangan lain, selain ruangan ini. Mengerti?” Xena langsung tertegun, ia merasa dispesialkan, namun terasa aneh baginya karena bukannya yang harus membereskan ruang kerja milik atasan itu adalah seseorang yang dipercaya, bukan orang baru seperti dirinya. Tapi, Xena tetap memberikan senyuman seraya mengangguk. “Baik, Pak. Kalau bergitu saya permisi,” pamitnya yang langsung dianggukan oleh Xavier. Dengan cepat, Xena pun berjalan keluar dari ruangan tersebut dan segera berjalan menuju lift dengan menundukkan kepalanya. Veronika sang sekretaris pun memerhatikan Xena yang sudah berjalan masuk ke dalam lift. 'Siapa sebenarnya wanita itu? Mengapa dia seperti dispesialkan oleh Pak Xavier?’ batinnya. Salah satu karyawan yang bekerja disana menghampirinya lalu menyapa. “Hey, Veronika.” Gadis dengan rambut lurus itu pun segera menoleh. “Kenapa?” “Apa yang terjadi tadi pagi dengan dirimu? Kenapa bisa kena omel oleh Pak Xavier, hanya karena mengusir wanita itu kan,” tanyanya seraya melirik kearah Xena yang sudah pergi masuk dalam lift. Veronika menghela napasnya sejenak. “Aku juga tidak mengerti. Mungkin memang aku yang salah, telah mengusir orang tanpa aku dengarkan dulu penjelasannya. Tapi ada satu hal yang buat aku penasaran." Karyawati itu pun langsung mendekatkan dirinya dengan Veronika karena ia penasaran. “Apa itu?” tanyanya. “Wanita tadi itu berkata kalau dia disuruh ke ruangan Pak Xavier untuk di interveiw pasal pekerjaan. Bukannya kita tahu dari dulu kalau Pak Xavier itu paling tidak suka untuk ikut campur perihal tersebut kan. Kecuali untuk seseorang yang penting seperti aku, Lucas dan juga Anton.” ucapnya dengan mempelankan volume suaranya. “Mungkin, salah satu dari kalian ada yang akan digantikan dengan wanita itu. Dan bisa jadi itu dirimu,” karyawati tersbut malah meledek Veronika. “Ah, salah aku berbicara dengamu.” kesal Veronika. Karyawati itu malah terkekeh kecil melihat Veronika yang kesal. “Yasudah, kalau begitu aku kembali ke mejaku ya.” ucapnya yang masih tertawa kecil dan berjalan menuju meja kerjanya. Veronika hanya mengangguk, tapi perlahan, ia mulai memikirkan apa yang dbicarakannya tadi. ‘Apa benar akan ada yang digantikan? Dan kalau benar, apa mungkin itu aku?’ batinnya bertanya-tanya akan hal tersebut. Namun dengan cepat, ia mengalihkan pikirannya itu dan kembali fokus pada kerjaanya. Xena baru saja mengambil baju seragamnya, lalu segera keluar dari kantor tersebut. Tapi tiba-tiba, langkahnya terhenti ketika ia secara tak sengaja berpapasan dengan Ardi. Sontak, mereka pun langsung menghentikan langkah mereka dan saling melihat satu sama lain. Xena tertegun, ia tahu pasti Om-nya akan marah padanya. “Om." Ardi memerhatikan disekelilingnya, melihat situasinya aman. Ardi pun berkata pada Xena. “Ikut Om sekarang.” Ardi berjalan keluar dari kantor itu dan berjalan menuju parkiran motor, agar jauh sedikit dari kantor itu. Xena hanya menghela napasnya dan tak bisa menjawab apapun, ia mengikuti sang paman. Lucas, yang tengah berjalan diarea itu secara tak sengaja melihat mereka menuju parkiran motor. Dahinya sedikit berkerut seraya membatin. ‘Itu bukannya wanita yang melamar pekerjaan itukan, yang tadi berada di ruangan Pak Xavier. Tapi mengapa dia bersama Pak Ardi? Apa mereka saling kenal?’ batinnya. Lucas menggeleng, ia tak begitu mempedulikan itu dan langsung berjalan kembali menuju kantor. Di Parkiran tersebut. Ardi dan Xena menghentikan langkah mereka disana. Ardi melihat seragam yang dibawa oleh keponakannya. Ia tahu betul warna biru muda serta list dibaian kancing baju itu yang berwarna abu-abu, sudah dipastikan kalau baju itu adalah seragam ‘OB’ di kantor tersebut. Xena masih tertunduk dan hanya sesekali melirik kearah Om-nya. “Xena,” Perlahan, gadis cantik itu mulai mengantak wajahnya, dan melihat Ardi yang berada tepat didepannya. “Iya, Om.” jawabnya. “Kamu melamar pekerjaan disini?” Xena hanya mengangguk, ia tak berani berucap. Ardi menghela napasnya. “Kenapa kamu tidak bicara dengan Om? Apa Ara tahu?” Lagi-lagi, Xena menggeleng. Karena memang yang tahu hanya Tania, dan memang dia-lah yang menyuruhnya untuk bekerja di perusahaan ini. “Atau jangan-jangan, Tante Tania yang menyuruh kamu bekerja disini?” Xena ingin mengangguk. Namun, ia ragu, karena takut kalau dirinya meng’iya’kan hal tersebut, akan ada perdebatan lagi antara Tante dan Om-nya tersebut. Xena memilih untuk diam. “Xena?” “Eum ... Xena sendiri kok Om, yang ingin bekerja disini. Xena iseng minjem ponsel Tante Tania untuk mencari info tentang lowongan pekerjaan, dan alhasil Xena menemukan perusahaan ini. Lalu Xena berniat untuk melamar pekerjaan disini, Om.” Ardi sedikit ragu dengan apa yang dikatakan oleh keponakannya ini. Dan lagi, ia berkata meminjam ponsel milik istrinya. Ini kecil kemungkinan kalau Tania mau meminjamkannnya. “Apa yang kamu bilang ini benar, Xena?” tanya Ardi. Dengan cepat, Xena langsung mengangguk dna tersneyum manis pada Om-nya tersebut, ia mencoayb untuk meyakinkannnya. “Iya, Om. Xena benar kok.” Ardi mengangguk kecil, ia mencoba mempercayai apa yang dikatakan oleh keponakannya tersebut, kalau apa yang diucapkannnya itu benar dan ia sedang tidak berbohong. Namun, ia juga akan membicarkan hal ini pada istrinya juga nanti. “Yasudah, kalau begitu Om percaya,” ucapan Ardi mampu membuat Xena dapat bernapas lega. “Tapi apa kamu yakin sanggup untuk bekerja, Xena?” Xena mengangguk. “Xena yakin, Xena bisa kok, Om.” Ardi memerhatikan keponakannya ini, bukan apa karena Ardi tak tega bila sewaktu-waktu di perusahaan ini ada yang tidak suka dengannya atau malah membully dirinya, itu akan membuat mental Xena kembali terganggu. Apalagi ini adalah lingkungan baru bagi Xena. Bahkan, sekolah pun ia harus home schoolling, karena kondisi xena yang mengharuskan dirinya untuk tetap tinggal di panti rehabilitasi dan bersekolah home sechooling disana. Ardi menghela napasnya sejenak. “Oke, kalau memang itu keputusan kamu sendiri. Om hanya bisa mendukung. Tapi, Om ingin meminta satu permintaan padamu." “Apa itu Om?” Konfirmasi
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD