"Then love knew it was called love.And when I lifted my eyes to your name, suddenly your heart showed me my way" —Pablo Neruda
.
.
.
Siang itu, Gema baru saja mematikan mesin motornya begitu sampai di pekarangan rumah. Ia membawa helmnya masuk ke dalam, membuka tudung saji yang ada di meja makan dan mendikte dalam hati menu makanan yang dimasak Mamanya hari ini.
Chandra belum pulang, karena ada job tambahan di luar kota. Makanya, seperti biasa, rumah akan terasa sepi di siang hari. Antara Chandra dan Sandra sendiri sibuk pada karir masing-masing. Chandra yang lebih banyak menghabiskan waktu di karir sebagai seorang Fotografer, sementara Sandra sibuk dengan sekolah musik yang ia dirikan sejak masa muda. Boleh jadi, Gema mengakui kalau ia merasa kesepian sejak kecil, namun lama kelamaan hal ini membuat Gema terbiasa sendiri.
Baru ketika Gema menaiki anak tangga pertama, ponsel yang ada pada saku seragamnya bergetar. Laki-laki itu menggaruk pangkal hidung sambil membaca pesan yang masuk.
...
14.45
Nyonya Sandra : Say, km lg di rumah gx? Tolong ambilin buku musik mama di laci merah ya. Td buru2 jd ketinggalan.............
Nyonya Sandra : kamu anterin sini ya. Kelamaan kalau mama bolak balik ke rumah ok?
Membaca pesan tersebut, wajah Gema langsung merengut. Bukan, bukan karena ia geli membaca pesan teks Mamanya yang alay. Namun, karena Gema benar-benar males gerak dan ayolah, Gema baru saja sampai rumah. Pada akhirnya, Ia kembali menuruni tangga dan berjalan ke kamar orang tuanya yang ada di lantai bawah dekat ruang keluarga. Gema berjongkok untuk membuka laci berwarna merah marun yang disebutkan Mamanya. Setelah Gema menemukan buku musik bersampul hijau dengan logo notasi balok itu, ia berdiri sampai ponselnya bergetar sekali lagi.
...
14.49
Nyonya Sandra : sekalian sama dokumen map biru di laci yg paling bawah
Gema berdecak, kali ini ia mulai mengumpat sambil menarik laci urutan paling bawah dan mengambil sebuah berkas yang di balut dengan sebuah map berwarna biru muda. "Ya elah, ngerjain banget, sih..."
Lalu, beberapa detik, ponselnya bergetar lagi. Dan dari kontak yang sama.
...
14.50
Nyonya Sandra : ga pake protes ya.
Nyonya Sandra : Bsk uang jajannya mama lebihin ok??????
Pesan itu seolah Sandra bisa membaca pikiran Gema disini yang nggak berhenti mendumel. Kali ini, Gema mulai melarikan jari-jarinya untuk mengetikkan sebuah balasan.
Gema : Y kanjeng ratu
Nyonya Sandra : love u:*
Nyonya Sandra : insya allah makin ganteng
Gema hanya tersenyum kecil dan langsung mematikan layar ponselnya. Ia turun kebawah dan keluar membuka pintu rumah setelah mengambil helm yang barusan ia taruh di dekat meja kecil yang ada di ruang tamu. Gema membawa motor scoopy-nya meluncur melewati kawasan komplek tempatnya tinggal.
***
"Ma, aku udah ada di dalem. Mama dimana?"
"..."
"Mana?" Gema mengedarkan pandangannya ke sekitar, ia mundur selangkah lalu kembali maju selangkah, menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan orang yang sedang berkomunikasi via telepon itu.
"..."
"Tangga mana—ADUH!" Lalu tanpa sengaja saat Gema berjalan mundur dan berbalik, ia menabrak seseorang yang sedang berada di belakangnya. "Heh! Gimana sih, mbak? Jalan yang bener! Punya mata nggak sih?!"
Laki-laki itu menjauhkan ponsel dari telinganya, Gema juga nggak tau kenapa ia sekarang sedang dalam mode senggol-bacok. Padahal Gema yang salah, Padahal perempuan itu yang terjatuh, Padahal Gema yang menabraknya, Padahal barang-barang yang dibawa perempuan itu kini yang berserakan di lantai dan siapapun yang berada di posisi perempuan ini pasti akan murka.
Alga berusaha meraba-raba sekitar untuk menemukan tongkatnya dan saat ia tidak berhasil menemukan benda itu, ia semakin marah. Perempuan itu kemudian berdiri, tidak peduli meskipun Gema posisinya berada di samping kanannya, Alga tetap meluapkan emosinya siang ini.
"Ya harusnya Mas-nya yang punya mata dimanfaatin buat jalan yang bener biar nggak nabrak orang!"
Gema mengerutkan dahinya, ia tertegun ketika melihat perempuan yang tadi ia tabrak barusan justru tidak membalikkan badan ke arahnya. Maka dari itu, Gema berinisiatif untuk melangkah dan berdiri tepat di hadapannya.
"Eh?" Gema menelan ludah, karena ternyata perempuan ini adalah seorang tunanetra.
"Apa?! Udah puas marah-marahnya?! Masih mau ngatain saya nggak punya mata?! Nih, liat nih! Saya emang nggak—"
"Bentar deh, Lo itu Kakaknya Amanda, kan?" Tanya Gema, setelah beberapa detik ia mengamati wajah perempuan ini. Gema masih mengingatnya, karena mereka baru saja bertemu sekitar seminggu yang lalu.
Alga membulatkan matanya, untuk beberapa saat ia mengingat suara orang ini dan begitu ingatannya pulih,Alga langsung berbalik badan dan berjongkok untuk menemukan buku-buku dan tongkatnya yang berserakan. Selama ini Alga berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan Gema, dan memasukkan Gema ke dalam daftar orang yang paling ia hindari.
Gema kemudian ikut berjongkok membantu Alga merapikan bukunya di lantai. Saat tangan Alga menemukan tongkatnya, tangan Gema juga menggapai tongkat itu. Bukan seperti yang biasa ada dalam drama, Gema dan Alga justru saling tarik menarik tongkat yang mereka pegang dikedua ujungnya yang berbeda.
"Lepas, nggak?" Desis Alga, dan akhirnya Gema melepaskan tongkat itu.
Alga berdiri, Gema pun ikut berdiri. Namun tanpa ada sepatah kalimat lagi, Alga berusaha untuk berjalan menjauhi Gema. Laki-laki itu tak tinggal diam, ia justru mengejar Alga sebelum perempuan itu menjauh bersama tongkat penuntunnya. "Eh, lo mau kemana?"
Alga tak menjawab, ia terus berjalan sambil menggerakkan tongkatnya kemanapun itu, Gema menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah Alga yang terus menunduk. "Lo kenapa, sih? Nunduk-nunduk gitu?"
"Eh, tungguin!"
"Jalannya jangan cepet-cepet, Elah. Lo mau kemana, sih?"
Gema kemudian mengambil strategi, berdiri di depan Alga hingga kepala perempuan itu menabrak dadanya. Alga berhenti, lalu wajahnya terangkat. Ada sorot menakutkan dari mata perempuan itu saat ia berkata, "Minggir."
"Kita belum kenalan, nih! Nama lo dulu, deh siapa? Ntar gue kasih lo jalan."
"LO PIKIR INI JALAN SIAPA?!"
Saat Alga mulai berteriak, Gema kemudian tertawa. Seneng aja gitu, godain cewek galak yang suka teriak-teriak kayak Alga ini contohnya.
"Jalan gue, lah." Jawab Gema penuh percaya diri, ia kemudian tersenyum meskipun tahu Alga tidak bisa melihatnya. "Gedung ini yang punya, kan Nyokap gue. Lo emang nggak tau ya?"
"MINGGIR AJA BISA NGGAK SIH?!"
"Nama lo dulu siapa?"
"Minggir, gue bilang!"
"Ya elah, nggak usah sok ngartis gitu, deh. Tinggal kasih tau nama lo siapa, kelar kan?"
Alga menarik napas, ia memutar tubuhnya dan berjalan ke arah yang berlawanan. Namun sekali lagi, kepalanya menabrak d**a laki-laki itu. Gema kemudian memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Alga, "Nama..........?"
Alga kemudian berdecak kesal, "Sumpah, ya. Gue heran kenapa Amanda bisa mau sama orang kayak lo?"
"Karena gue ganteng?"
Alga kemudian tertawa getir, "Bolor kali mata dia."
"Lo beneran nggak percaya gue ganteng?"
"Musyrik yang ada, kalo gue percaya sama lo," Jawab Alga sakarstik.
"Dih, lo tuh emang—"
"Gema!" Si pemilik nama kemudian menoleh ke belakang, dan menemukan Sandra berdiri tak jauh di belakangnya sambil memegang ponsel, wanita itu kemudian menghampirinya. "Kamu, tuh Mama cariin! Telfon nggak jelas suaranya bukannya di matiin!"
Gema kemudian melotot mengingat bahwa ia belum memutuskan sambungan telponnya dengan Sandra tadi. Namun, untungnya Sandra sudah mematikan sambungannya secara sepihak ketika suara Gema mulai tidak karuan. "Loh, Alga? kamu belum pulang? Dijemput siapa?"
Alga?
Gema diam-diam merapalkan nama itu dalam hatinya.
Alga yang merasa diajak berbicara kemudian tersenyum manis. "Belum, Bu. Kayaknya Kang Asep nggak tau kalau aku pulang lebih cepet."
"Emang sopir kamu itu udah pulang dari kampung?"
"Udah, baru aja kemarin pagi nyampe ke Jakarta."
Gema melotot saat melihat perubahan sikap perempuan itu yang berubah drastis. Ia kemudian bergumam pelan, "Gila apa, tadi aja lo teriak-teriak sekarang—"
"Kenapa, Gema?" Tanya Sandra, ia sedikit mendengar gumaman Gema yang tak jelas.
"Enggaaaak." Jawab Gema sekenanya.
"Mana tadi titipan Mama?" Sandra mengulurkan tangannya, sementara Gema langsung memberikan buku musik dan sejumlah dokumen yang tadi diminta Sandra untuk ia bawa dari rumah. Ia melirik anak lelakinya itu yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap dengan tas dan sepatu converse-nya. "Kamu tadi masih di sekolah apa udah pulang?"
"Baru juga nyampe rumah, terus Mama nge-w******p tadi."
Sandra kemudian beralih menatap Alga yang masih berdiri di antara mereka. "Ya udah Al, kalau sopir kamu nggak dateng-dateng, nih suruh Gema anterin kamu sampe rumah aja. Daripada ntar keluyuran abis ini!"
Kedua mata Alga langsung membola, "Nggak, Bu. Nggak usah. Bentar lagi paling Kang Asep juga dateng."
"Yakin, kamu?"
"Iya, nggak papa." Alga meyakinkan Sandra dengan senyuman.
"Ya udah kalau gitu, saya ke tinggal ya. Masih ada kelas soalnya," Sandra mengelus lengan kanan Alga lembut, ia kemudian menepuk punggung Gema dengan buku musik ditangannya. "Awas, tuh! anak orang jangan digangguin!"
"Iya, Iya Ma!"
"Ya udah Mama tinggal, ntar kalau sampe rumah langsung makan terus obatnya jangan lupa diminum! Jangan kelayapan!"
"Iya, Mamaaaaa..."
Mendengar nada bicara Gema yang terdengar berlebihan membuat Alga diam-diam menertawakan laki-laki itu. Saat Sandra benar-benar pergi dan menghilang dibalik tangga utama, Gema langsung menatap Alga tajam.
"Nape lu ketawa-tawa gitu?"
Alga kemudian langsung menetralkan ekspresinya wajahnya dalam waktu singkat, "Suka-suka gue lah."
"Dih."
Alga langsung melengos, ia kemudian berjalan lurus sesuai instingnya untuk duduk di sebuah kursi. Biasanya ada beberapa murid kursus yang juga duduk untuk menunggu jemputan atau menunggu sebelum kelasnya dimulai.
"Eh, bentar-bentar!" Gema menahan lengan Alga dan berdiri di hadapannya.
"Apa lagi, sih?"
"Tadi Nyokap gue manggil lo siapa? Alga?"
Mendengar itu, Alga tertegun. Ia memejamkan matanya dan menghela napas. "Iya, jadi udah kan? Lo tau nama gue. Ya udah minggir."
"Bentar, satu lagi aja!"
"Apaan lagi, dah?!" Alga mulai tak sabaran.
"Kita pernah ketemu nggak, sih? Soalnya muka lo agak familiar git—"
"YA MANA GUE TAU, IH CAPek deh ngomong sama lo!" Nah, Alga berteriak lagi. Pertanyaan ini bukan pertanyaan yang asing untuknya. Gema pernah bertanya hal yang sama juga sebelum ini. "Gue aja nggak tau muka lo bentuknya kaya apa! Jadi nggak usah ngasih pertanyaan yang nggak mutu!"
"Iya, Iya... Nggak usah galak gitu dong, Nyai."
Alga menghela napas, ia sedikit merasa bersalah karena meneriaki Gema berulang kali. "Ya abisnya lo, sih nyebelin. Udah, deh mendingan lo pulang! Tadi inget Nyokap lo barusan pesen apa? Udah, ya sana."
"Ya udah gue pulang ya, dadah."
"Ya udah, sih." Balas Alga, ketus. Ia kemudian berjalan menuju kursi tunggu secara hati-hati dan duduk di sana.
Ketika Alga berpikir Gema sudah pulang dan menghilang dari sana, kenyataanya tidak. Gema masih berada di sana. Duduk di kursi yang berjauhan dari Alga dan diam-diam mengawasi perempuan itu. Sampai lima belas menit kemudian Kang Asep datang menjemputnya, Gema masih tetap disana. Baru ketika mobil yang dikemudikan Kang Asep menjauhi halaman parkir gedung sekolah musik milik Sandra, Gema berdiri dari tempatnya.
Saat itu Gema melihat ada sebuah buku musik di bawah kursi yang barusan Alga duduki. Sepertinya perempuan itu tidak sadar bahwa ia telah menjatuhkannya.
***
Malam harinya, ketika Amanda masuk dan menyelinap ke kamar Alga, Ia menemukan Kakaknya itu sedang sibuk mencari sesuatu. Bahkan Alga tidak mengacuhkan suaranya ketika Amanda memanggil namanya. Pada akhirnya, Amanda masuk, lalu duduk di samping ranjang Alga seperti biasa. Kalau Amanda sudah masuk ke kamar Alga saat malam hari, biasanya Amanda memiliki sesuatu yang ingin ia ceritakan.
"Kak?"
"Kak, nyari apa sih?"
Alga tidak menjawab, ia mengacak rambutnya dan terus meraba-raba laci untuk menemukan apa yang ia cari, "Perasaan ditaruh di sini, deh. Kok nggak ada, ya?"
"Nyari apaan sih, Kak?"
"Buku musik..."
"Emang ditaruh dimana? Bukunya warna apa?" Amanda mulai berdiri, ia membantu Alga mencari di tempat yang biasa dijadikan Alga untuk menyimpan bukunya. Biasanya tempatnya mudah dijangkau, Alga jarang menyimpan barangnya ditempat-tempat tersembunyi.
"Sampulnya kuning, Aku taruh di laci, kaya biasa. Tadi aku inget, kok! Buku yang aku pegang ada tiga! Kenapa sekarang tinggal dua?"
"Jatoh, kali?"
Alga kemudian terdiam, apa iya, ya?
Perempuan itu mengingat kejadian tadi siang saat ia menabrak Gema di tempat kursus. Bukunya memang sempat berserakan di lantai.
"AH MATI AJA!"
"Lah, kenapa lagi?" Tanya Amanda bingung. "Apa bisa jadi ketinggalan di kelas, deh? Besok coba tanyain ke siapa, kek?"
"Masalahnya, bukunya tuh penting! Disitu isinya ada lagu buat ujian nanti lusa!"
"Cari di internet emang nggak ada?"
"Ya enggak, lah! Kan bukunya khusus. Hurufnya bukan huruf biasa. Huruf Braille¹ ! Mana bisa nyari di internet." Alga kemudian menghempaskan tubuhnya di ranjang. Ia juga lupa nama komposisi yang akan ia mainkan saat ujian praktik nanti. Alga hanya menandainya dengan lipatan kecil pada halamannya.
"Ya udah besok bilang aja ke Bu Sandra, bukunya ilang. Siapa tau ntar dikasih yang baru, atau mungkin kalau jatuh ada yang nemuin terus ntar dikembaliin, deh?" Amanda berusaha menenangkan pikiran Kakaknya. "Ngomong-ngomong, aku mau curhat, nih! Di dengerin nggak?"
"Hmm," Jawab Alga, sekenanya. Kali ini posisinya berubah tengkurap. Mentalnya langsung turun saat tahu buku musiknya hilang.
Amanda melihat respon Alga yang kurang antusias, namun pada akhirnya ia tetap bercerita. "Kan tadi aku nggak ke kantin, soalnya PR Biologi belom kelar, jadi kepaksa diem di kelas. Eh ternyata ada Nichol juga. Dan di kelas itu cuma ada aku sama Nichol doang—Kak, dengerin nggak, sih?"
"Iya, denger..."
Amanda menghela napas sebelum melanjutkan, "Dia, kan nggak lagi ngerjain tugas. Soalnya tugasnya udah di kerjain sama anak kelas sebelah, biasa lah ya. Terus tiba-tiba dia pindah duduk, ke sebelah aku. Masa, ya dia bilang..."
Amanda mengambil jeda cukup lama, sampai Alga akhirnya membalikan tubuhnya karena Amanda tak kunjung melanjutkan. "Bilang apaan?"
"Bilang gini, Amanda jadian yuk, daripada lo digantung mulu sama Gema kek jemuran. GITU MASA! TERUS AKU KAN JADI SPEECHLESS! INi orang kenapa coba?!"
"Bercanda doang kali, Nichol kan anaknya slengean²."
"Masa, ah?! Mukanya aja serius banget anjir! Aku langsung kek, nggak bisa ngomong apa-apa."
"Terus abis ngomong gitu dia ngapain?"
"Ya diem."
"Kok diem? Emang pas ngomong gitu dianya sambil ngapain?"
"Sambil main game, orang ngomongnya aja nggak sambil liat muka gue!"
"Tuh, kan itu mah bercanda doang!"
"Beneran bercanda? Tapi abis itu dia nggak ketawa, masa?"
Alga kemudian tertawa kecil, "Alah, bercanda itu... Udah nggak usah baper, lagian nggak mungkin soalnya, kan Nichol juga tau Gema sayang sama kamu. Mereka juga sering ngumpul bareng, kan?"
"Iya, sih." Amanda kemudian merubah posisi duduknya menjadi bersila. "Terus kalau seandainya dia serius ngomong gitu gimana?"
"Ya itu, sih tergantung kamu. Kamu yang ngejalanin. Tau sendiri kan kalian temenan udah lama, biasanya kalau dari sahabat jadi pacar itu nggak ada yang bisa bertahan lama. Rasanya waktu kalian ngejalanin hubungan sama waktu kalian sahabatan itu pasti bakal lebih nyaman waktu kalian sahabatan."
"Tapi, kadang aku juga mikir, kalau digantung lama-lama itu—"
"Jangan mikirin kata orang, selama kamu ngenikmatin waktunya. Yang ngejalanin kamu, bukan mereka. Gema pasti punya alasan kenapa dia kaya gitu. Percaya, deh. Kalau seandainya Gema ninggalin kamu setelah apa yang selama ini kalian udah jalanin, gue bakal jadi yang pertama nendang anu-nya sampe dia sekarat!"
Amanda berkedip dua kali, "Idih, kok serem ya? tAPI SO SWEET~"
Alga berontak saat merasakan Amanda memeluknya erat hingga ia kesulitan bernapas. "Ini apa, sih! Lepasin ah geli tau!"
***
Malam itu, Gema terlalu malas untuk membuka buku sejarahnya untuk sekedar membaca materi sub-bab yang kemarin di terangkan. Padahal materi tersebut akan dijadikan bahan ulangan harian besok. Laki-laki itu justru membolak-balik halaman dari sebuah buku musik bersampul kuning.
Halamannya terlihat aneh. Gema hanya melihat titik-titik yang timbul di kertas dan merabanya. Ia tidak mengerti apa isi buku ini, entah itu berupa partitur-partitur musik yang dikonversikan pada huruf braille, atau mungkin berisi materi teori untuk musik klasik. Gema pernah melihat buku dengan jenis yang sama. Biasanya buku dengan huruf seperti ini diperuntukkan untuk kaum tunanetra yang membaca dengan cara meraba titik-titik timbul di setiap halamannya.
Saat ia membalik halaman berikutnya, Gema melihat tulisan tangan kursif yang tidak asing. Seperti... tulisan tangan Sandra. Di tulis dengan pena merah dan dilingkari.
Prelude Op. 28, No. 15 (Raindrop) — Chopin.
Gema berusaha menerka apa maksud tulisan tangan Mamanya itu di sana. Mungkin bisa jadi ini adalah halaman yang memuat partitur musik dari komposisi gubahan Chopin. Mungkin juga buku ini penting untuk Alga, dan mungkin juga perempuan itu sedang belajar menguasai komposisi ini.
Gema jadi penasaran ia kemudian menyalakan laptopnya dan mengetikan kata kunci yang sama dengan apa yang Sandra tulis di situs pencarian. Lalu muncul beberapa hasil terkait dengan komposisi itu.
Singkatnya, Informasi yang Gema peroleh: komposisi itu adalah komposisi gubahan komposer terkenal Frédéric Chopin, diberi julukan Raindrop karena nadanya terdengar seperti rintik hujan, tipis, mengalun dan seolah membisik. Komposisi ini merupakan satu dari dua puluh empat prelude karyanya. Sumber mengatakan bahwa komposisi ini ditulis saat Chopin dan kekasihnya George Sand berada di Majorca pada tahun 1838. Komposisi ini berdurasi sekitar lima sampai tujuh menit menggambarkan kesendirian hati.
Membacanya, dahi Gema berkerut, Gema kemudian menuruni tangga yang meliuk ke ruang keluarga dan menemukan Sandra di sana. Duduk dibalik sebuah piano hitam yang sudah lama menghuni sisi ruang keluarga yang selalu sepi. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Permainan piano Sandra berhenti, wanita yang sudah mengenakan piyama ungu itu mendongakkan kepalanya dan tersenyum tipis ke arah Gema, "Kamu kebangun? Mama berisik, ya?"
Gema menggeleng, "Enggak, kok. Aku emang belum tidur,"
Sandra kemudian menggeser sedikit tubuhnya, memberikan Gema ruang agar bisa duduk di sebelahnya. "Kenapa?"
Saat ditanya begitu, Gema menunjukkan sebuah buku musik dengan halaman yang memuat cetakan huruf braille. Kedua alis Sandra tertaut, "Ini kayak bukunya... Alga?"
"I-Iya," Gema menggaruk pangkal hidungnya, "Tadi bukunya jatuh, aku lupa ngembaliin."
"Terus?"
"Aku cuma mau nanya, ini apaan deh, Ma? Soalnya disini kayak ada tulisan Mama." Gema menunjukkan tulisan tangan dengan pena merah yang tersemat kecil di dekat lipatan halaman.
"Ooh, ini sebenernya lagu buat ntar jadi bahan ujian piano-nya Alga, nanti lusa."
"Mama yang pilihin lagunya?"
Sandra mengangguk, ia sebenarnya memiliki alasan tersendiri mengapa ia memilih komposisi itu diantara banyaknya karya Chopin yang lain. Sandra kemudian beralih, membalik halaman buku musik yang sudah terpasang pada pianonya dan membukannya di komposisi yang sama. Kali ini Gema dapat melihat partiturnya dengan jelas pada buku musik Sandra. "Mau dengerin?"
Gema mengangguk, sementara Sandra mulai menekan tuts piano dihadapannya secara acak, sebelum mulai benar-benar bermain. Komposisi ini dimulai dengan kelembutan nada D flat, kemudian berubah menjadi C sharp minor, berlanjut dengan pengulangan nada A flat yang menggambarkan rintik hujan itu sendiri.
Gema menikmatinya, dan Sandra menjiwai setiap melodi yang ia mainkan. Bagaimanapun, lagu ini begitu mewakili apa yang saat ini ia rasakan. Kesendirian. Tanpa Sandra sadari, Gema menangkap makna dibalik permainan piano Mamanya. Musik itu seolah berbicara ke telinganya, seolah memberi tahu Gema bahwa orang yang kini sedang bermain dengan tuts piano itu mengalami sedang konflik batin. Jari-jari Sandra terus bergerak lincah, sampai kemudian di akhir lagu gerakannya melemah, Sandra tidak benar-benar menyelesaikan permainannya. Wanita itu langsung menutup wajahnya dan tenggelam dengan tangisnya malam ini.
Gema langsung merengkuh wanita yang masuk ke peringkat pertama dalam hatinya. Tubuhnya kurus dan Gema dapat merasakan isakan tangisnya. Dulu mungkin tubuh Gema lebih kecil dari Sandra, Dulu mungkin Sandra yang melakukan ini ketika Gema menangis, tapi saat melihat kenyataan bahwa sekarang Gema yang memeluk tubuh ringkih wanita itu, Sandra sekarang sadar, seberapa keras perjuangannya membesarkan anak lelakinya itu. Sandra kini sadar, bahwa anak lelaki yang dulu sering mengikutinya sekarang sudah tumbuh dewasa.
"I'm here, Mom." Bisik Gema pelan. Di belakang tubuh Sandra, tangan Gema terkepal, rasanya ia ingin mencari Chandra dan menyeret Papanya itu sampai ke pintu rumah.
Seolah semesta mengerti perasaan wanita itu, hujan kemudian turun saat tengah malam. Suara hujan mengisi kekosongan dan keheneningan ruang keluarga malam itu. Dan selama itu pula, Gema terjaga sepanjang malam sampai Sandra tertidur.
.
.
.
1. Braille : sejenis sistem tulisan sentuh yang digunakan oleh orang buta.
2. Slengean : Tidak pernah serius. Suka bercanda.
-
-