Bab 3. Perhatian Sang Manajer

1681 Words
Bagas masih diam mematung sebelum panggilan Intan menyadarkan lamunannya. “Kalau kalian masih ingin bicara, ayo ke ruanganku! Takutnya nanti ada orang di sini.” “Makasih bantuannya, Mas, tapi saya mau pulang aja,” tolak Seruni yang sudah mengusap air mata dari kedua pipinya. Tentu saja dia tidak ingin jika Bagas sampai melihatnya menangis. “Kamu yakin mau pulang, Run? Ga coba nenangin diri kamu dulu. Khusus hari ini, aku akan temani kamu ke mana aja yang kamu mau,” timpal Intan karena begitu mengkhawatirkan mental sahabatnya. Seruni menggeleng. “Aku tidak mau ke mana-mana, In. Aku cuma mau pulang.” “Oke, oke, kalau itu mau kamu, tapi aku antar, ya!” Sekali lagi Seruni menggeleng. “Ga usah. Aku bisa pulang sendiri. Aku masih ingat jalan pulang kok.” Seruni tampak mengulas senyum singkat lalu kembali berkata, “Kamu tenang aja, aku ga akan melakukan hal bodoh hanya karena perselingkuhan Panca.” “Tapi, Run–” Intan merasa keberatan dengan keputusan sahabatnya. “Kamu ke sini 'kan sama keponakanmu, In. Harusnya kamu juga pulang bersama mereka. Udah kamu tenang aja, aku cuma mau bilang, makasih ya atas bantuan kamu hari ini. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku belum tahu perselingkuhan Panca di belakang aku,” ucap Seruni yang sudah tak lagi menggunakan kata “mas” sebelum menyebut nama Panca. “Silakan kalau mau pulang, tapi bukankah sebaiknya kamu merapikan diri dulu. Kamu masih tetap cantik, tapi riasanmu jadi agak rusak karena air mata. Ayo ke ruang kerjaku dulu, ada kamar dan kamar mandi. Jadi, kamu bisa merapikan diri di sana.” Kali ini Bagas yang bicara pada Seruni dengan kalimat lebih santai daripada sebelumnya. “Mas Bagas benar, Run. Kalau kamu mau pulang sebaiknya rapikan diri dulu. Jangan sampai kamu dianggap ODGJ karena penampilanmu itu.” Intan ikut membujuk sahabatnya. Meskipun penampilan Seruni tidak terlalu berantakan, tapi sangat terlihat kalau dia baru saja menangis karena kedua matanya agak bengkak. Eye liner yang tidak waterproof pun jadi luntur karena kena air mata, begitu juga bedaknya. Seruni menarik napas panjang dan mengembuskan dengan pelan sebelum memberi jawaban. “Kalau begitu kita ke ruangan Mas Bagas dulu,” putusnya kemudian. “Pakai ini untuk menutupi wajahmu.” Bagas memberikan topi pada Seruni. “Makasih ya, Mas,” ucap Seruni sambil mengenakan topi guna menutupi wajahnya yang sendu. Mereka bertiga pun akhirnya pergi ke ruang kerja Bagas. Di sana, Seruni langsung merapikan diri di kamar mandi yang ada di ruangan tersebut. Setelah penampilannya lebih enak dipandang, dia pun keluar dari sana. “Nah, gitu ‘kan lebih cantik. Ini pakai kacamata biar matamu ga kelihatan bengkak.” Intan memberikan kacamata hitam miliknya pada sahabatnya itu. “Makasih, In. Kamu memang sahabat yang terbaik. Selalu jadi penolongku di saat-saat sulit.” Seruni memegang erat tangan Intan. Kedua matanya kembali berkaca-kaca yang dengan cepat ditahan agar tak kembali menangis. “Ah, biasa saja. Ga usah lebai deh, Run.” Intan jadi salah tingkah sendiri setelah mendapat pujian dari Seruni. “Jadi, mau pulang?” Tiba-tiba Bagas bertanya pada Seruni. “Jadi, Mas. Maaf ya kalau aku udah ngerepotin dan ganggu pekerjaan Mas. Pokoknya aku makasih karena Mas udah mau bantuin aku,” jawab Seruni terdengar ramah. “Aku antar, ya. Kebetulan aku ada urusan ke luar,” tawar Bagas. Seruni menggeleng. “Makasih tawarannya, tapi ga usah, Mas. Saya bisa pulang sendiri.” Wanita berusia 25 tahun itu pun keluar dari ruangan Bagas bersama Intan yang mengantarnya sampai ke lobi hotel. Sementara itu, Bagas hanya memandang ke luar melalui dinding kaca di ruangannya. “Seruni, apa kamu tidak ingat aku?” gumamnya yang sejak awal bertemu sudah langsung mengenali Seruni. *** Seperti dugaannya, setelah mengatakan kalau rencana lamaran dan pernikahannya dengan Panca batal, bapak dan ibu Seruni menyalahkannya karena tidak menuruti nasihat mereka. Sekarang sudah terbukti kalau Panca bukanlah pria yang baik. Hal itu membuat Seruni semakin tak percaya pada pria, cinta, dan juga kesetiaan. Meskipun sedang patah hati, Seruni tetap beraktivitas seperti biasa. Dia tetap bekerja dan menjalankan tanggung jawabnya pada perusahaan, walau kinerjanya jadi tidak maksimal. Hal itu tak luput dari perhatian atasannya–Catra. Sebagai manajer pemasaran yang membawahi beberapa anak buah, tentu saja Catra selalu mengawasi kinerja semua bawahannya. “Seruni, kamu sedang ada masalah?” tanya Catra saat mereka sedang mendapat giliran menjaga stan perusahaan di pameran properti yang diadakan di salah satu mal di Jogja. Seruni yang sedang menunduk sambil membuka-buka gawainya, sontak mendongak dan memandang atasannya itu. “Kenapa Bapak tanya seperti itu?” Bukannya menjawab, dia malah balik bertanya. “Karena kamu tidak seceria biasanya. Kinerjamu belakangan ini juga kurang bagus. Kalau ada kendala di lapangan bilang saja. Atau, mungkin kamu lagi punya masalah pribadi, kamu bisa cerita aja sama aku. Ya, siapa tahu aku bisa bantu meringankan masalahmu. Kita ini ujung tombak perusahaan, kalau tidak ada penjualan, bagaimana perusahaan bisa berjalan dengan baik,” jawab Catra. “Maaf, Pak. Saya akan berusaha lebih baik lagi untuk mencari dan menggaet konsumen,” timpal Seruni. Catra mengangguk. “Aku yakin kamu bisa melakukannya saat kamu baik-baik saja. Selama ini di antara semua tim marketing, kamu yang selalu melebihi target. Tapi aku tahu kamu sekarang sedang tidak baik-baik saja.” “Ceritakan saja apa masalahmu! Anggap aku ini temanmu, bukan atasanmu. Aku tidak mau melihatmu seperti ini, Seruni.” Catra memegang tangan Seruni. Merasa tak nyaman, Seruni menarik tangan yang dipegang manajernya itu. “Terima kasih atas perhatiannya, Pak,” ucapnya dengan canggung. Pembicaraan keduanya tertunda karena stan mereka didatangi oleh beberapa orang yang tertarik dengan properti yang perusahaan mereka tawarkan. Seruni dan Catra berdiri menyambut para pengunjung stan dan memberikan brosur sesuai dengan properti yang mereka cari. Seruni dan Catra dengan cekatan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh para pengunjung tersebut. Mereka hampir tak sempat bicara lagi karena pengunjung pameran terus saja datang ke stan perusahaan. Keduanya baru bisa beristirahat setelah para pengunjung pulang karena jam operasional mal berakhir. Seruni dan Catra tampak merapikan brosur-brosur dan menutup stan mereka sebelum pulang. “Seruni, kamu naik apa ke sini?” tanya Catra setelah mereka selesai beres-beres. “Saya naik ojol, Pak,” jawab Seruni. “Ini sudah lebih dari jam sepuluh malam, sebaiknya aku antar kamu pulang,” ucap Catra setelah melihat jam di pergelangan tangan kanannya. “Tidak usah, Pak. Saya sudah biasa pulang jam segini kalau sedang pameran,” tolak Seruni. “Seruni, sebagai atasan, aku melarangmu pulang sendiri. Aku harus memastikan keselamatanmu karena malam ini kita bekerja bersama. Pokoknya, aku tidak terima penolakanmu.” Catra lantas menarik tangan Seruni dan mengajaknya pergi ke tempat parkir. Seruni akhirnya pasrah mengikuti manajernya. Menolak pun percuma karena Catra bersikeras mengantarnya pulang. Kalau dipikir sebenarnya itu menguntungkan dirinya karena Seruni bisa beristirahat di mobil sang manajer dan melepas high heels yang setengah hari ini cukup menyiksa. Terlalu sering berdiri dengan sepatu hak tinggi membuat kakinya terasa sangat pegal. Dia memang dituntut menggunakan high heels dan berpenampilan menarik bila sedang pameran. “Seruni, kita mampir makan dulu, ya. Aku lapar banget. Kamu juga pasti lapar, ‘kan?” Catra menghentikan mobilnya di depan sebuah warung pecel lele yang tak jauh dari mal. “Saya pulang naik ojol saja, Pak. Silakan kalau Pak Catra mau makan dulu. Lagian juga saya nggak enak sama tetangga kalau kemalaman sampai rumah,” lontar Seruni. Catra menghela napas panjang. “Seruni, kamu ‘kan belum makan dari tadi. Aku tidak mau kamu jatuh sakit karena tidak makan. Bekerja keras boleh, tapi jangan sampai menyakiti diri sendiri. Aku nanti yang bilang sama orang tuamu kalau kamu takut dimarahi mereka karena pulang telat,” tegasnya tanpa mau dibantah. Seruni akhirnya mengikuti Catra keluar dari mobil. Mereka duduk bersisian di dalam warung pecel lele yang malam itu cukup ramai. Setelah menulis makanan dan minuman yang mereka pesan, Catra menyerahkan nota pesanan pada salah satu karyawan pecel lele yang langsung pergi setelah menerimanya. “Nah, sekarang kamu bisa ceritakan masalahmu! Santai saja, anggap aku ini temanmu,” pinta Catra sambil menyentuh tangan Seruni yang ada di atas meja. “Tapi, Pak … saya ga punya masalah apa-apa, Pak,” sangkal Seruni seraya menarik tangan yang disentuh oleh Catra. Dia merasa tak nyaman dengan sentuhan tersebut. Namun, pria berkacamata itu menahan tangan Seruni, tak mau melepaskan. “Jangan bohong, Seruni! Aku tahu kamu sedang ada masalah,” tukas Catra. “Apa kamu baru saja putus dari tunangan kamu?” tebaknya. Seruni sontak menatap heran wajah Catra. Dia memandang atasannya itu dengan penuh pertanyaan. “Benar ‘kan tebakanku kalau kamu baru saja putus?” ucap Catra dengan penuh percaya diri. “Bagaimana Pak Catra bisa tahu?” Seruni akhirnya bicara. Catra tertawa kecil. “Masalah wanita single seperti kamu ini kemungkinan besar ya soal pacar, jarang soal keluarga. Beda kalau sudah menikah, lebih kompleks masalahnya.” Catra tersenyum. Menatap lebih intens wajah Seruni. “Jangan hanya karena seorang pria, kamu jadi patah semangat. Masih banyak pria lain di dunia ini.” “Tapi semua pria yang dekat sama saya ga ada satu pun yang setia, Pak. Semua pacar-pacar saya selingkuh. Saya selalu dikhianati. Paling parah mantan tunangan saya, Pak. Minggu kemarin ngamar sama selingkuhannya di hotel, padahal bulan depan rencananya dia mau melamar saya, terus tiga bulan setelahnya kami akan menikah. Tapi ternyata, semua hanya tinggal angan-angan aja.” Wajah Seruni tampak begitu sendu. Tertunduk lesu. Menyembunyikan luka hatinya. Tanpa Seruni sadari Catra merangkul bahunya. “Sabar, ya. Berarti dia bukan jodoh kamu. Jangan lagi membuang waktumu untuk pria b******k seperti dia. Kamu harus membuktikan kalau kamu lebih bahagia tanpa dia. Buat dia menyesal karena sudah meninggalkan kamu,” ucap pria berkacamata itu. “Aku siap membantu kalau kamu mau balas dendam,” tambah Catra dengan yakin. Seruni kembali memandang atasannya itu. “Balas dendam?” Catra mengangguk. “Iya, balas dendam. Tunjukkan kalau kamu bisa dapat pria yang lebih baik dari dia dan hidupmu lebih bahagia tanpa pria b******k itu.” “Bagaimana caranya, Pak?” Seruni mulai tertarik dengan apa yang dikatakan oleh atasannya itu. Selama ini, dia tidak pernah berpikir untuk balas dendam pada mantan-mantan pacarnya. Mungkin saja dengan balas dendam, sakit hatinya bisa hilang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD