Bab 4. Curhat

972 Words
“Nanti kita bicara lagi. Sekarang makan dulu.” Catra menyodorkan ayam bakar, nasi uduk, sambal bawang, dan lalap pada Seruni saat pesanan mereka diantarkan ke meja. Atasan dan bawahan itu kemudian makan dengan lahap tanpa banyak bicara selain Catra menanyakan apakah Seruni suka dengan makanannya. Mereka sama-sama lapar karena terakhir makan saat istirahat siang sebelum pergi ke mal untuk menjaga stan. Apalagi setelah Magrib banyak pengunjung yang datang ke stan dan keduanya harus melayani dan menjawab pertanyaan para pengunjung dengan baik. Selesai makan, Catra membayar makanan dan minuman yang mereka pesan. Setelah itu keduanya langsung pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Catra pun melajukan kendaraannya menuju rumah orang tua Seruni. “Pak, apa kita bisa bicara lagi soal balas dendam pada mantan tunangan saya?” Seruni memberanikan diri membuka pembicaraan lagi sesudah beberapa saat yang lalu dia memberi tahu alamat rumah orang tuanya pada Catra. Pria berkacamata itu menoleh sekilas lalu tersenyum. “Bisa, tapi mungkin tidak akan selesai malam ini.” “Tidak apa-apa, Pak. Yang penting saya tahu gambarannya biar saya bisa tidur nyenyak malam ini dan tidak penasaran,” sahut Seruni sambil memandang manajernya yang sedang mengemudi. “Sebelum aku menentukan cara balas dendammu, boleh ‘kan aku tanya-tanya soal mantan tunanganmu itu?” tanya Catra. Seruni mengernyit. “Buat apa, Pak?” tanyanya penuh rasa penasaran. “Biar aku bisa merancang strategi yang tepat untuk balas dendam,” jawab Catra. “Oh, begitu. Sebenarnya saya sudah malas mengingat mantan tunangan saya itu, tapi kalau Pak Catra ingin tahu silakan tanya, Pak,” timpal Seruni. “Mantan tunanganmu kerja di mana dan apa posisinya?” Catra mulai bertanya. “Kerja kantoran, Pak. Staf biasa,” jawab Seruni. “Gajinya lebih besar dia atau kamu?” tanya Catra lagi. “Kalau sama bonus ya jauh lebih besar saya, Pak. Kadang kalau sedang jalan berdua, saya yang keluar uang dan membelikan dia barang,” jawab Seruni. Catra berdecak mendengar jawaban bawahannya itu. “Jangan-jangan dia jarang keluar uang kalau kalian jalan?” tebaknya. Seruni menganggut. “Iya, Pak. Mungkin bisa dihitung dengan jari dia mengeluarkan uang.” “Terus kamu selalu diam saja diperlakukan seperti itu?” Catra kesal sendiri mendengar jawaban dari bawahannya tersebut. Seruni kembali menyengguk. “Saya maklum karena gajinya dipotong untuk bayar cicilan motor, Pak. Selain itu katanya dia juga harus memberi uang pada orang tuanya.” “Dan kamu percaya begitu saja?” Lagi-lagi Catra berdecak. “Namanya orang pacaran ya saling percaya, Pak. Saya juga terlalu cinta makanya saya percaya saja sama dia. Saya tidak pernah meragukan dia apalagi kami sudah bertunangan,” sahut Seruni. “Apa kamu ga pernah berpikir dia hanya memanfaatkanmu?” Catra kembali bertanya. “Sama sekali tidak pernah, Pak. Tapi setelah Pak Catra bicara seperti itu, saya jadi berpikir kalau saya dimanfaatkan sama mantan tunangan saya,” timpal Seruni. “Apa dia coba menjelaskan siapa wanita yang tidur dengannya di hotel waktu kamu memergokinya? Atau coba menghubungimu lagi setelah itu?” cecar Catra. Seruni menggeleng berulang kali. “Dia hanya diam, tidak menjelaskan apa pun. Dia juga tidak pernah menghubungi padahal saya tidak memblokir nomornya. Keluarganya pun sama sekali tidak datang untuk menegaskan putusnya pertunangan kami.” “Mantan tunanganmu itu cowok mokondo. Untung saja ketahuannya sebelum nikah, coba kalau sudah nikah, kamu bakal diporotin sama dia habis-habisan. Aku yakin dia juga tidak punya tabungan, tapi gayanya sok kaya,” tukas Catra. “Sekarang Pak Catra sudah tahu bagaimana mantan tunangan saya. Terus bagaimana cara saya balas dendamnya, Pak?” tanya Seruni kemudian. “Aku pikirkan dulu, besok aku kasih jawabannya,” jawab Catra. “Kamu besok ada jadwal jaga stan atau tidak?” Pria itu menoleh ke samping kirinya. Seruni menggeleng. “Tidak, Pak. Besok saya di kantor. Lusa saya ada jadwal jaga pagi.” “Kalau begitu besok kita ngobrol saat makan siang,” putus Catra. “Jadi besok saya harus makan siang dengan Pak Catra?” tanya Seruni. Catra mengangguk. “Iya. Kenapa? Kamu tidak mau?” Seruni menggeleng. “Bukannya saya tidak mau, Pak. Tapi saya tidak enak dengan teman-teman yang lain. Masa cuma saya yang makan siang dengan Pak Catra,” ungkapnya. Pria berkacamata itu tersenyum. “Kamu tenang saja. Besok aku cari alasan biar kita bisa keluar bersama.” “Apa tidak akan jadi masalah, Pak?” Seruni merasa ragu dengan apa yang akan atasannya itu lakukan. Catra menggeleng. “Kenapa harus jadi masalah? Tinggal bilang saja mau follow up konsumen yang hari ini datang. Janji ketemu besok siang di rumah atau kantornya. Selesai ‘kan masalahnya,” ucapnya dengan enteng. “Wah Pak Catra hebat, langsung bisa menemukan alasan yang tepat.” Seruni mengacungkan dua jempol pada atasannya. Merasa kagum pada pria berkacamata itu. Catra pun tertawa kecil mendapat pujian dari bawahannya itu. “Terima kasih atas tumpangannya, Pak,” ucap Seruni kala mobil Catra sudah tiba di depan rumah orang tuanya. “Sama-sama,” sahut Catra sambil melepas sabuk pengamannya. Melihat apa yang dilakukan oleh sang atasan, Seruni lantas bertanya, “Pak Catra, mau ikut saya turun?” Catra mengangguk. “Iya. Aku janji ‘kan tadi mau menjelaskan sama orang tuamu kalau kamu beneran baru pulang kerja, bukan main sama teman,” sahutnya. “Tidak usah, Pak. Saya tadi sudah pamit kok mau pulang malam karena dapat jadwal jaga stan,” tolak Seruni. “Tidak apa-apa, Seruni. Sebagai atasan, aku harus memastikan orang tuamu tidak marah karena kamu pulang telat. Harusnya ‘kan sejak tadi kamu sampai rumah, tapi karena aku ajak makan, kamu jadi terlambat.” Catra tetap kekeh pada pendiriannya. Mau tak mau Seruni pun mengizinkan atasannya ikut turun dan bertemu orang tuanya. Wanita yang mengenakan blus kerja warna biru muda dan rok span selutut itu membuka pintu pagar. Dia mengetuk pintu rumah yang sudah tampak sunyi dan gelap karena lampu di ruang tamu sudah dipadamkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD