Chapter 13

2108 Words
Hari ini tim AIP baru saja selesai rapat koordinasi dengan divisi Q n A. Mereka rapat dari pukul 8.45 tadi membahas tentang pembentukan unit riset AIP yang mana unit ini core kegiatannya akan banyak bersinergi dengan core riset dari divisi Q n A. Dalam rapat koordinasi yang telah dilakukan sebanyak tiga kali dalam kurun waktu dua minggu ini yang mana progress nya akan masuk dalam materi feasibility study yang disiapkan Arimbi, di dapat temporary finishing agreement antar divisi Q n A dan divisi AIP yang nanti akan di finalized setelah rapat dengan CEO minggu depan. Setelah makan siang nanti tim AIP akan lanjut untuk rapat proposal budget planning yang juga akan masuk dalam materi feasibility study Arimbi. Tepat pukul 11.15 staff dari dua divisi tersebut keluar meninggalkan ruang meeting umum yang berada di lantai 6, lantai 6 ini merupakan hub floor untuk semua gedung blok A karena semua empat tower blok A terkoneksi di lantai 6 ini dan lantai ini di khususkan sebagiannya untuk beberapa ruang meeting dan fuction room. Divisi AIP di rapat ini di dampingi langsung oleh bu Diah selaku direktur divisi beserta 6 orang staff, dari divisi Q n A di hadari oleh 5 orang staff yang dipimpin asisten manager. Mereka berpisah di depan pintu ruang meeting karena divisi mereka berbeda tower jadi mereka ambil lift yang berbeda. Ketika rombongan AIP berbelok dari arah koridor hall menuju lift, mereka bertemu dengan pak Teddy, pak Daniel, pak Anwar staff pak Daniel, bu Sinta staff direksi dan Andre temannya Ken, mereka sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu sambil berjalan menuju lift. "Eh...ada orang AIP, mau kemana ini?" tanya pak Anwar yang otomatis membuat perhatian yang lain beralih ke arah pak Anwar memutar posisi berdirinya. "Mau balik keruangan pak!" jawab pak Budi. "Eh..ada budir juga...abis meeting dengan siapa bu? hampir full tim yang ikut kelihatannya?" tanya pak Daniel. "Iya pak..kami rapat finalisasi planning dengan divisi Q n A untuk persiapan rapat AIP dengan direksi minggu depan." jawab bu Diah " Oh...yang untuk expansi itu ya?...iya..iya...saya jadi di ingatkan jadinya." ucap pak Teddy menimpali. " Gimana?...lancar?" tanya pak Teddy lagi " Lancar pak, nanti kita kirim briefnya minggu depan sebelum meeting." ucap bu Diah menjawab pak Teddy Pak Teddy menggangguk kan kepalanya sambil kemudian mengedarkan pandangannya ke semua tim AIP yang berdiri berjejer disamping bu Diah, ketika dia melihat Arimbi tiba-tiba beliau ingat sesuatu, sambil menunjuk ke arah Arimbi beliau berkata "Nah...ini!...e...e..siapa namanya?..lupa terus saya!" ucap pak Teddy sambil tersenyum melihat ke semua orang sambil beliau geleng-geleng kepala seperti menertawakan dirinya sendiri yang sulit mengingat orang, sementara bu Diah dan pak Daniel malah tertawa lepas mengingat interaksi pak Teddy kemarin-kemarin tentang Arimbi tetapi pas ketemu orangnya beliau namanya aja gak ingat..lucu memang bapak satu ini. Pak Teddy yang tahu dirinya di ketawain duo staff seniornya itu berkata... "Jangan gitu dong...mentang-mentang memori jangka pendek saya gak bagus...mentang-mentang saya sudah berumur...kalian seneng banget ngelihat saya kesulitan begini ya.." ujar pak Teddy sambil bercanda seperti orang ngedumel. Sontak saja omongan pak Teddy justru membuat semua orang disana tertawa semakin kecang tanpa terkecuali Arimbi yang susah payah menahan tawanya agar tidak kebablasan. Setelah tawa semua orang reda, pak Teddy kembali melihat ke arah Arimbi menunggu jawaban darinya. Sementara Andre yang berdiri di samping pak Teddy sedari tadi tak lepas menatap Arimbi, apalagi ketika pak Teddy langsung yang bertanya pada Arimbi, moment ini sangat ditunggu Andre, kapan lagi bisa mengorek informasi gratis no effort seperti sekarang. "Ari pak!" jawab Arimbi sambil sedikit membungkuk " Oiya...Ari...kita perlu duduk bareng untuk membicarakan rencana yang pernah saya sampaikan dulu, kalau bisa secepatnya." ujar pak Teddy sambil menatap Arimbi dan bu Diah. "Kita juga berencana untuk membahas itu pak, rencananya setelah minggu depan karena kita masih sibuk dengan persiapan rapat AIP dengan direksi hari Kamis depan pak" bu Diah menjawab ucapan pak Teddy tadi. "Baik, saya perlu elaborate konsepnya dulu ke Ari supaya dia dapat gambaran tentang planning yang saya inginkan untuk pengembangan unit bisnis kita bu Diah, jadi meeting kita nanti cukup dengan beberapa pihak yang akan terlibat langsung di awal pengembangan bisnis itu nanti. Kira-kira bu Diah bisa bantu untuk koordinasinya pertemuan kita nanti?" ucap pak Teddy "Baik pak, berarti nanti kita rapat terbatas dulu ya pak!?" sambung bu Diah "Iya betul bu, nanti setelah meeting awal itu baru kita duduk dengan CEO untuk perencanaan eksekusinya, gitu ya Ari!" sambung pak Teddy sambil menatap Ari. Andre yang sedari tadi mengikuti perbincangan tersebut semakin tertarik untuk mengenal Arimbi lebih dekat. "Hmm...namanya Ari, kenapa waktu itu dia pakai nama Wiwi ya? dan sepertinya om Teddy punya atensi khusus kepadanya dan begitu juga staff lainnya, kira-kira siapa sih dia ini?" Andre berkata dalam hati. "Kami duluan ya semua!" ucap bu Diah, pak Bayu ketika lift berhenti di lantai divisi AIP. *** Mereka baru saja turun dari mobil pak Drajat, untuk masuk ke warung makan saung kebun yang di jam makan siang ini cukup ramai pengunjung. Setelah meeting tadi, bu Lilis tiba-tiba ingin makan pepes pindang gurame di tempat istri mas Daden dan mereka akhirnya berangkat ramai-ramai memakai mobil pak Drajat. Ini adalah hal yang biasa dikalangan staff, jika ingin makan sesuatu yang berbeda maka mereka akan makan ke beberapa tempat makan yang ada di sekitar kantor atau ke arah kota kabupaten yang berjarak sekitar lima kilometer saja seperti yang dilakukan oleh Arimbi dan rekannya. Saung Kebun, itulah nama tempat makan ini. Tempat ini cukup terkenal di antara para pekerja dan staff perkebunan, itu karena saung ini adalah milik Wida istri Daden yang merupakan staff di perkebunan. Siang ini yang makan ramai, ada satu meja yang juga di duduki oleh staff kebun, beberapa meja lainnya di isi oleh rombongan orang kantor bupati, rombongan bank BPR, ada rombongan guru dan perorangan yang membuat semua meja di ruangan yang bisa menampung sekitar 50 orang itu sudah penuh semua. Karena semua meja penuh, mas Daden langsung arahkan rombongan mereka untuk duduk makan ke rumahnya yang ada di belakang tempat makan tersebut, mereka makan di teras samping rumah mas Daden itu. Mereka duduk setelah masing-masing mengambil makanan mereka di saung yang di susun ala display buffet. Mereka makan sambil ngobrol terutama Arimbi yang baru pertama berkunjung ke saung ini. "Wahh!..saya gak ngira kalau warung makan istri mas Daden ramai dan ngetop ya, mana pilihan menunya sepertinya enak-enak semua." ujar Arimbi takjub. "Walau saya baru ini berkunjung, tetapi saya punya menu favorit disini, yaitu pepes tahu pare teri medan!" tambah Arimbi lagi. "Kok bisa, gak pernah kesini tapi punya favorit menu disini?" tanya pak Drajat. "Mas Daden yang bawain pak." jawab Arimbi "Oalah...gitu toh!" ucap pak Drajat sambil tertawa. Tak lama setelah mereka duduk untuk bersantap, dari arah pintu belakang saung terlihat seorang wanita muda berhijab berjalan ke arah meja tempat mereka makan sambil membawa nampan yang berisi sepiring puding tape ketan hijau. Sambil tersenyum wanita tersebut menyapa rombongan yang sedang lahap menyantap makan siang mereka. "Maaf ya, bapak ibu, terpaksa duduk disini." ucap wanita tersebut sambil meletakkan piring puding di atas meja tempat mereka makan. "Gak apa-apa mba, yang penting kita bisa makan siang dengan menu favorit disini." jawab bu Lilis sambil tersenyum kepada wanita tersebut yang adalah Wida istri dari mas Daden. "Hi...mba! saya salah satu penggemar pepes nya mba lho..." Arimbi tiba-tiba sudah berdiri disamping Wida sambil mengulurkan tangannya ke arah Wida. Wida mengalihkan pandangannya ke arah Arimbi, ia sedikit terpaku ketika menatap wanita muda yang sedang mengulurkan tangan kepadanya, ia terlihat sedikit ragu karena merasa belum pernah melihat wanita ini sebelumnya makan di tempatnya "Bund..! bunda ingat pelanggan baru bunda yang rajin nitip pepes tahu pare teri medan? nah..inilah orangnya, si mba Ari yang dalam seminggu bisa order 4 kali." mas Daden mengurai keraguan di wajah istrinya. "MashaAllah!..ini toh yang namanya mba Ari." seru mba Wida sambil menjabat uluran tangan dan merangkul Arimbi. "Pantesan saya gak ngenalin tadi, karena kita belum pernah ketemu, mas Daden cuma cerita aja tapi belum pernah ngajak mba Ari kesini ya?" mba Wida berkata "Iya mba, sayanya yang belum ada waktu, untung hari ini bu Lilis ngajak makan disini jadinya saya bisa ketemu sama mba Wida yang terkenal di kalangan orang kebun." Arimbi menjelaskan. "Biasa aja mba Ari, saya mah kebetulan suka memasak jadinya suka bantuin orang yang butuh catering." ujar mba Wida "Menu lain yang juga ngetop disini itu ada pepes pindang gurame seperti yang di makan bu Lilis itu, ada pilihan sambel juga yang maknyoss." pak Bayu menginfokan beberapa menu lainnya. "Wah..kalau gitu saya mau coba juga..ah!" Arimbi berkata. "Ayok mba, saya tunjukin favorit menu disini biar mba Ari besok-besok punya alternatif menu untuk makan." ajak mba Wida sambil menggandeng tangan Arimbi balik ke arah saung. Wida yang sudah di ceritakan oleh mas Daden suaminya tentang Arimbi, tahu bahwa Arimbi tidak punya banyak opsi untuk memasak karena akomodasinya yang terbatas untuk itu, sehingga membeli adalah pilihan utama Arimbi untuk kebutuhan makan di luar jam kantor. Beberapa saat kemudian Arimbi balik ke teras samping dimana rekannya duduk, ia meneteng satu goodiebag spunbond warna coklat yang terlihat terisi hampir setengahnya. Ia tersenyum cerah ketika menghampiri rekan-rekannya yang sudah selesai makan dan saat ini sedang menikmati puding tape ketan hijau. "Wah...kelihatannya ada yang memborong ini." celutuk pak Drajat. "Beli apa aja mba Ari?" tanya bu Lilis "Pepes yang tadi ibu makan, empal daging, sambel cumi cabe ijo, tahu isi, balado terong dan sambel bawang. Bisa buat stok dua atau tiga hari, nanti di simpan di lemari es lalu di panaskan dulu sebelum makan." urai Ari panjang lebar. "Waduh-waduh, mba Ari bisa kalap juga ya." ujar pak Bayu sambil tertawa, sementara mas Daden hanya geleng kepala sambil tersenyum mendengar uraian Arimbi. "Sejujurnya, saya tuh hobby makan pak, jadi kalau urusan makanan saya gak nolak untuk jadi kalap." ujar Arimbi dengan polosnya. Spontan ucapan Arimbi tadi membuat rekan-rekannya tertawa tak percaya, secara dari posture nya, orang pasti berfikir Arimbi termasuk type wanita yang menjaga dan memperhatikan dietnya untuk menjaga tubuhnya agar tetap proporsional. Sementara mas Daden yang lebih sering bareng dengan Arimbi terlihat mengangguk-angguk setuju dengan ucapan Arimbi tersebut karena dia melihat sendiri hobby makan yang di ucapkan Arimbi tadi. Setelah mereka selesai menikmati puding yang di hidangkan oleh mba Wida untuk rekan kerja suaminya, mereka semua kembali ke saung untuk pamit balik ke kantor tentunya setelah terlebih dahulu membayar menu yang mereka makan karena tadi ketika mereka datang saung sangat ramai, sehingga mba Wida menyuruh mereka makan dulu saja ketimbang ikut antri di kasir. Malamnya... "Ayah, mba Ari itu cantik ya yah." ucap Wida kepada suaminya Daden ketika mereka sudah merebahkan badan di ranjang untuk beristirahat setelah beraktifitas seharian. "Kok ayah gak cerita kemarin-kemarin kalau teman baru ayah itu cakepnya seperti artis yang sering muncul di tv." lanjut Wida lagi. "Buat apa bunda...gak ada manfaatnya juga di ceritakan." jawab Daden santai sambil merebahkan tubuhnya di kasur. "Emang ayah waktu pertama ketemu dulu gak kaget, terpesona gitu ama mba Arinya?" Wida dengan lugasnya menyampaikan pemikirannya. " He..he..bunda ini kepo apa cemburu nih, pertanyaannya dahsyat." pungkas Daden sambil tertawa ringan. Ia lalu meraih tubuh istrinya untuk dipeluk, kebiasaan mereka ketika tidur. Lalu sambil menatap langit-langit kamar ia mulai bercerita untuk menjawab segala tanya, curiga, ragu yang sekiranya mungkin terlintas di kepala istri tercintanya ini. "Pertama bertemu, jujur yang terlintas di kepala melihat sosok Ari adalah...cantik, dan semua orang yang ada di saat itu akan berfikiran sama, karena faktanya memang cantik, bunda aja yang baru bertemu tadi siang juga bilang cantik kan." ucap Daden. "Tapi, kemudian setelah Ari memperkenalkan dirinya kepada semua staff diruangan waktu itu, justru yang terfikirkan setelahnya adalah, dia orangnya gimana ya..? apakah dia baik..? apakah dia sombong..? dan apakah-apakah lainnya yang terlintas di kepala." lanjut Dade. "Lalu setelah bareng dalam tim yang sama dan mengenal lebih banyak tentang seorang Arimbi, ayah bisa bilang dia orang yang baik, sopan, pemalu, humble dan pandai menempatkan dirinya...hampir lebih mirip adekku Siwi bedanya adalah...Ari terlalu polos, lugu gitu bund.." urai Daden "Kadang ayah sampai gregetan dengan kepolosannya itu, banyak yang penasaran pengen kenal sama dia dan mencoba menarik perhatiannya dengan segala cara, tapi Ari nya gak ngeh sedikitpun, takutnya nanti dikira dia sombong." lanjut Daden lagi. "Wah...kasihan mba Arinya kalau gitu yah, coba ayah sesekali jelaskan ke mba Ari kalau ada yang deketin dia untuk kenalan coba di openin gitu, atau...apa mba Ari punya pacar kali yah, makanya cuek?" ucap Wida dengan pemikirannya. "Wah...gak tahu tuh bund, itu kan privacy, jadi ayah gak enak bertanya...sudahlah bund, nanti-nanti kita atau justru bunda akan lebih kenal dengan Ari, sekarang dia baru mau dua bulan disini jadi baru segitu yang kita tahu tentang seorang Arimbi. Sekarang yang terbaik adalah kita tidur ya bunda sayang...kalau ngobrol terus besok masaknya bisa kesiangan." ucap Daden sambil kembali memeluk istrinya dengan erat menjemput kantuk yang mulai bergelayut di mata. ********
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD