Sudah seminggu sejak Arimbi mengumpulkan data dari kantor bupati, saat ini telah memasuki minggu ketiga dari empat minggu persiapan untuk meeting dengan para director, CEO dan komisaris utama. Hari-harinya saat ini marathon mengolah data dan hasilnya kemudian menyiapkan document paper serta executive brief dan materi untuk presentasinya nanti. Ada beberapa step lagi yang harus dilakukan sebelum minggu ke empat berakhir, antara lain finalisasi proposal budget dan koordinasi dengan divisi Q n A sebelum nanti diakhiri dengan disseminasi report untuk internal divisi AIP. Bersyukurnya Arimbi karena untuk proposal budget ia dibantu oleh rekan kerjanya yaitu bu Lilis, pak Drajat dan pak Bayu sehingga ia gak semakin pusing jika harus mengerjakan hitungan budget juga di waktu yang padat dan singkat ini.
Hari ini Arimbi ikut makan siang di dining room yang terletak di lantai 2 gedung 4 blok a, di lantai ini diperuntukkan untuk dining room area. Gedung perkantoran terdiri 3 blok yaitu a, b dan c, blok a adalah gedung perkantoran utama yang terdiri dari empat tower yang terdiri dua tower berlantai delapan dan dua tower dibagian tengah berlantai duabelas. Ke empat tower ini terkoneksi satu sama lain di lantai enam dan di area lobby dimana terdapat 4 lift di sana. Sedangkan blok b terdiri dari 2 tower berlantai 4, gedung ini khusus untuk kegiatan pelatihan, workshop dan pertemuan besar karena memiliki room untuk kapasitas seribu orang. Untuk blok c adalah area gedung parkir yang terdiri 3 lantai serta gedung bagian umum dan keamanan yang terdiri dari 3 lantai.
Suasana di jam makan siang di dining room ini seperti food court di mall, jam makan dimulai pukul 11.30 sampai pukul 14.30, ruangan itu bisa menampung sekitar duaratus limapuluh orang sekaligus, interior dining room ini bervariasi mulai dari yang round table hingga yang semi private area yang di partisi dengan tumbuhan artifisial yang menggantung di ceiling, biasanya para direktur atau CEO yang suka duduk di area ini walau staff lain juga bisa duduk disana.
Arimbi makan siang hari ini bareng bu Lilis, mas Daden dan pak Bayu serta pak Drajat. Mereka masuk pas situasi sedang ramai, setiap yang makan siang harus membawa ID card mereka yg harus ditunjukkan kepada petugas ketika meminta piring makan, petugas akan ngescan ID staff yang bersangkutan baru di beri piring oleh petugas tersebut kemudian mulai ngantri untuk di isi piringnya oleh petugas dapur. Untuk tamu kantor bisa ikut makan siang dengan memperlihatkan visitor ID.
Arimbi jadi yang paling akhir antri diantara rombongannya tadi, setelah selesai ngantri ia sempat celingukan mencari rekan divisinya tadi mengingat ramai nya tempat itu, ketika ia hampir duduk di tempat yang lain, tiba-tiba ia mendengar suara bu Lilis memanggilnya dan ketika ia mencari asal suara tersebut terlihat bu Lilis sedang melambai kepadanya, banyak mata yang menatap ke arah Arimbi secara ia jarang makan di dining room ini dan siang ini adalah kunjungan kedua nya dimana yang pertamanya minggu yang lalu itupun sudah mau jelang tutup sesi jam makan siang sehingga sudah tidak seramai seperti sekarang.
Mereka duduk di meja persegi panjang yang bisa memuat sekitar dua belas orang, di meja itu sudah penuh hanya ada satu space yang di jagain bu Lilis untuk Arimbi. Arimbi meletakkan piringnya di meja sebelum menarik kursi untuk duduk, namun sebelumnya ia melihat ke semua orang yang telah duduk di meja tersebut sambil senyum dan mengganggukkan kepala dan ternyata sebagian yang duduk di meja tersebut terutama yang bukan rekan Arimbi sedang menatap kearahnya. Arimbi agak gugup dilihatin seperti itu, untung di depannya duduk Hendra teman seangkatannya yang langsung menyapa dirinya ketika melihat Arimbi yang baru akan duduk di meja tersebut.
" Wah...Ri, kemana aja, kok baru lihat kamu sekarang sejak selesai orientasi?" tanya Hendra.
"Iya nih" jawab Arimbi asal, karena ia masih gugup dilihatin yang lain.
" Iya, maaf ya, mba Ari lagi dipingit, jadinya jarang kelihatan disini." jawab bu Lilis sambil tersenyum melihat ke Hendra dan Arimbi.
"Oalah! ternyata bu Diah dan tim nya ngumpetin anak cakepnya ya...ha..ha.." celutuk seorang bapak yang duduk di sebelah Hendra sambil tertawa.
"Kenalkan saya pak Joko, bestienya Hendra." ujar bapak tersebut ke Arimbi sambil tersenyum lebar.
"Oiya pak, kenalkan juga, saya Arimbi, biasa di panggil Ari pak." ujar Arimbi ke pak Joko.
"Aku ada yang mau di diskusikan nih Ri tentang produk royalti, terutama untuk konten produknya, kira-kira kapan bisa duduk bareng?" tanya Hendra
"Buru-buru kah? Aku soalnya ada dateline sampai akhir minggu depan...gak bisa pegang yang lain dulu sebelum dateline ini kelar." jelas Arimbi ke Hendra.
"Oh..gak buru-buru kok, bisa nunggu kok Ri."
"Oke nanti aku kabari ya kalau aku sudah selesai minggu depan."
Mereka makan sambil ngobrol singkat, saling berbagi info tentang kesibukan divisi mereka masing-masing.
Tiba-tiba salah seorang rekan Hendra lainnya yang sudah selesai makan berkata...
"Eh..ada pak Ken tuh, tumben hari gini dia ada di sini, biasanya Jumat."
"Minggu lalu juga gitu, Senin pagi dia ngantor disini sampai lewat jam makan siang." balas mas Daden.
"Mungkin lagi banyak konsolidasi dan urusan yang perlu di bahas dengan direksi kali." ujar pak Bayu.
Arimbi yang masih asik menikmati makan siangnya tidak begitu peduli dengan bahasan pembicaraan yang masih berlangsung terutama ketika nama pak Ken disebut, dan sikapnya ini membuat pak Joko yang sedari tadi memperhatikan Arimbi tersenyum samar, dia menilai Arimbi berbeda dengan gadis lainnya di kantor ini yang selalu heboh jika segala sesuatu tentang CEO muda itu disebut.
Sementara itu di area lain dining room duduk beberapa orang wanita yang juga sedang menikmati makan siang mereka.
"Dona, tadi pagi aku lihat pak Andre di lobby, dia ketemu siapa tadi?" tanya Sherin kepada Dona temannya.
"Ketemu pak Ken sebentar, lalu ke pak Teddy." jawab Dona.
"Mau ada urusan apa dia dengan perusahaan?" tanya Sherin lagi
"Aku gak tahu, gak ada bocoran." jawab Dona
"Eh..itu yang baru masuk itu, anak baru yang kemarin dulu orientasikan? dia kok jarang kelihatan makan disini? aku baru ini lihat dia disini." ucap seorang teman Dona dan Sherin.
Mereka yang di meja itu serempak melihat ke arah pintu masuk, terlihat Arimbi yang baru masuk bareng rekan divisinya.
"Baguslah kalau dia jarang makan disini, bisa tebar pesona terus itu cewek kalau sering kesini" ujar Sherin sinis.
"Emang dia suka tebar pesona? lo tau darimana? tanya teman Sherin lagi.
"Dia itu pernah coba dekatin pak Andre." ujar Sherin lagi
"Serius!" serempak rekannya yang lain berseru kaget.
"Lo tahu darimana Sher?" tanya Dona penasaran.
"Ya...gue tahulah!." jawab Sherin angkuh
"Tapi kok gue gak yakin deh dia tipe seperti itu, soalnya kalau dilihat dari gesturenya sepertinya dia tipe yang pemalu gitu..." papar rekan Sherin lagi
"Malu-malu meong iya kali." celutuk Dona.
"Eh...kalau dia demen pak Andre, gimana kalau ketemu pak Ken dia, apa dia bakal pepet juga? kan secara mereka itu golongan spesies langka kelompok club executive nya resort sana yang isinya modelan kayak pak Andre pak Ken semua." ujar salah seorang rekan mereka di meja itu.
"Belum aja kali.." jawab Dona.
"Pak Ken kan seringnya di hub sana, jadi momentnya untuk ngincar pak Ken gak leluasa juga, pak Andre aja yang baru akhir-akhir ini mulai lagi sliweran disini sudah di dekatin, jangan sampai aja pak Ken juga sering-sering ngantor disini." urai Sherin lagi
"Tapi kan anak baru itu sering di kebun bibit sana, dan bos-bos ganteng itu kan gak sliweran ke kebun bibit, jadi gak banyak juga akan ketemu tuh cewek.." sambung Dona.
"Dia mah mainannya ama orang-orang bau tanah, pupuk, dan pohon...jadi gak usah khawatir bakal nyelonong di resort sana apalagi masuk circlenya executive club." sahut Sherin lagi
"Tapi dia kulihat seringnya bareng sama pak Daden itu tuh...jangan sampai aja di embat tuh suami orang, kan banyak juga kisah teman jadi pelakor atau pebinor.." ucap seorang rekan Sherin sambil senyum sinis.
"Wah..betul juga tuh, ati-ati aja tuh si pak Daden, istrinya harus di ingatin tuh biar jaga suaminya lebih ketat lagi." sambung Sherin penuh semangat.
"Eehh...lihat, panjang umur tuh orang cakep!" ujar seorang rekan yang duduk bareng di meja tersebut.
Dari arah pintu masuk terlihat Andre, Kendratama, Randi dan pak Daniel dan seorang asisten manager dari bagian marketing berjalan beriringan sambil berbincang serius, mereka segera mengantri mengambil makanan kemudian berjalan ke arah area semi private yang biasa mereka tempati jika makan siang, walau area private tetapi tidak dibatasi pintu atau dinding, hanya partisi saja yang masih memungkinkan untuk orang luar melihat kedalam begitu juga sebaliknya.
"Kok bisa gitu..orang-orang ganteng itu barengan masuknya kesini, bikin betah aja duduk disini lihatin mereka makan." ujar seorang rekan Sherin yang masih menatap tidak berkedip ke rombongan yang sudah duduk di meja di area private tersebut.
"Ya bisalah..namanya juga para petinggi, ya kali ama lo masuknya baru agak aneh menurut gue!" Dona menjawab kesal
"He..he..he..gue kan kepikiran aja." jawab rekannya tersebut.
"Dasar lo!" balas Dona semakin kesal
"Mau balik atau lihatin bos-bos makan nih!?" tanya salah seorang rekan mereka lainnya.
" Eh, sebentar-sebentar! lihat pak Andre ngapaian tuh!" seru seorang rekan lainnya.
Sementara itu...
"Ayok, balik yuk!" bu Lilis mengajak rekannya untuk balik ke ruangan mereka
" Ayok bu!, tapi saya mau cuci tangan dulu sebentar disana ya bu." jawab Arimbi sambil menunjuk wastafel
"Oiya...kita tungguin!" jawab bu Lilis sambil berdiri dengan pelan dari kursinya diikuti oleh rekan yang lain sambil mereka masih berbincang satu sama lain dan mulai berjalan pelan kearah pintu keluar.
"Hai!" terdengar suara seseorang menyapa Arimbi dari arah samping
"Halo mba!" sapa pria yang sekarang sudah berdiri ikut mencuci tangan disebelah Arimbi
Arimbi yang melihat kearah pria yang berdiri disampingnya tersebut hanya menjawab "oh..iya..halo" sambil sedikit tersenyum mencoba ramah kepada pria yang tidak dikenalnya ini.
"Mba nya pasti gak ingat saya ya?" ujar pria tersebut sambil tersenyum ramah
"Iya..maaf saya gak ingat pernah ketemu dimana ya?" tanya Arimbi balik
" Disini mba...maksud saya di depan, di coffeshop." jawab pria ini
"Oh..mungkin kali ya, saya lupa mas, maaf ya."
"Gak apa-apa wajarlah, pasti mba nya banyak yang ngenalin makanya gak ingat semua." ujar pria tersebut
"Iya, maaf ya mas, saya duluan ya, teman saya nungguin di depan soalnya, mari mas." ujar Arimbi sambil tersenyum ramah dan segera berbalik menuju kearah pintu keluar dimana rekannya masih berdiri menunggunya sambil ngobrol.
Sementara si pria tadi kembali ketempat duduknya untuk melanjutkan makan siangnya yang mendadak ditinggalkan begitu saja ketika ia melihat Arimbi berjalan menuju arah wastafel, ia sedikit kesal karena belum bisa mengenal gadis yang dia incar walau sudah sempat berbincang.
Sementara Randi yang tadi melihat gerak-gerik Andre hanya senyum simpul mengetahui bahwa bidadari yang dimaksud Andre ternyata adalah staff baru yang minggu lalu ia lihat di lobby.
"Lihat, pak Andre nguber itu si cewek ganjeng!" ucap Dona
"Mentang-mentang dah kenal ya...pamer kesemua orang." ujar rekan Dona lainnya
"Yaahh, lihat aja sampai dimana dia bisa mepet pak Andre." ujar Dona lagi
"Udah yok, balik!" ucap Sherin sambil berdiri dari duduknya.
Mereka lalu berjalan bersama sambil tidak lupa menyapa para petinggi yang duduk di area private.
*******