Chapter 5

1839 Words
Setelah sambutan dari CEO dan paparan oleh Komisaris Utama, acara di lanjutkan dengan makan siang bersama. Ruang kelas sebelah telah dipersiapkan sebagai ruang makan yang diperkirakan dapat menampung lebih dari 50 orang. Kursi dan meja makan diatur sedemikian rupa, meja yang dipakai untuk makan berbentuk rectangle atau persegi panjang sehingga satu meja bisa di pakai oleh 4 sampai 6 orang, dan meja-meja ini disusun berjejer satu sama lain sehingga tidak ada space khusus yang membuat jarak antara bos-bos dan staff. Untuk menu makanan, terlihat beberapa orang yang memakai pakaian koki sudah bersiap di sepanjang meja yang berisi aneka makanan dan beberapa alat masak, sepertinya panitia melibatkan staff dari resort yang memiliki beberapa hotel disana, karena hanya unit usaha itu yang punya staff chef dan juru masak di dalam group usaha Will Agro Global Industries. Arimbi sangat excited dengan banyaknya menu yang disiapkan, dia berkeliling dulu melihat menu yang ada sebelum memilih mana yang akan diambilnya. Akhirnya dia berakhir dengan menu tuna asam manis plus sei sapi lada hitam dan corn sup tak lupa satu piring kecil buah potong. Setelah mendapatkan tempat duduk, dimana disana sudah ada Ratia dan Ardianto yang duduk, mereka bersiap untuk makan, tapi mendadak ada seseorang berdiri disamping meja mereka sambil berdeham. "....ehm..ehmm...saya boleh duduk disini?" orang tersebut berkata. Serentak mereka bertiga mendongak mengangkat kepala untuk melihat siapa yang bertanya. "Ssiillahkan pak.." jawab Ardianto sedikit gugup mewakili mereka bertiga. Pak Teddy yang juga memegang piring dan gelas berisi ice tea segera meletakkan piring dan ice teanya di meja sambil tersenyum lebar "Terimakasih, jangan sungkan-sungkan, untuk urusan makan jangan malu-malu...rugi, mumpung banyak pilihan...ayo pada nambah ya..." ujar si bapak Komisaris ini tak lepas dari senyumannya "Tentu pak...pasti kami nambah" celutuk Tia malu-malu. Tak lama datang pak Daniel yang juga membawa makanannya "Masih bisa...masih bisa?" tanya pak Danil sambil mengitung orang yang sudah duduk di meja tersebut "Masih..masih...dua tiga orang lagi masih bisa kok" jawab pak Teddy. Jadilah sekarang di meja mereka duduk 2 orang penting di perusahaan. Lalu tiba-tiba pak Teddy memanggil seseorang ketika dia mengedarkan pandangannya berkeliling untuk melihat keriuhan makan siang di ruangan tersebut. "Rieke...sini masih bisa ini" panggilnya ketika ia melihat bu Rieke yang sudah memegang piring masih celingukan mencari tempat duduk. Bu Rieke yang mendengar namanya dipanggil segera menoleh dan berjalan mendekat ke meja mereka "Alhamdulillah...makasih bapak...eh...ikutan ya adek-adek" ucap bu Rieke kepada mereka bertiga "Iya bu silahkan" ucap Arimbi kali ini mewakili temannya yang dua lagi. "Kenapa baru makan? ini kita sudah mau masuk ke pencuci mulut malah" tanya pak Daniel "Tadi saya cek persiapan untuk sesi siang dulu pak, makanya baru makan. Karena kalau saya makan dulu nanti kelamaan sementara saya kan ngemce pak...soalnya pasti makan sambil ngobrol gak bisa cepat...lamaaaa. Kalau bapak-bapak bisa skip sebentar sebelum acara mulai...lah saya kan timernya...kalau bablas bisa molor kelarnya" panjang lebar alasan bu Rieke "Good choice" kata pak Daniel "Staff siapa dulu" timpal pak Teddy "Staff pak Rahardi" celutuk bu Rieke, spontan dua bapak bos itu tertawa terbahak-bahak mengingat orang yang disebut bu Rieke tidak ada diantara mereka. Keseruan di meja mereka mengundang orang-orang di meja lain ikutan menoleh dan tersenyum melihat mereka terutama bagi staff baru yang merasa bahwa para petinggi di perusahaan ini tidak mau berjarak dengan staff yang ada dan itu membuat mereka semakin bersemangat untuk bekerja dengan tekun dan memberikan yang terbaik di perusahaan ini. Dalam moment acara bebas seperti ini, staff tidak canggung berada diantara para direksi begitu pula sebaliknya. Bu Rieke yang seorang asisten manager di divisi SDM dan PR termasuk satu dari sedikit orang "ngetop" di lingkungan kantor utama. Posisinya di divisi SDM dan PR membuat dia harus bisa berinteraksi dengan semua orang mulai dari bos sampai petani, dan beruntungnya tugasnya semakin mudah dan lancar karena bos-bos di kantor utama tidak otoriter, ngebossy atau jaim sehingga perempuan yang terlihat lebih senior usianya dibanding dengan pak Daden dari divisi AIP selalu happy ketika bekerja, vibes nya selalu positif sehingga banyak yang suka berteman dengannya. Arimbi tersenyum senang melihat interaksi staff-staff senior ini, dia bersyukur berada di perusahaan yang tepat. "Pak Teddy...tadi yang bapak mau bahas dengan bu Diah apaan pak?...spill ke kita dong pak...kita jadi kepo nih pak" tiba-tiba bu Rieke nyelutuk sambil menarik piring buah kehadapannya...cepat juga si ibu ini makan atau karena sudah buru-buru ya... Pak Teddy yang juga sedang menikmati puding buah di hadapannya menoleh ke arah bu Rieke "Oiya...benar..untung di ingatkan...bu Diah mana ya? kok saya gak lihat makan siang disini?" ujar pak Teddy. "Beliau balik ke ruangannya pak, karena tadi ada yang minta review proposal, tapi tadi saya sudah minta agar makan siang beliau diantar ke ruangannya...karena itu pasti bakal lama kalau review proposal" jawab bu Rieke ke pak Teddy. "Proposal apa itu yang gak bisa menunggu jam makan siang" komentar pak Daniel. "Sama pak...saya juga penasaran" ucap bu Rieke. Pak Teddy yang sudah menghabiskan puding buahnya lalu melihat ke arah Arimbi "ee..siapa tadi...na.."ujarnya "Arimbi pak...namanya Arimbi" justru bu Rieke yang menjawab sambil senyum jenaka mengingat betapa pak Bos besar ini gak "silau'" sama yang bening dan eye catching sehingga gak segera tinggal dalam memorinya nama atau ciri fisik seseorang yang ada di hadapannya walau orang itu bak miss universe atau artis Hollywood sekalipun, sifatnya itu juga yang membuat perusahaan ini aman dan jauh dari konflik atau intrik yang bisa mengganggu kinerja staff dan perusahaan. "ah..iya Arimbi" ulang pak Teddy "Maklum..orang tua...suka cepat lupa" ucap Pak Teddy sambil tertawa sumringah mengakui ketuaannya. "Saya pak" jawab Arimbi melihat takzim kearah Pak Teddy "Jadi gini...tadi di brief CV kamu waktu slidenya muncul di screen ada info mengenai riset kamu tentang Teh yang sudah dilakukan dengan peneliti dari luar, saya jadi ingat tentang Sommelier, makanya tadi saya tanya apakah kamu familiar dengan itu...ternyata kamu pemegang sertifikat Sommelier" jelas pak Teddy. "Saya terfikir untuk menawarkan kerjasama, profesional tentunya... untuk status kamu sebagai pemegang Sommelier, pastinya bukan di kantor utama ini...tapi di unit usaha lain Will Agro Global Industries" sambung pak Teddy dengan penjelasannya. Arimbi yang menyimak terkejut dengan penjelasan pak Teddy tersebut. "Wahh...emaknya bisa protes ke pak Teddy nanti" celutuk pak Daniel "Lalu Arimbi ini nanti divisinya bakal dimana pak?" kembali pak Daniel bertanya. "Jadi gini...saya jelaskan dulu ya...Posisi atau keberadaan Arimbi di Will Agro Global Industries ini adalah sebagai staff di divisi AIP, de facto de jure tak terbantahkan itu, dan pasti aim nya Arimbi ikut rekruitment di sini salah satunya karena keahlian formal nya yang di perolehnya sampai jauh ke Jerman sana..itu de facto de jure juga, bahwa ternyata Arimbi punya skill lain yang baru kita ketahui saat ini...yang kebetulan..tanpa Arimbi sadari bahkan kita semua sadari...skill itu juga bisa di implementasikan di sini di Will Agro Global Industries". jelas pak Teddy panjang lebar. Pak Daniel yang menyimak lalu berkata "Kalau dilihat dari jenis skill nya...itu sepertinya cocok di Agrowisata sana..." Pak Teddy tersenyum "Betul sekali pak Daniel, kira-kira ada ide kah barangkali untuk menjadikan ini sebagai satu dari sekian banyak objek marketing?" tanya pak Teddy ke pak Daniel. "Sangat mungkin untuk dijual....masalahnya adalah...kita belum dengar pendapat dari Arimbi pak.." ujar pak Daniel sambil tertawa melihat antusiasnya Pak Teddy dengan ide bisnis baru yang ingin digarapnya...sampai-sampai aktor utamanya belum ditanya. Semua mata 5 orang yang ada di meja itu tertuju kepada Arimbi, ingin melihat bagaimana reaksi Arimbi. Arimbi gelagapan ketika semua mata tertuju kepadanya seperti menunggu tanggapannya. "Ss..saya..sepertinya harus berkonsultasi dulu dengan bu Diah....Ijin pak Teddy, saya merasa mendapatkan kehormatan dengan pemikiran visioner bapak terhadap potensi ketrampilan yang mungkin bisa saya explore lebih jauh selama ada di Will Agro Global Industries ini. Saya pribadi pada prinsipnya tertarik untuk mencoba saran dari pak Teddy, namun balik lagi...saya mau berkonsultasi dulu dengan atasan saya langsung pak". jawab Arimbi sopan kepada pak Teddy. "Tentu...Arimbi, kamu harus berkonsultasi dulu dengan divisi kamu. Nanti saya juga akan bicara dengan bu Diah guna diskusi tentang ide tadi". jelas pak Teddy kepada Arimbi. "Nanti kita juga perlu membahas ini dengan pak Rahardi, mengingat hal ini sesuatu yang baru untuk kita, maka kita perlu untuk membuatkan regulasinya agar dimasa yang akan datang kita sudah ada aturan yang baku untuk penugasan khusus seperti yang akan kita buat untuk Arimbi ini. Karena skill tertentu yang juga bisa di aplikasikan di divisi atau unit berbeda di internal perusahaan akan mendorong efisiensi dan inovasi dalam operasional sehari-hari." jelas pak Teddy panjang lebar. Semua yang ada di meja itu menyimak penjelasan pak Teddy sehingga mereka paham apa ide yang terfikirkan oleh komisaris utama tersebut. Sementara itu di meja yang berbeda terlihat dua orang perempuan memperhatikan interaksi yang terjadi di meja tempat para petinggi perusahaan duduk. "Pak Teddy dan pak Daniel akrab banget sepertinya dengan anak-anak baru itu" komentar Dona sambil matanya tak lepas menatap ke meja yang berjarak beberapa meter dari meja mereka. Dona adalah salah seorang staff di unit secretariat dimana unit ini dibawah divisi SDM dan PR yang mengurusi agenda dan protokoler para dewan komisaris dan direksi. "Iya...aku juga lihatnya begitu, itu karena anak dari divisi AIP itu tuh...sok kecakepan dia" ujar Sherin yang duduk mojok dengan Dona teman dari divisi yang sama dengannya. "Emang cakep sih...kalau aku lihat mirip-mirip artis gitu...aahhh...itu loh...familiar banget...yang artis Hollywood gitu...aduh lupa namanya..." oceh Dona dengan penasaran mencoba mengingat-ingat artis yang dia maksud. Sherin semakin kesal dengan omongan temannya Dona, walau dirinya mengakui bahwa Arimbi yang dimaksud temannya itu memang punya tampilan yang diatas rata-rata, wajahnya yang cantik dan postur tubuh yang bak model majalah sangat mudah menarik perhatian banyak orang. "ahhh...aku ingat" tiba-tiba Dona berseru, membuat Sherin menatap temannya ini kaget. "Anak itu mirip sama Anne Hathaway yang main di film The Devil Wears Prada...iya betul..aku ingat sekarang" ucap Dona antusias dengan terjawabnya rasa penasarannya tadi. "Tapi sayang aja sih...cantik-cantik gitu kenapa kerjanya jadi petani ya?...panas-panas, main tanah, ngubek tanaman, bau matahari dan gaulnya ama petani-petani yang gak asik dan tua-tua...ihh...gak oke pokoknya" komentar Dona. "Well...mungkin otaknya cuma mampu sekolah itu karena mungkin keluarganya juga turunan petani jadi dari orok tahunya cuma bertani, untungnya aja dia dikasih tampang yang oke ama Tuhan buat meringankan hidupnya, karena gue yakin tampang oke nya itu yang dijadikan alat untuk memudahkan atau membuat lancar segala urusannya mulai dari sekolah sampai cari kerja" ujar Sherin dengan sinis. "Emang gitu ya?" tanya Dona dengan naifnya. Sherin menarik nafas dalam dengar pertanyaan temannya ini. "Itu analisa ku aja, secara biasanya yang cantik model begituan otaknya kurang optimal biasanya, tahunya memanfaatkan tampang nya doang buat mencapai segala tujuannya" jawab Sherin. "Berarti kita sama dong seperti dia, cantik tapi otaknya kurang...gitu ya" oceh Dona dengan santainya sambil nyengir. "ckk...ya gak lah, kalau kita beda, kita ini bukan dari kalangan susah seperti dia yang cuma bisa jadi petani, keluarga kita levelnya jauh diatas dia dan kita dibesarkan dengan segala kelebihan sehingga kemampuan kita juga jauh diatas dia" jelas Sherin kepada Dona. Pembicaraan dua perempuan ini fokus kepada status mereka yang mereka anggap lebih berkelas dan terpandang dibanding dengan orang lain seperti Arimbi yang mereka nilai mendapatkan semua kesempatan karena mengandalkan tampang tanpa menggunakan isi kepalanya yang mereka anggap tidak mampu sampai ke level yang optimal. Benar-benar sebuah arogansi berfikir yang absurd dan tidak berdasar...menyedihkan sekali duo yang sombong ini.. ************
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD