Chapter 6

2038 Words
Setelah makan siang bersama, acara kembali dilanjutkan dengan pak Teddy yang memimpin diskusi interaktif dengan peserta orientasi. Dalam kesempatan ini beliau juga mengulas tentang konsep lifelong learning, tujuannya agar semua staff punya mindset untuk terus meningkatkan atau refreshing pengetahuannya baik untuk kebutuhan personal maupun professional. Beliau memberi contoh bila staff punya keilmuan atau skill lain yang dirasa bisa di aplikasikan di perusahaan, maka perusahaan akan support dan memfasilitasi hal tersebut. Selain bisa memberikan kontribusi untuk perusahaan, staff yang bersangkutan juga akan mendapat value lebih dari keilmuan atau skill lain yang dimilikinya tersebut. Arimbi merasa paparan pak Teddy itu memperjelas ide yang sebelum makan siang tadi di utarakan pak Teddy kepadanya. Arimbi merasa bersyukur karena kebijakan perusahaan ini memberikan kesempatan lain baginya untuk mengimplementasikan keterampilannya sebagai seorang tea sommeliers bersertifikat. Skill ini diperolehnya ketika sekolah di Jerman, dimana salah seorang dosennya yang juga pemegang sertifikat coach Tea Master mengajak Arimbi untuk ambil kursus Sommeliers Tea Master agar dia punya pemahaman yang kompleks tentang Teh, mulai dari proses tanam, produksi hingga penyajiannya, dan ternyata di Will Agro Global Industries semua ilmu dan keterampilannya itu sepertinya akan bisa di praktekkan semua...Arimbi benar-benar bersyukur atas kesempatan baik ini. Setelah sesi materi dan Q n A selesai dilanjutkan dengan penutupan kegiatan orientasi. Acara penutupan diisi dengan laporan pelaksanaan orientasi oleh panitia dan penyerahan penghargaan bagi peserta yang mendapat penilaian terbaik dan ditutup dengan sesi foto bersama. Sekitar pukul 14.25 para petinggi perusahaan dan staff sudah bergerak masuk lift, tinggal panitia dan peserta yang masih akan memberikan beberapa brief yang dirasa perlu untuk staff baru. Arimbi di kesempatan ini bergegas menghampiri bu Sherin untuk menanyakan perihal akomodasi tempat tinggal untuk staff yang sudah di ajukannya. "Bu Sherin, maaf apakah saya bisa dapat informasi perihal pengajuan permohonan akomodasi tempat tinggal bu?" Arimbi menyampaikan keperluannya menemui staff PR tersebut. Sherin yang sedang merapikan map dokument di meja panitia menghentikan kegiatannya dan beralih menatap Arimbi dengan raut wajah annoying, lalu dengan melipat kedua tangan di d**a ia berkata "Jadi gini...saya sudah sampaikan bahwa first come first service, nah..kondisinya saat ini adalah, semua unit permanent boleh dibilang sudah full, betul ada 1 blok yang masih menyisakan 8 unit yang terdaftar void tetapi itu adalah unit yang temporary occupied oleh staf cabang yang sedang job training selama 3 bulan kedepan. Jadi untuk saat ini belum ada lagi unit yang ready untuk permanent staff, kamu harus tunggu 3 bulan lagi." demikian jawaban Sherin dengan gampangnya. "Dan mess yang sekarang kalian tempati masih bisa kamu gunakan untuk 1 minggu kedepan, jadi segeralah mencari akomodasi sebelum akhir minggu depan, karena 2 minggu lagi akan ada workshop untuk divisi marketing selama 1 minggu, pesertanya dari seluruh cabang, jadi mess itu akan digunakan semua untuk peserta workshop tersebut." jelas Sherin panjang lebar. Setelah itu ia segera pergi meninggalkan Arimbi yang terpaku mendengar jawaban Sherin tersebut. Arimbi menarik nafas panjang, tidak mengira kalau situasinya ternyata tidak seperti teman-temannya yang sudah lebih dulu mendapat approval akomodasi dengan mudah dan cepat. Tidak tahu harus bagaimana, Arimbi hanya terduduk diam di kursi meja panitia yang sudah kosong, mencoba berfikir untuk jalan keluar masalah akomodasinya, namun setelah hampir lima menit termenung tanpa dapat solusi, akhirnya Arimbi memutuskan untuk kembali ke ruangan acara bergabung dengan beberapa temannya yang masih tinggal. Setelah acara penutupan selesai Arimbi kembali ke ruangan divisi AIP untuk membereskan beberapa pekerjaan sebelum jam kantor bubar. Sesampai di ruangannya Arimbi bertemu dengan mas Daden yang sudah bersiap-siap hendak pulang. "Sudah selesai Ri?" tanya mas Daden "Sudah mas, sekitar setengah jam yang lalu. Mas Daden sudah mau pulang?" tanya Arimbi. "Iya, aku ijin agak cepat sama bu Devi karena mau ada keperluan di rumah." "Duluan ya, jangan lupa besok kita ketemu sama kelompok tani jam 9an ya" sambung mas Daden. "Oh..iya mas, siap" jawab Arimbi. Setelah Daden keluar ruangan tinggal Arimbi sendiri karena rekannya satu ruangan hari ini ada di kantor lapangan sehingga ruangan mereka di kantor pusat ini otomatis kosong. Arimbi duduk di kubikelnya dan menyalakan komputer di depannya dengan maksud untuk mengecek email dan menyiapkan dokumen untuk besok dibawa ke lapangan. Besok dia berencana untuk memberikan sesi tentang gulma yang sering tumbuh di antara tanaman teh dan hal penting apa yang bisa dilakukan para petani untuk memberantas gulma tersebut. Untuk itu besok dia perlu membawa contoh gambar gulma dan langkah-langkah memberantasnya. Materi utamanya sudah di print out tinggal gambar macam-macam gulma nya yang akan dia print sore ini sebelum pulang. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul empat lewat lima menit, Arimbi bergegas mematikan komputernya dan tidak lupa membawa map folder semua kebutuhan untuk ke lapangan besok. Sesampai di lantai 1 setelah keluar dari lift Arimbi melihat bus shuttle sudah bersiap di pintu samping lobby dan sebagian teman-temannya sudah memasuki bus bersiap untuk diantar balik ke mess karyawan. **** Keesokan paginya Arimbi sudah standby di lobby kantor pusat menunggu driver yang akan mengantar ke kantor lapangan divisi AIP atau laboratorium bibit. Mas Daden kemarin bilang kalau dia langsung dari rumahnya jadi gak ke kantor pusat dulu, otomatis hanya Arimbi yang akan diantar driver. Sesampai di laboratorium bibit Arimbi langsung menuju hall tempat mereka akan berkumpul dengan beberapa kelompok tani. Karena minggu ini kegiatan memetik putik teh sudah banyak yang selesai sejak 2 hari yang lalu, sehingga kelompok tani punya waktu untuk berkumpul, biasanya waktu senggang seperti saat ini di manfaatkan oleh staff kantor memberikan banyak materi tentang pengetahuan mengenai bibit serta cara perawatan tanaman. Tepat pada pukul 9 semua petani yang berasal dari 5 kelompok tani sudah berkumpul di hall yang berada di bagian belakang gedung laboratorium, karena jumlah yang hadir sekitar 75 orang sehingga memenuhi hampir sebagian hall ini, semua duduk lesehan di tikar yang telah disiapkan, karena kalau pake kursi ruangannya jadi lebih padat dan sesak, Arimbi justru lebih suka dengan pengaturan yang seperti ini, lebih akrab dan mendekatkan. Tim lapangan yang berkantor disini juga telah menyiapkan perangkat audio visual untuk keperluan para pemateri yang kebetulan hari ini adalah Arimbi dan mas Dade. Pada pukul 9.10 kegiatan dimulai dengan di buka oleh mas Daden dengan pertama-tama memperkenalkan Arimbi kepada seluruh peserta, mas Daden menyampaikan bahwa kedepannya hal-hal yang berhubungan dengan jenis tanaman, masa tanam, perawatan tanaman, standard system yang ada di kebun bibit ini akan sepenuhnya di bawah komando Arimbi, sehingga petani nanti akan di pandu dan di pimpin oleh Arimbi untuk semua aktifitas mereka sebagai petani di laboratorium bibit perusahaan Will Agro Global Industries. Setelah mas Daden selesai dengan sesinya, tepat jam 10 Arimbi memulai materinya, dengan menggunakan projector dan papan flipchart, Arimbi menyampaikan materi tentang pengendalian gulma dan hama pada tanaman teh. Diperlukan system pengendalian terhadap kebun, beberapa hal yang Arimbi rencanakan disampaikan kepada petani bibit. Bahwa untuk pengendalian gulma dan hama, Arimbi menekankan untuk mengurangi penggunaan pestisida. Hal ini untuk menjaga mutu teh yang di hasilkan serta menjaga pasar ekspor yang punya standard tinggi terhadap teh yang akan mereka beli. Sementara untuk hama, Arimbi merencanakan untuk melakukan program pengendalian hama terpadu terutama titik beratnya pada kegiatan monitoring kebun dan tanaman. Untuk itu dibutuhkan tenaga yang bisa melakukan kegiatan berkala memonitor area kebun dan tanaman. Sesi kelas lapangan ini berlanjut dengan tanya jawab serta diskusi dengan para petani. Tepat jam 12 kelas lapangan ini selesai dan peserta di bagikan makan siang yang sudah disiapkan tim lapangan. Mas Daden dan Arimbi serta tim lapangan makan di ruang meeting yang ada di kantor depan, karena staff di kantor Will Agro Global Industries mendapat jatah makan siang setiap hari sehingga staff lapangan gak bisa ikut mengambil jatah makan petani. Diruang meeting sudah tersedia 4 set rantang makan siang yang dibawakan staff logistic dari kantor pusat sesuai permintaan mas Daden, ini karena mereka masih akan ada sesi meeting koordinasi dengan perwakilan petani sehingga mereka akan stay di kantor laboratorium ini sampai kegiatan selesai sehingga mereka gak bolak balik. Ketika sudah duduk di meja makan bersiap membuka rantangnya, mas Daden mengeluarkan sebuah kotak Tupperware dari dalam tas nya. Sambil membuka plastik pembungkus kotak tersebut mas Daden berkata "Ini tadi istriku bawakan pepes tahu dan balado kentang" "Ayo di coba" "Wah..mba Wida lagi banyak pesenan ya mas?" tanya salah seorang tim lapangan yang ikut makan di ruang meeting ini. "Gak juga, tapi hari ini kebetulan ada pesanan untuk acara majelis taklim" jawab mas Daden. Arimbi mendengarkan Daden sambil melihat isi Tupperware yang sudah dibuka Daden di hadapan mereka, dia melihat ke arah Daden dan berkata "Istri mas Daden pintar masak ya? kelihatannya pepes tahu ini menggoda selera banget nih". "Istri mas Daden ini jago mba Ari, bukan pintar lagi" sahut seorang staff yang sudah duluan mengambil pepes tahu ke dalam tempat makannya. "Mba Wida itu buka warung makan, namanya kebun saung, warga sekitar dan staff banyak yang makan kesana" lanjut staff yang bernama bu Yayuk itu. "Wah...kedengarannya menarik tuh untuk dicoba" sahut Arimbi. "Ayo mas Daden, ajak mba Ari" sahut bu Yayuk. "Niatnya sudah ada, tapi belum kesampaian, kita sibuk dengan urusan yang berbeda-beda, jadinya belum bisa ada waktu luang" mas Daden menjawab ajakan bu Yayuk. "Semoga dalam waktu dekat ya, untuk sekarang nyicip pepes tahu dulu" sambung mas Daden sambil ketawa, diikuti dengan anggukan yang lain. Setelah makan siang, mereka kembali ke hall belakang, kali ini untuk melakukan koordinasi dengan para ketua kelompok tani dan wakilnya. Tujuannya adalah untuk membentuk kelompok yang akan melakukan program pengendalian hama terpadu terutama titik beratnya pada kegiatan monitoring kebun dan tanaman. Untuk itu dibutuhkan tenaga yang bisa melakukan kegiatan berkala memonitor area kebun dan tanaman teh. Selain staff lapangan, petani juga dilibatkan karena petani yang setiap hari berada di kebun, jadi di harapkan petani bisa mendeteksi atau menemukan sesegera mungkin gangguan atau kemunculan hama tanaman teh. Perwakilan petani ini nantinya akan di latih dan di beri perlengkapan kerja untuk deteksi hama tanaman teh, selain itu mereka juga akan mensosialisasikan kepada anggota kelompok mereka tentang update monitoring kebun. Setelah satu jam setengah, kegiatan siang ini selesai sudah. Arimbi dan mas Daden masih duduk di hall dengan beberapa petani yang masih belum beranjak pulang, mereka masih ngobrol tentang hal-hal seputar kebun dan info-info di sekitar wilayah perusahaan. Arimbi ikut mendengarkan obrolan bapak-bapak itu, hitung-hitung lebih mengenal wilayah dan masyarakat sekitar operasional perusahaan. Obrolannya mulai dari internal kebun sampai soal pedagang pasar, musim buah, lampu lalin dekat pasar yang kemarin mendadak mati bahkan soal taman kota dekat kantor bupati yang di pake untuk acara anak taman kanak-kanak. Arimbi tiba-tiba ingat untuk tanya tentang kontrakan, dia lalu bertanya ke mas Daden untuk minta bantuan mencari kontrakan. Mas Daden sempat kaget karena Arimbi gak dapat unit, Arimbi berjanji untuk menjelaskannya nanti, saat ini dia butuh info tentang kontrakan yang bisa ditinggali segera. Beberapa opsi kontrakan yang ada yang di infokan oleh 3 orang petani dan mas Daden semuanya berlokasi tidak di dekat kantor pusat, sehingga butuh tranportasi untuk ke kantor pusat, sedangkan tranportasi umum ke kantor pusat itu tidak banyak, dan lewatnya pun tidak setiap menit. Arimbi termenung menyadari tidak ada kontrakan yang available untuknya, tiba-tiba pak Rohim yang bareng dengan pak Wito nyelutuk... "...daerah kantor pusat itu memang gak di buka untuk umum barangkali bu, karena area sepanjang jalan di depan kantor itu gak banyak rumah atau warung, adanya hanya kebun warga dan tanahnya keluarga pak Wito ini.." pak Rohim berceloteh panjang. Arimbi tiba-tiba ingat tentang rumah pak Wito. "Kalau di rumah pak Wito kira-kira masih ada kamar gak pak?" tanya Arimbi. Semua yang duduk disana kaget mendengar pertanyaan Arimbi, mereka gak mengira kalau Arimbi mau tinggal dirumah warga yang notabene tidak akan sama dengan kontrakan. Pak Wito gak kalah kaget mendegar pertanyaan Arimbi, ia bingung mau jawab apa, dirinya memang pernah bercerita tentang anggota kelompok taninya yang tinggal rame-rame di rumahnya, tapi untuk orang seperti Arimbi ia merasa kalau rumahnya gak cocok. Arimbi menatap pak Wito menunggu jawaban " Gak perlu besar kamarnya pak, kalau gak ada perabotannya, nanti saya yang beli pak, paling saya hanya butuh kasur, lemari dan meja saja, yang minimalis aja pak". tambah Arimbi. " Bagi saya saat ini yang dibutuhkan adalah lokasi yang dekat dengan kantor dan laboratorium, karena salah satu pekerjaan saya nanti adalah penelitian yang akan menyita waktu banyak di lab ini, yang bisa banyak lemburnya. Jadi gak mungkin saya bisa pulang malam hari kalau sudah gak ada transportasi yang lewat dan jauh dari kontrakan". jelas Arimbi. Pak Wito, mas Daden serta dua bapak yang lain saling pandang... ********
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD